Mo Yuuran, seorang permaisuri yang dikenal bengis dan kejam, pernah melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya, menjatuhkan Kaisar Zi Xuan dari tahtanya demi cinta butanya kepada Bo Wen. Ia rela mengorbankan segalanya, bahkan mengkhianati pria yang mencintainya dengan sepenuh jiwa.
Tapi kenyataan yang terungkap di akhir hidupnya jauh lebih kejam dari apa pun yang pernah ia lakukan.
Bo Wen, pria yang ia cintai mati-matian, ternyata bersekongkol dengan keluarganya sendiri, kakak dan orang tuanya untuk membunuhnya. Selama ini, Mo Yuuran hanyalah alat. Sebuah pion yang dimanfaatkan untuk menyingkirkan Kaisar Zi Xuan, satu-satunya pria yang benar-benar mencintainya, bahkan terobsesi.
Saat napas terakhirnya terenggut dalam pengkhianatan, penyesalan memenuhi hatinya. Tapi, takdir memberinya kesempatan kedua.
Mo Yuuran terbangun kembali di masa lalu sebelum semuanya hancur. Dengan ingatan akan kematian tragisnya, ia bersumpah untuk mengubah segalanya. Termasuk menjadi ibu tiri yang baik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bersiaplah Menjadi Mayat
Deg!
Kepala pelayan Si langsung mendongak dengan napas tersengal. Matanya membelalak begitu melihat Mo Yuuran berdiri di hadapannya, diikuti beberapa pelayan yang menunduk ketakutan.
Tubuhnya masih terasa panas akibat siraman tadi. Kulitnya memerah, membuatnya meringis menahan perih meski tidak sampai terkelupas.
“Per–Permaisuri .…” ucapnya terbata. “Yang Mulia, ada apa ini?”
Ia berusaha bangkit dengan canggung. “Kenapa Anda menyiram hamba dengan air panas?” lanjutnya, nadanya seolah tersakiti.
“Hamba hanya sedang beristirahat setelah bekerja seharian,” tambahnya, mencoba membela diri.
Mo Yuuran tersenyum tipis yang membuat kepala pelayan menelan ludah ketakutan.
“Benarkah?” tanyanya pelan. “Kau sudah menjalankan tugasmu dengan baik?”
Kepala pelayan Si langsung mengangguk cepat. “Benar, Yang Mulia. Hamba tidak pernah lalai.”
Mo Yuuran menatapnya tanpa berkedip. “Kalau begitu, jelaskan padaku kenapa ketiga pangeran masih tinggal di paviliun dingin?”
Suasana langsung membeku.
“Dan kenapa tidak ada satu pun pelayan atau prajurit yang berjaga di sisi mereka?” lanjutnya, nada suaranya semakin tajam.
Mata kepala pelayan Si langsung membulat. Wajahnya yang tadi merah kini semakin pucat.
Ia baru menyadari sesuatu. Sebelum tidur tadi, ia sempat berpikir bahwa Mo Yuuran tidak akan benar-benar datang ke paviliun itu. Ia yakin semua hanya sandiwara Mo Yuuran yang ingin terlihat baik. Namun kenyataan di depannya berkata lain.
“Ha–hamba …” suaranya mulai bergetar. “Itu … karena .…”
Mo Yuuran tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun. Tatapannya menekan, membuat kepala pelayan itu semakin panik.
“Hamba pikir kondisi di sana masih bisa ditoleransi .…” lanjutnya terbata-bata. “Dan para pangeran tidak pernah mengeluh, jadi .…”
“Tidak pernah mengeluh?” potong Mo Yuuran dingin.
Kepala pelayan itu langsung terdiam.
“Apakah itu berarti mereka pantas diperlakukan seperti itu?” tanya Mo Yuuran, suaranya rendah namun menusuk.
“Hamba tidak bermaksud—” ia mencoba menjelaskan.
“Atau kau yang memutuskan bahwa perintahku tidak penting?” lanjut Mo Yuuran, memotong lagi.
Kepala pelayan Si langsung menunduk dalam, tubuhnya gemetar. “Hamba tidak berani, Yang Mulia.”
“Tidak berani?” Mo Yuuran mengulang pelan. “Tapi kau melakukannya.”
Ia melangkah mendekat, membuat kepala pelayan itu semakin menahan napas.
“Perintahku kau abaikan,” lanjutnya. “Anak-anak itu kau biarkan tinggal di tempat seperti itu, tanpa penjagaan, tanpa pelayan.”
Kepala pelayan Si menggigit bibirnya, tidak mampu berkata apa-apa lagi.
“Dan sekarang,” suara Mo Yuuran semakin dingin, “kau masih berani mengatakan bahwa kau sudah menjalankan tugasmu dengan baik?”
Keheningan menjawab segalanya.
Kepala pelayan itu hanya bisa menunduk lebih dalam, pikirannya kacau, ia merutuki dirinya yang harusnya tidak tertidur setelah keluar istana. Harusnya ia memastikan sendiri jika Mo Yuuran tidak akan ke pavilium itu.
Dasar anak-anak sialan! Harusnya mereka mati saja! Batin Kepala pelayan Si.
Mo Yuuran menatap kepala pelayan Si dengan dingin, seolah sedang menimbang sesuatu. “Kalau begitu, mulai sekarang kau saja yang tinggal di paviliun dingin itu.”
Kepala pelayan Si langsung mendongak, wajahnya penuh keterkejutan. “Apa!?” serunya tak percaya. “Itu … itu tidak layak untuk hamba, Permaisuri!”
