Dipecat dari pekerjaan kota dan dicampakkan oleh kekasihnya dalam satu hari membuat Aditya Pratama, seorang pemuda yatim piatu, tidak punya pilihan selain pulang ke desa untuk mengolah tanah warisan orang tuanya yang sangat luas. Namun, usaha perkebunan dan peternakannya berujung kegagalan total hingga uang tabungannya ludes tak bersisa. Di tengah rasa putus asa dan kebingungan menghadapi masa depan, sebuah fenomena gaib memberinya pencerahan berupa Sistem Perkebunan dan Peternakan yang mengubah tanah gersangnya menjadi ladang emas serta menarik perhatian wanita-wanita cantik di sekitarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Suasana di stan Adit semakin tidak terkendali oleh lautan manusia.
Orang-orang rela berdesakan hanya untuk melihat sayuran bercahaya dan daging ayam berasap dingin itu.
"Tolong antri dengan tertib! Semua pasti dapat bagian!" teriak Riana kewalahan melayani pembeli.
Maya sibuk menggesek kartu pembayaran para pengunjung tanpa henti di mesin kasirnya.
Tring. Tring.
Suara mesin kasir terus berbunyi menandakan transaksi dalam jumlah besar masuk ke rekening Adit.
Di seberang lorong, stan raksasa Nusantara Group malah terlihat sangat sepi layaknya kuburan.
Beberapa pegawai mereka hanya bisa menelan ludah melihat antrean panjang di stan milik orang kampung yang mereka ejek tadi.
Tiba-tiba, suara pengumuman dari pengeras suara gedung bergema ke seluruh ruangan.
"Perhatian kepada seluruh pengunjung dan peserta VIP." suara pembawa acara terdengar lantang.
"Acara lelang bahan baku elit akan segera dimulai di panggung utama aula dalam lima menit."
Mendengar pengumuman itu, Adit langsung tersenyum penuh arti.
"Waktunya pertunjukan utama kita dimulai." ucap Adit sambil berbalik mengambil peti kayu di bawah meja.
"Kamu yakin mau melelang buah rahasiamu itu sekarang, Dit?" tanya Riana sambil mengelap keringat di dahinya.
"Tentu saja. Ini adalah momen yang paling tepat untuk menghancurkan harga diri Hendra Wijaya." jawab Adit mantap.
Adit berjalan meninggalkan stannya dan menuju panggung utama lelang.
Maya dan Riana ikut menyusul di belakangnya sambil terus merekam suasana menggunakan ponsel mereka.
Tap tap tap.
Langkah kaki Adit terdengar mantap saat menaiki tangga panggung utama yang sudah dipenuhi para juri dan pembeli kelas atas.
Di atas panggung, perwakilan dari Nusantara Group sudah berdiri dengan raut wajah sangat sombong.
Mereka memamerkan sebuah kotak kaca berisi jamur truffle hitam berukuran besar.
"Ini adalah Truffle Hitam Mutiara, hasil budidaya laboratorium terbaik kami senilai ratusan juta rupiah!" sombong perwakilan Nusantara Group itu di depan mikrofon.
Para juri dan penonton bertepuk tangan meriah melihat jamur langka tersebut.
Prok prok prok.
"Luar biasa, Nusantara Group memang selalu membawa bahan baku kualitas dewa setiap tahunnya." puji salah satu juri berpakaian koki internasional.
"Aku berani menawar truffle itu seharga lima ratus juta rupiah!" teriak seorang pemilik restoran mewah dari bangku penonton.
Perwakilan Nusantara Group itu tersenyum lebar dan melirik meremehkan ke arah Adit yang baru tiba.
"Lalu, apa yang dibawa oleh stan kecil pemutus arus listrik ini ke panggung lelang yang suci ini?" ejek pria berseragam Nusantara Group itu.
Suara tawa kecil terdengar dari beberapa penonton yang belum tahu soal keajaiban di stan Adit.
Adit tidak membalas ejekan murahan itu sama sekali.
Pemuda itu hanya melangkah tenang ke tengah panggung dan meletakkan peti kayunya di atas meja panjang.
Klotak.
Suara peti kayu berbenturan dengan meja terdengar jelas di mikrofon panggung.
"Saya tidak membawa jamur hasil eksperimen laboratorium yang rasanya hambar." ucap Adit memulai bicaranya.
