Riuh derap langkah di koridor kampus hari itu menjadi saksi hangatnya hubungan yang membendung segala keraguan. Di bawah naungan pohon angsana yang menggugurkan bunganya, Amanda duduk bersama Zahra, menatap lembaran tugas akhir yang hampir rampung. Enam tahun bukan waktu yang singkat untuk merajut benang persahabatan. Sejak mengenakan seragam putih-biru di bangku SMP, Zahra selalu menjadi tempat Amanda pulang, berbagi tawa, hingga rahasia terkecil sekalipun. Bagi Amanda, Zahra bukan sekadar teman biasa, melainkan saudara kandung yang tidak terikat oleh darah. Setiap keputusan besar dalam hidup Amanda selalu melewati pertimbangan Zahra, termasuk ketika seorang pria bernama Zidan datang mengisi hatinya dua tahun lalu.
Zidan adalah sesosok pria berkarisma dengan senyum menenangkan yang berhasil meluluhkan hati Amanda. Selama masa perkuliahan, ketiganya hampir tidak pernah terpisahkan. Di mana ada Amanda dan Zidan, di situ pula ada Zahra. Amanda sering kali merasa menjadi wanita paling
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji Dibawah Kegelapan
Klik.
Pintu kamar mandi dan pintu depan kamar tamu terdengar terkunci di kejauhan. Amanda berdiri mematung di balik pintu kamarnya sendiri, mendengarkan keheningan rumah yang mendadak terasa begitu pekat dan beracun. Ia menyandarkan tubuhnya yang gemetar pada daun pintu kayu, meluruh pelan hingga terduduk di atas lantai yang dingin.
Dada Amanda terasa teremas begitu hebat. Meskipun tekadnya untuk membalas dendam sudah bulat dan rencananya berjalan begitu sempurna, rasa sakit dari pengkhianatan itu tetaplah nyata. Amanda meremas dadanya sendiri, menahan dada yang sesak luar biasa, dan mulai terisak pelan dalam kesunyian. Air matanya menetes satu per satu, membasahi pipinya yang dingin—menangisi ketulusan dan pengorbanan bertahun-tahun yang dihancurkan tanpa belas kasihan oleh pria yang paling ia percayai.
Dengan jemari yang bergetar hebat, Amanda mengangkat ponsel rahasianya. Cahaya dari layar gawai itu memantul di matanya yang basah oleh air mata. Di sana, aplikasi pengawas CCTV menampilkan tayangan live dari kamera mikro di dalam kamar tamu.
Pandangan Amanda tertahan pada layar. Gambar jernih beresolusi tinggi itu memperlihatkan Zidan yang baru saja mengunci pintu, lalu tanpa ragu menyambut kedatangan Zahra. Di atas tempat tidur kamar tamu itu, Zidan merengkuh tubuh Zahra ke dalam pelukannya, meraup wajah wanita yang berstatus sahabat Amanda itu dengan ciuman dan tawa manja yang selama ini selalu ia tunjukkan pada Amanda. Zahra tertawa kecil, melingkarkan tangannya di leher Zidan, menikmati setiap sentuhan haram itu tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Melihat adegan menjijikkan yang berlangsung secara real-time di depan matanya, tangis Amanda seketika terhenti. Air mata yang tadi mengalir deras mendadak mengering, berganti dengan kilatan amarah yang dingin dan tajam. Rasa sakit yang semula melumpuhkan dadanya perlahan membeku menjadi dendam yang utuh.
Amanda menekan tombol record pada aplikasi tersebut, memastikan setiap detik interaksi intim dan percakapan mereka terekam sempurna di memori internal dan sistem penyimpanan awan. Sambil menyaksikan dua manusia bejat itu memperagakan kebusukan mereka di atas kasur rumahnya sendiri, Amanda mengusap kasar sisa air mata di pipinya. Malam ini adalah malam terakhir ia menangis; sebab esok hari, rekaman ini akan menjadi senjata paling mematikan yang siap menghancurkan hidup Zidan dan Zahra tanpa sisa.
Cahaya biru dari layar ponsel memantul tegak lurus di paras Amanda yang kini dingin bak pualam. Di atas layar, rekaman live stream itu terus berjalan—memperlihatkan Zidan dan Zahra yang saling bertukar tawa bisik dan pelukan hangat di kamar tamu, benar-benar buta bahwa setiap incinya kini terabadikan dalam format digital resolusi tinggi.
"Aku pastikan kalian berdua akan menanggung akibat dari perbuatan kalian," bisik Amanda dingin ke arah kegelapan kamar.
Suaranya tidak lagi bergetar oleh isak tangis, melainkan sarat akan penegasan yang mematikan. Amanda menekan tombol pengunci rekaman, memastikan berkas video berdurasi panjang itu otomatis terunggah dan tersimpan aman di server penyimpanan rahasia serta terkirim langsung ke peranti milik Arya.
Hanya dalam hitungan detik, layar ponselnya menyala kembali memperlihatkan pesan masuk dari Arya yang rupanya ikut memantau jalannya perekaman secara jarak jauh: "Bukti malam ini sudah lebih dari cukup untuk menyeret Zidan ke pasal perzinahan sekaligus mengamankan seluruh harta gono-gini serta tuntutan ganti rugi untukmu tanpa celah. Tetap tenang, Amanda. Permainan mereka sudah selesai, tinggal menunggu kita yang menjatuhkan eksekusinya."
Amanda memejamkan mata sejenak, menghirup udara malam yang terasa jauh lebih lega dari sebelumnya. Rasa sakit yang membelenggu dadanya kini telah bertransformasi penuh menjadi kekuatan. Zidan dan Zahra boleh saja merasa menang malam ini di atas kasur kamar tamu itu, namun mereka tidak tahu bahwa tepat di balik dinding yang sama, tali gantung eksekusi atas karier, nama baik, dan masa depan mereka baru saja ditarik erat oleh wanita yang mereka anggap buta dan tak berdaya.