Tawa dingin keluar dari bibir Mo Yuuran. “Tidak layak?” ulangnya, nadanya penuh sindiran.
Ia melangkah lebih dekat, tatapannya menusuk. “Kalau kau saja menganggapnya tidak layak,” lanjutnya, “bagaimana dengan para pangeran yang kedudukannya jauh lebih tinggi darimu?”
Kepala pelayan Si terdiam. Tangannya mengepal kuat di sisi tubuhnya, namun ia tak berani membalas.
“Hanya seorang kepala pelayan rendahan,” tambah Mo Yuuran dingin, “berani menentukan tempat tinggal bagi pangeran istana.”
Suasana semakin menekan.
Mo Yuuran menyilangkan tangan, lalu bertanya lagi. “Satu hal lagi. Apakah kau sudah memberikan jatah bulanan untuk ketiga pangeran?”
Kepala pelayan Si tersentak. “Tentu saja sudah, Yang Mulia,” jawabnya cepat.
Mo Yuuran mengangkat alis. “Benarkah?”
“Benar!” katanya, sedikit lebih keras, seolah ingin meyakinkan.
Mo Yuuran tersenyum tipis. “Menarik,” ujarnya pelan. “Karena yang kulihat pakaian mereka bahkan tidak layak pakai.”
Kepala pelayan Si langsung gelagapan. “Itu karena … karena mereka sendiri yang tidak tahu merawat—”
“Jadi kau menyerahkan jatah itu langsung pada mereka?” potong Mo Yuuran cepat.
“Ti–tidak … maksud hamba—”
“Atau kau yang mengelolanya?” lanjut Mo Yuuran, nadanya menjebak.
Kepala pelayan itu terdiam sesaat, lalu tanpa sadar menjawab, “Hamba yang mengatur, karena mereka pasti boros—”
Kalimatnya terhenti. Wajahnya langsung pucat.
Mo Yuuran menatapnya tanpa ekspresi. “Jadi kau mengakuinya.”
“Tidak, Permaisuri, hamba—” ia panik.
“Cukup,” potong Mo Yuuran dingin.
Ia berbalik sedikit, lalu memanggil dengan tegas. “Prajurit!”
Beberapa prajurit segera maju dan berlutut. “Perintah, Yang Mulia.”
“Hukum dia,” ujar Mo Yuuran tanpa ragu. “Seratus cambukan.”
Kepala pelayan Si langsung jatuh berlutut, wajahnya penuh ketakutan. “Ampun, Permaisuri! Hamba tidak bersalah!”
Mo Yuuran bahkan tidak menoleh padanya.
“Laksanakan,” ucapnya dingin.
“Baik!” jawab para prajurit serempak.
Kepala pelayan Si berusaha meronta, namun segera ditahan. Wajahnya berubah memerah, amarah dan ketidakpuasan jelas terlihat di matanya.
“Lepaskan aku!” bentaknya saat para prajurit memegang kedua lengannya. “Kalian tidak berhak menyentuhku!”
Ia menatap Mo Yuuran dengan berani, bahkan menantang. “Hamba adalah orangnya Ibu Suri,” katanya lantang. “Beliau tidak akan tinggal diam jika tahu ini!”
Beberapa pelayan di sekitar langsung menahan napas. Suasana menjadi semakin tegang.
Kepala pelayan Si malah semakin menjadi-jadi. “Permaisuri tidak punya hak menghukum hamba sembarangan,” lanjutnya, nada suaranya mulai tidak sopan. “Jangan kira Anda bisa bertindak sesuka hati di istana ini!”
Langkah Mo Yuuran yang sempat berbalik mendadak terhenti.
Tanpa menoleh, ia berkata dingin, “Aku bahkan bisa membunuhmu kalau aku mau.”
Ia kembali melangkah, seolah tidak ingin memperpanjang urusan.
Namun kepala pelayan Si tertawa sinis. “Membunuhku?” ejeknya. “Permaisuri benar-benar merasa berkuasa sekarang?”
“Kalau Ibu Suri tahu kelakuan Anda, jangan harap posisi Anda akan aman! Dia bisa melengserkan Anda kapanpun,” tambahnya, suaranya semakin lancang.
Dalam sekejap, langkah Mo Yuuran berhenti lagi. Ia berbalik dengan cepat.
Sebelum siapa pun sempat bereaksi, tangannya bergerak. Sebuah belati melesat tajam di udara.
Srak!
Jleb!
Belati itu tertancap tepat di tengah kening kepala pelayan Si. Tubuh wanita itu langsung kaku, matanya membelalak lebar.
Semua orang membeku. Tidak ada yang berani bergerak. Bahkan suara napas pun terasa menghilang.
Tubuh kepala pelayan Si perlahan melemah, lalu jatuh tak bernyawa ke lantai.
Brugh!
Mo Yuuran berdiri tegak, ekspresinya tetap dingin seolah tidak terjadi apa-apa.
“Aku bahkan bisa mencabut nyawamu sekarang juga,” ucapnya tenang.
Tatapannya kemudian menyapu para pelayan lain satu per satu. Tidak ada yang berani mengangkat kepala.
“Dan ingat ini baik-baik,” lanjutnya pelan namun tegas. “Di istana ini aku yang berkuasa, jika ada satupun dari kalian yang berani menentangku, bersiaplah menjadi mayat berikutnya.”
Mo Yuuran lamgsung pergi meninggalkan mereka, diikuti oleh Xia Lu.
belagu tidur nyenyak dikasur empuk
eeh justru anak kaisar malah dikasih kasur tikar