Kota Mecha, pusat teknologi tercanggih di dunia, kini menjadi incaran kota-kota luar yang iri dan ingin menghancurkannya. Demi menjaga kedamaian, pemerintah dan perusahaan Mechabest mencari pahlawan generasi baru berhati mulia untuk menggantikan para pahlawan senior yang pensiun.
Kehidupan empat sahabat—Yasing, Maul, Alfian, dan Sahla—berubah drastis ketika agen rahasia mendatangi rumah mereka dan mengundang mereka mengikuti trial khusus. Berbekal Jam Perubah berkekuatan berbasis keahlian hewan, mereka harus bekerja sama menghadapi musuh, menguasai mode robot masing-masing, dan bertahan dari petualangan yang penuh aksi sekaligus aksi kekonyolan khas persahabatan mereka!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayyasy Asy-Syaif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertempuran Di Puncak Terlarang
Rintik hujan mulai turun membasahi pelataran baja hitam di Pegunungan Terlarang. Bau tanah basah bercampur aroma ozon menyengat menyelimuti udara. Di tengah ketegangan yang memuncak, Rendra mengacungkan pergelangan tangan kirinya yang terpasang Dark Mecha Watch Prime.
"Kalian pikir jumlah orang bisa menentukan hasil akhir?" bisik Rendra dingin. "Kalian hanyalah anak-anak kecil yang bermain pahlawan dengan mainan buatan Einstein!"
Rendra menekan tombol utama di jam hitam-emasnya.
"DARK MECHA PRIME: ACTIVATE!"
BZZZZZZZT! CRASH!
Pusaran kilat berwarna merah kehitaman meledak dahsyat dari tubuh Rendra! Energi kegelapan yang pekat menyapu area pelataran, menghempaskan angin kencang yang memaksa Yasing dan kawan-kawan memasang kuda-kuda kokoh agar tidak terpental.
Saat uap energi merah meluruh, sosok Rendra telah berubah sepenuhnya. Dia terbungkus oleh zirah Mode Naga Kegelapan (Hitam & Emas)—zirah aerodinamis berlapis baja bersisik dengan tanduk naga mengkilap di helmnya, serta sepasang sayap energi merah pekat yang membentang di punggungnya. Aura tekanannya sungguh luar biasa, berkali-kali lipat lebih berat dibanding robot tiruan sebelumnya.
"Aura energi ini..." Alifian menatap layar indikator di jamnya dengan mata membelalak di balik kacamata. "Berdasarkan pembacaan gelombang... kapasitas energinya melebihi batas puncak zirah kita!"
"Gak usah gentar!" seru Yasing berapi-api. "Mau seberapa kuat zirah lamanya, kita bertarung berdelapan! MECHABEST ACTIVATE!"
FLASH! FLASH! FLASH!
Delapan pendar cahaya membumbung tinggi menyelimuti pelataran!
Yasing bertransformasi ke Mode Singa (Merah)
Maul ke Mode Badak (Hijau)
Sahla ke Mode Cheetah (Kuning)
Alifian ke Mode Elang (Kuning)
Bang Pasya ke Mode Cobra (Hijau Tua)
Kelay ke Mode Hiu (Biru-Putih)
Teh Caca ke Mode Merak (Emas & Ungu)
Opik ke Mode Bunglon (Hijau Daun)
"Serang bersamaan!" perintah Teh Caca memimpin garis depan.
"Cakar Singa Membara!" Yasing meluncur paling depan, melayangkan tebasan api raksasa ke arah dada Rendra. Di saat bersamaan, Sahla melesat dari sisi kiri dengan kecepatan Mode Cheetah, dan Bang Pasya menembakkan gelombang racun dari sisi kanan!
Tiga serangan mematikan meluncur tepat dari tiga arah berbeda. Namun, Rendra bahkan tidak bergeming dari posisinya.
SWOOSH!
Hanya dengan satu kepakan sayap energi merahnya, Rendra menciptakan gelombang kejutan angin bertekanan tinggi.
BRANNGGG!
