NovelToon NovelToon
Dibuang Karena Mandul, Dinikahi Konglomerat

Dibuang Karena Mandul, Dinikahi Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mandul / Balas Dendam
Popularitas:10.6k
Nilai: 5
Nama Author: CHIBEL

Demi melindungi harga diri suaminya yang mandul, Larissa rela menanggung caci maki sebagai wanita mandul. Namun, pengorbanannya dibalas dengan surat cerai dan pengusiran kejam setelah sang suami memalsukan hasil medisnya demi bersanding dengan wanita lain.

Tiga tahun berlalu, dunia terguncang ketika Larissa bangkit sebagai istri dari CEO terkaya dan melahirkan dua anak yang sehat. Saat kebohongan masa lalu mulai terbongkar, giliran Larissa yang memegang kendali untuk membuat mantan suaminya merangkak dalam penyesalan seumur hidup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CHIBEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 - Titik terendah sebelum bangkit

Larissa berjalan menyusuri trotoar jalanan dengan langkah kaki yang terseret. Tangan kanannya mencengkeram erat gagang koper yang rodanya sesekali tersangkut di celah paving blok yang rusak.

Pakaiannya setengah basah, melekat dingin di kulitnya yang pucat. Riuh rendah suara klakson kendaraan yang membelah kemacetan sore hari terasa begitu asing di telinganya. Di tengah kota metropolitan yang begitu luas ini, dia merasa sebatang kara dan tak punya arah tujuan.

Selama lima tahun membina rumah tangga, dia telah melepaskan seluruh dunianya. Atas permintaan dari Bram tak lama setelah mereka menikah, dia berhenti bekerja dan fokus menjadi ibu rumah tangga.

Bram selalu berkata dengan nada manis, “Kamu tidak perlu lelah bekerja, Sayang. Tugasmu hanya di rumah, melayaniku dan bersiap menjadi ibu dari anak-anak kita. Aku yang akan mencukupi segala kebutuhanmu.”

Larissa yang polos memercayai kalimat itu sebagai bentuk kasih sayang. Akibatnya, dia tidak memiliki penghasilan sendiri.

Uang di dalam tabungan pribadinya kini sangat menipis, nyaris menyentuh angka kritis, karena sisa uang belanja yang diam-diam dia sisihkan telah habis digunakan untuk membiayai sandiwara jamu dan ramuan herbal mahal yang dipaksakan oleh Ibu Maya selama dua tahun terakhir.

Dia keluar dari kediaman Baskoro murni sebagai seorang wanita yang bangkrut secara finansial dan hancur secara mental.

Langkah kaki Larissa akhirnya membawanya ke sebuah kawasan pemukiman padat penduduk di pinggiran kota, jauh dari gemerlap kompleks elit tempat tinggalnya dulu.

Setelah berjalan berjam-jam berteman rasa mual dan pusing yang kian mendera, Larissa berhenti di depan sebuah bangunan dua lantai bercat kusam dengan papan tripleks bertuliskan:

Menerima Kos Putri.

Dengan sisa uang tunai yang ada di dompetnya, Larissa membayar sewa satu bulan ke depan untuk sebuah kamar kos kecil berukuran tiga kali tiga meter di pojok lantai atas.

Kamar itu sangat sederhana, bahkan cenderung memprihatinkan jika dibandingkan dengan kamar utamanya dulu yang berukuran seluas rumah.

Di dalamnya hanya ada sebuah kasur busa tipis tanpa ranjang, sebuah lemari pakaian plastik murahan, dan sebuah kamar mandi dalam dengan bak plastik yang berlumut tipis.

Tidak ada pendingin ruangan, hanya ada sebuah jendela kecil yang menghadap langsung ke arah atap seng rumah warga sekitarnya.

Larissa menutup pintu kamar kos tersebut, lalu meletakkan kopernya di sudut ruangan. Begitu tubuhnya menyentuh kasur busa yang keras, pertahanan yang dia bangun sejak siang tadi runtuh seketika.

Tangisnya pecah dalam kesunyian kamar.

Dia menangis sejadi-jadinya, meluapkan seluruh rasa sakit, kehinaan, dan pengkhianatan yang menyumbat dadanya hingga terasa sesak.

Suara isak tangisnya teredam oleh bantal tipis tanpa sarung yang dia dekap erat-erat. Tubuhnya berguncang hebat di atas kasur yang tipis.

Dalam kesendirian malam itu, Larissa meratapi nasibnya yang begitu malang, sekaligus meratapi kebodohannya yang teramat sangat.

Larissa adalah seorang yatim piatu. Kedua orang tuanya telah tiada sejak dia masih duduk di bangku sekolah menengah, meninggalkannya tanpa warisan harta maupun sandaran keluarga besar yang bisa melindunginya.

