NovelToon NovelToon
Di Dunia Orang Bodoh, Akulah Sang Jenius

Di Dunia Orang Bodoh, Akulah Sang Jenius

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Pelukis Mimpi

Arya Pratama dikeluarkan dari sekolah. Nilai jelek, masa depan hancur, semua orang bilang dia tidak berguna. Tapi hari itu, dia menyadari sesuatu yang mengubah segalanya — bukan dia yang bodoh... seluruh dunia yang bodoh.

Apoteker tidak bisa hitung tambah-kurang. Profesor universitas menulis rumus yang salah selama ratusan tahun tanpa ada yang sadar. Juara catur dunia bisa dikalahkan dalam sepuluh langkah. Di dunia ini, pengetahuan SMA biasa adalah kekuatan tertinggi — dan Arya adalah satu-satunya orang yang memilikinya.

Dari siswa yang dibuang, dia naik menjadi legenda yang tidak pernah menunjukkan wajah aslinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pelukis Mimpi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 26

Bab 26: Makna Seorang Genius

Pak Surya menerima tamu itu pada hari Kamis pukul sepuluh pagi.

Namanya Rafi Adiwangsa. Ia memakai kemeja abu-abu, membawa map tipis, dan memperkenalkan diri sebagai perwakilan Unit Nusantara Genius, sebuah lembaga perlindungan dan pemetaan bakat tinggi yang bekerja di bawah koordinasi terbatas pemerintah dan beberapa yayasan pendidikan. Penjelasan itu terdengar resmi, tetapi justru karena terlalu rapi, Pak Surya tidak langsung percaya.

"Saya kepala sekolah, Pak Rafi. Saya terbiasa menerima brosur program unggulan. Apa bedanya lembaga Bapak dengan konsultan pendidikan biasa?"

Rafi tidak tersinggung. Ia membuka map dan meletakkan tiga dokumen. Pertama, salinan izin koordinasi dengan dinas pendidikan. Kedua, surat kerja sama lama dengan kepolisian dalam kasus perlindungan siswa. Ketiga, foto arsip sebuah laboratorium sekolah yang terbakar tiga belas tahun lalu.

Pak Surya berhenti pada dokumen ketiga. "Ini... kasus yang pernah saya dengar. Dua siswa olimpiade hilang."

"Satu ditemukan. Satu tidak," kata Rafi. "Keduanya masuk daftar pemantauan kami sebelum insiden. Kami terlambat. Karena itu prosedur kami berubah."

Ruangan kepala sekolah terasa lebih sempit.

Rafi melanjutkan, "Pak Surya, di Indonesia ada anak-anak dengan kemampuan jauh di atas standar. Sebagian berkembang menjadi peneliti, pendiri teknologi, ahli strategi, atau pemecah masalah publik. Sebagian hancur karena sekolah salah membaca mereka. Sebagian menjadi target pihak yang menganggap kecerdasan ekstrem sebagai ancaman sosial. UNG dibentuk untuk menemukan, memvalidasi, dan melindungi mereka."

Pak Surya bersandar. "Dan Arya?"

"Arya Wijaya masuk indikator kuat. Sangat kuat."

"Indikator apa? Nilai lomba?"

"Nilai hanya permukaan. Yang kami lihat adalah kecepatan transfer konsep, keberanian mengoreksi premis, respons terhadap bahaya, kemampuan membangun model dari data tidak lengkap, dan efek sosial setelah kemunculannya."

Pak Surya mengingat kelas yang berubah, guru yang malu, siswa yang mendadak ingin berpikir. "Efek sosial?"

"Genius sejati tidak hanya menjawab lebih cepat. Ia mengubah standar ruangan. Orang yang cukup kuat akan naik. Orang yang lemah akan menyerang. Karena itu mereka berbahaya dan rentan pada saat yang sama."

Kalimat itu membuat Pak Surya diam lama. Ia pernah bangga menemukan siswa berprestasi. Kini ia merasa seperti penjaga pintu yang baru sadar pintunya mengarah ke medan perang.

"Apa yang Bapak inginkan dari sekolah saya?"

"Pertama, jangan menjual Arya kepada media. Kedua, jangan memaksanya mengikuti semua lomba hanya demi reputasi sekolah. Ketiga, izinkan kami melakukan evaluasi awal secara tidak mengganggu. Keempat, jika ada tanda Bayangan bergerak, laporkan langsung ke nomor ini."

Rafi memberi kartu tanpa logo besar. Hanya nama, nomor aman, dan tiga huruf kecil di pojok.

Pak Surya bertanya, "Apa Bayangan itu organisasi nyata?"

Rafi memilih kata dengan hati-hati. "Jaringan longgar. Anti-elit intelektual, anti-anak berbakat, kadang bersembunyi di balik gerakan moral. Mereka tidak selalu punya struktur jelas, tetapi punya bahasa yang sama. Bibit, pembersihan, keseimbangan dunia. Rahman memakai bahasa mereka."

"Mereka akan menyerang Arya lagi?"

