Suaminya gugur di medan tugas. Belum genap setahun jadi janda, Laras sudah harus menelan pahit: ibu dan adiknya sendiri menguras habis santunan, sementara bayi perempuannya, Nala, cuma bisa disambung hidup dengan air tajin di kampung.
Satu-satunya yang ia punya hanyalah air susu—dan tangan yang bisa menyulap beras seadanya jadi masakan sewangi surga.
Maka ketika seorang Letnan Kolonel berwajah dingin membutuhkan **ibu susuan** untuk bayi yatim yang hanya mau menyusu padanya, Laras menelan semua gunjingan tetangga dan masuk ke rumah dinas Danyon Bima Prakoso.
Kata orang, Sang Danyon itu keras, irit bicara, tak tersentuh.
Hanya Laras yang tahu: setiap fitnah yang dilempar padanya, diam-diam sudah ditahan lelaki itu di belakang punggungnya.
Dari dapur umum yang bikin satu batalyon terpana, sampai piring-piring yang menaklukkan para jenderal—Laras membalikkan keadaan, satu masakan demi satu masakan, menampar semua mulut yang pernah memandangnya rendah.
Tapi bayi yang ia besarkan dengan air susunya sendiri… menyimpan sebuah rahasia yang dijaga negara selama bertahun-tahun.
Dan hati Sang Danyon yang dingin itu, ternyata sudah lama hangat—hanya untuknya.
*"Kamu boleh jaga nama baikmu. Tapi malam ini, biar aku yang jaga kamu."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
Bab 22
Rapat yang Panas
Pagi syukuran dimulai dengan dua hitungan mundur sekaligus.
Di dapur, Parjo menghitung jam menuju makan malam. Di aula Persit, Bu Ratna menghitung kursi dan enam orang yang akan membacakan tuntutannya.
Laras bergerak di antara keduanya.
Pukul sembilan, ia memeriksa rendang, lalu menyerahkan dapur kepada Parjo. Pukul sepuluh, tumpeng mulai dicetak. Menjelang siang, Bu Titin datang membawa kerudung bersih dan kabar bahwa rapat dimajukan.
“Kolonel tiba lebih cepat. Rapat selesai sebelum penyambutan,” katanya.
“Satya?”
“Bu Wati duduk dekat kita. Iwan di luar aula.”
Bima sudah melarang Laras berdiri sendirian. Laras mengikuti bagian itu, tetapi tidak mengikuti larangan untuk absen.
“Kalau saya tidak datang, semua kalimat mereka akan dianggap benar,” katanya.
Di aula, kursi disusun setengah lingkaran. Sudibyo duduk di meja depan bersama pengurus Persit. Bu Ratna berada di sisi kanan. Bima berdiri dekat pintu belakang, tidak masuk ke deretan perempuan tetapi cukup dekat untuk mendengar.
Laras memilih kursi di antara Bu Titin dan Bu Wati. Satya berada di pangkuannya dengan mainan kain.
Rapat dimulai dengan laporan kegiatan. Setelah itu Bu Ratna mengangkat tangan.
“Ada masukan tertulis dari enam anggota mengenai citra keluarga prajurit.”
Bu Darmi berdiri dan membaca kalimat yang sudah disiapkan. Ia menyebut seorang janda muda tinggal di rumah perwira lajang, makan malam pribadi, perjalanan prajurit ke desa keluarganya, dan dugaan perlakuan khusus.
Setiap kata membuat aula semakin sunyi.
Bu Lestari melanjutkan, “Kami tidak menuduh perbuatan asusila. Kami hanya meminta pengaturan yang lebih patut.”
Sudibyo menatap Laras. “Mbak Laras ingin menanggapi?”
Laras berdiri sambil tetap menggendong Satya. “Saya ingin bertanya dulu. Berapa persediaan susu khusus untuk Satya di gudang saat saya datang?”
Bu Ratna mengangkat kertas. “Sebelum pertanyaan itu, sebaiknya enam poin dibacakan lengkap.”
Sudibyo mempersilakan.
Poin pertama mempersoalkan kamar Laras berada dalam satu rumah dengan Bima. Poin kedua menyebut makan tengah malam. Poin ketiga menyinggung tambahan jatah. Poin keempat perjalanan Iwan ke Girisari. Poin kelima pekerjaan baru Laras di dapur. Poin terakhir meminta semua fasilitas dihentikan sampai ada pemeriksaan.
Laras menunggu sampai selesai.
“Sekarang saya jawab satu per satu,” katanya.
Ia mengeluarkan salinan surat penugasan. Kamar belakang diperlukan untuk menyusui malam, memiliki pintu terpisah, dan rumah dilalui petugas. Tambahan jatah tercatat sebagai dukungan gizi ibu menyusui. Pelatihan dapur memiliki surat tugas dan honor resmi, tanpa akses ke kas.