Dia tumbuh besar sebagai gadis dari latar belakang keluarga yang sangat biasa saja, hidup prihatin dan harus berjuang keras sendirian untuk bertahan hidup di kerasnya ibu kota.

Hingga suatu hari, Bram Baskoro masuk ke dalam hidupnya yang sepi. Pria kaya, tampan, dan berwibawa itu datang bagaikan seorang pangeran dari negeri dongeng.

Bram dengan segala pesonanya menjanjikan sebuah pernikahan yang indah. Dia masih ingat betul malam di mana Bram berlutut di hadapannya, menggenggam tangannya hangat, dan berjanji :

“Rissa, aku tahu kamu tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Menikahlah denganku, aku bersumpah akan menjadi pelindungmu, menjagamu, dan mencintaimu seumur hidupku dalam keadaan apa pun. Kamu tidak akan pernah merasa kesepian lagi.”

Janji manis itu rupanya hanyalah sebuah umpan kebohongan yang dirancang rapi untuk menjebak hatinya. Bram tidak pernah benar-benar mencintainya; pria itu hanya menginginkan seorang istri penurut dari keluarga biasa yang bisa dia setir sesuka hati dan dijadikan tameng pelindung egonya.

Dan Larissa, dengan ketulusannya yang buta telah menyerahkan seluruh harga diri, dan masa mudanya demi melindungi martabat pria penipu itu.

Dia rela dicap "mandul" dan "rahim lemah" oleh Ibu Maya, murni karena dia tidak ingin melihat Bram hancur saat mengetahui hasil tes yang menyatakan Bram-lah yang mandul total.

"Kenapa kamu begitu tega, Mas... Kenapa kamu membalas ketulusanku dengan cara sekejam ini?" rintih Larissa di sela-sela tangisnya yang memilukan.

Dada sebelah kirinya terasa seperti dicengkeram oleh tangan besi yang tak kasat mata. Sakitnya begitu nyata hingga dia harus memukul-mukul dadanya sendiri agar bisa bernapas.

Ditambah lagi, hasil tes dari dr. Hendra di Medika Kirana kemarin membuatnya benar-benar percaya bahwa rahimnya kini telah mati dan mandul permanen. Dia merasa dikutuk oleh kebohongannya sendiri.

Rasa bersalah, rasa bodoh, dan rasa terhina bercampur aduk menjadi satu, menggilas habis sisa-sisa kewarasan yang dia miliki malam itu.

Waktu terus merambat naik menuju dini hari. Hujan di luar telah sepenuhnya reda, menyisakan kesunyian malam yang mencekam. Isak tangisnya perlahan-lahan mulai mereda, menyisakan napasnya yang masih memburu dan dadanya yang terasa naik turun dengan tidak teratur.

Larissa perlahan melepaskan dekapannya pada bantal yang kini telah basah kuyup oleh air mata. Dia telentang, menatap langit-langit kamar kos yang memiliki noda bekas bocoran air hujan yang telah mengering.

Perlahan namun pasti, ada sesuatu yang berubah di dalam dirinya.

Rasa sedih yang meluap-luap itu perlahan-lahan mulai menyusut, digantikan oleh rasa dingin yang luar biasa yang merayap dari ujung kaki hingga ke kepalanya.

Air matanya berhenti mengalir bukan karena rasa sakitnya telah hilang, melainkan karena tangki kesedihannya telah terkuras habis tanpa sisa.

Kesedihan itu mengering, mengeras, dan mengkristal menjadi sebuah emosi baru yang jauh lebih pekat dan berbahaya, sebuah kilat amarah yang luar biasa dingin.

Larissa mendudukkan tubuhnya di atas kasur, dia menghapus sisa air mata di pipinya dengan punggung tangan secara kasar. Pandangan matanya yang semula layu dan penuh keputusasaan, kini menajam memancarkan binar kegelapan yang belum pernah ada sebelumnya.

Dia teringat senyuman kemenangan Vera di balik jendela kaca rumah mewah mereka siang tadi. Dia teringat tatapan jijik Bram saat mendorongnya hingga terjatuh di lantai kantor. Dan dia teringat makian brutal mantan mertuanya yang menyebutnya sebagai wanita pembawa sial.

Larissa menarik napas dalam-dalam, membiarkan udara malam yang dingin mengisi paru-parunya. Dia berjanji pada dirinya sendiri, demi arwah kedua orang tuanya dan demi sisa hidupnya, dia tidak akan membiarkan dirinya hancur dan mati di kamar kos kecil ini sebagai seorang pecundang yang kalah.

Jika mereka mengira telah berhasil membunuh jiwa Larissa yang lama, maka mereka benar. Larissa yang polos, penurut, dan tulus telah mati malam ini.

