Alya Anindita hanya ingin mendapatkan pekerjaan yang layak dan membantu keluarganya. Bekerja sebagai asisten eksekutif di perusahaan besar adalah kesempatan yang tidak boleh ia sia-siakan.
Namun, ia tidak pernah menyangka bahwa atasannya sendiri akan menjadi orang yang perlahan mengacaukan batas antara profesional dan perasaan.
Raka Mahendra adalah direktur yang dikenal dingin, tegas, dan sulit didekati. Tidak ada yang berani bermain-main dengannya, apalagi mencoba masuk ke kehidupan pribadinya.
Namun, bagaimana jika hati tidak pernah mau mengikuti aturan?
Karena terkadang...
cinta datang kepada orang yang salah, di waktu yang salah, tetapi terasa begitu nyata
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gek_Nia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JANGAN KORBANKAN DIRIMU UNTUKKU
Pagi itu Alya datang ke kantor lebih awal.
Bukan karena ada pekerjaan.
Bukan karena ada meeting.
Dia datang karena ingin memastikan satu hal.
Apakah Raka benar-benar akan mengundurkan diri?
Begitu sampai di lantai Executive Office, suasana terasa berbeda.
Beberapa orang berbicara dengan suara pelan.
Ada yang keluar-masuk ruang direksi.
Maya menghampiri Alya.
“Kamu sudah dengar?”
Alya langsung bertanya,
“Apa?”
“Rapat direksi dipercepat. Jam sembilan.”
“Kenapa?”
Maya menatapnya ragu.
“Katanya Pak Raka mau menyampaikan keputusan besar.”
Jantung Alya langsung berdegup.
Dia tahu.
Raka benar-benar akan melakukannya.
Alya menatap pintu ruang direktur.
Tertutup rapat.
“Dia sudah masuk?”
“Dari jam tujuh.”
Alya menarik napas.
Dia ingin masuk.
Namun sebelum sempat melangkah, pintu terbuka.
Raka keluar.
Tatapan mereka bertemu.
Tidak ada senyum.
Tidak ada sapaan.
Raka hanya berkata,
“Masuk.”
Alya mengikutinya.
Begitu pintu tertutup, Alya langsung bertanya,
“Kamu serius?”
Raka tahu maksudnya.
“Iya.”
“Kamu mau mengundurkan diri?”
“Iya.”
“Kenapa tidak bilang langsung kepada saya?”
“Saya sudah bilang semalam.”
“Lewat pesan.”
Raka mengangguk.
Alya menatapnya tidak percaya.
“Kamu tahu apa akibatnya?”
“Tahu.”
“Kariermu?”
“Tahu.”
“Posisimu?”
“Tahu.”
“Dan kamu tetap mau?”
Raka menatapnya.
“Ya.”
Alya menggeleng.
“Jangan.”
Raka terdiam.
“Alya…”
“Jangan lakukan ini.”
“Saya sudah memutuskan.”
“Karena saya?”
“Bukan.”
“Jangan bohong.”
Raka menghela napas.
“Karena saya ingin kalau kita menjalani sesuatu, tidak ada lagi orang yang bisa mengatakan kamu mendapat perlakuan khusus karena kamu dekat dengan saya.”
Alya terdiam.
Raka melanjutkan,
“Saya tidak mau kamu selamanya dikenal sebagai perempuan yang dekat dengan direktur.”
Alya menunduk.
“Saya tidak peduli.”
“Saya peduli.”
“Kenapa?”
“Karena saya mencintai kamu.”
Alya mengangkat wajah.
Raka jarang sekali mengucapkan kalimat itu.
Bahkan setelah mereka saling mengaku.
Namun pagi itu, dia mengatakannya tanpa ragu.
“Saya tidak mau hubungan kita membuat kamu kehilangan harga diri.”
Mata Alya mulai berkaca-kaca.
“Lalu kamu?”
“Saya bisa mulai lagi.”
Alya menggeleng.
“Semudah itu?”
“Tidak.”
“Lalu kenapa?”
Raka tersenyum tipis.
“Karena saya sudah tahu apa yang paling penting.”
Alya menahan air mata.
“Kamu egois.”
Raka tertawa kecil.
“Mungkin.”
“Kamu benar-benar menyebalkan.”
“Saya tahu.”
“Selalu memutuskan sendiri.”
“Saya tahu.”
Alya menghapus air matanya.
“Tapi saya tidak mau kamu pergi.”
