NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Sang Naga

Reinkarnasi Sang Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Sistem
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Syahriandi Purba

Lin Chen adalah pewaris sah dari Keluarga Lin di Ibukota Jingcheng. Namun, karena intrik ibu tirinya dan adik tirinya (Lin Tian), meridiannya dihancurkan, dia dijebak atas kejahatan penggelapan, dan dibuang ke kota kecil Donghai sebagai orang cacat. Tunangannya yang kejam, Ye Mei, akhirnya membunuhnya di gang gelap.
​Namun, takdir berkata lain. Lin Chen terbangun 5 tahun di masa lalu, tepat di hari ia dibuang ke Donghai. Kali ini, ia tidak hanya membawa ingatan masa depannya, tetapi jiwanya telah terikat dengan [Sistem Penguasa Urban Tertinggi]. Mulai dari menyembuhkan tubuhnya, membangun kerajaan bisnis, hingga menguasai seni bela diri kuno, Lin Chen bersumpah akan menginjak-injak mereka yang pernah mengkhianatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Pembersihan Darah

​Udara di dalam basement yang hancur itu terasa begitu mencekam. Bau darah segar dan debu beton bercampur menjadi satu.

​Hanya dalam waktu kurang dari lima detik, dua dari Tiga Utusan Bayangan Sekte Gunung Hitam—yang konon bisa membantai satu keluarga kelas atas tanpa meninggalkan jejak—kini terkapar menjadi mayat tak berbentuk di bawah kaki Lin Chen.

​Pria buta itu, sang pemimpin Utusan, melangkah mundur dengan gemetar. Tongkat tulang di tangannya berderak menahan beban tubuhnya yang nyaris ambruk karena ketakutan.

​"K-Kau... monster macam apa kau ini?!" Suara seraknya kini dipenuhi kepanikan. "Bahkan seorang Grandmaster Tahap Bumi awal tidak mungkin membunuh dua praktisi Puncak Kelas Fana dengan semudah ini! Kulitmu menahan kapak baja... kau bukan manusia!"

​Lin Chen mengibas-ngibaskan tangannya dengan santai, menepis debu dari kemejanya. Ia menatap pria buta itu dengan tatapan merendahkan.

​"Di mataku, kalian hanyalah sekumpulan serangga yang terlalu berisik," ucap Lin Chen datar. Ia mengambil satu langkah maju. "Sekarang, jawab pertanyaanku dan aku akan memberimu kematian yang cepat. Di mana markas Guru Sekte kalian?"

​Wajah pria buta itu berkerut mengerikan. Ia tahu ia tidak bisa melarikan diri. "Jangan sombong, bocah! Kau pikir kau bisa melawan seluruh sekte kami?! Guru Sekte berada di Tahap Akhir Tingkat Bumi! Dia selangkah lagi mencapai Tahap Langit! Jika aku mati, dia akan mengupas kulitmu hidup-hidup!"

​Sambil berteriak, pria buta itu diam-diam menggigit ujung lidahnya dan menyemburkan seteguk darah esensinya ke udara.

​"Seni Terlarang: Jeritan Hantu Pencabut Nyawa!"

​WIIIIIIIIIING!

​Sebuah gelombang suara ultrasonik yang bercampur dengan Qi beracun meledak dari mulut pria buta itu, menargetkan langsung ke otak Lin Chen. Ini adalah serangan spiritual yang bisa membuat musuhnya menjadi gila atau otaknya meledak dalam seketika!

​Su Ruoxue yang berada di belakang Lin Chen, meskipun sudah menutup matanya, seketika merasa kepalanya seperti ditusuk ribuan jarum. Ia menjerit tertahan dan menutup telinganya.

​Namun, Lin Chen hanya mendengus dingin.

​"Hanya trik murahan."

​Lin Chen menghentakkan kakinya. Qi dari dalam Dantian-nya yang disuplai tanpa henti oleh Giok Penelan Surga meledak keluar, membentuk perisai energi yang tak terlihat.

​BUM!

​Gelombang suara hantu itu menabrak perisai Lin Chen dan berbalik memantul dengan kekuatan dua kali lipat, menghantam si pembuatnya sendiri.

