"Dunia ini riuh oleh nama-nama, sementara aku tersisa di sela-sela kata." Nio tidak memiliki identitas, gender yang jelas, maupun ingatan masa lalu. Dia hanya hidup bersama pendar layar monitor dan residu informasi yang dibuang orang lain.
Ketika sebuah kasus anomali mendatangi meja kerjanya, Nio menemukan bentuk kejahatan yang tidak biasa: seseorang sedang mencabut sejarah manusia hingga tak bersisa. Di balik berkas-berkas mati yang membusuk dalam sistem, sebuah teror berinisial Zero mulai mengawasi setiap geraknya. Berpacu dalam kesepian dan ketakutan, Nio harus memilih: membongkar rahasia yang terkunci, atau menjadi lembaran kosong berikutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Omni Tales, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pintu Masuk Fasilitas Dingin
"Cepat tiarap di belakang tembok beton itu, Nora!" bentak Nio tanpa menoleh, memasang posisi menembak yang presisi.
"N-Nio! Suara apa itu?! Kenapa lantai ini makin bergetar?!" jerit Nora panik, kedua tangannya gemetar memegang kacamata taktis.
"Gue bilang tiarap dan tutup telinga lu!" ulang Nio dengan intonasi rendah menakutkan yang tidak bisa dibantah.
Nora tersentak, rasa takutnya pada sosok Nio mengalahkan rasa paniknya terhadap suara sirene. Wanita itu langsung merebahkan diri di balik pilar beton berlumut.
'Sensasi ini... alarm ini... frekuensi suara pemancar ini...' batin Nio bergejolak.
Saat kilatan lampu sorot merah menghantam wajah Nio, seberkas rasa sakit yang sangat asing dan menusuk kembali membelah tempurung kepalanya.
Flashback singkat memancar di benaknya: ruang sterilisasi putih, bau sulfur menyengat, serta bayangan sosok berkedok logam yang memegang jarum suntik raksasa.
'Tempat ini arena eksekutor Zero sekaligus laboratorium tempat mereka pertama kali mencabut ingatan gue!'
Brak! Brak! Brak!
Tiga unit automaton tempur bertubuh baja kusam menerobos keluar dari kegelapan pintu utama. Mata robotik mereka memancarkan cahaya laser biru tajam.
"Target terkonfirmasi. Eksekusi Subjek Nirnama," dengus suara sintetis dari salah satu automaton.
"Maju sini, sampah-sampah besi Zero!" desis Nio dingin.
Nio menekan pelatuk senapan taktisnya. Tt-tt-tt-tt! Rentetan peluru berperedam meluncur deras, menghantam persendian leher automaton terdepan hingga percikan api listrik menyembur ke udara.
Automaton kedua mengayunkan lengan pedang termal yang membara merah, menerjang ke arah Nio. Nio melompat memutar ke samping, menghindari tebasan pedang yang membelah udara malam hingga tercium bau gosong.
Di tengah pertarungan, layar pemancar kecil di dada automaton ketiga menyala, menampilkan proyeksi hologram wajah terdistorsi dengan topeng khas Zero.
"Kau melangkah terlalu jauh, Nio," tutur suara terdistorsi Zero. "Fasilitas ini adalah tempat kelahiranmu sebagai kertas kosong. Malam ini, fasilitas ini pula yang akan menjadi kuburan permanenmu."
"Zero...!" geram Nio seraya menembak hancur modul hologram tersebut.
Gerbang besi raksasa di atas mereka mendadak terkunci rapat dari luar dengan dentuman keras.
Udara di dalam pelataran mulai terasa berat saat asap gas penenang berwarna hijau pekat menyembur cepat dari balik ventilasi.
"Nio... aku... aku sesak napas..." rintih Nora dari balik pilar beton, suaranya makin melemah.
Nio melemparkan satu granat pemutus sinyal tepat ke kaki automaton terakhir.
Duar!
Ledakan pulsa elektromagnetik melumpuhkan robot baja tersebut seketika.