"Jika publikasinya terus naik, kemungkinan ya. Tapi menyerang tidak selalu berarti menculik. Bisa reputasi, keluarga, lomba, atau jebakan akademik."

Pak Surya menatap papan penghargaan sekolah. Selama bertahun-tahun, ia ingin nama Garuda Cendekia lebih besar. Sekarang ketika nama itu naik, ia harus memikirkan apakah cahaya itu membuat muridnya lebih mudah ditembak.

"Saya harus memberi tahu Arya?"

"Jangan menyembunyikan hal penting darinya. Anak seperti dia akan tahu, dan kalau ia tahu Bapak menutupinya, Bapak kehilangan akses."

Pak Surya tertawa pahit. "Bapak bicara seolah sudah pernah dimarahi anak pintar."

"Sering. Biasanya mereka benar."

Di luar kantor, Arya berdiri dekat rak piala bersama Putri. Ia tidak mendengar seluruh percakapan, tetapi cukup melihat jenis sepatu Rafi, sudut kamera CCTV yang tiba-tiba diputar satpam, dan cara Pak Surya meminta guru lain menjauh. Semua itu membentuk kesimpulan sederhana: pesan misterius mulai punya wajah.

Putri berbisik, "Itu pria di studio."

"Saya tahu."

"Kamu mau masuk?"

"Belum. Orang yang datang lewat pintu formal sedang mencoba terlihat sopan. Kita lihat apakah sopannya bertahan ketika ditanya hal yang tidak nyaman."

Sepuluh menit kemudian, Pak Surya memanggil Arya. Putri tidak ikut masuk, tetapi ia tetap berdiri di koridor. Rizky muncul dari tangga membawa roti dan langsung merasakan atmosfer salah.

"Kita sedang dalam adegan serius?"

Putri menjawab, "Sangat. Jangan kunyah keras-keras."

Di kantor, Rafi berdiri ketika Arya masuk. "Arya Wijaya. Saya Rafi dari UNG."

Arya duduk tanpa menunggu dipersilakan. "Unit Nusantara Genius? Nama yang terlalu percaya diri."

Rafi tersenyum tipis. "Kritik diterima."

Pak Surya hampir batuk. Ia baru saja melihat orang dewasa dari lembaga rahasia menerima ejekan nama seperti guru menerima koreksi ejaan.

Rafi berkata, "Kami ingin melakukan evaluasi awal dan menawarkan perlindungan jika diperlukan."

Arya menatapnya. "Perlindungan dari Bayangan atau dari orang yang ingin mengoleksi saya?"

Senyum Rafi hilang. Pak Surya merasakan suhu ruangan turun.

"Dua-duanya mungkin risiko," kata Rafi akhirnya. "Itu sebabnya kami datang dengan kepala sekolah sebagai saksi. Mobil hitam di depan rumahmu hanya akan menambah masalah."

Arya mengangguk kecil. Jawaban itu tidak sempurna, tetapi lebih baik daripada kebanyakan jawaban orang dewasa.

"Baik," katanya. "Evaluasi boleh. Tapi kalau evaluasinya bodoh, saya akan bilang bodoh."

Rafi menutup map. "Itu justru salah satu alasan kami yakin kamu perlu dievaluasi."

Pak Surya menatap mereka berdua dan tiba-tiba memahami beban kata genius. Genius tidak selesai pada nilai seratus, piala, atau video viral. Genius adalah seseorang yang kedatangannya membuat dunia lama tidak punya tempat bersembunyi.

Rafi kemudian menjelaskan batas evaluasi awal. Tes medis memerlukan izin keluarga, sekolah tidak akan dipindahkan mendadak, dan data pribadi tidak boleh dipublikasikan. Semua pertemuan harus diketahui Pak Surya atau Budi sampai Arya menyatakan sebaliknya. Ia menyebut aturan itu satu per satu, seolah tahu Arya sedang mencari lubang.

Arya memang sedang mencari lubang. "Kenapa memberi syarat sebaik ini di awal?"

"Banyak lembaga gagal saat mereka memperlakukan orang yang ingin dilindungi seperti barang bukti. UNG pernah melakukan kesalahan itu. Kami mencoba tidak mengulanginya."

Jawaban itu membuat Pak Surya menatap Rafi dengan lebih serius. Orang dewasa yang mau mengakui sejarah buruk punya nilai pakai. Arya tampaknya sampai pada kesimpulan yang sama, meski ekspresinya tetap datar.

"Baik," kata Arya. "Pertemuan berikutnya setelah jam sekolah. Bawa soal evaluasi asli. Simpan teka-teki psikologi murahan untuk orang lain."

Rafi mencatat. "Saya akan berusaha tidak mempermalukan lembaga sendiri."

Pak Surya mencatat satu kalimat di buku kerjanya setelah mereka pergi: melindungi Arya berarti melindungi ruang agar ia tetap bisa memilih. Kalimat itu sederhana, tetapi bagi kepala sekolah yang terbiasa mengatur siswa, sederhana bukan berarti mudah.

Dan Arya baru saja membuka pintu yang jauh lebih besar daripada gerbang sekolah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!