"Saya membawa mahakarya alam yang disempurnakan." lanjutnya dengan nada tenang namun penuh tekanan.
Adit membuka pengait besi pada peti kayu tersebut secara perlahan.
Klak.
Begitu tutup peti kayu itu terbuka, sebuah aroma manis yang luar biasa pekat langsung meledak ke udara.
Wush.
Aroma itu menyebar dengan sangat cepat, menyapu hidung seluruh orang yang ada di aula utama.
"Ya Tuhan, aroma wangi apa ini?!" seru salah satu juri sambil berdiri dari kursinya.
"Aromanya membuat tubuhku yang lelah mendadak terasa segar kembali!" sahut penonton lain dengan mata terbelalak lebar.
Adit mengeluarkan satu buah Melon Spiritual dari dalam peti dan mengangkatnya tinggi-tinggi.
Kulit buah kuning keemasan itu memantulkan cahaya lampu panggung dengan sangat indah.
Pola urat nadi bercahaya di kulitnya membuat buah itu terlihat seperti artefak magis dari dunia lain.
"Ini adalah Melon Spiritual Emas." ucap Adit memperkenalkan produknya di depan mikrofon.
"Satu gigitan dari buah ini akan mengembalikan seluruh stamina dan memurnikan racun di dalam tubuh Anda." lanjut Adit menjelaskan khasiatnya.
Ruangan yang tadinya riuh mendadak hening seketika.
Semua mata tertuju pada buah bercahaya di tangan Adit layaknya orang yang terhipnotis.
"Jangan bercanda! Mana ada buah seperti itu di dunia nyata?!" teriak perwakilan Nusantara Group dengan wajah panik.
"Dia pasti menyuntikkan bahan pewarna kimia dan parfum ke dalam buah murahan itu!" tuduhnya sambil menunjuk-nunjuk Adit dengan kasar.
Adit hanya tersenyum sinis menanggapi tuduhan tidak berdasar tersebut.
"Kalau begitu, mari kita buktikan di depan lidah para ahli." balas Adit santai.
Adit meletakkan melon itu di atas talenan kayu dan mengambil pisau panjang yang disediakan panitia.
Sret.
Satu belahan rapi memotong melon itu menjadi dua bagian.
Begitu terbelah, daging buah berwarna oranye kristal terlihat memancarkan pendaran cahaya yang jauh lebih terang.
Bulir-bulir air manis menetes dari daging buahnya, menggoda iman siapa pun yang melihatnya.
Glek.
Terdengar suara puluhan orang menelan ludah secara bersamaan di dalam ruangan besar itu.
Adit memotong melon itu menjadi beberapa irisan kecil dan membagikannya kepada tiga juri utama di depan panggung.
"Silakan dicicipi, Tuan-tuan." tawar Adit dengan gestur sopan.
Ketiga juri koki internasional itu mengambil irisan melon dengan tangan bergetar.
Mereka memasukkan potongan buah itu ke dalam mulut dan mengunyahnya pelan.
Nyam.
Detik berikutnya, ketiga juri itu langsung menjatuhkan garpu mereka ke lantai panggung.
Tring.
Air mata mendadak mengalir deras dari sudut mata salah satu juri yang sudah tua.
"Ini... ini adalah rasa dari surga." isak juri tua itu dengan suara bergetar hebat.
"Rasa manisnya langsung menyerap ke dalam aliran darahku. Pegal di punggungku hilang seketika!" teriak juri kedua sambil berdiri kegirangan.
"Ini bukan sekadar bahan makanan, ini adalah obat mukjizat!" sahut juri ketiga tidak kalah histerisnya.
Melihat reaksi ekstrem para juri kelas dunia itu, seluruh penonton langsung menjadi gila.
Perwakilan Nusantara Group mundur beberapa langkah dengan wajah seputih kertas.
Jamur truffle ratusan juta milik mereka kini terlihat seperti gumpalan kotoran sapi jika disandingkan dengan melon ajaib milik Adit.
"Saya buka harga lelang untuk sepuluh buah Melon Spiritual Emas ini di angka seratus juta rupiah!" teriak Adit ke arah kerumunan penonton.
"Dua ratus juta!" teriak seorang pengusaha bertubuh gemuk dari barisan depan.