"Nora! Bangun!" teriak Nio seraya menerjang asap gas hijau.
Dia meraih pergelangan tangan Nora, menarik tubuh wanita yang hampir pingsan itu memasuki pintu utama fasilitas riset.
Nio menendang panel pintu di dalam, menutup paksa akses masuk.
Brak!
Ruangan itu menyerap senyap yang menyimpan residu ketakutan.
Kegelapan pekat menyelimuti koridor, hanya dihiasi pendar hijau redup dari indikator daya cadangan dinding.
Nora terbatuk-batuk hebat di lantai, memegangi dada dengan napas memburu.
"A-apa... apa kita sudah aman, Nio...?" bisik Nora terengah-engah.
"Tidak ada kata aman di tempat ini. Bangkit," balas Nio datar.
Jemari Nio refleks merogoh saku jaketnya, meraba tekstur kasar selembar kertas kosong.
Sentuhan tipis itu menenangkan gejolak di dadanya, menegaskan presensinya di tengah kehampaan ruangan terasing ini.
'Kertas kosong ini tidak bicara, tetapi dialah satu-satunya hal yang tidak pernah berbohong padaku.'
"Tetap di belakangku. Jangan menyentuh apa pun tanpa perintah," pangkas Nio cepat.
"Tapi aku cemas, Nio! Bagaimana kalau ada jebakan lain di lorong ini?" tanya Nora ragu.
"Kalau ada jebakan, aku yang memicunya duluan. Tugasmu cuma bernapas dan mengekor," sahut Nio dingin.
"Nio... kenapa suara radio tadi memanggilmu Subjek Nirnama...?" tanya Nora bergetar.
Nio menghentikan langkahnya sejenak, tanpa menoleh.
"Dunia ini riuh oleh nama-nama, sementara aku tersisa di sela-sela kata," gumam Nio pelan.
"Aku tidak paham..." desah Nora bingung.
"Kau cuma perlu menemukan bukti bahwa adikmu pernah ada. Milo tidak lagi sekadar menghilang; eksistensinya telah tereliminasi tanpa preseden," tegas Nio.
"Nio... janji kamu bakal bantu temukan Milo, kan?" bisik Nora berharap.
"Gue cuma janji bawa lu ke sumber data. Sisanya tergantung ketahanan mental lu," sahut Nio tanpa kompromi.
"Aku akan bertahan, Nio! Aku pasrahkan semuanya sama kamu!" seru Nora mantap.
Nio tersenyum tipis, menikmati kepatuhan mutlak wanita di belakangnya.
"Bagus. Jangan mengecewakan gue," kata Nio.
Mereka menyelinap menelusuri koridor utama fasilitas bekas Proyek Mnemnosyne.
Aroma disinfektan tua bercampur kelembapan debu menusuk indra penciuman Nio, memancing rasa sakit yang menjalar di pelipisnya.
Dengung frekuensi tinggi yang samar dari balik dinding beton membuat penglihatan Nio memburam sejenak.
Langkah kaki Nio terhenti seketika, matanya terpejam rapat saat sensasi berputar mencengkeram kesadarannya.
'Rasa sakit ini... tajam sekali, bagai ada jarum yang ditusukkan ke dasar otakku.'
"Nio? Kamu kenapa?!" Nora menahan napas, hendak memegang pundak Nio.
"Jangan sentuh!" bentak Nio refleks seraya menepis tangan Nora.
Mencoba mencari penyangkalan dari rasa sakit di kepalanya, Nio meremas kertas kosong di sakunya untuk mengunci kesadaran.
"Aku tidak apa-apa. Jangan hentikan langkah kita," potong Nio cepat.
Nio berhenti tepat di depan pintu besi berat berlabel Laboratorium Preservasi Data - Akses Terbatas.
Engsel pintu itu sudah rusak, menyisakan celah sempit.
Lantaran panik melihat Nio hendak menerobos celah tersebut, Nora menarik ujung jaket Nio secara mendadak.
