**Demi menyelamatkan pernikahan mewah sang kakak, Kayla dijadikan tumbal keluarga sendiri.**
Diberi obat bius, dijebak masuk ke kamar hotel untuk dijadikan "simpanan" demi melahirkan ahli waris keluarga Chandra—begitulah rencana kakak dan calon iparnya. Tapi takdir salah alamat: nomor kamar tertukar, dan Kayla justru terdampar di suite **Kapten Adrian Gunawan**, pria berwajah dingin yang katanya paling anti disentuh perempuan.
Malam itu mengubah segalanya.
Untuk lepas dari jeratan keluarga yang ingin menjual harga dirinya, Kayla nekat menikah kilat—dan pria yang dijodohkan padanya, entah kebetulan atau takdir, ternyata Adrian yang itu juga.
*"Kalau kau berharap bisa menjebakku dan menuntut tanggung jawab, jangan harap."*
*"Kebetulan sekali. Aku juga tidak mau kau bertanggung jawab,"* balas Kayla dingin.
Semua orang mengira pernikahan ini cuma kontrak tiga tahun yang cepat atau lambat berakhir cerai. Semua orang mengira Kapten Adrian tidak mungkin mencintai dokter IGD berlatar keluarga toko sembako itu.
Sampai orang-orang mulai memergoki sang kapten dingin memapah istrinya dengan sebutan *"sayang"* di setiap kalimat…
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Aisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
Bab 17
Mundur Selangkah
Adrian berhenti di anak tangga terakhir.
Engkong Herman berdiri di ambang pintu. Pak Ridwan berada setengah langkah di belakangnya.
"Ambil halaman yang dirobek ayahmu," katanya.
Herwan yang masih berada di ruang tamu langsung memprotes. "Papa!"
"Dokumen hukum bukan kertas pembungkus kacang." Engkong Herman menatap Adrian. "Kalau kamu hendak pergi, jangan tinggalkan pekerjaan setengah selesai."
Pak Ridwan mengambil halaman yang tergeletak di lantai dan membawanya keluar. Adrian menerima kertas itu, merapikan bekas sobekannya, lalu memasukkannya ke tas Martin.
"Ada lagi, Engkong?"
"Tidak. Pergilah."
Nada lelaki tua itu datar, tetapi matanya berhenti sejenak pada tangan Adrian yang menggenggam Kayla.
Kayla memberi salam singkat. Engkong Herman membalas dengan anggukan tipis.
Pintu mobil tertutup. Nico membawa mereka meninggalkan halaman tanpa ada seorang pun mengejar.
Begitu mobil menghilang di ujung jalan, ruang tamu Gunawan meledak.
"Papa membiarkannya menghina keluarga!" Herwan mengisi gelasnya lagi.
"Kamu yang menyuruhnya memilih," balas Engkong Herman. "Sekarang kamu marah karena dia tidak memilihmu."
Ema Lanny memukul sandaran kursi. "Perempuan itu membuat Adrian melawan kita."
"Adrian sudah melawan kita sejak memilih sekolah penerbangan," kata Ci Michelle. "Kayla hanya membuatnya punya alasan untuk tidak kembali."
Melinda tersenyum kecil. "Kalau Adrian sungguh mundur, kita harus segera membicarakan siapa yang menggantikan posisinya. Grup tidak boleh tanpa penerus."
"Alwin bahkan tidak hadir hari ini," kata Om Hansen. "Jangan terlalu cepat mendorong namanya."
"Setidaknya Alwin bekerja untuk keluarga."
Tante Cindy menyilangkan tangan. "Hansen juga memimpin dua anak perusahaan. Pengalamannya jelas."
"Kalian baru saja mengusir Adrian dan sudah berebut kursinya?" Tante Winnie berdiri. "Memalukan."
Om Hendra ikut bangkit. "Kami pulang. Kevin, ayo."
Kevin memeluk Ci Michelle, lalu melirik Ema Lanny. "Ema, lain kali kalau mau menilai menantu, mungkin terima tehnya dulu. Tehnya sudah dingin sia-sia."
"Kevin!" tegur ayahnya.
Namun pemuda itu sudah berlari menuju pintu.
Setelah keluarga Hendra pergi, Ci Michelle juga mengambil tas. "Saya ada pekerjaan."
"Di klub itu?" tanya Herwan tajam.
"Di tempat yang tidak memaksa orang bercerai sebelum makan malam."
Ia pergi tanpa menunggu izin.
Engkong Herman mengangkat tangan kepada Pak Ridwan. "Bawa salinan surat itu ke ruang kerja."
Ema Lanny mengikuti suaminya. "Kamu sungguh akan membiarkan cucu tertua melepas semua hak?"
Di ruang kerja, Engkong Herman duduk di belakang meja dan membaca ulang setiap halaman.
"Dia tidak melepas hidupnya," katanya.
"Jabatan dan saham bukan hal kecil."
"Adrian sudah tahu cara menghasilkan uang sebelum Hansen dan Alwin tahu cara membaca laporan keuangan. Naga Emas, perusahaan teknologi, investasi logistik. Semua dibangun dengan dana Sanjaya dan uangnya sendiri."
Ema Lanny terdiam.
Pak Ridwan meletakkan teh baru. "Tuan Muda juga tidak meminta satu fasilitas keluarga sejak meninggalkan rumah."
"Lalu apa maksud surat ini?" tuntut Ema Lanny.
