Ketika Zilia mengetahui kekasihnya menikah dengan wanita lain, hidupnya seketika berubah.
Belum sempat menyembuhkan luka, ia justru dijodohkan dengan Rafael, pewaris keluarga Darmawan yang nyaris tidak dikenalnya. Namun, siapa sangka jika Vio datang kembali dan bersumpah akan merebutnya, sementara Rafael terang-terangan bahwa Zilia sebagai calon istrinya.
Di antara cinta lama, perjodohan, kecemburuan, dan rahasia keluarga, Zilia tidak pernah menyangka, bahwa pria yang awalnya hanya dianggap sebagai pengganti, justru akan menjadi lelaki yang mengubah seluruh hidupnya.
Akankah Zilia mendapatkan kebahagiaan? Atau justru ujian hidupnya semakin berat.
Penasaran? yuk ikuti jalan cerita mereka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9
Zilia berjalan tanpa arah.
Langkahnya gontai, sementara pikirannya dipenuhi bayangan Vio dan wanita yang mengaku sebagai istrinya.
Air mata terus mengalir tanpa henti.
"Kenapa...?" bisiknya lirih.
"Kamu bilang akan kembali... Kamu bilang akan menikahiku...."
Ia terus melangkah, bahkan tidak menyadari ke mana kakinya membawanya.
Hingga akhirnya, ia tiba di sebuah danau kota yang mulai dipenuhi pengunjung menjelang petang.
Zilia duduk di sebuah bangku kayu yang menghadap ke permukaan danau.
Namun, tangisnya justru semakin menjadi.
Isakannya terdengar cukup keras hingga beberapa orang mulai melirik ke arahnya.
Seorang pria yang sedang duduk tak jauh darinya tampak merasa terganggu.
"Mbak!"
Zilia tidak menggubris.
Pria itu kembali bersuara, kali ini dengan nada lebih tinggi.
"Mbak! Bisa pelan-pelan nangisnya? Ini tempat umum."
Zilia mengusap air matanya dengan kasar.
"Maaf."
Ia mencoba menenangkan diri, tetapi semakin ditahan, tangisnya justru semakin pecah.
Pria itu mengembuskan napas kesal.
"Kalau mau nangis, ya cari tempat yang sepi. Jangan ganggu orang lain."
Perkataan itu membuat emosi Zilia yang sejak tadi dipendam akhirnya meledak.
"Memangnya aku mengganggu kamu?"
"Iya!"
"Aku nangis pakai uangmu?"
"Bukan masalah uang!"
"Lalu apa?"
"Orang-orang jadi ikut nggak nyaman."
Zilia berdiri dengan mata memerah.
"Aku juga nggak nyaman sama hidupku!"
"Ya jangan dilampiaskan ke orang lain."
"Kamu nggak tahu apa yang aku alami!"
"Dan aku juga nggak mau tahu."
Perdebatan kecil itu menarik perhatian beberapa pengunjung.
Karena emosinya yang tidak terkendali, Zilia melangkah mundur tanpa memperhatikan pijakan.
"Kamu—"
Bruk!
"Aaaa!"
Kakinya terpeleset di bibir danau yang licin.
Byur!
Tubuhnya jatuh ke dalam air.
"Astaga!"
Beberapa orang berteriak panik.
Pria yang tadi berdebat dengannya langsung membelalak.
"Sial!"
Tanpa berpikir panjang, ia melepas jaketnya lalu melompat ke dalam danau.
Byur!
Dengan cepat ia berenang menghampiri Zilia yang mulai tenggelam karena panik.
Pria itu meraih pinggang Zilia, lalu membawanya ke tepian.
"Cepat! Tarik!"
Beberapa pengunjung membantu mengangkat tubuh Zilia ke daratan.
Namun, gadis itu tidak sadarkan diri.
"Woi... bangun!"
Pria itu menepuk pelan pipi Zilia.
Tidak ada respons.
Ia segera memeriksa napas Zilia.
"Susah bernapas..."
Tanpa membuang waktu, pria itu membuka jalan napas Zilia dan memberikan napas bantuan sesuai prosedur pertolongan pertama.
Beberapa detik kemudian...
"Khuk...!"
Zilia terbatuk keras.
Air keluar dari mulutnya.
Melihat Zilia mulai bernapas, pria itu mengembuskan napas lega.
Namun, tepat saat itu...
Brak!
Sebuah botol air mineral menghantam keras bagian belakang kepala pria tersebut.
"Brengsek!"
Pria itu meringis kesakitan lalu menoleh.
Di belakangnya berdiri Davin dengan wajah dipenuhi amarah.
"Apa yang kamu lakukan pada adikku?!"
Davin langsung menarik tubuh Zilia menjauh.
"Zil! Bangun!"
Pria itu berdiri sambil memegang kepalanya yang terasa nyeri.
"Heh! Aku baru saja nolong dia!"
"Nolong?"
