NovelToon NovelToon
Dokter Forensik: Aku Bisa Melihat Penyebab Kematian

Dokter Forensik: Aku Bisa Melihat Penyebab Kematian

Status: sedang berlangsung
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Putra

"Arka Pratama hanyalah dokter muda magang di Instalasi Kedokteran Forensik. Gajinya kecil, pangkatnya rendah, dan semua orang meremehkannya. Tapi di hari pertamanya, sebuah sistem misterius bernama ""Kebenaran Forensik"" terbangun dalam dirinya — memberinya kemampuan melihat Label Kematian yang tak kasat mata di atas setiap jenazah.
Kasus yang sudah divonis bunuh diri? Arka melihat label merah: PEMBUNUHAN.
Mulai detik itu, tidak ada kebenaran yang bisa disembunyikan darinya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 12

Bab 012: Anindya dan Agen Nakal

Pagi keempat di kos baru, Arka membuka pintu kamar dan menemukan kantong plastik kecil tergantung di gagang pintunya.

Isinya roti tawar, satu botol susu kedelai, dan catatan pendek.

Untuk penghuni baru. Jangan simpan sepatu di lorong.

Tidak ada nama.

Dari kamar sebelah terdengar suara kursi diseret.

Arka menoleh.

Anindya keluar dengan laptop di tangan dan wajah yang masih setengah mengantuk.

"Mbak Nindya," kata Arka.

Ia berhenti. "Ya?"

"Terima kasih rotinya."

"Itu tanda perdamaian sementara."

"Sementara berapa lama?"

"Sampai Anda melanggar aturan dapur."

Arka mengangguk serius. "Berarti status saya masih masa percobaan."

Anindya menatapnya dua detik, lalu memalingkan wajah. Sudut bibirnya hampir naik.

Sebelum ia masuk ke dapur bersama, ponselnya berdering.

Wajahnya berubah.

"Saya sudah kirim foto. Kerusakannya bukan dari saya," katanya cepat. "Pak, itu dinding memang sudah retak sebelum saya masuk. Deposit saya tiga juta. Jangan dipotong semua."

Suara laki-laki dari ponsel terdengar keras meski tidak jelas.

Anindya menggenggam mug lebih kuat.

Label kuning muncul di tepi pandangan Arka.

[Stres akut ringan]

[Kurang tidur]

[Tegangan otot rahang]

Arka tidak langsung bicara.

Ia menunggu sampai panggilan selesai.

Anindya menekan layar dengan jengkel. "Maaf. Bukan urusan Anda."

"Agen lama?"

Ia menyipit. "Kok tahu?"

"Deposit tiga juta, foto kerusakan, nada orangnya memaksa. Biasanya agen sewa."

Anindya menghela napas. "Saya pindah dari kos lama karena bangunannya lembap. Deposit dijanjikan kembali setelah cek kamar. Sekarang katanya dinding retak, engsel rusak, kasur bernoda. Semua mau dipotong."

"Ada foto waktu masuk?"

"Ada. Banyak."

"Berapa?"

"Entah. Mungkin empat puluh lebih."

Arka mengambil susu kedelai dari plastik. "Kalau mau, saya bisa ikut."

Anindya langsung curiga. "Kenapa?"

"Karena saya masih masa percobaan sebagai tetangga. Ini bisa jadi ujian praktik."

"Mas Arka, ini cuma urusan deposit kos."

"Justru lebih mudah. Tidak ada jenazah, hanya agen yang terlalu percaya diri."

Untuk pertama kalinya, Anindya tertawa pendek.

Satu jam kemudian, mereka berdiri di depan sebuah ruko kecil di daerah Ngagel.

Papan namanya besar, catnya baru, tetapi kursi tunggunya goyah. Di balik meja kaca, seorang pria berbadan gemuk menatap mereka tanpa berdiri.

"Mbak Anindya lagi?" katanya. "Saya sudah jelaskan lewat telepon. Deposit tidak bisa kembali."

Anindya membuka mulut, tetapi Arka lebih dulu meletakkan map plastik di meja.

"Selamat pagi, Pak. Nama saya Arka Pratama. Saya menemani Mbak Anindya untuk klarifikasi administrasi."

Pria itu meliriknya. "Keluarga?"

"Tetangga."

Ia mendengus. "Kalau tetangga, tidak usah ikut campur. Ini urusan penyewa dan agen."

Arka tidak menaikkan suara.

Ia mengeluarkan ponsel Anindya, membuka folder foto yang sudah disusun berdasarkan tanggal.

"Ada empat puluh tujuh foto sebelum masuk kamar. Semua punya metadata tanggal dan jam. Ada video tiga puluh delapan detik saat kunci pertama diterima. Di sini dinding sudah retak. Di sini engsel sudah turun. Di sini noda kasur sudah ada."

Agen itu bersandar. "Foto bisa diedit."

Arka mengangguk. "Bisa. Karena itu kami juga punya percakapan WhatsApp dengan admin Bapak, tanggal dua belas bulan lalu. Admin menulis: retak dinding dicatat, akan diperbaiki minggu depan. Minggu depan tidak pernah datang."

Wajah agen berubah sedikit.

Anindya menatap Arka, jelas baru ingat pesan itu.

Arka menggeser layar lagi.

"Ini bukti transfer deposit Rp 3.000.000. Ini bukti bayar listrik. Ini bukti kunci dikembalikan. Ini foto meteran terakhir. Semua rapi. Jadi kalau Bapak tetap memotong deposit, alasan tertulisnya harus spesifik. Kerusakan apa, foto pembandingnya mana, biaya perbaikan dari vendor mana."

Agen itu mengetuk meja. "Mas, jangan sok jadi pengacara."

"Saya bukan pengacara."

