NovelToon NovelToon
Bangkit Sistem Penghakiman, Semua Penjahat Berlutut!

Bangkit Sistem Penghakiman, Semua Penjahat Berlutut!

Status: sedang berlangsung
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Darma

"Raka Laksana — yatim piatu, detektif gagal, ditertawakan semua orang. Sampai malam itu, sebuah sistem bangkit dalam dirinya: “Sistem Penghakiman”. Mata Dosa yang bisa membaca dosa siapa pun. Buku Penghakiman yang bisa menjatuhkan hukuman di hadapan seluruh negeri. Kekuatan yang tak dimiliki polisi, jaksa, atau hakim mana pun.

Menyamar sebagai konsultan biasa di Satreskrim Kota Elang Biru, Raka membongkar kasus demi kasus — pembunuhan, sindikat perdagangan manusia, konspirasi elite — sambil menyembunyikan identitas aslinya sebagai eksekutor bayangan. Sistem terus naik level, skill terus bertambah, dan setiap penjahat yang lolos dari hukum biasa... tidak akan lolos dari tangannya.

Tapi ada satu kasus yang tak pernah bisa ia lupakan: dua puluh tahun lalu, kedua orangtuanya difitnah dan dihancurkan oleh **Keluarga Halim** — konglomerat paling berkuasa di kota ini. Setiap kasus yang ia selesaikan membawanya selangkah lebih dekat pada kebenaran itu.

Dan pada hari penghakiman tiba, seluruh bangsa akan menyaksikan."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Darma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 34

Bab 34: Laporan Orang Hilang — Ayah dan Anak

Laporan orang hilang datang dengan parfum mahal.

Pukul sembilan lewat dua belas menit, seorang perempuan turun dari mobil hitam di depan kantor Satreskrim. Kacamata hitamnya besar, tasnya bermerek, dan langkahnya terlalu cepat untuk orang yang biasa menunggu. Di belakangnya, sopir keluarga membawa map cokelat dengan kedua tangan.

Resepsionis belum sempat menyelesaikan kalimat pembuka ketika perempuan itu berkata, "Saya mau melapor. Suami saya hilang. Anak saya juga."

Raka sedang memeriksa berkas kasus kecil di meja Dimas ketika suara itu membuat beberapa kepala terangkat.

Yudha keluar dari ruangannya. Matanya bergerak dari wajah perempuan itu ke map, lalu ke sopir yang tampak takut salah bernapas.

"Silakan duduk, Bu. Nama suami Ibu?"

Perempuan itu melepas kacamata. Matanya merah, tetapi riasannya masih rapi. "Hasan Wirawan. Anak saya Feri Wirawan. Mereka tidak pulang tiga hari. Ponsel mati. Orang kantor bilang mereka terakhir di pabrik. Polisi harus segera mencari mereka."

Nama Wirawan membuat Andi yang sedang mengetik berhenti sebentar.

Dimas berbisik ke Raka, "Keluarga pabrik makanan. PT Sejahtera Pangan Jaya. Kau pasti pernah lihat produknya di minimarket. Sosis, nugget, makanan beku murah."

"Kaya?"

"Cukup kaya untuk membuat orang kecil merasa miskin hanya dari melihat pagar rumahnya."

Raka menatap perempuan itu lagi.

Ia bukan tampak seperti orang yang tidak pernah takut.

Ia tampak seperti orang yang marah karena rasa takut akhirnya menyentuh keluarganya.

Di ruang laporan, perempuan itu menjelaskan dengan cepat. Hasan Wirawan, lima puluh lima tahun, pemilik utama PT Sejahtera Pangan Jaya. Feri Wirawan, dua puluh delapan tahun, direktur operasional sekaligus anak tunggal. Tiga hari lalu keduanya pergi ke pabrik untuk rapat mendadak. Mobil pribadi Hasan masih ditemukan di parkiran pabrik. Mobil Feri juga ada. Sopir tidak ikut karena Hasan ingin menyetir sendiri.

"Mereka tidak mungkin pergi tanpa pengawal," kata perempuan itu. "Suami saya punya banyak urusan, banyak musuh bisnis. Tapi dia selalu memberi kabar. Feri juga. Mereka... mereka anak dan ayah. Mereka tidak akan menghilang begitu saja."

Yudha menulis tanpa ekspresi. "Apakah ada permintaan tebusan?"

"Belum."

"Ancaman sebelumnya?"

"Banyak. Orang iri, mantan karyawan bermasalah, pesaing pabrik. Tapi semua orang kaya punya musuh, Pak. Itu bukan alasan polisi lambat."

Dimas mengangkat alis.

Yudha tetap tenang. "Kami tidak lambat. Kami sedang memisahkan fakta dari status sosial."

Ruangan langsung sunyi setengah detik.

Raka menunduk sedikit untuk menyembunyikan senyum tipis.

Yudha menyerahkan berkas awal kepada Raka setelah laporan selesai.

"Kasus pertamamu sebagai lead investigator," katanya. "Mulai dari data. Jangan kagum pada uang, jangan jijik pada uang. Uang hanya konteks. Fakta tetap fakta."

"Siap, Komandan."

Dimas menepuk bahu Raka. "Selamat. Hadiah jabatanmu: keluarga kaya panik, kemungkinan penculikan, dan pabrik dengan dua ratus lebih karyawan. Paket lengkap."

"Kau membuatnya terdengar menyenangkan."

