Mo Yuuran, seorang permaisuri yang dikenal bengis dan kejam, pernah melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya, menjatuhkan Kaisar Zi Xuan dari tahtanya demi cinta butanya kepada Bo Wen. Ia rela mengorbankan segalanya, bahkan mengkhianati pria yang mencintainya dengan sepenuh jiwa.
Tapi kenyataan yang terungkap di akhir hidupnya jauh lebih kejam dari apa pun yang pernah ia lakukan.
Bo Wen, pria yang ia cintai mati-matian, ternyata bersekongkol dengan keluarganya sendiri, kakak dan orang tuanya untuk membunuhnya. Selama ini, Mo Yuuran hanyalah alat. Sebuah pion yang dimanfaatkan untuk menyingkirkan Kaisar Zi Xuan, satu-satunya pria yang benar-benar mencintainya, bahkan terobsesi.
Saat napas terakhirnya terenggut dalam pengkhianatan, penyesalan memenuhi hatinya. Tapi, takdir memberinya kesempatan kedua.
Mo Yuuran terbangun kembali di masa lalu sebelum semuanya hancur. Dengan ingatan akan kematian tragisnya, ia bersumpah untuk mengubah segalanya. Termasuk menjadi ibu tiri yang baik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anak Haram?
Kata-kata sebelumnya masih menggantung di udara ketika wajah Lihau dan Mo Weiwei perlahan berubah pucat.
Kepanikan mulai merayap jelas di mata keduanya, menggantikan kesombongan yang biasanya mereka tunjukkan. “Lalu bagaimana dengan kita?” suara Mo Weiwei terdengar bergetar. “Kalau semua harta dan penghasilan tambang emas itu sudah diambil Mo Yuuran bagaimana kita hidup?”
Lihau langsung menimpali dengan nada cemas yang tidak bisa disembunyikan. “Benar!” katanya tajam. “Selama ini semua pengeluaran rumah tangga, perhiasan, jamuan, semuanya dari sana. Apa kita harus hidup sederhana sekarang?”
Mo Weiwei menggigit bibirnya, wajahnya semakin panik. “Aku tidak mau!” serunya. “Aku tidak mungkin hidup tanpa pelayan pribadi, tanpa pakaian baru, tanpa pesta!”
Ia membayangkan kehidupannya tanpa kemewahan, dan hal itu membuatnya semakin gelisah. “Semua orang akan menertawakan kita.” gumamnya lirih.
Namun, reaksi itu justru membuat Jenderal Mo Fang semakin murka. Wajahnya mengeras, sorot matanya dipenuhi kekecewaan dan amarah.
“Cukup!” bentaknya keras, membuat keduanya terdiam seketika. “Di saat seperti ini, kalian hanya memikirkan kesenangan kalian?”
Lihau tersentak, tetapi belum sempat membalas. Jenderal Mo melanjutkan dengan nada penuh tekanan. “Bukannya mencari solusi, kalian malah meratapi kehidupan mewah yang mungkin hilang!”
Ia mengepalkan tangan, jelas menahan amarah yang memuncak. “Kalian tahu atau tidak, pasukanku sekarang kekurangan pasokan makanan dan senjata!” lanjutnya dengan suara berat. “Aku bahkan harus menggunakan uang pribadiku untuk menutup semua itu!”
Ucapan itu membuat suasana semakin tegang, padahal memang sudah seharusnya uang dari kediaman Mo yang membayar semua itu.
Bo Wen yang sejak tadi diam akhirnya mengangguk setuju.
“Ayah mertua benar,” katanya tenang namun serius. “Sekarang bukan waktunya panik soal gaya hidup.” Ia menatap mereka satu per satu. “Kita harus memikirkan bagaimana caranya membuat Mo Yuuran kembali berada dalam kendali kita.”
Mo Weiwei terdiam, tetapi wajahnya masih menunjukkan ketidakpuasan. Sementara itu, Lihau justru menyipitkan mata, jelas tidak terima dengan teguran suaminya.
“Jadi sekarang kau menyalahkan kami?” katanya dingin. “Kami hanya memikirkan apa yang memang selama ini menjadi milik kita!”
Ia mengangkat dagunya sedikit, nada suaranya berubah tajam. “Kalau bukan karena pengelolaan rumah tangga dariku, apakah kediaman ini bisa semewah sekarang?” lanjutnya. “Dan sekarang kau justru menyuruh kami diam dan tidak memikirkan apa pun?”
Tatapan Lihau penuh ketidakpuasan.
Mo Weiwei yang melihat suasana semakin memanas segera melirik ibunya dan memberikan kode halus dengan gerakan mata. Ia sedikit menggeleng, seolah memperingatkan agar Lihau tidak memperkeruh keadaan.
Menyadari maksud putrinya, ekspresi Lihau perlahan berubah. Wajahnya yang tadi tegang kini melembut, lalu ia menarik napas dan tersenyum tipis. “Maafkan aku,” ucapnya dengan suara lebih lembut. “Aku hanya terlalu emosi sesaat.”
