NovelToon NovelToon
Tuan Muda Dingin, Pembantu Manisnya

Tuan Muda Dingin, Pembantu Manisnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / CEO / Pengasuh / Ibu susu
Popularitas:194
Nilai: 5
Nama Author: Mutiara Putri

Lianna "Lia" Souw punya satu rahasia yang tak boleh diketahui siapa pun.

Sejak kecil, tubuhnya mengeluarkan wangi manis setiap kali ia kenyang — warisan ramuan turun-temurun dari neneknya. Wangi yang membuatnya terlalu "mengundang", terlalu berbahaya. Maka Lia belajar satu hal: **menahan lapar, menyembunyikan wanginya, dan tidak menarik perhatian siapa pun.**

Kabur dari ayah yang nyaris menjualnya demi melunasi utang, Lia mendarat di rumah megah Keluarga Wijaya di PIK — jadi pembantu tinggal-dalam yang memasak masakan rumahan dan mengurus cucu kesayangan Popo. Rencananya sederhana: kerja diam-diam, kumpulkan uang, lalu pergi.

Sampai ia bertemu **Sebastian Wijaya.**

Tuan muda keluarga konglomerat itu dingin, menahan diri, tak tersentuh — seperti puncak salju yang tak pernah mencair. Semua wanita ia tolak. Sampai malam itu, saat wangi manis Lia menguar di udara… dan pertahanan diri yang selama ini jadi kebanggaannya **retak untuk pertama kalinya.**

"Mulai sekarang," bisiknya rendah, mengurung Lia di antara dirinya dan pintu, "kamu hanya boleh makan sampai kenyang… di depanku."

Lia pikir ia hanya perlu bertahan sampai cukup uang untuk pergi. Ia tidak pernah menyangka pria sedingin es itu akan menuliskan rumah dan seluruh hartanya atas namanya, melepas mahkota pewaris demi merangkak naik dari nol bersamanya, dan berkata pada seluruh dunia dengan mata paling lembut:

*"Istriku manja. Memang harus dimanja."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1

Bab 1: Bau Manis di Ambang Pintu

Plak.

Satu kancing kemeja Lia terlepas tepat ketika mobil Grab berhenti di depan gerbang rumah keluarga Wijaya.

Lia buru-buru menutup bagian dadanya dengan telapak tangan. Kemeja bermotif bunga kecil itu sudah terlalu sering dicuci. Warnanya memudar, kainnya menipis, dan sekarang benang di lubang kancing kedua ikut menyerah karena tertarik tubuhnya yang berisi.

“Sudah Tante bilang, tahan sedikit dadamu. Jangan terlalu tegak,” bisik Tante Meilin. “Rumah orang kaya banyak mata. Jangan sampai baru datang sudah jadi bahan omongan.”

Lia menunduk. Di pangkuannya, ransel kain tua dengan resleting berkarat terasa semakin jelek di antara jok mobil yang bersih.

“Iya, Tante.”

Perutnya berbunyi pelan.

Sejak pagi ia hanya minum air putih. Uang terakhir di dompet harus cukup untuk ongkos kembali ke kos kalau keluarga Wijaya menolaknya. Lagi pula, lapar membuat tubuhnya tetap dingin. Selama perutnya kosong, wangi aneh yang selalu muncul dari kulitnya hampir tak tercium.

Itu lebih aman.

Tante Meilin membayar ongkos, lalu menarik Lia turun. Udara PIK yang panas langsung menempel di wajah. Di depan mereka berdiri gerbang besi hitam setinggi dua kali tubuh Lia, dijaga kamera kecil yang mengikuti setiap gerakan. Di balik gerbang, halaman luas membentang dengan pohon palem rapi, batu alam pucat, dan sebuah rumah tiga lantai yang jendelanya memantulkan matahari.

Lia tanpa sadar merapatkan ranselnya ke dada.

Kos sempitnya bahkan tak lebih besar dari salah satu jendela rumah itu.

“Jangan melongo,” tegur Tante Meilin lagi. Kali ini suaranya lebih lembut. Ia membetulkan kerah Lia untuk menutupi kancing yang lepas. “Kesempatan seperti ini susah dicari. Popo keluarga Wijaya butuh orang yang bisa masak masakan rumahan Tionghoa dan membantu menjaga cucunya. Kamu bisa dua-duanya. Tinggal jangan banyak bicara.”

“Saya akan bekerja baik-baik.”

“Dan jangan ceritakan masalah papamu kepada siapa pun.”

Jari Lia yang memegang ransel langsung kaku.

Bayangan tagihan utang yang ditempel di pintu rumah Singkawang melintas di benaknya. Disusul suara Herman yang berat oleh arak, mengatakan bahwa laki-laki hampir lima puluh tahun itu sudah membayar uang muka untuk menjadikannya istri.

Lia menekan kain tipis di dadanya lebih rapat.

“Saya tidak akan cerita.”

Gerbang bergeser terbuka. Seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun dengan seragam pengemudi berdiri di dekat sebuah Alphard hitam.

“Tante Meilin?” tanyanya sopan.

“Iya, Pak Kelik. Ini Lia yang saya ceritakan.”

Pak Kelik mengangguk kepada Lia. “Silakan masuk, Mbak Lia. Popo sudah menunggu di teras depan.”

Lia baru melangkah melewati gerbang ketika pintu utama terbuka.

