Ophelia Martin datang menggantikan kakak tirinya untuk menikahi seorang mafia, Bleiz Russo, karena hutang ayah tirinya.
Dia siap menghadapi monster yang dia pikir tua dan bengis itu.
Tapi ketika Ophelia memasuki kastil gelap dan dingin milik Bleiz Russo—dia tidak menemukan kakek-kakek keriput bertato dan tatapan menjijikkan itu.
Yang dia temui justru pria berusia tiga puluh tahunan dengan wajah mempesona, mata elang sedingin es, dan tubuh tegap yang terbalut jas berwarna gelap setara dengan auranya.
Pria itu ternyata menyodorkan kontrak sederhana, bukan sebuah pernikahan normal yang mungkin hanya akan berjalan sementara.
Ophelia hanya disuruh hamil darah dagingnya, dan itu membuat hutang ayah tirinya lunas. Tidak perlu ada cinta. Tidak perlu ada tuntutan. Bleiz hanya perlu wadah untuk pewarisnya.
Bleiz menyentuhnya seperti barang berharga, tapi menatapnya seperti debu tak berarti. Ophelia pernah menyaksikan sendiri bagaimana tangan kuat itu dengan tenang mematahkan tulang pengkhianatnya. Dia pikir dia akan mati ketakutan.
Tapi ternyata setiap kali jarak mereka hanya beberapa sentimeter, justru detak jantungnyalah yang paling berisik?
Ophelia harus mengingat satu aturan. Jangan pernah jatuh cinta pada iblis yang hanya menginginkan rahimmu.
Namun bagaimana caranya bertahan, ketika iblis itu mulai membelai perutnya yang mulai berisi, dengan tatapan yang untuk sekilas terlihat seperti ... ketakutan akan kehilangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zarin.violetta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terluka Parah
Ketika semuanya akhirnya berakhir, gudang itu dipenuhi dengan tubuh tak berdaya dan darah. Elena berlari ke arah Bleiz, berusaha mengangkat tong besar dari tubuhnya dengan bantuan beberapa anak buah yang masih selamat termasuk Marcus.
"Bleiz! Bleiz!" teriak Elena. "Tahan, Bleiz! Tahan!"
Marcuz menelepon ambulans dengan tangan gemetar. "Cepat! Bawa bantuan! Tuan Bleiz terluka parah!"
Sementara itu, anak buah Don Stefano yang menembak Bleiz mencoba melarikan diri, tapi Marcus berhasil menembaknya tepat di kepala sebelum dia mencapai pintu. Pria itu jatuh, menambah tumpukan tubuh di lantai gudang.
Elena memegang kepala Bleiz di pangkuannya. Luka di kepala Bleiz mengerikan darah mengalir deras dari pelipisnya, dan wajahnya pucat seperti kertas.
"Kau tidak boleh mati, Bleiz," bisiknya. "Ophelia menunggumu. Kau tidak boleh menyerah."
*
*
Ambulans tiba beberapa menit kemudian. Bleiz segera dinaikkan ke tandu dan dibawa ke rumah sakit. Di perjalanan, tim medis berusaha menghentikan pendarahan di kepalanya dan kakinya.
Marcus tak menelepon Ophelia, karena kabar ini akan membuatnya shock. Elena berada di dalam mobil bersama Marcus mengikuti ambulans di depannya.
“Jangan beritahu Ophelia. Kita lihat keadaannya dulu. Matikan sinyal di pulau pribadinya dan hanya terhubung dengan pengawal saja. Buat alasan bahwa Don Stefano mulai melacak keberadaannya melalui alat komunikasi,” kata Elena pada Marcus.
“Baik, Nyonya.”
*
*
Di rumah sakit, Bleiz sudah berada di ruang operasi. Tim dokter berjuang untuk menyelamatkan nyawanya. Luka di kepalanya cukup parah, tong besar itu telah menyebabkan pendarahan internal di otaknya.
"Tuan Bleiz," kata dokter kepala pada Marco. "Keadaannya kritis. Ada pendarahan di otaknya yang harus segera dioperasi. Tapi ada risiko besar. Dia mungkin tidak akan selamat."
Marcus mengepalkan tangannya. "Lakukan apa pun yang bisa kau lakukan, Dokter. Biaya tidak menjadi masalah. Tuan Bleiz harus hidup."
Dokter mengangguk dan kembali ke ruang operasi.
*
*
Rumah sakit terasa dingin. Elena duduk di kursi yang ada di ruang tunggu, tangannya masih berlumuran darah Bleiz.
