NovelToon NovelToon
Pedagang Antar Dimensi: Dari Pecundang Jadi Penguasa

Pedagang Antar Dimensi: Dari Pecundang Jadi Penguasa

Status: sedang berlangsung
Genre:TimeTravel / Bepergian untuk menjadi kaya / Hari Kiamat
Popularitas:20
Nilai: 5
Nama Author: Putra

Setiap malam, Arka terbangun di dunia yang penuh zombie.

Setiap pagi, ia kembali ke dunia nyata dengan emas dan kristal yang bisa dijual miliaran.

Mantan pacarnya membuangnya karena ia "gila dan miskin."

Sekarang? Ia memiliki 128 properti, tubuh sempurna, dan kekuatan yang membuat jenderal berlutut.

Tapi ini baru permulaan. Karena dunia di luar Bumi jauh lebih berbahaya — dan Arka baru saja menjadi target nomor satu seluruh alam semesta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 17

"...maka dia harus belajar bahwa kepercayaan lebih mahal daripada Kristal. Dan lebih rapuh daripada kaca."

Keesokan paginya, Arka benar-benar mengumpulkan semua orang.

Halaman Markas Masa Depan penuh. Hampir enam puluh penyintas berdiri menghadap papan putih, beberapa masih memegang mangkuk sarapan. Dendi Prawira berada di barisan tengah. Wajahnya tenang, tetapi matanya bergerak terlalu sering ke arah gudang makanan.

Arka tidak menyebut namanya.

Itu lebih membuat Dendi gelisah.

"Mulai hari ini," kata Arka, "aturan logistik ditempel di papan. Beras, obat, peluru, dan Kristal dicatat oleh Pak Wiratama. Semua orang boleh melihat catatan. Tapi sumber jalur suplai tidak dibuka."

Bisik-bisik kecil langsung muncul.

Arka membiarkannya tiga detik.

Lalu ia berkata, "Kalian tidak perlu tahu semua pintu untuk bisa tinggal di rumah yang aman. Yang perlu kalian tahu adalah aturan rumah itu. Kerja dibayar makan. Risiko dibayar bagian. Pengkhianatan dibayar pengusiran."

Tidak ada nada marah.

Justru karena itu, kalimat terakhir terdengar lebih jelas.

Dendi menundukkan mata lebih dulu.

Sebelum suasana sempat mengeras, Fajar muncul dari sisi gerbang. Napasnya sedikit cepat, jaketnya basah oleh embun.

"Bang Arka," katanya. "Ada kelompok bersenjata di blok barat daya. Sekitar dua puluh orang. Mereka membawa penyintas dengan tangan terikat."

Halaman langsung berubah.

Merah menaruh mangkuknya. "Zombi?"

"Manusia," jawab Fajar. "Pemimpinnya dipanggil Rudi. Mereka punya AK-47, dua pickup, dan gudang kecil. Aku dengar mereka mau menukar orang-orang itu dengan peluru dan solar."

Wajah Zahra memucat. Kirana mengepalkan tangan di dekat dadanya.

Wiratama bertanya pelan, "Mereka memperdagangkan manusia?"

"Mereka menyebutnya tenaga kerja," kata Fajar. "Tapi cara mereka mengikat orang tidak terlihat seperti kontrak kerja."

Arka menatap papan logistik.

Markas butuh senjata.

Markas juga butuh orang.

Tetapi ada harga yang tidak boleh dibayar dengan membiarkan sampah seperti Rudi hidup di sekitar wilayah mereka.

"Elang," kata Arka.

"Siap."

"Ambil posisi tinggi. Hitung senjata dan pintu keluar. Jangan tembak kecuali mereka mengancam sandera."

"Mengerti."

"Shadow, Fajar, kalian masuk dulu. Lepaskan ikatan kalau ada celah. Merah, kau bawa tim tekanan dari depan. Jangan bakar gudang senjata."

Merah mendecak. "Sayang sekali."

"Aku butuh AK-nya."

"Baik, Bos. Api hemat."

Dendi maju setengah langkah. "Bang Arka, aku bisa ikut garis depan."

Arka menatapnya sebentar. "Ikut tim Merah. Patuhi komando."

"Siap."

Jawaban Dendi terdengar patuh. Namun ada kilatan lain di matanya. Ia ingin dilihat. Ingin membuktikan bahwa kekuatan fisik tingkat dua miliknya layak mendapat bagian lebih besar.