“Makan tengah malam?” tanya Bu Lestari.
“Jatah saya tidak datang. Pak Bima menemukan saya hampir pingsan, lalu meminta satu piring setelah saya selesai makan. Beliau sudah mengakui itu di depan banyak orang.”
“Tetap saja hanya kalian berdua.”
“Iwan bertugas di kompleks. Piket mencatat rumah. Kalau makan nasi goreng dianggap pelanggaran, tulis aturan yang melarang ibu menyusui makan setelah jam tertentu.”
Beberapa perempuan menahan senyum.
Bu Ratna menyela, “Mbak Laras pandai memutar ucapan.”
“Saya membawa dokumen. Yang mana yang diputar?”
Laras menyerahkan salinan kepada staf. Sudibyo membaca, lalu meletakkannya tanpa komentar.
Bu Darmi tampak gelisah. “Saya diberi tahu kamar belakang tidak punya pintu sendiri.”
“Bu Ratna pernah memeriksa lorongnya. Beliau tahu ada pintu.”
Tatapan kembali beralih kepada Bu Ratna.
“Saya tidak menjelaskan bentuk rumah satu per satu,” katanya.
“Tapi Ibu meminta tanda tangan berdasarkan bentuk rumah itu,” ujar Bu Wati.
Poin-poin yang semula tampak berat mulai berubah menjadi kumpulan informasi setengah benar.
Laras belum selesai. Ia menunjukkan buku kesehatan Satya dan catatan suhu sejak hari pertama.
“Waktu saya datang, beratnya sulit naik, demam berulang, dan menolak botol. Kalau fasilitas saya dihentikan sebelum ada pengganti, siapa yang menjamin dia tidak kembali ke rumah sakit?”
Bu Ratna berkata, “Persit bisa mencari pengasuh lain.”
“Persit sudah mencari ibu susuan?”
“Belum.”
“Sudah memeriksa kecocokan susu?”
“Itu tugas poliklinik.”
“Sudah bicara dengan poliklinik?”
Bu Ratna tidak menjawab.
Laras menghadap semua peserta. “Mereka meminta pekerjaan dihentikan lebih dulu, baru memikirkan siapa yang memberi makan bayi ini. Yang menanggung akibat bukan saya atau Bu Ratna. Satya.”
Satya seolah mendengar namanya. Ia menepuk dada Laras lalu mengoceh pendek. Beberapa ibu yang memiliki bayi menatapnya dengan ekspresi berubah.
Seorang anggota di baris belakang mengangkat tangan. “Kalau semua pengaturan sudah resmi dan ada pengawasan, kenapa kami diminta tanda tangan seolah rumahnya tertutup?”
Bu Lestari melihat Bu Ratna. “Saya juga ingin tahu.”
Retakan pertama muncul di antara enam orang itu.
Bu Ratna mencoba mengembalikan arah. “Masalah utamanya bukan dokumen, tapi contoh moral.”
Laras menjawab, “Contoh moral juga berarti tidak menyebarkan informasi yang kita tahu tidak lengkap.”
Suara kursi bergeser. Bu Titin menepuk paha pelan, puas.
Barulah Laras mengajukan pertanyaan tentang persediaan susu, memaksa rapat kembali kepada kebutuhan Satya yang selama ini sengaja dihilangkan dari tuntutan.
Petugas perbekalan yang hadir membuka catatan. “Tidak ada stok khusus. Susu formula biasa pernah dicoba, tapi ditolak.”
“Berapa kali dia dirawat karena demam dan tidak mau minum sebelum saya tinggal?”
“Dua kali ke poliklinik, sekali observasi rumah sakit.”
“Beratnya sekarang?”
Petugas membaca angka terbaru. Kenaikannya jelas.
Laras menatap enam penanda tangan. “Saya tinggal karena bayi ini menyusu malam. Iwan, piket, petugas logistik, dan tetangga keluar masuk. Penugasan saya tertulis. Kalau ada solusi lain yang membuat Satya tetap minum dan tidak kembali sakit, silakan sebutkan.”
Tidak ada yang menjawab.
Bu Ratna menyela, “Ini bukan soal kemampuanmu. Ini soal nama baik.”
“Nama baik siapa?”
“Keluarga besar satuan.”
“Satya bukan bagian keluarga besar satuan?”
Bu Ratna terdiam.
Laras menahan suaranya tetap rata. “Dia anak almarhum prajurit. Anak yatim yang dititipkan untuk dijaga. Saya juga istri almarhum prajurit. Kalau menjaga anak prajurit gugur dianggap merusak citra, saya ingin tahu citra apa yang sedang kita lindungi.”
Kalimat itu menghantam lebih kuat daripada bentakan.