Raka terdiam.
“Kenapa?”
“Karena saya tidak ingin cinta kita dimulai dengan kamu kehilangan sesuatu yang sudah kamu bangun bertahun-tahun.”
Raka menatapnya lama.
Kemudian berkata,
“Kalau begitu jangan buat saya memilih.”
Alya mengerutkan kening.
“Bagaimana?”
“Kita cari jalan lain.”
PUKUL 08.45
Raka membatalkan pengumuman pengunduran dirinya.
Namun bukan berarti masalah selesai.
Dia membawa Alya ke ruang rapat kecil.
“Kita harus bicara dengan HR.”
Alya mengangguk.
“Untuk apa?”
“Memisahkan struktur kerja kita.”
Alya memahami.
“Jadi saya tetap di Executive Office?”
“Iya.”
“Tapi bukan lagi langsung di bawah kamu?”
“Benar.”
“Dan kamu tetap direktur?”
“Ya.”
Alya terdiam.
“Berarti secara resmi kita tidak punya hubungan kerja langsung.”
Raka mengangguk.
“Dan hubungan pribadi kita juga tidak memengaruhi keputusan pekerjaan.”
Alya tersenyum.
“Lebih masuk akal.”
“Clara tidak akan bisa menggunakan itu.”
Alya menatapnya.
“Kalau dia tetap mencoba?”
Raka menjawab tenang,
“Biarkan.”
“Bapak tidak takut?”
Raka tersenyum.
“Sekarang tidak.”
“Kenapa?”
“Karena saya tidak melakukan sesuatu yang salah.”
RAPAT DIREKSI
Pukul 09.00.
Seluruh jajaran direksi berkumpul.
Clara duduk di sisi kanan meja.
Raka berdiri di depan.
“Saya ingin menyampaikan perubahan struktur kerja.”
Clara menatapnya.
Raka melanjutkan,
“Mulai bulan depan, Alya Anindita tidak lagi bekerja langsung di bawah saya.”
Beberapa direktur saling melihat.
Clara mengangkat alis.
“Kenapa?”
Raka menjawab,
“Untuk memastikan independensi fungsi Executive Office.”
Clara tersenyum tipis.
“Bagus.”
Raka menatapnya.
“Dan ada satu hal lagi.”
Ruangan hening.
“Hubungan pribadi antara saya dan Alya tidak akan memengaruhi keputusan perusahaan.”
Clara langsung menatapnya.
Raka tidak menghindar.
“Saya memilih menyampaikan ini secara terbuka karena saya tidak ingin ada konflik kepentingan yang disembunyikan.”
Salah satu direktur bertanya,
“Apakah Anda sedang mengatakan bahwa Anda memiliki hubungan pribadi dengan Alya?”
Raka terdiam sejenak.
Kemudian menjawab,
“Ya.”
Alya yang duduk di belakang hampir menahan napas.
Raka melanjutkan,
“Tetapi tidak ada keputusan perusahaan yang diberikan kepada Alya karena hubungan tersebut.”
Ruangan hening.
Clara terlihat tidak nyaman.
Salah satu direktur mengangguk.
“Kalau struktur kerjanya sudah dipisahkan, saya rasa tidak ada masalah.”
Raka mengangguk.
“Terima kasih.”
Clara kemudian berkata,
“Bagaimana dengan reputasi perusahaan?”
Raka menatapnya.
“Reputasi perusahaan rusak bukan karena dua orang dewasa memiliki perasaan.”
Dia berhenti.
“Reputasi rusak kalau perusahaan menyembunyikan masalah atau mengambil keputusan yang tidak profesional.”
Tidak ada yang membantah.
Clara bersandar.
Untuk pertama kalinya, dia kehilangan ruang untuk menyerang.
SETELAH RAPAT
Alya keluar bersama Raka.
Begitu pintu tertutup, Alya menghela napas panjang.
“Kamu gila.”
Raka menoleh.
“Kenapa?”
“Kamu mengatakannya di depan semua orang.”
“Saya tidak mau bersembunyi.”
Alya tersenyum.
“Tapi sekarang semua orang tahu.”
“Biar.”
“Kita belum resmi apa-apa.”
Raka tersenyum.
“Setidaknya mereka tahu saya serius.”
Alya menatapnya.
“Serius?”
“Ya.”
“Seberapa serius?”
Raka mendekat sedikit.
“Serius sampai saya tidak takut lagi.”
Alya tersenyum.