Engkong Herman mengetuk halaman terakhir. "Dia mundur satu langkah agar semua orang yang mengincar kursinya maju dan menunjukkan wajah asli."
"Jadi dia menipu kita?"
"Tidak. Kalau kita memaksanya memilih, dia benar-benar akan pergi. Tetapi dia juga tahu keluarga ini tidak punya pengganti yang setara."
Pak Ridwan menunduk. "Tuan Muda sedang menguji apakah keluarga akan mengejar dirinya atau hanya mengejar posisi yang ia tinggalkan."
Engkong Herman tersenyum tipis. "Dan baru sepuluh menit, Melinda serta Hansen sudah menjawabnya."
Ia mengambil kertas kosong dan menulis tiga nama: Hansen, Alwin, Adrian.
"Hansen akan mencari dukungan pemegang saham malam ini. Melinda akan menyuruh Alwin pulang secepat mungkin. Herwan akan mabuk dan menyalahkan semua orang kecuali dirinya sendiri."
"Adrian?" tanya Pak Ridwan.
Engkong Herman melingkari nama cucu tertuanya. "Dia akan pergi bekerja seolah tidak kehilangan apa pun. Itu sebabnya mereka tidak akan pernah menyusulnya."
Ema Lanny meremas saputangan. "Kalau dia sudah punya semuanya, mengapa kita masih harus mengejarnya?"
"Karena perusahaan sebesar Argatama tidak diwariskan kepada orang yang paling ingin duduk di kursi. Perusahaan diwariskan kepada orang yang tetap bisa berdiri ketika kursinya diambil."
Ema Lanny tetap tidak terima. "Aku tidak akan menyerahkan nama keluarga kepada menantu dari toko Bekasi. Vanessa jauh lebih pantas."
"Vanessa bukan istri Adrian."
"Belum."
Engkong Herman menatap istrinya tajam. "Jangan ikut campur. Kalau kamu mengganggu pernikahan itu dan Adrian memutus semua hubungan, tanggung sendiri akibatnya."
"Kamu justru membela perempuan itu."
"Aku belum membelanya. Aku sedang melihat apakah dia mampu berdiri di samping Adrian ketika nama Gunawan tidak melindunginya."
Ia menyerahkan surat kepada Pak Ridwan. "Hubungi Handoko. Jangan hentikan prosesnya, tapi jangan bocorkan ke media. Kita lihat siapa yang bergerak lebih dulu."
Di dalam mobil, Kayla belum bicara sejak mereka meninggalkan Menteng.
Adrian membuka kancing mansetnya. "Kalau kamu ingin marah, sekarang waktu yang tepat."
"Aku sedang menghitung."
"Menghitung apa?"
"Berapa banyak rahasia finansial yang belum kamu katakan."
Adrian menatap Nico melalui kaca depan. "Berapa lama lagi?"
"Dua puluh menit, Pak," jawab Nico, menahan senyum.
"Cukup untuk interogasi ringan."
Kayla menyilangkan tangan. "Kamu bilang punya beberapa investasi. Engkong tadi menyebut Naga Emas, perusahaan teknologi, dan logistik."
"Engkong suka membuat daftar terdengar panjang."
"Apakah Naga Emas milikmu?"
"Sebagian."
"Sebagian berapa?"
"Cukup untuk tidak diusir."
"Adrian."
Laki-laki itu akhirnya tersenyum. "Aku dan Ci Michelle membangunnya. Dana awal dari aset Mama yang dikelola keluarga Sanjaya. Setelah itu kami berkembang sendiri."
Kayla membuka tas dan mengeluarkan ponsel. "Aku akan memotretmu sekarang."
"Untuk apa?"
"Bukti wajah seorang suami yang menaruh klub privat di bawah kata beberapa investasi."
"Semua aset pranikah sudah tercantum dalam lampiran perjanjian."
"Lampiran yang setebal buku farmakologi dan kamu berikan sehari sebelum tanda tangan?"
"Kamu bilang sudah membacanya."
"Aku membaca bagian yang melindungi utang dan pekerjaanku. Aku tidak mengira harus mencari nama klub di antara perusahaan logistik."
Nico berdeham dari depan. "Sebaiknya Bapak mengaku sebelum kita tiba."
"Kamu dibayar untuk menyetir," kata Adrian.
"Justru karena itu saya tahu jalan menuju rumah sakit kalau interogasinya memburuk."
"Jadi kamu benar-benar rela melepaskan posisi Gunawan?"
"Aku tidak melepaskan pekerjaan yang kubangun. Aku hanya mengembalikan sesuatu yang selalu mereka gunakan untuk mengendalikan hidupku."
Kayla menatap profilnya. "Dan kalau Engkong menerima surat itu?"
"Aku tetap punya kokpit, rumah, investasi, dan seorang istri yang penghasilannya cukup untuk membeli makan malam."
"Jangan berharap aku membayar setiap hari."
"Kalau begitu aku harus membuka satu kartu lagi."
Mobil berbelok memasuki jalan privat. Sebuah bangunan berlapis kaca gelap dan ornamen emas muncul di depan mereka.
Nico menghentikan mobil di bawah kanopi Naga Emas Club.
Manajer, petugas keamanan, dan dua baris staf telah menunggu. Begitu Adrian turun, mereka membungkuk serempak.
"Selamat datang, Pak Adrian. Selamat datang, Nyonya Bos."
Kayla membeku dengan satu kaki masih di dalam mobil.