Arka mengambil dompet dan menunjukkan kartu identitas kerja RSUD dr. Soetomo IKF.

Gerakan itu pelan.

Tidak mengancam.

Tetapi cukup membuat mata agen turun ke tulisan Instalasi Kedokteran Forensik.

"Saya kerja dengan dokumentasi luka dan bukti setiap hari," kata Arka. "Kalau bukti Bapak kuat, kami terima. Kalau tidak, saya sarankan jangan membuat catatan palsu. Hal kecil seperti tanggal foto bisa bicara lebih jujur daripada orang yang duduk di balik meja."

Ruangan itu hening.

Agen menatap kartu itu sekali lagi.

"Forensik?"

"Iya, Pak."

"Polisi?"

"Rumah sakit. Tapi sering berurusan dengan laporan resmi."

Anindya menunduk, menahan senyum.

Agen itu membuka laci, mengambil kuitansi, lalu menulis dengan kasar.

"Saya kembalikan dua juta lima ratus. Lima ratus untuk pembersihan."

Anindya langsung maju. "Pembersihan apa? Saya sudah bayar cleaning."

Arka menunjuk layar. "Ada bukti transfer cleaning Rp 150.000 ke admin Bapak. Tanggalnya sehari sebelum serah kunci."

Tangan agen berhenti.

"Tiga juta," katanya akhirnya. "Tapi jangan bikin ribut di review."

"Kalau uangnya kembali penuh, tidak ada alasan ribut," jawab Arka.

"Cash atau transfer?"

Anindya menjawab cepat. "Transfer. Sekarang."

Lima menit kemudian, ponselnya berbunyi.

Saldo masuk.

Rp 3.000.000.

Di luar ruko, Anindya berdiri di trotoar sambil menatap layar seperti baru melihat hasil visum yang menyelamatkan hidupnya.

"Saya sudah bolak-balik dua minggu," katanya pelan. "Begitu Anda datang, lima belas menit selesai."

"Bukan karena saya. Karena foto Anda lengkap."

"Saya foto banyak karena takut ditipu."

"Itu namanya naluri dokumentasi. Bagus."

Anindya melirik kartu kerja di tangan Arka. "Tapi kartu IKF itu lumayan menakutkan."

"Saya juga takut kalau lihat potongan biaya tanpa bukti."

Ia tertawa lagi. Kali ini lebih lepas.

Ketika mereka kembali ke kos, Pak Hadi sedang menyiram tanaman di depan pagar.

"Sudah beres?" tanyanya.

Anindya mengangkat ponsel. "Deposit balik penuh, Pak."

Pak Hadi melirik Arka. "Wah. Baru empat hari tinggal sudah jadi bagian keamanan kos."

"Saya hanya bagian dokumentasi," kata Arka.

Malam itu, kulkas bersama punya satu kotak baru.

Di tutupnya tertempel kertas kecil.

Untuk Mas Arka. Jangan dihabiskan Mas Dimas kalau datang.

Arka membuka kotak itu.

Di dalamnya ada risoles dan dua potong puding cokelat.

Ia menutup kembali pelan.

Hubungan tetangga, ternyata, bisa dimulai dari bukti foto dan uang deposit.

Ia membawa satu risoles ke kamar, duduk di meja, lalu membuka catatan V1.1.

Pemindai Cedera tidak muncul saat ia menghadapi agen.

Tidak ada luka tubuh yang relevan.

Tetapi hari itu mengingatkannya pada hal yang sama: orang yang menipu sering kalah saat bukti disusun lebih rapi daripada kebohongan.

Jam sebelas malam, Arka baru selesai menyalin beberapa poin laporan lama IKF.

Di luar, kos mulai sepi.

Anindya masih mengetik di kamar sebelah.

Klik mouse-nya cepat, lalu berhenti, lalu cepat lagi.

Arka hampir mematikan laptop ketika ponselnya bergetar.

Nama Adira muncul.

Pesan itu datang langsung.

Panggilan langsung.

Arka mengangkat. "Siap, Bu Iptu."

Suara Adira tidak memakai pembuka.

"Dok, tidur?"

"Belum."

"Bagus. Ambil kit forensik. Lima belas menit lagi Bambang jemput di depan kos."

Arka berdiri.

"Kasus apa?"

Di seberang sana, hening sebentar.

Lalu Adira berkata, "Kawasan Industri Rungkut. Tempat sampah belakang gudang logistik. Ada potongan daging. Petugas kebersihan bilang bentuknya seperti jaringan manusia."

Tangan Arka berhenti di atas tas.

Komentar berita beberapa malam lalu terlintas kembali.

Kalau polisi memang hebat, coba cek potongan daging yang dibuang di Rungkut.

"Dok?" suara Adira menajam. "Masih di sana?"

Arka menarik ritsleting tas forensik.

"Saya berangkat."

Sistem yang sejak tadi diam tiba-tiba menampilkan satu baris tipis.

[Misi baru terdeteksi.]

[Tingkat kesulitan: C]

[Objek awal: jaringan tubuh tidak utuh]

Di kamar sebelah, Anindya membuka pintu sedikit. "Mas Arka? Ada apa?"

Arka sudah memakai jaket.

"Kerja malam."

"Kasus lagi?"

Ia tidak menjawab detail.

Hanya mengangkat tas hitam kecil di tangannya.

Anindya melihat itu, lalu mundur setengah langkah. "Hati-hati."

"Kunci pagar saya tutup pelan."

"Bukan itu maksud saya."

Arka berhenti sebentar, lalu mengangguk.

"Saya tahu."

Ketika ia turun tangga, suara motor Bambang sudah terdengar dari ujung gang.

Malam Surabaya terasa biasa.

Terlalu biasa untuk sesuatu yang baru saja menunggu di tempat sampah Rungkut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!