​"UAAAAAAA!" Pria buta itu menjerit histeris. Gendang telinganya pecah menyemburkan darah, bola matanya yang buta nyaris meledak keluar dari rongganya. Ia jatuh berlutut, berguling-guling di lantai sambil memegangi kepalanya yang terasa mau pecah.

​Lin Chen berjalan perlahan mendekatinya, lalu menginjak dada pria buta itu.

​"Tahap Akhir Tingkat Bumi? Menarik," bisik Lin Chen dengan senyum tipis yang mematikan. "Beri tahu Guru Sekte-mu di neraka, dia tidak perlu repot-repot turun gunung untuk mencariku. Aku sendiri yang akan datang menguburnya."

​KRAK!

​Lin Chen menekan ujung sepatunya. Tulang dada pria buta itu hancur berkeping-keping, menembus jantungnya. Tiga Utusan Bayangan, elit paling ditakuti dari Sekte Gunung Hitam, telah musnah seluruhnya.

​Keheningan kembali menyelimuti basement.

​Lin Chen menarik napas panjang, menekan kembali aura membunuhnya hingga ia terlihat seperti pria normal biasa. Ia berbalik dan berjalan menghampiri Su Ruoxue.

​Mendengar langkah kaki Lin Chen, Su Ruoxue perlahan membuka matanya. Melihat Lin Chen berdiri utuh di depannya, pertahanan emosional wanita berjuluk Ratu Es itu akhirnya runtuh sepenuhnya.

​Tanpa mempedulikan citranya, tanpa mempedulikan darah di lantai, Su Ruoxue berlari dan menghambur ke pelukan Lin Chen. Ia memeluk pinggang pria itu erat-erat, membenamkan wajahnya di dada Lin Chen, dan menangis tersedu-sedu.

​"Kau aman sekarang, Ruoxue. Aku di sini," bisik Lin Chen dengan suara yang sangat lembut. Tangannya membelai rambut panjang Su Ruoxue, memberikan kehangatan yang perlahan menenangkan tubuh wanita itu yang gemetar.

​"A-Aku pikir... aku pikir aku tidak akan pernah melihatmu lagi," isak Su Ruoxue.

​Di saat itu, sebuah suara notifikasi bergema di benak Lin Chen.

​[Ding!]

​[Misi Darurat: Lindungi Sisik Terbalik Sang Naga Selesai!]

​[Evaluasi: Penyelamatan sempurna. Host memusnahkan ancaman dalam waktu kurang dari 3 menit.]

​[Mendapatkan: 5.000 Poin Sistem & Item Khusus: 'Kalung Giok Air Mata Malaikat' (Artefak Pelindung Kelas Bumi).]

​Lin Chen menyentuh sakunya dan sebuah kalung dengan liontin batu giok berwarna biru samudra muncul di tangannya. Artefak ini mampu menahan tiga kali serangan fatal setingkat Grandmaster Tahap Puncak Bumi, dan akan memberikan notifikasi instan kepada Lin Chen jika pemakainya dalam bahaya.

​Lin Chen melepaskan pelukannya perlahan, lalu menatap mata Su Ruoxue yang sembab.

​"Ruoxue, tutup matamu sebentar," pintanya lembut.

​Su Ruoxue menurut. Lin Chen mengalungkan Kalung Giok Air Mata Malaikat itu di leher jenjang istrinya. Batu giok biru itu menempel di tulang selangkanya, memancarkan hawa sejuk yang seketika menghilangkan semua rasa pusing dan trauma di pikiran Su Ruoxue.

​"Lin Chen... ini..." Su Ruoxue menyentuh kalung itu, merasakan energi aneh yang menenangkan jiwanya.

​"Jangan pernah melepaskannya, apa pun yang terjadi. Ini akan melindungimu saat aku tidak ada di sisimu," ucap Lin Chen menatap dalam-dalam ke matanya.

​Lin Chen kemudian mengambil ponselnya dan memutar sebuah nomor. "Paman Bai, bawa orang-orangmu ke basement Gedung Grup Su sekarang."

