NovelToon NovelToon
His Royal Vow

His Royal Vow

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Perjodohan / Penyesalan Keluarga
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Pernikahan megah di Katedral St. George menandai bersatunya Edmund Alistair Blackwood, calon Raja Inggris sekaligus perwira militer, dengan Baxeena Valerio Desmon, wanita independen asal Los Angeles. Bagi publik, ini aliansi sempurna. Namun bagi Baxeena, ini adalah neraka.

Pria yang dipaksa ia nikahi demi menyelamatkan ibunya adalah mantan kekasih masa high school yang paling ia benci. Satu dekade lalu, hubungan mereka hancur akibat tragedi one-night stand Edmund yang berujung kehamilan.

Kini, Baxeena tak hanya terjebak dengan pria yang menghancurkan hatinya, tetapi juga harus menjadi ibu tiri bagi putri Edmund yang berusia 13 tahun—anak hasil pengkhianatan masa lalu yang amat membencinya.

Di tengah dinginnya tembok istana modern, tugas militer Edmund yang kerap memanggilnya ke garis depan memaksa Baxeena menghadapi konspirasi kerajaan dan penolakan sang anak tiri seorang diri. Sebuah reuni emosional yang berbahaya antara luka masa lalu, dendam, dan takdir yang belum usai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#19

Di sudut utara wilayah Inggris yang terpencil, berdiri sebuah kastil berarsitektur Gotik milik keluarga bangsawan. Dinding-dinding batu mencengkeram keheningan yang suram, jauh dari kemewahan dan panggung lampu Istana Buckingham.

Di dalam salah satu ruang tamu besar berpanel kayu ek, suasana terasa begitu mencekam. Katherine duduk terkurung di atas sofa beludru merah. Wajahnya yang biasanya dipoles dengan keanggunan palsu kini tampak pucat, dengan lingkaran hitam membelit matanya.

Sudah satu minggu penuh ia dikurung oleh keluarga besarnya di kastil ini sejak dibebaskan dari kantor kepolisian distrik—sebuah kebebasan bersyarat yang harus dibayar mahal oleh reputasi keluarganya setelah laporan hukum yang dilayangkan Alistair atas tuduhan manipulasi dan penculikan anak minggu lalu.

Di hadapannya, Sang Lord—ayah kandungnya—berdiri dengan wajah memerah dipenuhi amarah yang meledak-ledak. Di samping sang ayah, ibunya menatap Katherine dengan pandangan benci dan kecewa yang amat mendalam.

"Kau wanita memalukan!" seru Lord, suaranya menggelegar menghantam dinding-dinding batu kastil. Jarinya menunjuk tepat di depan wajah Katherine. "Setelah dibebaskan kali ini, aku tidak akan pernah membiarkanmu berulah lagi! Harusnya kau merasa sangat beruntung bisa dibebaskan begitu saja karena koneksi politik yang ku bangun setengah mati!"

Katherine membuang mukanya, mengepalkan jemarinya di atas pangkuan gaunnya. "Aku hanya ingin menuntut hakku sebagai ibu dari Violet—"

"Tutup mulutmu!" potong ibunya dengan nada melengking tajam. "Jika kau terus mengusik mereka, apa kau mau kebenaran tentang Violet terbongkar, hah?! Kau mau itu terjadi?!"

Kalimat sang ibu mendadak memotong keberanian Katherine. Napas wanita itu tertahan di tenggorokan.

"Jangan gila, Katherine!" seru Lord lagi, melangkah lebih dekat dengan ancaman yang amat nyata. "Kau diceraikan dari Alistair tanpa harga diri dan tanpa bagian aset dinasti itu sebagai hukuman atas kebodohanmu sendiri di masa lalu! Kalau kau terus mengganggu Alistair dan istrinya dari Los Angeles itu, bisa-bisa Alistair akan menyelidiki semuanya sampai ke akar-akarnya!"

Katherine terdiam kaku. Lidahnya membisu sepenuhnya. Kebenaran yang selama belasan tahun ini disembunyikan rapat-rapat oleh keluarga besarnya—sebuah rahasia kotor tentang siapa sebenarnya Violet—menjadi cengkeraman yang menyiksa jiwanya.