Namun sebelum percakapan berlanjut—
Clara keluar dari ruang rapat.
“Alya.”
Alya menoleh.
Clara mendekat.
“Saya ingin bicara.”
Raka langsung berkata,
“Tidak perlu.”
Clara menatapnya.
“Saya bicara dengan Alya.”
Alya menyentuh lengan Raka.
“Tidak apa-apa.”
Raka menatapnya.
“Yakin?”
Alya mengangguk.
Raka pergi.
Clara menunggu sampai Raka cukup jauh.
Kemudian berkata,
“Saya minta maaf.”
Alya terkejut.
“Untuk apa?”
“Karena saya terlalu ikut campur.”
Alya diam.
Clara menarik napas.
“Saya memang punya masa lalu dengan Raka. Saya pikir kalau saya kembali, saya masih punya kesempatan.”
Alya tidak menjawab.
“Tapi sekarang saya melihat cara dia memandang kamu.”
Clara tersenyum tipis.
“Dia tidak pernah melihat saya seperti itu.”
Alya merasa tidak nyaman.
“Clara…”
“Tidak apa-apa.”
Clara menggeleng.
“Saya sudah menerima.”
Kemudian dia pergi.
Alya berdiri diam.
Untuk pertama kalinya, dia tidak lagi melihat Clara sebagai ancaman.
Dia hanya melihat seorang perempuan yang juga pernah mencintai Raka.
PUKUL 13.00
Kabar mengenai hubungan Raka dan Alya mulai tersebar.
Tidak secara resmi.
Namun kantor kecil seperti itu tidak pernah benar-benar bisa menyimpan rahasia.
Beberapa orang mulai berbisik.
Ada yang mendukung.
Ada yang mempertanyakan.
Ada yang mengatakan Alya beruntung.
Ada pula yang mengatakan Raka terlalu mengambil risiko.
Alya mendengar semuanya.
Awalnya dia mencoba tidak peduli.
Namun satu komentar membuatnya berhenti.
“Pantas saja kariernya cepat naik.”
Alya menoleh.
Dua staf langsung diam.
Alya menarik napas.
Dia tidak marah.
Tetapi komentar itu menyakitkan.
Bukan karena benar.
Justru karena tidak benar.
Dia tahu semua kerja keras yang sudah dilakukan.
Semua laporan.
Semua lembur.
Semua kesalahan yang dia perbaiki.
Namun sekarang semuanya seolah-olah tidak berarti.
Hanya karena orang tahu tentang Raka.
Alya kembali ke meja.
Matanya mulai berkaca-kaca.
Raka melihat dari kejauhan.
Dia berjalan mendekat.
“Alya.”
Alya mengangkat wajah.
“Iya?”
“Kamu baik-baik saja?”
“Baik.”
Raka tahu itu bohong.
“Masuk.”
Alya menggeleng.
“Tidak.”
“Alya.”
“Saya tidak mau orang bilang saya mendapatkan perlakuan khusus.”
Raka terdiam.
“Kalau saya terus masuk ke ruanganmu, mereka akan semakin bicara.”
Raka memahami.
“Baik.”
Dia tidak memaksa.
Namun sebelum pergi, dia berkata,
“Jangan biarkan pendapat orang membuat kamu meragukan dirimu sendiri.”
Alya menatapnya.
“Terima kasih.”
MALAM
Alya memutuskan sesuatu.
Dia akan kembali ke Jakarta.
Bukan karena ingin melarikan diri.
Bukan karena takut.
Tetapi karena dia ingin membangun kariernya dengan kekuatannya sendiri.
Dia menemui Raka sebelum pulang.
“Saya sudah memutuskan.”
Raka mengangkat wajah.
“Apa?”
“Saya kembali ke Jakarta.”
Raka diam.
“Untuk melanjutkan program.”
Raka mengangguk.
“Baik.”
Alya menatapnya.
“Bapak tidak akan melarang?”
“Tidak.”
“Raka.”
“Hm?”
“Kali ini saya pergi bukan karena takut.”
“Saya tahu.”
“Saya ingin membuktikan bahwa saya bisa berdiri sendiri.”
Raka tersenyum.
“Saya bangga.”
Alya tersenyum.
“Dan saya akan kembali.”
Raka menatapnya.
“Kapan?”
“Enam bulan lagi.”
Raka mengangguk.
“Saya tunggu.”
SEBELUM ALYA PERGI
Mereka berdiri di depan gedung kantor.