​Hanya dalam waktu sepuluh menit, tiga mobil van hitam tanpa plat melesat masuk ke dalam basement yang gelap.

​Paman Bai, didampingi oleh Ah Fei dan beberapa pemuda dari Paviliun Naga melompat keluar. Saat Ah Fei melihat kawah di lantai beton dan mayat tiga praktisi bela diri yang mengerikan itu, kakinya tanpa sadar bergetar.

​Meskipun Ah Fei adalah petarung jalanan yang brutal, instingnya mengatakan bahwa ketiga mayat ini semasa hidupnya bisa membunuh puluhan orang seperti dirinya hanya dengan satu jari. Dan Lin Chen... menghabisi mereka semua?

​Rasa hormat dan ketakutan Ah Fei terhadap Lin Chen menembus batas maksimal. Ia langsung berlutut dengan satu kaki. "Tuan Muda! Paviliun Naga siap menerima perintah!"

​"Bersihkan kekacauan ini," perintah Lin Chen datar. "Hilangkan semua jejak, perbaiki kamera CCTV, dan urus kompensasi besar-besaran untuk keluarga dua pengawal yang tewas itu. Katakan pada polisi bahwa ini adalah kecelakaan trafo listrik meledak."

​"Baik, Tuan!" Ah Fei dan anggota Paviliun Naga langsung bergerak dengan sangat efisien. Mereka memasukkan mayat-mayat itu ke dalam kantong jenazah tebal dan membersihkan noda darah dengan cairan kimia khusus.

​Lin Chen memapah Su Ruoxue kembali ke mobil Mercedes-Benz yang kacanya sudah pecah, namun mesinnya masih menyala. Ia mengambil alih kemudi dan membawa istrinya pulang.

​Tengah malam, di balkon kamar kediaman Su.

​Su Ruoxue sudah tertidur lelap setelah Lin Chen menekan beberapa titik akupunturnya untuk menenangkan sarafnya.

​Lin Chen berdiri menatap arah barat laut, ke arah bayangan Pegunungan Kunlun yang jauh di luar provinsi. Matanya setajam pedang yang baru ditarik dari sarungnya.

​Selama ini, ia menunggu musuh datang kepadanya. Ia membangun bisnis, membiarkan orang lain meremehkannya. Namun kejadian malam ini menyadarkannya pada satu fakta mutlak: Di dunia kultivasi, bertahan berarti memberi kesempatan pada musuh untuk menyakiti orang yang kau cintai.

​"Sistem," batin Lin Chen. "Tampilkan Poin Sistemku saat ini."

​[Poin Host saat ini: 15.000 Poin.]

​Ia masih butuh 5.000 Poin lagi untuk mencapai 20.000 poin (harga untuk skill rahasia pembunuh dewa yang ia incar). Namun, dengan Fisik Tulang Giok Naga dan suplai Qi dari Giok Penelan Surga, Lin Chen merasa sudah saatnya ia bergerak aktif.

​"Guru Sekte Gunung Hitam, Tahap Akhir Tingkat Bumi..." Lin Chen tersenyum dingin. "Keluarga Lin di Ibukota dulu membuangku karena mereka pikir meridianku hancur dan aku tidak berguna. Jika aku meratakan sekte bela diri sekelas Gunung Hitam dalam semalam, aku sangat penasaran... bagaimana ekspresi wajah ibu tiri dan adik tiriku tersayang di Ibukota nanti?"

​Lin Chen telah mengambil keputusan. Ia tidak akan menunggu Sekte Gunung Hitam mengirimkan pembunuh lagi.

​Besok, ia akan berangkat sendiri ke Kunlun. Ia akan mencabut sekte itu dari akarnya, dan menggunakan darah mereka sebagai batu loncatan pertamanya untuk menguasai dunia bela diri kuno.

1
Arinto Ario Triharyanto
muantaffff 😎
Arinto Ario Triharyanto
mantap ini 😎 ☕☕☕
Arinto Ario Triharyanto
yoiii lanjutken..😎
Arinto Ario Triharyanto
yoiii😎
Arinto Ario Triharyanto
yoi😎
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!