NovelToon NovelToon
Legacy Of Soryu: In The Name Of Love And Blood

Legacy Of Soryu: In The Name Of Love And Blood

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Istana/Kuno / Balas Dendam
Popularitas:97
Nilai: 5
Nama Author: AzhuraAstra

Sembilan belas tahun lalu, Ryuichi Soryu ditemukan tewas dengan cara yang mengguncang jagat dunia bisnis Indonesia.

Berita kematiannya menjadi tajuk utama di seluruh kanal media pada saat itu, memicu kepanikan massal hingga membuat saham-saham di bawah naungan Soryu Group terjun bebas ke titik terendah.

Polisi menutup kasus itu dengan dalil "perampokan biasa" sebuah narasi yang tak masuk akal bagi siapa pun yang mengenal konglomerat berdarah Jepang itu.

Yang membuat kasus pembunuhan itu semakin terlihat jangal adalah tak ada satupun barang berharga yang hilang, tak ada satu pun saksi mata dikejadian perkara, seolah nyawa sang konglomerat hilang begitu saja.

Bagi sang putra, kematian ayahnya itu bukan sekadar tragedi. Itu adalah luka yang membekas di hidupnya selamanya.

Sekarang dirinya sedang mencari sang pelaku dan menyeretnya menuju kehancuran yang setimpal dengan apa yang dia dan ayahnya rasakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzhuraAstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

𖣂|Bab 13 CEO Yang Menyamar|

...|Legacy of Soryu|...

...· · ─ ·𖥸· ─ · ·...

Mahasiswa pertama melangkah masuk dengan langkah gontai. Seorang perempuan dengan rambut dikuncir asal-asalan dan wajah yang masih ngantuk. Ia langsung menuju baris terdepan, meletakkan tasnya dengan gerakan asal, merasa seolah tempat itu adalah hak miliknya yang sah.

Tak lama, mahasiswa kedua muncul. Ia mengenakan celana pendek dan kaos oblong dengan rambut acak-acakan. Tanpa membuang-buang waktu, ia langsung merebahkan kepalanya di atas meja baris paling belakang, mengubah ruang kelas itu menjadi kamar tidur darurat baginya.

Mahasiswi ketiga masuk dengan napas yang memburu. Ia mengenakan hijab dan menggendong ransel yang tampak sangat berat hingga bahunya sedikit merosot. Matanya menyapu seisi ruangan, mencari kursi kosong untuk bisa dia tempati, namun gerakannya mendadak terhenti tepat pada sosok Bara.

"Eh...?"

Bara tetap tak bergeming. Jemarinya masih menari di atas keyboard, menyelesaikan draf revisi kerjaannya yang jauh lebih penting daripada suara asing di sekitarnya.

"Mas?" Perempuan itu melangkah mendekat, mengabaikan jarak aman yang biasanya dijaga oleh orang asing.

"Maaf, ini benar kelas Pemasaran Digital-nya Ibu Siti, kan?"

Bara menarik napas panjang melalui hidung. Ia memejamkan mata sesaat, mencoba memanggil sisa-sisa kesabaran yang masih tertinggal setelah drama kaus polo pagi tadi. Ia mendongak pelan menatap gadis didepannya.

"Iya," jawab Bara pendek, berusaha menjaga suaranya tetap datar meski rahangnya mengeras.

"Oh, syukurlah. Kirain aku salah kelas, habisnya baru lihat Mas di sini." Mahasiswi itu mengembuskan napas lega. "Mahasiswa pindahan ya?"

"Bisa dibilang begitu," jawab Bara tanpa minat. Ia kembali menatap layar laptopnya, berharap kode visual itu cukup jelas untuk mengakhiri percakapan diantara mereka.

Namun, harapannya seketika pupus.

"Aku Mika." Perempuan itu tersenyum lebar, lalu dengan gerakan yang membuat Bara nyaris mengumpat, ia menarik kursi tepat di sebelah Bara. Suara gesekan kaki kursi dengan lantai keramik terdengar nyaring dan menyakitkan di telinga Bara.

Davian sialan! maki Bara dalam hati. Ini semua gara-gara ide konyolmu tentang "menyamar". Lihat apa yang harus kuhadapi sekarang.

"Salam kenal ya, Mas Pindahan," lanjut Mika sambil meletakkan tasnya di atas meja, benar-benar menginvasi ruang pribadi Bara.

"Masnya kok kaku banget sih? Santai aja, anak-anak di sini baik-baik kok. Eh, Mas punya Instagram nggak?"

Bara menghentikan gerakan jemarinya. Ia menoleh perlahan, menatap Mika dengan pandangan dingin yang biasanya sanggup membuat manajer gemetar.

"Saya tidak punya Instagram."

Mika mengerjap, tampak tidak percaya. "Masa zaman sekarang nggak punya IG? Wah, Mas tipe yang menutup diri dari dunia luar ya? Ya sudah, kalau gitu minta nomor WhatsApp-nya saja deh. Biar kalau ada tugas kelompok atau info dari Ibu Siti, aku bisa kabari."

Kesabaran Bara akhirnya mencapai titik nadir. Ia memutar tubuhnya sedikit, memberikan perhatian penuh yang terasa mencekik bagi Mika.

"Untuk apa kamu minta WhatsApp ku?" tanya Bara dengan nada sindiran.

"Memangnya kamu punya urusan bisnis miliaran denganku sampai kita harus bertukar kontak?"

Mika tertegun. Senyumnya membeku di udara, sementara matanya berkedip bingung seolah baru saja mendengar bahasa dari planet lain.

