Rizal, seorang pemuda yatim piatu yang baru saja dipecat dari pekerjaannya dan ditipu habis-habisan oleh mantan kekasihnya, mendapati hidupnya hancur berantakan di sebuah taman kota Jakarta. Namun, takdirnya berbalik seratus delapan puluh derajat ketika sebuah [Sistem Kebohongan menjadi Kenyataan] tiba-tiba masuk ke dalam kepalanya. Sistem ajaib ini mengubah setiap cacian, kebohongan, dan modus penipuan yang diarahkan padanya menjadi kenyataan yang sesungguhnya. Berawal dari pesan penipuan undian palsu, Rizal mendadak menjadi miliarder yang membuat semua orang yang pernah merendahkannya menyesal, sekaligus menarik perhatian banyak wanita cantik yang terpikat oleh kesuksesan dan pesonanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Duarr.
Pernyataan dari petugas KPK itu bagaikan petir di siang bolong yang menyambar tepat di atas kepala Broto Sanjaya.
Wajah rubah tua itu langsung berubah menjadi sepucat kertas putih.
"S-suap dari Sanjaya Corp? I-itu fitnah! Aku tidak pernah menyuapnya!"
Broto berteriak panik mencoba membela diri di depan semua orang.
Direktur KPK itu menoleh dan menatap Broto Sanjaya dengan pandangan menyelidik.
"Tuan Broto Sanjaya, kami juga memiliki surat perintah pemanggilan untuk Anda besok pagi terkait kasus ini."
"Sebaiknya Anda tidak mencoba untuk kabur ke luar negeri malam ini."
Kaki Broto seketika terasa lemas seperti jeli dan dia hampir terjatuh jika Dion tidak menahannya dari belakang.
"Ayah... apa yang terjadi... kenapa polisi datang menangkap Pak Menteri..."
Dion merengek ketakutan melihat pelindung politik terkuat mereka diseret seperti anjing pesakitan.
Menteri Budiarto terus berteriak histeris saat tubuhnya diseret paksa keluar dari ballroom.
"Lepaskan aku! Ini pasti konspirasi! Rizal, apa yang kau lakukan padaku?!"
Rizal hanya tersenyum tipis dan memberikan lambaian tangan santai ke arah menteri yang sedang menangis itu.
"Selamat menikmati sisa hidup Anda di penjara, mantan menteri Budiarto."
Hanya dalam waktu kurang dari sepuluh menit, ancaman politik terbesar yang mengintai Wijaya Group telah lenyap tak berbekas.
Pintu ballroom kembali tertutup, meninggalkan keheningan mutlak yang mencekam di antara para tamu undangan.
Mereka semua menatap Rizal dengan pandangan yang kini dipenuhi oleh rasa takut yang luar biasa.
Pemuda ini tidak hanya memiliki uang yang tak terbatas, tapi dia juga bisa mendatangkan pasukan KPK untuk menghancurkan seorang menteri dalam hitungan menit.
Kekuasaan macam apa yang sebenarnya dimiliki oleh pemuda bernama Rizal ini?
Itulah pertanyaan yang berputar-putar di dalam kepala setiap konglomerat di ruangan tersebut.
Drrt. Drrt.
Ponsel Clara Wijaya yang berada di dalam tas tangannya tiba-tiba bergetar.
Clara membuka tasnya dengan tangan yang masih sedikit gemetar dan melihat pesan masuk dari sekretarisnya di kantor pusat.
"T-tuan Rizal..."
Clara bergumam pelan memanggil bosnya dengan suara yang tertahan.
"Ada apa Nona Clara? Berita baik atau berita buruk?"
Rizal menoleh dan bertanya dengan nada lembut yang sangat kontras dengan kekejamannya barusan.
"Sekretaris saya baru saja mengabarkan bahwa kementerian pusat telah mengirimkan faks resmi."
Clara menelan ludah dengan susah payah sebelum melanjutkan membacakan isi pesan tersebut.
"Tambang Baja Hitam Titanium kita baru saja ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional oleh Presiden."
"Kita mendapatkan perlindungan mutlak dari negara, dan bebas pajak ekspor selama sepuluh tahun ke depan."
Huuu.
Para tamu undangan yang tidak sengaja mendengar ucapan Clara langsung menahan nafas mereka.
Mendapatkan status Proyek Strategis Nasional adalah impian terbesar dari setiap perusahaan di negeri ini.
Itu berarti Wijaya Group kini tidak bisa disentuh oleh siapa pun, baik oleh pesaing bisnis maupun politikus busuk.
Broto Sanjaya yang mendengar hal itu langsung memuntahkan darah segar dari mulutnya.
Ugh!
Pria tua itu jatuh berlutut di atas karpet merah dengan wajah yang terlihat menua sepuluh tahun dalam sekejap.
Tekanan darahnya naik hingga batas maksimal akibat syok bertubi-tubi yang dia terima malam ini.
Rencananya untuk menghancurkan Rizal justru berbalik menghancurkan seluruh kartu truf dan sekutunya.
"Ayah! Ayah bertahanlah!"
Dion menangis memeluk ayahnya yang mulai tidak sadarkan diri di lantai ballroom.
Rizal melangkah santai mendekati ayah dan anak yang sedang meratapi nasib mereka itu.
Dia menundukkan wajahnya dan menatap Broto yang napasnya sudah tersengal-sengal.
"Tuan Broto, sepertinya Anda lupa meminum obat penurun darah tinggi yang saya sarankan tadi."
Rizal mengucapkan kalimat itu dengan nada sarkas yang sangat mematikan.
"Permainan ini sangat membosankan, aku harap kau punya mainan lain sebelum perusahaanmu bangkrut besok pagi."
Rizal menegakkan tubuhnya kembali dan merapikan jasnya dengan sangat elegan.
Malam Emas yang seharusnya menjadi ajang pembantaian Wijaya Group kini telah berubah menjadi panggung penobatan bagi sang naga.
Rizal menawarkan lengannya kepada Clara yang masih berdiri terpukau.
"Mari kita pulang Nona Clara, udara di sini sudah mulai berbau busuk."
Clara mengangguk patuh dan menyelipkan tangannya ke lengan Rizal dengan senyum penuh kebanggaan.
Mereka berdua berjalan keluar dari ballroom dengan langkah yang sangat berwibawa.
Setiap tamu undangan langsung menyingkir dan menundukkan kepala mereka dalam-dalam untuk memberikan jalan.
Tidak ada satu pun yang berani menatap mata Rizal secara langsung.
Dunia elit Jakarta kini telah resmi bertekuk lutut di bawah kaki seorang pemuda yang kekuatannya tidak masuk akal.