Tebasan api Yasing terhapus seketika, serangan Sahla terhenti dan membuatnya terpental ke belakang, sementara gelombang racun Bang Pasya tersapu bersih tanpa sisa!
"Kecepatan dan refleksnya..." Kelay terperanjat dari belakang. "Gak masuk akal!"
"Gua katakan sekali lagi," suara Rendra bergema dingin dari balik helm naganya. "Aku adalah orang yang membantu Einstein merancang pondasi awal Mecha Watch. Gua tahu setiap celah, setiap jeda transformasi, dan setiap titik lemah dari gaya bertarung kalian!"
TAP!
Dalam hitungan mikrodetik, Rendra menghilang dari pandangan mata!
"Awas dari atas!" teriak Opik yang menyatu dengan lingkungan sekitar lewat Mode Bunglon.
DUMMMMM!
Rendra menukik tajam dari udara, menghantamkan tinju emasnya tepat ke perisai cula Mode Badak milik Maul yang mencoba melindungi Yasing. Benturan itu begitu dahsyat hingga membuat tanah baja di bawah kaki Maul retak sedalam setengah meter!
"AGHHH!" Maul meringis menahan beban luar biasa, lututnya tertekuk hebat. Wajah datarnya berganti tegang saat melihat retakan mulai menjalar di perisai hijau kebanggaannya. "Gila... tenaganya bener-bener kayak monster..."
"Jangan tahan sendirian, Ul!" Yasing melompat, berganti cepat ke Mode Beruang (Hitam) dan menghantamkan kedua tinjunya ke arah bahu Rendra.
Rendra menangkis tinju berat Yasing hanya dengan siku lengannya, lalu memutar tubuhnya dan melepaskan tendangan berputar berenergi naga yang menghantam dada Yasing dan Maul sekaligus!
BANG! BANG!
Yasing dan Maul terpental keras, bergulingan di atas pelataran batu sebelum akhirnya terhenti di dekat kaki Teh Caca dan Kelay.
"Yasing! Maul!" jerit Sahla.
Alifian yang terbang di udara mencoba mengecoh fokus Rendra dengan menembakkan gelombang sonar Mode Elang. Namun Rendra meluncur ke udara dengan kecepatan supersonik, melewati rentetan sonar Alifian dengan manuver miring yang sangat presisi.
"Pola terbangmu terlalu kaku, Bocah!" cemooh Rendra.
Dengan satu sabetan ekor energi di zirahnya, Rendra menghantam sayap zirah Alifian hingga memercikkan arus pendek dahsyat, melempar Alifian jatuh bebas menabrak tebing batu!
"ALIFIAN!" Teh Caca tak tinggal diam. Dia mengaktifkan bulu-bulu hologram Mode Merak, memancarkan cahaya silau keemasan untuk membutakan pandangan Rendra, memberi ruang bagi Kelay dan Pasya untuk menyerang dari bawah.
"Sengatan Hiu Beracun!" seru Pasya dan Kelay serempak, mengombinasikan cambuk air dan jarum racun menjadi satu aliran serangan ganda.
Namun, Rendra memejamkan mata digitalnya dan hanya mengandalkan sensor getaran energi. Dia mengepalkan kedua tangannya ke dada, menyerap cahaya dari Mode Merak milik Teh Caca, lalu memancarkan kembali gelombang ledakan merah kegelapan dari Inti Naga zirahnya!
BOOOOOOMMMM!
Ledakan energi dahsyat meluas radius dua puluh meter! Teh Caca, Pasya, Kelay, dan Opik yang mencoba menahan serangan ikut terhempas hebat. Zirah mereka bergetar hebat, memancarkan peringatan bahaya warna merah karena kehabisan daya secara drastis.
Delapan pahlawan Mechabest kini tergeletak di atas pelataran yang hancur. Rintik hujan yang makin deras membasahi zirah-zirah mereka yang memercikkan bunga api arus pendek.
Rendra mendarat perlahan di tengah-tengah mereka, melangkah anggun dengan zirah naga keemasannya yang tidak memiliki cacat sedikit pun.