"Hah? Bisnis... miliaran? Maksudnya?"

Bara mendengus pelan, kembali menatap laptopnya dengan gestur pengusiran yang halus namun sangat terlihat jelas.

"Kalau tidak, rasa-rasanya tidak ada kepentingan yang cukup mendesak bagiku untuk memberikan akses komunikasi pribadi kepada orang yang baru aku temui selama dua menit."

Keheningan yang canggung menyelimuti mereka selama beberapa detik. Mika menelan ludah, wajahnya yang tadi ceria kini berubah menjadi merah padam karena malu yang luar biasa. Ia menyadari bahwa pria di sampingnya ini bukanlah "mahasiswa kaku" biasa, melainkan seseorang dengan lidah yang sanggup menyayat kepercayaan diri orang lain dalam sekali bicara.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Mika segera menyambar tasnya. Ia menarik kembali kursi yang tadi digesernya dengan gerakan kikuk, lalu setengah berlari menuju baris kedua. Dari posisinya yang baru, ia sesekali menoleh ke arah Bara dengan ekspresi antara takut, bingung, dan malu setengah mati.

Bara kembali mengetik, namun kali ini dengan satu tambahan catatan penting di kepalanya: Davian, setelah ini, aku akan memotong bonus tahunanmu.

...***...

Ruangan yang semula lengang perlahan mulai terisi. Langkah kaki yang tumpang-tindih dan derit kursi yang bergesekan dengan lantai menciptakan suara kebisingan yang mulai mengusik ketenangan Bara. Hingga saat ini, setidaknya sudah dua pertiga dari kapasitas kelas yang sudah terisi, dan hampir semuanya menunjukkan reaksi yang sama saat melewati baris keempat: mereka melambat, menoleh, lalu mulai berbisik.

Bara tetap pada posisinya. Postur tubuhnya tegak, pandangannya terkunci pada layar laptop, sementara jemarinya bergerak cepat di atas keyboard. Namun, indra pendengarannya tidak bisa diajak berkompromi.

"Gila, itu siapa di pojokan? Mahasiswa baru?" bisik seorang mahasiswi dengan volume yang sebenarnya cukup jelas terdengar hingga tiga baris di belakangnya.

"Ganteng banget, woi! Mukanya kayak perpaduan aktor Hollywood sama aktor model majalah dewasa. Itu hidungnya bisa buat perosotan semut tuh saking mancungnya," timpal temannya dengan nada tertahan yang terdengar histeris.

"Duh, kalau yang begini speknya sih, gue rela deh masuk kelas setiap hari."

"Jangan keras-keras, bego! Nanti orangnya dengar!"

"Ya biarin saja kalau dengar! Biar dia tahu kalau populasi cowok ganteng di kampus ini akhirnya meningkat drastis."

Bara merasakan rahangnya mengeras. Ia benci menjadi tontonan. Baginya, perhatian publik tanpa tujuan bisnis adalah gangguan yang tidak berguna.

Namun, sebuah celetukan dari baris tengah tiba-tiba membuat jemarinya berhenti bergerak di atas keyboard.

"Eh, jangan-jangan dia itu aslinya CEO kaya raya yang lagi menyamar jadi mahasiswa?" celetuk seorang mahasiswi sambil terkikik.

"Tahu nggak, kayak di drama-drama yang sering lewat di fyp gue. Biasanya dia ke sini demi ngejar seorang gadis yang dia sukai, tapi ceweknya nggak tahu kalau dia itu sebenarnya bos besar terkaya di kota ini."

Seketika, imajinasi liar itu memicu gelombang tawa dan bisikan setuju dari mahasiswi lain.

Bara memejamkan mata sesaat. Napasnya tertahan di kerongkongan. Nama Davian kembali muncul di benaknya dengan font berukuran raksasa.

Davian sialan, maki Bara dalam hati. Efek drama China 'freak' yang kau tonton di kantor benar-benar menjadi kenyataan pahit di sini. Kau dan selera tontonan sampahmu itu sudah merusak persepsi publik.

Ia teringat bagaimana asistennya itu pernah menangis tersedu-sedu di sofa ruang kerjanya hanya karena adegan seorang CEO menyamar jadi kurir makanan demi membuktikan cinta sejati. Sekarang, Bara malah merasa seolah ia sedang memerankan naskah konyol itu secara real-time.

"Lihat tuh, ekspresinya dingin banget. Cool parah!"

"Iya, kayak beneran ada beban hidup yang berat tapi tertutup sama kekayaan, aduh..."

Bara menggeram pelan, Ia ingin sekali berdiri, membanting laptopnya, dan berteriak bahwa ia di sini untuk urusan keluarga Adama, bukan untuk mencari cinta sejati atau memerankan drama picisan.

Namun, ia hanya bisa menekan tombol Enter dengan tenaga yang sedikit lebih besar dari biasanya. Bunyi dentuman keyboard itu menjadi satu-satunya pelampiasan rasa geramnya yang sudah mencapai ubun-ubun.

Kalau sampai Davian tahu tentang celetukan CEO menyamar ini, aku akan pastikan dia tidak akan mendapatkan jatah cuti selama tiga tahun kedepan, ancam Bara dalam diam.

Sementara tangannya mengepal sesaat sebelum ia kembali memaksa otaknya untuk fokus pada angka-angka di layar, meski telinganya masih terus dibombardir oleh spekulasi konyol para mahasiswa tentang siapa dirinya sebenarnya.

1
Alia Chans
Hadir Thor
Komen pertama , like + bunga🌹 , semangat😉
AzhuraAstra: Terimakasih 🫡
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!