Memiliki suami tampan, kaya dan mapan, serta hidupnya diratukan, adalah impian semua perempuan. Seperti Elena yang tiba-tiba berubah menjadi Elea, istri dari Anres Alvaro Tanujaya, serta ibu dari si cantik Arabella. Hidup Elena pun berubah bak seorang ratu dari negeri dongeng.
Tapi, bagaimana jika semua itu hanya pinjaman. Bagaimana jika satu saat pemilik sahnya datang, dan meminta kembali semua yang sudah dipinjamkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Ranti menatap Elena sekejap, seperti ia sedang memahami sesuatu. "Kau sepertinya menjalin hubungan yang baik dengan tuan Anres, nyonya."
"Apa ini maksudnya kau sedang menggali informasi dariku, Ranti?" tukas Elena. Ia merasa kalau Ranti tak hanya sedang mengungkapkan sebuah penilaian.
"Tidak, Nyonya. Bukan begitu." Ranti menggeleng cepat. Meski memang ia diperintah oleh seseorang untuk mengawasi Elena. Tapi, Ranti juga merasa kalau wanita di depannya tersebut bukan orang yang harus diwaspadai.
"Mungkin ada seseorang yang sedang menggali informasi ini darimu," lanjut Elena lagi.
"Tadi memang nyonya Damita meneleponku, menanyakan perihal tuan Anres. Aku jawab bahwa tuan tetap sebagaimana biasa. Sarapan, minum obat dan beristirahat di kamar," terang Ranti.
"Nyonya Damita pasti sangat mempercayaimu, Ranti." Dalam hal ini, Elena juga sudah dapat menduga.
"Mungkin begitu. Dia memang sering bertanya padaku tentang tuan, termasuk ..." Ranti tiba-tiba memangkas ucapannya, dan langsung mengalihkan pandangan begitu saja. Wanita itu seperti tengah menyesali apa yang telah dikatakan barusan.
"Termasuk apa, Ranti?" tanya Elena penasaran.
"Tidak apa-apa, Nyonya."
"Baiklah. Kau memang tak boleh memberitahukan hal apa yang menjadi rahasia. Apalagi terhadapku, yang adalah orang lain dì rumah ini. Dan aku juga tidak ingin tahu terlalu banyak, atau pun melangkah terlalu jauh," kata Elena dengan tersenyum lembut. Ia memutuskan untuk tidak terlalu penasaran, karena hal itu yang memungkinkannya untuk terjerumus pada hal yang membahayakan.
Ranti tampak terpaku setelah mendengar ucapan itu. Dan bersama itu juga hadir kepercayaan dalam hatinya pada kebaikan Elena.
"Mari kita makan siang bersama, Ranti." Elena menepuk pelan pundak Ranti dan memberi isyarat untuk keluar dari kamar.
"Tunggu sebentar, Nyonya. Aku ingin memperlihatkan sesuatu padamu."
Tanpa menunggu jawaban Elena, Ranti segera melangkah menuju walk in closet kamar itu. Elena pun mengikutinya dan menatap dengan seksama, saat Ranti membuka sebuah laci yang dikunci dengan pasword. Terlihat Ranti menekan beberapa angka, dan laci itu kini terbuka.
Melihat hal itu, Elena kini menyadari kalau Elea pasti sangat percaya pada Ranti. Sampai asistennya itu tahu pada tempat-tempat rahasia di kamar itu. Seperti laci tersebut, jika tidak untuk digunakan sebagai tempat penyimpanan rahasia, untuk apa sampai dikunci dengan pasword.
Sedangkan Elena sendiri tidak tahu banyak tentang semua isi kamar itu. Selain karena ia baru menempati beberapa minggu, Elena juga tak banyak menyentuh barang atau perabotan di sana jika tak memiliki kepentingan, karena ia sadar, semua fasilitas itu adalah milik Elea, bukan miliknya.
"Lihat ini, Nyonya!" Ranti menunjukkan isi laci tersebut.