Dan dari abu kematian itu, sosok Larissa yang baru telah lahir, seorang predator yang akan bergerak dalam senyap.

Larissa mengulurkan tangan kanannya ke dalam tas kecil yang tergeletak di samping kasur. Jemarinya meraba bagian dalam tas, lalu mengeluarkan sebuah cermin lipat kecil.

Dia kemudian membuka cermin tersebut. Di bawah temaram cahaya lampu kamar kosnya, dia menatap pantulan dirinya sendiri.

Wajah di dalam cermin itu tampak begitu berantakan. Matanya bengkak dan sembap, hidungnya memerah, dan rambutnya yang panjang tampak kusut masai. Di bahu dan pinggangnya, rasa perih akibat dorongan Bram masih terasa berdenyut.

Larissa menatap lekat-lekat ke dalam manik matanya sendiri di dalam cermin. Perlahan, sudut bibirnya yang pucat terangkat, membentuk sebuah senyuman tipis yang sangat dingin, sebuah senyuman yang terlihat begitu mengerikan di wajahnya yang sembap.

Dia mendekatkan cermin kecil itu ke depan bibirnya, lalu berbisik dengan nada suara yang sangat rendah, dingin.

"Bram Baskoro... Vera... Maya Baskoro... ingat baik-baik hari ini," bisiknya, suaranya mengalun pelan namun bergaung tajam di dalam keheningan kamar kosnya yang sempit.

Larissa mencengkeram bingkai cermin itu hingga kuku-kukunya memutih menahan dendam yang membara di dalam dada.

"Nikmatilah kemenangan kalian di atas panggung sandiwara yang kalian buat. Bersenang-senanglah di atas penderitaanku malam ini. Karena suatu hari nanti... aku bersumpah demi langit dan bumi, aku akan bangkit."

Aku akan kembali ke hadapan kalian, dan aku sendiri yang akan membuat kalian merangkak di bawah kakiku, meratapi setiap tetes air mata dan kehinaan yang keluar dari mataku malam ini. Waktu masih terus berjalan, dan pembalasanku tidak akan menyisakan ampunan."

Bersambung

1
sunaryati jarum
Semua manipulatif Bram dan Vera dikuliti publik, rasain
sunaryati jarum
Tanggung jawablah Vera kau kan sudah menikmati Bram dan hartanya, sekarang kau tinggal membayar sebagai penghuni hotel prodeo
YAM
smpe sini terlalu greget ma mc nya bego gampang di tindass😡😡
Sindy Puspita: Hehehehe, hidup kadang emang harus bego dulu kak🤭🙏
total 1 replies
sunaryati jarum
Bu Maya langsung koit
sunaryati jarum
Emak tunggu hasilnya, Larissa
sunaryati jarum
Ingat kamu hamil jangan terlalu emosi
Batara Kresno
makin seru bagus ceritanya lanjut thor
sunaryati jarum
Hanya dengan mengumumkan kehamilan Larissa kebohongan Bram dan Vera terbongkar dengan sendirinya.Jika sejak awal jujur sama Bu Maya, mungkin dia tidak mengecap Larissa mandul,dan cari solusi bersama.Kalau sudah begini kalian sendiri yang hancur, bahkan Bram tidak tahu dirinya menghina Vera juga,lucu .Sudah tahu dirinya yang bermasalah kok melempar kekurangan pada orang lain🤣🤣🤣
sunaryati jarum
Nah bagaimana Bu Maya masih mempertahankan jika Larissa mandul?
sunaryati jarum
Selamat Larissa akhirnya bersama Sultan Sang Penguasa Raja Bisnis kamu hamil, semoga sehat bayi dan kamu
Sindy Puspita
Terima kasih atas dukungannya kak🙏 Ditunggu updatenya besok malam ya
Batara Kresno
masih kurang thor dirunggu upnya ttp semangat trimakasih udah up 3 bab🙏🙏🙏
Batara Kresno
mampus lho bu maya
Batara Kresno
ko cuma 1 tumben pengin liat keluarga bram mampus
sunaryati jarum
Lanjut
sunaryati jarum
Nah,kan tanpa Larissa membalas sakit hatinya, mereka sudah mendapatkan balasan atas kejahatan mereka
sunaryati jarum
Terbongkar kebohongan kamu,ingin hati menutupi kekurangan Bram,namun merugikan diri sendiri
sunaryati jarum
Tidak usah membalas mereka sudah kenaa karma karena ulahnya dan provokasi Vera.Hiduplah dengan bahagia sudah
Emak suka cerita ini , tidak bertele- tele, alurnya runtut
sunaryati jarum
Jatuh mental sekarang , orang yang kalian hina bersanding dengan pria terkaya dan berkuasa
sunaryati jarum
Waah mantap Bos Bayu to the point , langsung gass pool.Langsun nikahin,Bos
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!