Arka mencatat itu tanpa komentar.

Mereka bergerak sebelum matahari naik terlalu tinggi.

Blok barat daya dulunya area gudang grosir. Sekarang pintu-pintu besinya dipasang ulang menjadi pagar kasar. Dua pickup diparkir menyilang, masing-masing dengan pria bersenjata berdiri di bak belakang. Di tengah halaman, sekitar tiga puluh penyintas duduk berbaris. Tangan mereka diikat kabel plastik. Ada anak muda, pekerja toko, seorang ibu dengan wajah kelelahan, dan dua pria tua yang tampak mencoba tetap tegak meski tubuh mereka gemetar.

Di depan mereka, Rudi Sulaiman duduk di kursi lipat sambil memegang radio tua.

Tubuhnya biasa saja. Wajahnya juga tidak menyeramkan. Justru itu yang membuatnya lebih menjijikkan. Ia terlihat seperti pria yang dulu bisa menjadi calo apa saja, dari tiket bus sampai barang gelap. Kiamat hanya memberinya pasar baru.

"Dengar," kata Rudi kepada para tahanan. "Kalian hidup karena saya. Jadi jangan pasang muka korban. Di utara, ada orang butuh tenaga angkut. Kalau kalian kerja bagus, kalian makan. Kalau tidak, ya urusan kalian."

Seorang pemuda mengangkat wajah. "Kau menjual kami."

Rudi tertawa. "Aku menyelamatkan stok. Di dunia ini, semua orang adalah barang kalau tidak punya senjata."

Di atap gedung seberang, Elang mendengar itu lewat alat dengar sederhana dan wajahnya mengeras.

"Konfirmasi," bisiknya. "Dua puluh satu bersenjata. Delapan AK-47 terlihat. Sisanya pistol dan parang. Sandera tiga puluh dua orang. Pemimpin di tengah, jaket cokelat."

Suara Arka masuk pelan. "Shadow."

"Sudah di belakang gudang."

"Fajar."

"Aku dekat sandera. Mereka belum sadar."

"Mulai."

Serangan dimulai sunyi. Satu penjaga di belakang gudang kehilangan senjata saat Shadow muncul dan memukul pergelangannya. Pada saat yang sama, pisau kecil memotong kabel plastik di barisan belakang. Fajar tidak terlihat, tetapi ikatan pertama jatuh ke tanah.

Penjaga kedua berteriak, "Ada penyusup!"

Terlambat.

Merah masuk dari gerbang depan dengan tiga orang. Api menyambar ban bekas di sisi kanan, cukup untuk membuat orang-orang Rudi panik mengangkat senjata ke arah yang salah.

DOR!

Elang menembak ban pickup depan. Kendaraan itu turun miring, menutup jalur kabur.

DOR!

Tembakan kedua menghantam senjata di tangan penjaga bak belakang, membuat AK terpental ke lantai besi.

"Jangan tembak sandera!" teriak Rudi. Suaranya baru terdengar takut setelah ia sadar aturan permainan sudah lepas dari tangannya.

Arka berjalan masuk lewat celah gerbang.

Langkahnya tenang. Dua pria Rudi mengarahkan AK. Sebelum jari mereka menekan pelatuk, garis kosong melintas di depan mereka.

Bilah Dimensi.

Tali selempang senjata putus. Laras dua AK jatuh terpisah dari pegangan, terbelah bersih tanpa menyentuh tangan pemiliknya.

"Jatuhkan senjata," kata Arka.

Rudi berdiri, menarik seorang tahanan perempuan muda ke depannya sebagai tameng. "Berhenti! Satu langkah lagi, dia mati!"

Zahra tidak ikut operasi garis depan, tetapi jika ia melihat adegan itu, ia pasti langsung tahu mengapa wajah Arka berubah dingin.

Arka berhenti.

Rudi tersenyum, mengira ia menemukan tombol yang benar. "Nah. Begitu. Kau pemimpin kelompok baru itu, kan? Aku dengar kau punya beras. Kita bisa kerja sama. Aku punya orang, kau punya makanan. Pasar butuh semua itu."

"Kau menyebut mereka orang atau barang?"

"Tergantung siapa yang bayar."

Beberapa anggota Markas Masa Depan yang mendengar itu menatap Rudi seperti melihat zombi yang masih bisa bicara.

Arka mengangkat tangan.

Rudi menekan pisau lebih dekat ke leher sandera. "Turunkan tanganmu!"