Bukan berisi surat-surat berharga, atau pun perhiasan mewah. Hanya ada beberapa botol obat yang masih utuh dengan isinya, juga lembaran obat yang berbentuk kapsul maupun tablet. Dan Elena jadi terhenyak saat membaca nama-nama obat tersebut. Dari mulai, Alprazolam, Lorazepam, Oxazolam, juga ada loprazolam. Sedangkan yang berbentuk cair dalam botol, midazolam--dimana Elena pernah menemukan botol obat yang sama di kamar Anres-- yang kesemuanya dari obat-obatan itu termasuk golongan obat benzodiazepin.
"Kenapa nyonya Elea menyimpan begitu banyak obat benzodiazepin?" tanya Elena dengan mengerutkan kening. Karena ia pikir obat-obatan itu adalah milik Elea.
"Bukan nyonya Elea yang menyimpannya. Tapi aku," sahut Ranti.
Kini Elena lebih kaget lagi dengan pengakuan Ranti itu. "Dari mana kau mendapatkan obat-obatan ini, Ranti, dan untuk apa semua ini?"
"Ini obat apa, Nyonya?" Bukannya menjawab, Ranti malah bertanya lain.
"Ini semua adalah golongan obat benzodiazepin. Golongan obat penenang atau sedaktif yang dapat digunakan untuk mengatasi gangguan kecemasan, serangan panik, dan pemberian obat ini harus dengan resep dokter. Dan ini." Elena menunjuk obat yang dikemas dalam botol bertuliskan midazolam itu. "Ini biasa digunakan oleh dokter anestesi pada pasien sebelum dioperasi," imbuh Elena.
"Jadi, ini bukan sejenis obat yang berbahaya?"
"Bisa berbahaya jika digunakan tanpa resep yang tepat serta dalam jangka waktu panjang. Obat-obatan ini bisa menyebabkan penggunanya kehilangan ingatan yang parah. Amnesia akut."
Ranti menutup mulutnya dengan punggung tangan. Bola matanya berputar kanan-kiri seperti baru menemukan satu hal yang tak biasa, yang membuatnya harus berpikir keras untuk memahaminya.
"Apa mungkin nyonya Damita bermaksud mencelakai tuan Anres?" Lirihnya dalam sebentuk tanya.
"Apa maksudmu, Ranti?" tanya Elena cepat.
"Aku diperintahkan nyonya Damita untuk memberikan obat ini pada tuan Anres setiap harinya. Kata nyonya ini semua resep dari dokter Hangga untuk kesehatan mata tuan Anres."
"Sejak kapan?" tanya Elena dengan menatap Ranti seksama. Sepertinya kini tanda tanya yang sudah ia simpan cukup lama tentang obat yang diminum Anres, akan segera terjawab.
"Sejak tuan kehilangan penglihatan," sahut Ranti.
"Dan kau memberikan obat ini tiap hari?" tanya Elena dengan napas memburu.
"Awalnya ia, mungkin sudah sekitar 6 bulan lamanya. Tiba-tiba mas Edward menyuruhku untuk menghentikan obat-obatan itu."
"Edward?" gumam Elena.
"Iya. Tapi, aku takut untuk bercerita lebih lanjut, Nyonya. Melihat efek samping dari obat-obatan ini, aku merasa kalau ada sesuatu di balik semuanya."
"Kau benar. Dan aku sudah tidak bisa berpikir positif lagi tentang hal ini. Memang Anres itu bukan siapa-siapaku, dan aku hanya orang lain baginya. Tapi, melihat ada orang yang mungkin berniat mencelakainya secara samar, aku jelas ikut tidak terima. Coba ceritakan secara jelas, siapa sebenarnya yang berada di balik resep obat-obatan ini." Elena sampai memegang tangan Ranti dengan kedua tangannya. Tatapannya sangat berharap wanita itu mau bercerita jujur. Elena tidak bermaksud untuk menjadi wonder women di sini, tapi mungkin ia bisa mencegah hal yang buruk terjadi pada Anres nanti.