Darah itu sudah mengering, meninggalkan noda cokelat kehitaman di kulitnya, tapi dia tidak peduli. Matanya tertuju pada pintu ruang operasi yang masih tertutup rapat.
Marcus berdiri di dekat jendela, ponselnya tergenggam erat.
"Bagaimana kabarnya, Dokter?" tanya Elena ketika seorang pria berjas putih keluar dari ruang operasi.
Dokter itu menghela napas panjang. Wajahnya tampak lelah, tapi ada secercah harapan di matanya. "Operasi berhasil menghentikan pendarahan di otaknya. Tapi ... Tuan Bleiz sekarang dalam kondisi koma. Kami tidak tahu kapan dia akan sadar. Bisa beberapa hari, bisa beberapa minggu, bahkan bisa berbulan-bulan."
Elena merasakan dadanya sesak. "Tapi dia akan selamat?"
"Untuk saat ini, ya. Tapi kami belum bisa memastikan apakah ada kerusakan otak permanen. Kami harus menunggu sampai dia sadar."
Elena mengangguk perlahan. "Baik. Kami akan menunggu."
Dokter itu pergi, meninggalkan Elena dan Marcus berdua di ruang tunggu yang sunyi. Elena menutup matanya, berusaha menenangkan detak jantungnya yang berdegup kencang.
"Nyonya Elena," kata Marcus pelan. "Apa kita benar-benar tidak memberi tahu Nyonya Ophelia?"
Elena membuka matanya. Tatapannya tajam. "Tidak. Belum. Kau tahu bagaimana Ophelia. Dia akan panik. Dia akan memaksa datang ke sini dan melihat Bleiz dalam keadaan seperti ini. Dan itu hanya akan membuatnya lebih menderita. Kita tunggu sampai Bleiz sadar. Setelah itu, kita putuskan."
Marcus mengangguk meskipun ragu. "Baik, Nyonya."
*
*
Di pulau pribadi, Ophelia duduk di tepi pantai untuk yang kesekian kalinya. Matanya menatap lautan yang tenang, tapi pikirannya tidak tenang sama sekali.
Sudah dua minggu sejak dia terakhir mendengar kabar dari Bleiz. Dua minggu sejak Bleiz mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Tapi tidak ada kabar. Tidak ada pesan. Tidak ada telepon. Komunikasinya terputus.
"Apa yang terjadi?" gumamnya pelan.
Dia meraih ponselnya dan mencoba menelepon Bleiz untuk yang keseratus kalinya. Tapi seperti sebelumnya, panggilan itu tak bisa dilakukan karena sinyal.
Ada sesuatu yang salah. Ophelia bisa merasakannya di dalam hatinya. Dia berjalan kembali ke villa, langkahnya cepat dan amarahnya sudah tak bisa dibendung lagi.
Di dalam, para pengawal yang ditugaskan menjaganya tampak gelisah melihat ekspresi wajahnya.
"Nyonya Ophelia," sapa salah satu pengawal. "Apakah ada yang bisa kami bantu?"
"Ya," kata Ophelia dingin. "Hubungi Marcus. Sekarang. Atau beri tahu aku apa yang sebenarnya terjadi. Karena aku tahu kalian menyembunyikan sesuatu dariku."
Pengawal itu tampak ragu. "Nyonya, kami tidak—"
"JANGAN BOHONG PADAKU!" teriak Ophelia, suaranya memecah kesunyian pagi. "Aku tahu ada yang salah! Bleiz tidak akan pernah meninggalkanku tanpa kabar selama ini! Ada sesuatu yang terjadi padanya, dan kalian semua menyembunyikannya dariku!"
Dia meraih vas bunga di dekatnya dan melemparkannya ke dinding. Vas itu pecah berkeping-keping, air dan bunga berceceran di lantai.
Ophelia tidak berhenti. Dia meraih bingkai foto, buku, apa pun yang ada di dekatnya, dan melemparkannya satu per satu.
"Katakan padaku!" teriaknya sambil menangis. "Di mana suamiku? APA YANG TERJADI PADANYA?"
Para pengawal saling pandang. Mereka hanya mengikuti perintah dan tak bisa memberitahukan keadaan bos nya pada Ophelia.
"Kita harus memanggil Nyonya Elena," bisik salah satu pengawal ketika mereka akhirnya terpaksa keluar. "Situasi sudah tidak terkendali."
*
*
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YAAAKK