Davin menatap tajam.
"Kenapa bibirmu menempel di bibir adikku?"
Pria itu menghela napas kesal.
"Dia tadi tidak sadar dan kesulitan bernapas. Aku memberikan napas bantuan."
Davin yang masih emosi mengepalkan tangannya.
Namun, ketika pria itu benar-benar mengangkat wajahnya, ekspresi Davin berubah.
"Kamu...?"
Pria itu juga tampak terkejut.
"Davin?"
Keduanya saling menatap beberapa detik.
"Rafael?"
Davin menurunkan tangannya perlahan.
"Ternyata benar kamu."
Pria bernama Rafael mengusap pelan bagian belakang kepalanya sambil tersenyum tipis.
"Sudah lama nggak ketemu. Tapi sambutanmu masih tetap keras."
Davin menghela napas panjang.
"Maaf... aku salah paham."
Rafael hanya tertawa kecil.
"Kalau aku terlambat beberapa detik, mungkin adikmu benar-benar dalam bahaya."
Davin menoleh ke arah Zilia yang mulai sadar.
Lalu ia kembali memandang Rafael.
Di dalam hatinya muncul satu pikiran yang membuatnya semakin terkejut.
"Bukankah... Rafael adalah pria yang dijodohkan dengan Zilia?"
Takdir seolah sedang memainkan lelucon.
Pria yang baru saja menyelamatkan nyawa Zilia... ternyata adalah calon suami yang selama ini paling ingin ditolak oleh gadis itu.
Rafael mengembuskan napas lega saat melihat Zilia mulai membuka matanya.
"Syukurlah... dia sudah sadar."
Davin masih memeluk bahu Zilia agar tubuh gadis itu tetap tegak. Jaketnya segera dilepas, lalu disampirkan ke tubuh Zilia yang menggigil karena pakaian basah.
Rafael menatap keduanya sejenak.
"Kalau begitu, aku pamit dulu."
Davin mengangguk.
"Terima kasih... dan maaf soal tadi."
Rafael hanya tersenyum tipis.
"Nggak apa-apa. Kalau aku jadi kamu, mungkin reaksiku juga sama."
Ia melirik pakaiannya yang basah kuyup.
"Lagian, aku harus pulang. Kalau begini terus, bisa masuk angin aku. Maaf, tadi aku sudah lancang sama adik kamu. Percayalah, tidak ada perempuan lain yang aku perlakukan sama."
"Iya, aku percaya sama kamu. Nanti kapan-kapan kita ngobrol."
"Pasti."
Sebelum benar-benar pergi, Rafael sempat menoleh ke arah Zilia.
"Jaga emosinya. Lain kali jangan berdiri terlalu dekat dengan pinggir danau kalau lagi ada masalah."
Zilia hanya mengangguk pelan.
"I... iya."
Tak lama kemudian, Rafael berjalan meninggalkan tempat itu.
Entah mengapa, sebelum masuk ke mobilnya, ia kembali menoleh sekilas ke arah Zilia.
Ada perasaan aneh yang sulit ia jelaskan saat melihat gadis itu. Namun, ia memilih mengabaikannya dan segera pergi.
"Zil, kita pulang."
Davin membantu Zilia masuk ke dalam mobil.
Sepanjang perjalanan, tak satu pun dari mereka berbicara.
Suasana di dalam mobil begitu sunyi.
Zilia memeluk tubuhnya sendiri sambil memandang keluar jendela.
Namun, pikirannya sama sekali tidak tertuju pada pemandangan di luar.
Yang terus terbayang justru kejadian beberapa menit yang lalu. Saat pria asing itu memeluk tubuhnya untuk menyelamatkannya.
Saat wajah mereka begitu dekat.
Dan... sentuhan bibir yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Refleks, Zilia mengangkat jemarinya lalu menyentuh bibirnya sendiri.
Wajahnya perlahan memerah.
"Kenapa aku terus mengingatnya...?"
Ia buru-buru menggelengkan kepala.
"Bukan... bukan seperti itu."
"Itu cuma napas buatan."
Zilia mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
"Itu pertolongan."
Namun, semakin ia berusaha melupakan, bayangan wajah Rafael justru semakin jelas di kepalanya.
Tatapan matanya.
Wajahnya yang tenang.
Dan rasa hangat saat pria itu menyelamatkannya dari danau.
"Astaga..."
Zilia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
"Kenapa jadi kepikiran begini, sih?"
Davin yang sedang menyetir melirik sekilas.
"Kamu kenapa?"
"Nggak kenapa-kenapa."
"Masih syok?"
Zilia mengangguk pelan.
"Iya."
Davin tidak melanjutkan pertanyaan.
Ia mengira Zilia masih trauma karena hampir tenggelam.
Padahal yang berkecamuk di dalam hati gadis itu jauh lebih rumit.
Di satu sisi, hatinya baru saja hancur karena mengetahui Vio ternyata telah menikah.