Anres Alvaro yang setiap perlakuannya sudah mencuri hati wanita itu.
"Sepertinya nyonya Damita yang ada di balik obat-obatan ini. Karena mas Edward memerintahkan aku untuk tidak memberi obat-obat itu, tanpa sepentahuan nyonya Damita. Jadi aku harus berpura-pura setiap hari kalau sudah memberikan obatnya. Padahal obat-obatan ini aku simpan di sini tidak aku berikan pada tuan Anres. Hal itu semua atas instruksi mas Edward. Mas Edward bahkan mengancam akan menghabisiku, jika semua ini sampai diketahui oleh nyonya Damita," tutur Ranti.
Elena mengangguk paham. Jika betul apa yang Ranti ceritakan, berarti memang Edward ada di pihak Anres. Terbukti ia memerintahkan hal tersebut pada Ranti. Itu pasti karena ia sudah tahu, jenis obat apa yang diberikan oleh Damita pada Anres itu.
"Nyonya tau, apa maksudku memberitahukan semua ini padamu?"
"Aku tidak tau," sahut Elena. Dan ia tidak peduli apa tujuan Ranti memberitahukan semua itu kepadanya. Yang penting kini ia sudah tahu tentang hal yang sempat membebani pikirannya itu.
"Aku mendengar pembicaraan, Nyonya dengan mas Edward di telepon tentang obat tuan Anres. Waktu pagi menjelang sarapan yang berakhir dengan insiden kacang macadamia itu."
Elena mengangguk. Pagi itu, saat Damita mengambil alih rutinitas Elena membuatkan sarapan untuk Anres, wanita itu sempat menelepon Edward dan menyeritakan perihal obat. Elena tidak masalah jika dilarang membuat sarapan untuk Anres. Yang jadi masalah karena dalam menu sarapan itu disertakan obat--yang menurut Elena berbahaya jika terus dikonsumsi oleh ayah Arabella tersebut. Edward turun tangan segera memerintahkan bibi Sora untuk tak menyertakan obat dalam menu sarapan tuannya.
"Dari pembicaraanmu dengan mas Edward, aku paham kalau kau tahu tentang obat-obat itu, hingga kau mencegah untuk dikonsumsi oleh tuan Anres. Dan yang aneh lagi, kau berseberangan pendapat dengan nyonya Damita, padahal biasanya kalian itu satu paket yang seiya sekata."
"Jadi nyonya Elea sangat akrab dengan nyonya Damita?"
"Awalnya tidak, tapi beberapa waktu belakangan mereka terlihat sangat dekat. Dan ..." Ranti harus memangkas ucapannya karena terdengar suara ketukan pintu kamar yang cukup keras.
"Nyonya Elea, mbak Ranti, apa kalian ada di dalam?" Itu suara Indah, terdengar sangat terburu-buru, seperti ada hal gawat yang sedang terjadi.
"Itu suara Indah. Mungkin terjadi apa-apa dengan Abel." Elena lekas bergegas menuju pintu kamar. Sementara dari luar Indah tak henti mengetuk dengan suara yang kian keras. Hal ini di luar standar etika yang diterapkan untuk para asisten di rumah besar.
Ranti berlari mendahului Elena dan membukakan pintu lebih dulu.
"Indah, ada apa?"
"Cepat ke bawah! Di sana ada ... ada ..." Indah hanya menunjuk-nunjuk tak mampu melanjutkan ucapan.
"Ada apa dengan Abel, Indah?" tanya Elena panik demi dilihatnya raut wajah khawatir dari Indah.
"Bukan nona kecil, Nyonya. Di bawah ada anu .. itu ..." Indah nampak kebingungan sendiri untuk melanjutkan keterangannya itu.
"Ayo kita turun Nyonya." Ranti segera mengajak Elena untuk segera turun guna melihat sendiri apa yang terjadi. Ketiganya pun bagai berlomba hampir berlarian menuruni anak tangga menuju ke lantai bawah.
kalau dilihat dari crita awal ny si ada bawa2 bama Pramudya corp..
semangat ya...