Seorang pria tinggi keluar sambil membaca pesan di ponselnya. Kemeja putihnya licin tanpa satu lipatan. Jam logam gelap melingkar di pergelangan tangannya, sederhana tetapi tampak mahal. Wajahnya tenang, nyaris dingin, seolah panas siang dan kesibukan di sekeliling tak berhak menyentuhnya.

Pak Kelik segera membukakan pintu mobil.

“Mobil sudah siap, Pak Sebastian.”

Pria itu mengangguk pendek. “Kita berangkat sekarang.”

Lia menepi terlalu cepat. Ujung sandalnya tersangkut pada sela batu, membuat tubuhnya oleng ke depan.

Sebastian mengangkat tangan secara refleks.

Jarinya sempat menyentuh siku Lia sebelum perempuan itu menemukan keseimbangan. Hanya sesaat, tetapi telapak tangannya menangkap hangat yang tak semestinya ada pada kulit orang yang belum makan sejak pagi.

Lia mendongak.

Tatapan mereka bertemu.

Mata pria itu gelap dan tajam. Lia buru-buru menunduk, menyadari kerahnya kembali bergeser. Telapak tangannya menutup kancing yang lepas. Karena panik, panas merambat tipis dari leher ke wajah.

Bersamaan dengan itu, hembusan angin membawa aroma manis yang sangat samar. Seperti buah matang yang baru dikupas, hangat dan lembut, lalu hilang sebelum bisa dikenali.

Langkah Sebastian tertahan setengah detik.

Tenggorokannya bergerak.

“Maaf, Pak,” ucap Lia cepat.

Sebastian melepaskan sikunya. “Hati-hati.”

Hanya dua kata. Datar, bersih, tanpa senyum.

Namun ketika Lia berjalan masuk bersama Tante Meilin, tatapan pria itu tertinggal pada punggungnya lebih lama daripada yang seharusnya.

“Pak Sebastian?” panggil Pak Kelik.

Sebastian masuk ke mobil tanpa menjawab. Pintu tertutup, menyisakan hawa sejuk dan wangi kulit jok. Ia membuka kembali surel di ponsel, tetapi kalimat pertama harus dibacanya dua kali.

Aroma tadi masih seolah menempel di ujung napas.

***

Popo Mei Hoa menunggu di teras dengan kipas lipat di tangan. Rambut putihnya disanggul sederhana, matanya hidup dan teliti. Di atas meja rotan tersedia teh hangat, tetapi Lia tidak berani menyentuhnya.

“Jadi ini anak dari Singkawang itu?” Popo mengamati Lia dari kepala sampai kaki, berhenti sebentar pada tangan yang masih menahan kerah. “Namamu siapa?”

“Lianna Souw, Popo. Biasa dipanggil Lia.”

“Bisa masak apa?”

“Babi kecap, ayam jahe, sup sawi asin, bakso ikan. Saya juga bisa masak makanan rumahan yang diajarkan Popo Hwa.”

Sorot mata Popo berubah saat mendengar nama kota dan masakan itu.

“Popo Hwa-mu orang Singkawang juga?”

“Iya, Popo. Saya dibesarkan beliau.”

Tante Meilin segera menyambung, “Anaknya rajin. Tidak takut bangun pagi. Kalau soal bayi juga telaten.”

Dari dalam rumah terdengar tangis bayi, tipis tetapi terus-menerus. Lia menoleh tanpa sadar.

Popo melihat gerakan itu. “Itu Bryan, cicit Popo. Masih kecil, tetapi susah minum dan susah tidur. Mamanya juga cepat lelah.”

“Saya bisa membantu, Popo.”

“Jangan cepat janji.” Popo mengetuk kipas ke telapak tangan. “Di rumah ini orangnya banyak, aturannya juga banyak. Kamu coba tiga hari dulu. Masak yang benar, jaga Bryan yang benar. Kalau cocok, kamu tinggal.”

Napas yang ditahan Lia akhirnya lolos perlahan.

Tiga hari bukan jaminan. Namun tiga hari berarti tempat tidur tanpa membayar sewa, makanan tanpa menghitung sisa uang, dan jarak yang lebih jauh dari tangan ayahnya.

Ia membungkukkan kepala. “Terima kasih, Popo. Saya akan berusaha.”

“Meilin, antar dia ke kamar belakang. Setelah itu suruh dia ke dapur. Popo mau lihat masakannya.”

Tante Meilin tersenyum lega. “Baik, Popo.”

Saat Lia mengangkat ranselnya, Popo menunjuk kerah yang terus ia tahan.

“Cari peniti di dapur. Jangan kerja sambil memegang baju begitu. Capek.”

Pipi Lia memanas. “Iya, Popo.”

Untuk pertama kalinya sejak turun dari mobil, sudut bibir Popo naik sedikit.

***

Alphard hitam sudah meninggalkan kompleks ketika ponsel Sebastian tersambung ke panggilan Robby.

“Gue kirim revisi jadwal lewat surel,” suara Robby terdengar dari pengeras mobil. “Lo sudah jalan?”

“Sudah.”

Sebastian menatap keluar jendela. Gerbang rumahnya mengecil di kaca spion, tetapi bayangan perempuan dengan kemeja pudar dan tangan yang menutup kancing lepas masih terlalu jelas.

Ia seharusnya memikirkan rapat.

Sebaliknya, satu pertanyaan keluar tanpa alasan yang mau diakuinya.

“Rob, yang baru datang ke rumah itu siapa?”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!