Di sisi lain, tanpa sengaja ia menerima sentuhan pertama dari pria asing yang bahkan tidak ia kenal namanya.
Zilia mengembuskan napas panjang.
"Semoga... aku tidak bertemu lagi dengannya."
Namun, baik Zilia maupun Davin sama-sama tidak menyadari...
pria yang baru saja menyelamatkan nyawa Zilia itu bukanlah orang asing.
Melainkan lelaki yang telah dipilih oleh takdir—dan oleh kedua keluarga mereka—untuk menjadi pendamping hidup Zilia.
Di lantai dua, Zilia langsung masuk ke dalam kamar. Ia mengunci pintu, lalu menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Air hangat yang mengguyur tubuhnya tidak mampu menghapus kekacauan di dalam pikirannya.
Bayangan Vio terus muncul silih berganti.
Disusul wajah pria asing yang telah menyelamatkannya.
Zilia memejamkan mata.
"Kenapa semuanya jadi seperti ini..." gumamnya lirih.
Sementara itu, di ruang kerja.
Adrian duduk di kursi kerjanya, sedangkan Davin berdiri di hadapannya.
Davin kemudian menceritakan semua kejadian yang terjadi di danau, mulai dari Zilia yang tercebur hingga Rafael yang tanpa ragu menyelamatkannya.
"Jadi... tadi Zilia ditolong Rafael?" tanya Tuan Adrian memastikan.
"Iya, Om."
Davin mengangguk.
"Kalau Rafael tidak langsung terjun, mungkin keadaannya akan lebih buruk."
Tuan Adrian mengembuskan napas lega.
"Syukurlah."
Davin tersenyum tipis.
"Siapa tahu itu memang awal pertemuan yang baik untuk mereka berdua."
Namun, Tuan Adrian justru tampak berpikir.
"Semoga saja."
"Om masih ragu?"
"Bukan ragu."
Tuan Adrian bangkit dari kursinya, lalu berjalan mendekati jendela.
"Om hanya takut Zilia salah memilih pasangan."
Davin terdiam.
"Zilia memang anak yang cerdas. Tapi urusan hati sering kali membuat seseorang mengabaikan segalanya."
Adrian menatap keluar jendela.
"Om tidak ingin dia hanya melihat cinta, tanpa mempertimbangkan bibit, bobot, dan bebet."
"Rafael memenuhi semua itu."
"Iya."
Tuan Adrian mengangguk pelan.
"Dia berasal dari keluarga baik, berpendidikan, mampu memimpin perusahaan, dan yang paling penting... dia pria yang bertanggung jawab."
Davin menyandarkan tubuhnya ke sofa.
"Kalau boleh jujur, Om... Rafael memang pasangan yang sulit dicari tandingannya."
"Tapi semua tetap bergantung pada keputusan Zilia."
Ruangan kembali hening.
Beberapa saat kemudian, Davin kembali membuka suara.
"Terus... bagaimana dengan rencana Om?"
"Maksudmu?"
"Soal kuliah Zilia di luar negeri."
Tuan Adrian menoleh.
"Apa keputusan itu sudah mutlak?"
Tuan Adrian menghela napas panjang.
"Sudah."
"Tidak bisa diubah?"
"Tidak."
Jawaban Tuan Adrian terdengar tegas.
"Zilia harus berangkat."
"Kenapa harus secepat itu?"
Tuan Adrian kembali duduk.
"Karena sebelum menyerahkan perusahaan kepadanya, Om ingin Zilia memiliki bekal yang cukup."
"Bukankah dia bisa belajar sambil bekerja di sini?"
"Bisa."
"Lalu?"
Tuan Adrian menyatukan kedua tangannya di atas meja.
"Masalahnya bukan hanya perusahaan."
Davin mengernyit.
"Kalau begitu?"
"Om ingin Zilia memiliki cara berpikir yang lebih luas. Dunia bisnis yang akan ia hadapi nanti tidak hanya ada di Indonesia."
Adrian berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
"Selain itu..."
Sorot matanya berubah lebih dalam.
"...Om juga ingin memberi waktu."
"Waktu?"
"Iya."
"Waktu untuk apa?"
Adrian tersenyum tipis.
"Waktu agar Zilia bisa mengenal Rafael tanpa ada paksaan."
Davin mengangguk pelan.
"Kalau mereka berjodoh, perasaan itu akan tumbuh dengan sendirinya."
"Itulah yang Om harapkan."
Namun, baik Adrian maupun Davin sama-sama tidak mengetahui...
bahwa di dalam kamar lantai dua, hati Zilia baru saja hancur karena seorang pria bernama Vio.
Dan luka itu tidak akan mudah digantikan hanya karena hadirnya pria lain, sebaik apa pun dirinya.
awas y thor kalo gk update
suka ceritanya
awas ya thor kalo gak nyampe end
tak jewer kamu thor😄