"T-tunggu! Bagaimana kalau ada eksekutor Zero lagi di dalam?"
Nio menoleh lambat, menatap mata Nora dengan pandangan dingin.
"Zero tidak membunuh tubuh; dia mencabut sejarah dari dada manusia," ujar Nio tegas.
"Tapi adikku... Milo... aku tidak mau kehilangan jejaknya!"
"Maka ikuti aturanku," tegas Nio tanpa kompromi.
Nio memiringkan tubuh, menyelinap masuk melewati celah pintu besi yang dingin membeku.
Di dalam ruangan, pendar hijau redup dari indikator daya cadangan menyala secara anomali.
Puluhan unit server tua berbaris rapi, sebagian besar telah dihancurkan secara paksa.
"Lihat itu... Semuanya sudah dihancurkan..." bisik Nora lemas.
"Tidak semuanya," gumam Nio seraya melangkah ke sudut ruangan yang paling gelap.
Sebuah terminal kerja tunggal masih menyala tipis, menampilkan garis kursor putih yang berkedip.
Nio mendekati layar tersebut, jemarinya terangkat mengambang di atas papan ketik berdebu.
Saat telapak tangannya menyentuh meja, sensasi déjà vu kembali menghantamnya jauh lebih keras.
Otot-otot jarinya bergerak secara refleks, mengetikkan deretan perintah rumit tanpa berpikir.
Klik. Klik. Klik.
'Bagaimana bisa jemariku hafal kombinasi sandi ini? Siapa sebenarnya aku sebelum ingatan ini terhapus?'
Layar monitor berkedip cepat, menampilkan bilah proses bertuliskan Rekonstruksi Berkas Terisolasi.
Proses pemuatan data mencapai seratus persen, lalu sebuah direktori terbuka di tengah layar.
Dua folder muncul: [Milo - Tereliminasi] dan [Subjek Nio - Tabula Rasa].
"I-itu nama adikku!" jerit Nora seraya menunjuk layar. "Milo benar-benar ada di sini!"
Sebelum Nio sempat merespons, pengeras suara di sudut plafon mendadak mengeluarkan suara desis statis pekat.
"Selamat datang kembali di rumah, Nirnama," ucapan itu menggema, tenang namun sarat teror.
"Zero..." desis Nio pelan.
"Kau selalu kembali ke tempat kertas kosongmu pertama kali dibersihkan, Nio," lanjut suara Zero.
"ZERRROOO!!! KEMBALIKAN ADIKKU! DI MANA MILO?!!" teriak Nora histeris.
"Adikmu tidak pernah ada, Nora. Dia hanyalah preseden yang sudah kusapu bersih dari ingatan dunia," balas Zero dingin.
"Identitas adalah penderitaan, Nora. Aku membantunya lepas dari beban eksistensi," tutur Zero santai.
Nio menahan dada Nora, memutus pergerakan impulsif wanita itu.
"Apa yang kau inginkan denganku, Zero?" tanya Nio tertahan.
"Aku hanya ingin menyelesaikan karya masa laluku yang tertunda, Nio."
Lampu indikator merah di seluruh unit server menyala bersamaan diiringi suara alarm.
BEEP! BEEP! BEEP!
Di layar monitor, berkas [Milo] dan [Subjek Nio] mulai terhapus permanen dengan cepat.
10%... 40%... 70%...
"Tidaaak! Berkasnya terhapus! Nio, selamatkan Milo!!!" jerit Nora panik.
Nio mengetik kombinasi override secara brutal, tetapi angka persentase terus melonjak naik.
AKSES DITOLAK. PROSES PENGHAPUSAN PERMANEN SEDANG BERJALAN.
'Kalau data ini hilang, aku tidak akan pernah tahu siapa diriku sebenarnya!'
90%...
Bilah proses penghapusan terhenti mendadak di angka 99%, lalu sebuah pesan merah muncul menimpa layar:
"Ingin tahu nama aslimu? Periksa lipatan di balik kertas kosong dalam sakumu sekarang."