"Inikah generasi baru yang diagung-agungkan Einstein?" Rendra menggelengkan kepala penuh ejekan. "Kalian tidak lebih dari sekadar tiruan lemah yang menggantungkan diri pada teknologi orang lain. Tanpa Einstein, kalian bukan siapa-siapa."
Yasing merayap di tanah, jemarinya mencengkeram tanah basah dengan erat. Gigi-giginya berderet rapat menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya. "Kami... bukan cuma sekadar teknologi..."
"Apa kau bilang?" Rendra menunduk menatap Yasing.
Yasing perlahan-lahan bangkit berdiri. Walaupun kakinya gemetaran dan zirah Mode Singa-nya kedip-kedip kehabisan daya, matanya memancarkan api keberanian yang tidak bisa dipadamkan oleh rasa sakit.
Di sebelahnya, Maul ikut berdiri, menyapu darah tipis di sudut bibirnya dengan muka datar yang kembali terpasang kokoh. Sahla dan Alifian saling memapah untuk bangkit, sementara Pasya, Kelay, Teh Caca, dan Opik berdiri membentuk barisan rapat di belakang empat anak muda itu.
"Lu emang punya zirah paling kuat, dan lu tahu semua data kita," ujar Yasing dengan suara lantang menembus deru suara hujan. "Tapi ada satu hal yang gak pernah lu punya, Rendra!"
"Oh ya? Dan apa itu?" tantang Rendra.
"Rasa percaya!" tegas Yasing. "Lu bertarung cuma buat ego dan kehausan lu akan pujian! Lu gak pernah bertarung buat melindungi teman-teman lu atau warga kota! Itu alasannya kenapa Prof. Einstein membuang lu!"
"Tepat," sahut Maul dengan nada datar namun menghujam. "Lu itu cuma orang tua kesepian yang dendam gara-gara gak ada yang puji lagi."
Rendra mengepalkan tangannya murka. "Tutup mulut kalian!"
"Dengar semuanya!" seru Teh Caca dari belakang, menyalurkan sisa energi Mecha Watch-nya ke saluran komunikasi tim. "Rendra memang menguasai seluruh data individu kita! Tapi dia tidak akan pernah bisa memprediksi jika kita menyatukan seluruh inti energi Mecha Watch milik kita menjadi satu arus energi gabungan!"
"Penyatuan Inti Energi?!" Alifian terbelalak. "Secara teoritis... itu bisa memicu kelebihan beban pada jam kita, Teh!"
"Tapi itu satu-satunya cara buat menembus zirah Naga miliknya!" timpal Bang Pasya mantap, melangkah ke samping Yasing. "Percaya sama tim kita, Lif!"
delapan pahlawan Mechabest melingkar rapat, saling bergandengan tangan atau menyentuhkan Mecha Watch mereka satu sama lain di tengah pelataran yang diguyur hujan.
Delapan pendar cahaya berbeda warna—Merah, Hijau, Kuning, Biru, Hijau Tua, Ungu, Emas, dan Cokelat—mulai beresonansi! Denyut energinya bergetar sangat kuat, membakar rintik air hujan di sekitar mereka menjadi uap panas yang membumbung tinggi.
"Sistem penyatuan energi acak... di luar skenario data!" mata digital Rendra membelalak kaget saat sensor di helmnya memberikan peringatan Error bertubi-tubi.
[WARNING: UNKNOWN ENERGY RESONANCE DETECTED. DATA OVERFLOW!]
"Ini dia... kekuatan sejati dari kebersamaan Mechabest!" teriak Yasing, Maul, Alifian, Sahla, Pasya, Kelay, Teh Caca, dan Opik secara serempak!
BZZZZZZZZZT! FLASH!
Sinar cahaya raksasa berwarna pelangi berkilau membumbung menembus awan gelap Pegunungan Terlarang, siap melepaskan serangan pamungkas yang akan menentukan nasib Kota Mecha dan akhir dari ambisi Sang Omega!