"Kau salah paham," kata Arka. "Aku tidak sedang negosiasi."

Garis kosong menyambar pisau di tangan Rudi.

Bilahnya terpotong pendek dan jatuh ke tanah.

Sebelum Rudi memahami apa yang terjadi, Shadow sudah tiba di belakangnya. Pergelangan Rudi terkunci. Sandera ditarik Fajar ke samping, ikatannya lepas. Merah maju dua langkah, membuat sisa anggota Rudi menjatuhkan senjata satu per satu.

Rudi meronta. "Tunggu! Aku tahu jalur senjata! Aku bisa kasih kau kontak! Aku berguna!"

Arka berdiri di depannya. "Kau memang berguna. Gudangmu, senjatamu, dan catatan transaksimu berguna."

Rudi menelan ludah. "Aku bisa jadi anak buahmu."

"Tidak."

"Kau butuh orang seperti aku di dunia ini!"

"Aku butuh manusia. Pedagang manusia tidak masuk hitungan."

Bilah Dimensi bergerak sekali.

Rudi jatuh tanpa sempat menyelesaikan tawarannya.

Tidak ada yang bertepuk tangan. Tidak perlu. Para tahanan yang baru bebas hanya menatap Arka dengan mata yang masih belum percaya bahwa rantai mereka selesai secepat itu.

Seorang ibu paruh baya mulai menangis pelan.

Pemuda yang tadi menantang Rudi berlutut karena kakinya akhirnya menyerah setelah terlalu lama dipaksa kuat.

"Bang," katanya kepada Arka, suara serak. "Kalau kami ikut... apa kami akan dijual lagi?"

Pertanyaan itu membuat beberapa anggota Markas menunduk.

Arka menatap seluruh tahanan.

"Di Markas Masa Depan, kalian bekerja. Kalian makan. Kalian belajar memegang senjata kalau sanggup. Kalian tidak dijual. Kalian juga tidak diberi makan gratis selamanya. Yang mau hidup sebagai manusia, ikut. Yang mau pergi setelah pulih, boleh pergi."

Pemuda itu menatapnya lama.

Lalu ia mengangguk.

Satu per satu, tahanan lain ikut mengangguk.

Wiratama, yang datang bersama tim kedua, langsung membuka buku catatan. "Nama, kondisi fisik, kemampuan, keluarga yang hilang kalau ada. Kita catat semua. Jangan ada yang masuk gudang sebelum diperiksa Zahra."

"Pak Wiratama bahkan bisa membuat penyelamatan terdengar seperti buka rekening," gumam Merah.

"Kalau dunia belum kiamat, saya akan meminta KTP," jawab Wiratama kering.

Beberapa orang tertawa lemah. Tawa pertama para penyintas yang baru bebas.

Hasil penggerebekan dihitung menjelang sore.

Delapan AK-47 layak pakai. Empat pistol. Beberapa peti peluru, meski jumlahnya tidak sebanyak yang mereka harapkan. Dua pickup bisa diperbaiki. Ada buku transaksi Rudi berisi catatan barter dengan kelompok utara, termasuk nama yang beberapa kali muncul.

Markas Bahari.

Elang membaca halaman itu dengan kening berkerut. "Mereka membeli tenaga kerja, peluru, solar, bahkan informasi rute. Ini bukan kelompok kecil."

Shadow berdiri di dekat gerbang, mengawasi para penyintas baru yang dibawa keluar. "Tiga puluh dua orang. Kalau semuanya ikut, markas kita lewat sembilan puluh."

Merah mengangkat satu AK dan memeriksa magazennya. "Senjata bertambah, mulut bertambah. Beras juga harus bertambah."

Kirana menatap Arka. "Dan wilayah kita harus lebih besar. Kalau tidak, kita hanya menumpuk orang di dalam satu kotak."

Arka melihat ke arah utara.

Di sana, di balik garis gedung yang gelap, ada Markas Bahari. Galang datang dari arah itu. Rudi berdagang dengan nama itu. Dan cepat atau lambat, Darian Pradipta akan mendengar bahwa sebuah markas kecil bernama Masa Depan mulai memotong jalur kotornya.

Sembilan puluh orang.

Mereka membutuhkan lebih banyak makanan.

Lebih banyak senjata.

Lebih besar wilayah.

Arka melipat buku transaksi Rudi dan memasukkannya ke saku.

"Kita lihat," katanya pelan, "seberapa besar utara itu sebenarnya."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!