Novel yang berkisah tentang kisah cinta kedua setelah cinta pertamanya berakhir karena takdir maut memisahkan...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Roselita Riani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Persiapan pernikahan 3
Lanjutkan, atau tidak. Pikiranku berkecamuk. Dan aku pun belum dapat kabar apa pun darinya. Aku sendiri masih bingung bagaimana membicarakan rencana pernikahan ku dengan Kevin dan Adam. Saat ini Kevin pastinya fokus ke pernikahan nya kurang dari sebulan lagi. Sedangkan pernikahanku tinggal beberapa hari lagi.
Tiba-tiba hpku berbunyi. Ternyata panggilan Susi. "Assalamualaikum... ", sapaku. " Waalaikum salam", jawab Susi. "Mas, bisa transfer 10 juta ke rekeningku mas sekarang", katanya lagi. " Buat apa? Persiapan pernikahan kita kah? ", tanyaku. " Bukan mas, ini buat ngurus perpindahan sekolahnya Boy ke Palangkaraya tempat tantenya. Dia ga mau tinggal sama neneknya lagi kalau diriku menikah denganmu", jelas Susi. "Kita kan rencana nya mau ajak Boy dan Reva tinggal bersama di Tanjung", kata ku. " Sebenarnya mereka tidak setuju aku menikah denganmu mas, istilahnya mereka punya abah tiri, mereka memilih sendiri. Boy memilih pindah sekolahnya ke Palangkaraya, sedangkan Reva ngotot masih ingin tinggal sama neneknya saja di Banjarmasin", Susi dengan jelas nya menerangkan. "Oke, ku transfer sekarang, kirim no rekeningmu ya", jawabku. " Baik mas, sudah dulu ya, terima masih sebelum nya", kata Susi sebelum menutup teleponnya. "Sepertinya aku sudah tidak bisa mundur dari keinginanku menikahi Susi", gumamku dalam hati. " Sekarang bagaimana aku membicarakannya dengan anak-anak", pikirku.
Saat ingin mencari waktu bicara dengan Kevin, sepertinya Tuhan berusaha melancarkan rencana ku. Kevin yang baru selesai mandi dari habis pulang Kerja mendekati ku. "Sedang mikirin apa Bah? ", tanya nya padaku. " Kebetulan Vin, duduk dekat abah, abah ada yang ingin di bicarakan", jawabku. "Sepertinya serius", sahut Kevin sambil duduk mendekati ku. "Abah ada rencana menikah dengan Susi, kamu sudah pernah abah cerita kan orang nya", kata ku. Kevin terdiam. " Abah harap kalian, termasuk dirimu dan Adam mendukung keputusan abah", tambahku. "Keputusan ditangan abah, pendapat Kevin sepertinya tidak diperlukan, mendukung atau pun tidak, tidak akan merubah keputusan abah", jawab Kevin. " Kalau suatu saat abah sudah ga ada didunia ini, apakah dirimu bersedia membantu biaya pendidikan anak sambung abah nantinya? ", tanyaku dengan penuh harap. " Maaf bah, urusan ini bukan tanggung jawab Kevin atau pun Adam ke depan nya, karena sudah beda manajemen, itu adalah kewajiban dan tanggung jawab tambahan abah sendiri, apalagi soal membiayai calon anak tiri abah. Mungkin membantu bisa, tapi itu juga bukan rutin ke depan nya. Itu adalah urusan abah sendiri untuk memikirkannya", terang Kevin. Aku melihat jelas berapa serius nya Kevin menanggapi pertanyaanku. "Dan ke depan nya Kevin atau pun Adam tidak akan ikut campur dalam rumah tangga abah dan Tante Susi", tambah nya lagi. " Tidak kah nanti dirimu dan Adam bisa memanggilnya mama? ", tanyaku. " Tante tetap lah tante, orang luar yang menjadi istri abah hanya bisa sampai level ibu, itu pun kami memanggilnya. Kalau abah meminta Kevin memanggilnya mama, jelas Kevin menolak. Bagi Kevin, mama sebutan bagi orang yang melahirkan Kevin. Sosok yang spesial. Dan sekali lagi maaf bah, Tante Susi bukan siapa-siapanya Kevin dan Adam", jawab Kevin. "Abah sudah jelas dengan sikapmu", aku pun menghela nafas. Kalau aku tidak bisa mengharapkan anak lelakiku mengurus calon Adik tiri nya ke depan nya. " Kalau sudah tidak ada lagi yang ingin abah bicara kan, Kevin ke kamar dulu ya bah", pinta Kevin. "Ya, abah sudah selesai bicara nya", jawabku.
bagus thor cerita nya.. cuman mungkin harus diperhatikan POV nya aja.. soalnya masih nyampur niih, kadang POV org pertama (aku), kadang POV org ketiga (pak Yahya)
bahasanya jua nyampur,, Susi ngomong bahasa Banjar,, pak Yahya menjawab pakai bahasa Indonesia..
artinya author nya orang banua jua..
salam kenal Thor.. ulun hanyar membaca novel pian nah.. ulun di Binuang 😁😁