"Tetap di kamar ini dan jangan pernah melangkah keluar tanpa izin dariku!" bentak Sang Lord sebelum memutar tubuhnya, berjalan lebar-lebar meninggalkan ruangan diikuti oleh istrinya.

Pintu kayu tebal kastil dihempaskan hingga membentur bingkai dengan suara dentuman keras yang bergema di koridor.

***

Sepeninggalan ayah dan ibunya, keheningan yang menyiksa kembali menguasai ruangan.

Katherine duduk terpaku sendirian. Perlahan, jemarinya yang bergetar tipis meraba perutnya sendiri. Sentuhan itu memicu gelombang memori kelam dari empat belas tahun yang lalu—kenangan membakar yang membuat dadanya terasa teremas oleh ketakutan setengah mati.

Empat belas tahun yang lalu, sebelum jebakan malam di katedral dan hotel itu terjadi, Katherine memiliki seorang kekasih rahasia—seorang pria muda dari kalangan rakyat biasa yang amat ia cintai. Namun, ketika hubungan rahasia itu terendus oleh keluarganya, sang ayah dengan kekejaman tanpa batas memerintahkan pengawal pribadi untuk membunuh pria muda tersebut secara diam-diam demi menjaga nama baik keluarga bangsawan mereka.

Kematian kekasihnya meninggalkan ketakutan dahsyat di dalam diri Katherine muda saat itu. Ia takut. Ia takut setengah mati jika dalam beberapa minggu ke depan tubuhnya memperlihatkan tanda-tanda kehamilan akibat hubungan intim yang pernah ia lakukan bersama sang kekasih sebelum pria itu dihabisi.

Di masa itu, dicap hamil di luar nikah tanpa seorang suami di usia muda adalah bencana sosial yang akan menghancurkan hidupnya dan membuat keluarganya membuangnya ke jurang kehinaan.

Dan Edmund Alistair Blackwood—Pangeran muda yang waktu itu selalu digadang-gadang oleh keluarga besarnya sebagai aset politik dan calon penguasa kerajaan—adalah satu-satunya solusi sempurna jika suatu saat nanti Katherine benar-benar terbukti hamil.

Alam seolah mendukung niat liciknya. Setelah beberapa hari menguntit pergerakan dan kegiatan Alistair, malam pesta katedral itu menjadi waktu yang teramat tepat. Kesempatan besar berpihak padanya yang malang.

Lebih-lebih, kesempatan emas itu ditawarkan langsung oleh sang Ratu—Ratu Lizzeebeeth sendiri—yang mendatangi Katherine secara rahasia. Ratu Lizzeebeeth menawarkan perjanjian di atas kertas: Katherine diizinkan masuk ke dalam kehidupan Alistair, dengan syarat pernikahan aliansi harus diakhiri setelah Katherine melahirkan seorang pewaris.

Namun... ada sebuah fakta mengerikan yang selama empat belas tahun ini tidak pernah diketahui oleh dunia, oleh Ratu Lizzeebeeth, bahkan oleh Alistair sendiri.

Malam itu... tidak pernah terjadi hubungan intim apa pun di antara mereka.

Malam itu, hanya Katherine dan satu orang pengawal pribadinya yang tahu kebenaran yang sesungguhnya. Alistair sama sekali tidak pernah menyentuhnya. Pangeran muda itu tidak pernah menidurinya.

Justru, tetesan darah merah segar yang berceceran di atas sprei putih kamar hotel malam itu bukanlah darah keperawanan, melainkan darah nyata yang mengalir deras dari paha dalam Katherine sendiri!

Alistair—meski tubuh dan kesadarannya telah dilumpuhkan oleh racun penenang dan obat bius dosis tinggi—secara membabi buta memberikan perlawanan yang amat mengerikan saat menyadari wanita di kamarnya bukanlah Orang yang Ia sebut Amore.

Malam itu, jika saja Katherine tidak memiliki sedikit keterampilan bela diri dasar, mungkin tulang pada paha dalamnya sudah tertanam belati militer yang ditarik Alistair secara refleks dari balik pinggangnya!

Alistair bergerak seperti monster terluka yang kehilangan kendali. Katherine beruntung masih bisa meloloskan diri, walau ia mendapatkan goresan belati yang cukup dalam di paha dalam dan lengan kirinya.