"Tiga ratus juta! Jangan ada yang berani merebutnya dariku!" sahut seorang wanita sosialita dengan suara melengking.
"Lima ratus juta! Aku beli semuanya lima ratus juta tunai sekarang juga!" teriak pengunjung dari belakang panggung.
Harga lelang melon milik Adit terus melonjak gila-gilaan menembus angka yang tidak masuk akal.
Riana dan Maya saling berpelukan erat di pinggir panggung melihat kesuksesan yang sangat luar biasa itu.
"Kita berhasil, Dit! Kita benar-benar menghancurkan pasar elit mereka!" puji Riana dengan mata berkaca-kaca terharu.
Di saat yang sama, di ruang VIP lantai atas gedung pameran.
Hendra Wijaya berdiri kaku menatap layar monitor yang menampilkan siaran langsung dari panggung lelang.
Prang.
Gelas kaca berisi anggur mahal di tangannya hancur berkeping-keping karena diremas terlalu kuat.
Anggur merah menetes membasahi karpet berbulu di ruangan itu bersamaan dengan darah dari telapak tangannya yang robek.
"Siapa sebenarnya bocah desa sialan itu?" geram Hendra dengan suara berat yang menahan amarah luar biasa.
Nafas pria paruh baya itu memburu hebat melihat harga melon Adit kini menembus angka satu koma lima miliar rupiah.
"Truffle andalan kita bahkan tidak ada yang melirik sama sekali karena buah sialan itu!" lanjut Hendra mengamuk menendang meja kaca di depannya.
Brak.
Meja itu terbalik dan menumpahkan segala dokumen penting di atasnya.
Sekretaris pribadinya berdiri gemetar di sudut ruangan tanpa berani mengeluarkan suara sedikit pun.
"Hubungi divisi logistik pusat sekarang juga." perintah Hendra dengan suara sedingin es.
"Mulai besok pagi, tutup semua akses truk pengiriman komersial yang menuju atau keluar dari desa bocah itu."
"Pastikan tidak ada satu pun sayuran miliknya yang bisa keluar dari kampung halamannya!" tegas Hendra penuh kebencian.
"B-baik, Pak Hendra. Akan saya urus instruksi itu sekarang juga." jawab sekretaris itu terbata-bata sebelum berlari kencang keluar ruangan.
Hendra kembali menatap layar monitor yang menampilkan Adit sedang berjabat tangan dengan pemenang lelang.
"Kau boleh memenangkan panggung lelang kecil ini, Aditya Pratama." gumam Hendra sambil mengelap darah di tangannya dengan sapu tangan.
"Tapi aku akan memastikan usahamu mati membusuk sebelum kau bisa mengirim barang-barangmu itu ke pembeli." ancamnya pelan.
Kembali ke panggung utama pameran.
Adit tersenyum ramah menerima selembar cek senilai satu koma lima miliar rupiah dari seorang pengusaha hotel berbintang.
Ting.
[Pemberitahuan Sistem: Misi Target 2 Berhasil Diselesaikan Sebagian!]
[Reputasi Produk Tuan Mendapatkan Status: Legendaris di Kalangan Elit Ibukota.]
[Mendapatkan 1000 Poin Pengalaman.]
Adit melirik sekilas ke arah kamera pengawas panitia di sudut atas ruangan dan tersenyum sinis.
Ia tahu betul bahwa musuh besarnya pasti sedang menonton kemenangannya dari suatu tempat di gedung ini.
"Silakan berikan serangan licikmu selanjutnya, Pak Tua." batin Adit menantang tanpa rasa takut.
Adit turun dari panggung dan langsung disambut oleh tepuk tangan riuh dari ratusan orang yang kini mengerumuninya untuk meminta kontak bisnis.
Pameran hari ini telah membuktikan satu hal mutlak kepada seluruh pengusaha kuliner di Jakarta.
Bahwa seorang raja baru dari desa telah lahir untuk menantang tahta sang raksasa korporasi raksasa.
hasil panen terlalu OP..
harga terlalu enggak bgt.. pace cepet.
sy jadi agak kurang menikmati..
utk nextnya bs dipertimbangkan saran supaya lebih bisa dinikmati
😁 jadi keinget film sopo Jarwo baca nama nya.