Ia melangkah mendekati Jenderal Mo Fang, tangannya terangkat seolah ingin menenangkan. “Aku hanya khawatir pada keluarga kita,” lanjutnya pelan. “Tapi tentu saja, sebagai istrimu, aku akan mendukung keputusanmu.”
Nada suaranya berubah semakin halus, hampir seperti membujuk. “Lagipula bukankah kita masih bisa memikirkan cara lain untuk membuat Mo Yuuran membayar semuanya?” katanya lirih, namun penuh makna tersembunyi.
Jenderal Mo Fang yang tadinya masih diliputi amarah akhirnya sedikit melunak. Ia menatap Lihau sejenak sebelum menghela napas panjang.
“Jikq kalian khawatir, untuk sementara, biarkan gajiku yang menutupi semua kebutuhan.” Ia mengepalkan tangan. “Sampai semuanya kembali seperti semula.”
Bo Wen langsung mengangguk setuju, mencoba memperkuat suasana. “Ayah mertua benar,” katanya mantap. “Bukankah gaji kita juga besar?”
Ia tersenyum tipis, mencoba menenangkan semua pihak. “Bahkan tiga kali lipat dari pejabat lain,” lanjutnya. “Itu sudah lebih dari cukup untuk sementara waktu.”
Mendengar itu, Mo Weiwei dan Lihau saling berpandangan, lalu menghela napas lega. Kekhawatiran mereka sedikit mereda, meski bayangan kehilangan kemewahan masih menghantui.
Mereka tidak menyadari satu hal, bahwa gaji Jenderal Mo dan Bo Wen sebenarnya telah diturunkan, tidak lagi setinggi yang mereka kira.
Jenderal Mo Fang kembali duduk, namun sorot matanya masih dingin dan penuh tekad. “Mo Yuuran .…” gumamnya pelan. “Aku akan membuatnya membayar mahal atas semua ini.”
Tak lama kemudian, Bo Wen tampak menoleh ke kiri dan kanan, seolah mencari seseorang. Alisnya sedikit berkerut.
Ia kemudian menatap Mo Weiwei. “Wei’er,” panggilnya. “Di mana Jiung?”
Mo Weiwei tampak santai, bahkan tersenyum ringan. “Ah, putra kita?” katanya tenang. “Dia hanya sedang berjalan-jalan bersama teman-temannya.”
Ia mengibaskan tangannya dengan ringan. “Anak laki-laki juga butuh hiburan setelah dari akademi,” tambahnya tanpa beban.
Bo Wen terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. “Baiklah,” ujarnya singkat.
Di sisi lain, suasana pasar begitu ramai dengan suara pedagang dan pembeli yang saling bersahutan. Kereta kuda mewah berhenti di depan sebuah toko pakaian besar, lalu tiga pangeran turun satu per satu dengan langkah tenang.
Mereka segera masuk ke dalam toko yang dipenuhi berbagai kain halus dan pakaian hangat untuk kebutuhan akademi. Namun, begitu orang-orang di dalam melihat mereka, suasana seketika berubah.
Tatapan yang awalnya biasa saja kini menjadi sinis dan dingin. Bukannya horma, mereka justru bisik-bisik pelan terdengar di sudut-sudut ruangan.
Zi Cheng dan Zi Xin menyadari perubahan itu, tetapi mereka tetap menjaga ekspresi datar. Seolah sudah terbiasa, mereka tidak menggubris sedikit pun.
Sebaliknya, Zi Rui terlihat paling bersemangat. Ia berjalan ke arah deretan jubah hangat, matanya berbinar saat melihat bahan tebal yang tampak nyaman.
“Yang ini bagus,” gumamnya pelan sambil mengulurkan tangan untuk menyentuh kainnya.
Sebelum jarinya benar-benar menyentuh, sebuah tangan kasar menepisnya dengan cepat. “Jangan sembarangan menyentuh!” hardik seorang pelayan dengan wajah tidak ramah.
Zi Rui terkejut dan menarik tangannya, alisnya langsung berkerut. “Kenapa?” tanyanya tidak senang.
Pelayan itu mendengus sinis. “Kalau kotor bagaimana?” katanya meremehkan. “Pakaian ini mahal, bukan untuk orang seperti kalian.”
Ucapan itu membuat wajah Zi Cheng dan Zi Xin langsung berubah dingin. Tatapan mereka menusuk ke arah pelayan itu, aura mereka seketika menekan suasana.
Zi Rui mengepalkan tangannya, jelas tersinggung. “Apa maksudmu?” balasnya, suaranya mulai meninggi.
Tapi sebelum ia sempat melangkah maju, sebuah suara lain tiba-tiba terdengar dari belakang, penuh ejekan dan penghinaan.
“Yo! Pantas saja toko ini terasa sial hari ini.” Suara itu terdengar nyaring dan sengaja diperjelas.
Semua orang menoleh, termasuk ketiga pangeran. Seorang anak berusia 8 tahun berpakaian mewah berdiri di sana dengan senyum merendahkan.
“Ternyata ada anak haram di dalam toko ini,” lanjutnya dengan nada mencemooh, matanya menatap langsung ke arah mereka.
ku tunggu pembalasan permaisuri pada mereka