"Aku polisi. Definisi menyenangkan sudah rusak sejak lama."

Di ruang briefing, foto Hasan dan Feri ditempel di papan. Hasan berwajah tebal dengan senyum pejabat lokal: rapi, percaya diri, terbiasa disalami lebih dulu. Feri lebih muda, rambut klimis, rahang tajam, mata sedikit malas seperti orang yang sejak lahir tidak pernah antre.

Andi menampilkan profil perusahaan.

"PT Sejahtera Pangan Jaya. Berdiri dua puluh tahun. Produk masuk minimarket regional. Karyawan tetap dua ratus tiga belas, pekerja kontrak fluktuatif. Ada koneksi dengan beberapa anggota DPRD lama, sponsor acara sosial, dan beberapa donasi ke yayasan."

Kribo muncul di layar laptop dari kos. Ia sudah diberi kanal komunikasi khusus oleh Andi, meski statusnya tetap tidak resmi dan sangat tidak boleh disebut di laporan.

"Permukaannya bersih," kata Kribo. "Website cantik. Foto CSR. Pak Hasan tersenyum sambil memberi paket sembako. Feri tersenyum sambil potong pita. Banyak senyum. Aku tidak percaya orang yang terlalu sering tersenyum di brosur."

Andi menggeser layar. "Ada beberapa gugatan tenaga kerja. Upah lembur, kecelakaan kerja, pemutusan kontrak sepihak. Semua selesai lewat mediasi tertutup. Tidak ada pidana."

"Nama yang menonjol?" tanya Raka.

Kribo menjawab lebih dulu. "Anton Saputra. Mantan satpam. Di-PHK enam bulan lalu. Catatan internal perusahaan menyebut pelanggaran disiplin, tapi tidak ada detail. Setelah itu tidak ada jejak kerja resmi."

Dimas menyandarkan punggung ke kursi. "Mantan satpam tahu jalur masuk pabrik. Tahu CCTV. Tahu titik buta."

"Terlalu cepat menuduh," kata Yudha.

"Betul. Tapi cukup cepat untuk dicek."

Raka membaca laporan hilang sekali lagi.

Mobil masih di parkiran.

Ponsel mati.

Terakhir terlihat di pabrik.

Tidak ada permintaan tebusan.

Kalau ini penculikan biasa, pelaku biasanya menghubungi keluarga. Kalau pembunuhan, jasad atau jejak kekerasan biasanya tertinggal. Tapi dua orang kaya dengan koneksi lokal menghilang dari pabrik sendiri tanpa alarm, tanpa rekaman keluar, tanpa tuntutan uang.

Ada yang tidak lurus.

Saat Raka menyentuh foto Hasan, Buku Penghakiman di dalam tasnya terasa panas.

Bukan panas biasa.

Seperti bara kecil di bawah kain.

Panel muncul di sudut penglihatannya.

【Kasus #003 terdeteksi.】

【Kategori: Penculikan/Pembunuhan.】

【Batas waktu: 25 hari.】

【Tingkat kompleksitas: Tinggi.】

Raka menahan napas.

Panel berikutnya muncul lebih lambat.

【Peringatan: Kasus ini memiliki lapisan ganda.】

【Di balik korban, ada pelaku.】

【Di balik pelaku, ada korban yang sebenarnya.】

Kalimat itu membuat ruangan terasa dingin.

Di balik korban, ada pelaku.

Raka menatap foto Hasan dan Feri. Dua orang yang baru saja dilaporkan hilang. Di mata hukum, mereka korban. Di papan kasus, mereka korban. Di depan istrinya, mereka keluarga yang harus ditemukan.

Tapi Sistem jarang memakai kata seperti itu tanpa alasan.

"Raka?" panggil Yudha.

Raka berkedip. "Maaf, Komandan. Saya berpikir."

"Apa yang kau lihat?"

Pertanyaan itu terlalu dekat dengan kebenaran.

Raka memilih jawaban yang bisa hidup di dunia manusia. "Kalau pelaku tahu pabrik cukup baik untuk membawa dua orang keluar tanpa jejak, kita mulai dari orang dalam atau mantan orang dalam. Anton Saputra perlu ditemukan. Tapi jangan jadikan dia tersangka tunggal. Perusahaan ini punya terlalu banyak ruang tertutup."

Yudha mengangguk. "Besok pagi kita ke pabrik. Andi, amankan akses CCTV. Dimas, cek daftar karyawan yang keluar enam bulan terakhir. Raka, kau pimpin briefing lapangan."

"Siap."

Kribo di layar mengangkat tangan. "Aku cek jejak digital Anton dari sumber legal dan area abu-abu yang secara moral bisa didiskusikan nanti."

Andi menatap layar. "Sumber legal."

"Aku benci ketika orang dewasa merusak seni."

Malamnya, kantor mulai sepi, tetapi Raka masih berdiri di depan papan kasus.

Foto Hasan.

Foto Feri.

Nama Anton di sudut papan, ditulis dengan spidol biru.

Di bawahnya, Andi menempel catatan: mantan satpam, PHK 6 bulan lalu.

Raka membaca ulang panel sistem di ingatannya.

Di balik korban ada pelaku.

Di balik pelaku ada korban yang sebenarnya.

Ia tidak tahu siapa yang harus diselamatkan lebih dulu.

Ia hanya tahu kasus ini tidak akan memberi jawaban bersih.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!