Beberapa perempuan menunduk. Bu Wati mengangguk. Bu Titin berkata, “Itu inti persoalannya.”
Bu Darmi menggenggam kertas. “Kami tidak tahu surat tugasnya sudah resmi.”
“Bu Ratna tahu,” kata Bu Wati. “Dia juga tahu hasil pemeriksaan kesehatan Satya.”
Semua mata beralih.
Bu Ratna memucat. “Saya hanya membawa aspirasi anggota.”
“Tapi informasi yang diberikan kepada anggota tidak lengkap,” jawab Bu Wati.
Sudibyo mengetuk meja. “Cukup. Berdasarkan fakta, penugasan Laras sah, kondisi Satya membaik, dan tidak ada pelanggaran yang dibuktikan. Enam usulan tidak perlu dibahas lebih lanjut.”
Ia menggunakan kalimat Laras untuk menutup perkara, seolah sejak awal berada di pihak yang benar.
Bima melihatnya tanpa ekspresi.
Bu Ratna mencoba sekali lagi. “Bagaimana perjalanan Iwan ke Girisari?”
Iwan menjawab dari pintu setelah dipersilakan. “Kunjungan keluarga prajurit gugur dengan dana pribadi dan penyerahan disaksikan RT. Tidak memakai anggaran Persit.”
Laras menoleh. Dadanya sesak. Kini semua kebaikan Bima hampir dibuka di depan umum, tetapi Iwan menjaga namanya tetap tidak disebut.
“Ada pertanyaan lain?” tanya Sudibyo.
Tidak ada.
Enam tanda tangan tetap berada di kertas, tetapi enam tuduhan mereka runtuh satu per satu tanpa sempat menjadi keputusan.
Rapat ditutup lebih cepat.
Ketika peserta mulai berdiri, Bima menahan Sudibyo dekat meja depan.
“Enam poin tadi sudah kamu baca sebelum rapat?” tanyanya.
“Sudah.”
“Kamu juga punya surat tugas dan laporan kesehatan.”
Sudibyo tersenyum tipis. “Saya ingin semua pihak bicara supaya masalah selesai terbuka.”
“Masalah yang tidak berdasar tidak perlu diberi panggung.”
“Ternyata Laras bisa membela diri.”
“Itu bukan alasan membiarkan dia diserang.”
Sudibyo menatap Bima. “Kamu marah sekali untuk urusan pengasuh.”
“Saya marah karena fakta satuan dipakai setengah-setengah.”
“Tentu.” Nada Sudibyo menunjukkan ia tidak sepenuhnya percaya.
Bima tidak mengejar. Tatapan mereka cukup untuk menandai bahwa setelah hari ini, setiap gerakan Sudibyo terhadap Laras akan diperhatikan.
Sudibyo merapikan lengan seragamnya, lalu pergi tanpa menoleh. Senyum tipisnya tidak ikut hilang.
Itu justru membuat Bima semakin waspada.
Di luar aula, Bu Darmi menghampiri Laras. “Maaf. Saya tanda tangan karena diberi tahu Satya bisa memakai pengasuh lain.”
“Lain kali lihat anaknya dulu sebelum menulis tentang pengasuhnya,” jawab Laras.
Bu Darmi mengangguk malu.
Bu Lestari tidak meminta maaf, tetapi ia tidak lagi berjalan di sisi Bu Ratna.
Laras menyerahkan Satya kepada Bu Titin untuk beberapa menit dan bergegas menuju dapur. Di koridor, Bima berdiri dekat tangga seolah menunggunya.
Mereka saling menatap.
Tidak ada pujian. Tidak ada teguran karena Laras melanggar larangannya.
Bima hanya melihat bahwa Laras masih tegak, lalu mengangguk tipis.
Laras membalas anggukan itu.
Sudibyo keluar dari aula dan mereka langsung berpisah. Bima naik ke lantai dua. Laras menuju dapur.
Parjo menyambutnya dengan wajah panik. “Ayam hampir masuk penggorengan. Tumpeng kedua retak. Rombongan sudah melewati pos gunung.”
Laras langsung mencuci tangan dan mengenakan celemek.
“Cetak ulang yang retak. Jangan tambal. Kremes terakhir. Rendang meja utama jangan dibuka terlalu sering.”
“Rapat bagaimana?”
“Selesai.”
“Menang?”
Laras mengambil sendok panjang. “Kita belum menang apa-apa. Meja makan belum dibuka.”
Suara radio Iwan masuk dari pintu. Kendaraan pertama telah melewati gerbang luar.
Parjo menatap jam dinding.
Laras menatap tumpeng, ayam, dan panci rendang yang mengepul.
Pertarungan di aula telah selesai. Ujian yang lebih besar baru saja memasuki kompleks.