Malam sudah cukup larut.
Alya membawa koper kecil.
Raka berdiri di depannya.
“Jaga diri.”
“Kamu juga.”
“Jangan terlalu sibuk.”
“Kamu juga.”
“Jangan lupa makan.”
“Kamu juga.”
Alya tertawa.
“Kita seperti orang tua.”
Raka tersenyum.
“Kebiasaan.”
Alya kemudian diam.
“Raka.”
“Hm?”
“Kalau nanti saya pulang…”
“Ya?”
“Saya tidak mau kembali menjadi asistenmu.”
Raka tersenyum.
“Saya juga tidak mau.”
“Lalu?”
Raka menatapnya.
“Kita lihat.”
Alya mengangguk.
Kemudian dia memeluk Raka.
Pelukan pertama mereka.
Tidak lama.
Tidak berlebihan.
Namun cukup untuk membuat keduanya terdiam.
Ketika Alya melepaskan pelukan, Raka berkata pelan,
“Pulanglah.”
Alya tersenyum.
“Saya akan pulang.”
Dia masuk ke mobil.
Raka berdiri sampai mobil menghilang.
ENAM BULAN KEMUDIAN
Alya kembali ke Bali.
Namun kali ini bukan sebagai peserta program.
Dia kembali dengan jabatan baru.
Executive Office Manager.
Dan hal pertama yang dia lakukan setelah turun dari pesawat adalah mengirim pesan kepada Raka.
Saya sudah pulang.
Balasan datang kurang dari satu menit.
Saya tahu.
Alya tersenyum.
Dari mana?
Saya ada di luar.
Alya mengangkat wajah.
Di balik kaca pintu bandara—
Raka berdiri.
Menunggunya.
Tidak sebagai bos.
Tidak sebagai direktur.
Hanya seorang laki-laki yang menepati janjinya.
Alya berjalan keluar.
Raka tersenyum.
“Selamat pulang.”
Alya tersenyum lebar.
“Saya pulang.”
Raka mengambil koper Alya.
“Kali ini saya bukan atasanmu.”
Alya tertawa.
“Bagus.”
“Dan kamu bukan asisten saya.”
“Lebih bagus.”
Raka menatapnya.
“Jadi sekarang…”
Alya menunggu.
“Boleh saya mengajak kamu makan malam?”
Alya tersenyum.
“Sebagai apa?”
Raka mendekat.
“Sebagai pria yang sudah menunggu enam bulan.”
Alya tertawa kecil.
“Kalau begitu…”
“Hm?”
“Saya mau.”
Untuk pertama kalinya, tidak ada jabatan di antara mereka.
Tidak ada meja kantor.
Tidak ada aturan atasan dan bawahan.
Tidak ada alasan untuk menyembunyikan perasaan.
Hanya dua orang yang akhirnya memiliki kesempatan untuk memulai dari awal.
Namun ketika mereka berjalan menuju mobil, ponsel Raka berdering.
Dia melihat layar.
Wajahnya berubah serius.
Alya memperhatikan.
“Siapa?”
Raka tidak langsung menjawab.
Kemudian menyerahkan ponselnya kepada Alya.
Sebuah email dari dewan direksi.
Subjek: Perubahan Kepemilikan dan Struktur Manajemen Mahendra Group
Alya membaca beberapa baris pertama.
Lalu menatap Raka.
“Ini apa?”
Raka mengambil kembali ponselnya.
“Saya belum tahu.”
“Kenapa?”
“Karena ternyata selama enam bulan kamu di Jakarta…”
Dia berhenti.
“Ada orang lain yang diam-diam membeli saham perusahaan.”
Alya mengerutkan kening.
“Siapa?”
Raka menatapnya.
“Dan kalau dugaan saya benar…”
Dia berhenti.
“Orang itu bukan investor biasa.”
Alya menunggu.
Raka berkata pelan,
“Dia ingin mengambil alih perusahaan.”
Dan untuk pertama kalinya setelah mereka akhirnya bebas menjadi dua orang yang saling mencintai—
mereka kembali dihadapkan pada masalah baru.
Kali ini bukan soal cinta.
Bukan soal Clara.
Bukan soal jabatan.
Tetapi tentang masa depan perusahaan yang selama ini menjadi bagian terbesar dari hidup Raka.
Dan orang yang berada di balik pengambilalihan itu ternyata memiliki hubungan dengan masa lalu keluarga Mahendra.