Bersama satu orang pengawal pribadinya yang tergesa-gesa menerobos masuk ke dalam kamar setelah Alistair akhirnya tumbang dan pingsan tak sadarkan diri di atas lantai, Katherine meminta bantuan untuk mengobati lukanya. Pengawal pribadi itu sempat panik dan mengusulkan agar Katherine segera dibawa ke dokter secret kerajaan, namun Katherine menolaknya dengan tegas.

Ia tidak akan pernah melewatkan kesempatan emas ini. Jika dalam beberapa minggu ke depan rahimnya ternyata terisi oleh benih kekasihnya yang telah mati, anaknya kelak akan memiliki ayah resmi. Dan ayahnya adalah seorang calon Raja.

"Bersihkan semuanya! Buat seolah-olah malam panas telah terjadi di kamar ini!" perintah Katherine malam itu dengan napas terengah-engah dan luka paha yang diperban seadanya.

Perintah itu berjalan dengan semestinya. Pengawal pribadinya mengacak-acak sprei, menyebarkan tetesan darah dari luka paha Katherine di atas kain putih tersebut, menciptakan ilusi sempurna dari sebuah malam yang bergairah.

Tidak ada seorang pun yang tahu.

Ketika Katherine tertidur di samping Alistair yang tak sadarkan diri hingga pagi hari datang, itu bukan karena ia kelelahan melewati malam panas yang memabukkan, melainkan karena ia baru saja melewati maut yang hampir merenggut nyawanya sendiri di tangan Pangeran yang mengamuk.

Ketika Alistair terbangun di pagi harinya dengan kepala dihantam trauma dan ingatan yang buram, Ratu Lizzeebeeth datang bagai pahlawan penentu takdir, memerintahkan Katherine untuk dibawa keluar ruangan dengan pengawalan ketat.

Katherine berpura-pura tidak bisa berjalan lemas bukan karena dampak dari penyatuan fisik, melainkan karena paha dalamnya terluka parah dan berdarah kembali di balik gaunnya.

Ratu Lizzeebeeth mengira semua rencananya akan berjalan lancar dengan skenario palsu itu. Padahal, hasilnya adalah sebuah zonk besar dalam hidupnya.

Kembali ke masa sekarang.

Di dalam keheningan ruang tamu Kastil, Katherine menatap kedua telapak tangannya sendiri yang bergetar tipis.

Tangan yang sama... tangan yang sepuluh tahun lalu telah membunuh pengawal pribadinya sendiri secara dingin.

Pengawal pribadi yang menjadi satu-satunya saksi kunci di malam kelam belasan tahun lalu itu ternyata menjadi benalu dalam hidupnya.

Pria itu secara konsisten memeras Katherine, meminta sejumlah uang yang tak masuk akal setiap beberapa bulan dengan ancaman akan membocorkan kebenaran soal malam hotel dan rahasia kelahiran Violet kepada Alistair dan pihak kerajaan.

Hingga akhirnya, rasa panik dan keputusasaan mendorong Katherine ke batas terliar.

Dengan tangannya sendiri, ia meracuni minuman sang pengawal, menyamarkannya sebagai kecelakaan serangan jantung, dan melenyapkan saksi terakhir itu selamanya ke dalam tanah.

"Aku sudah mengorbankan segalanya..." bisik Katherine lirih, suaranya parau dan pecah di dalam ruangan yang dingin. Mata liar wanita itu menatap kosong ke arah perapian yang padam. "Aku membunuh orang, aku menjual jiwaku, aku kehilangan kekasihku... dan sekarang, wanita dari Los Angeles itu datang mengambil seluruh posisi yang harusnya milikku?!"

Setetes air mata kebencian jatuh mengalir di pipi Katherine. Di dalam dadanya yang hitam oleh kecemburuan dan trauma masa lalu, dendam kian membara rapat. Rahasia darah dan kebohongan besar belasan tahun lalu kini menjadi bom waktu yang siap meledak—menunggu saat yang tepat untuk menghancurkan.

1
Asriani Rini
Demoga biolet bisa membedakan mama yg tulus dan mana yg jahat
Rosdianah 🌷: benar kaa
total 1 replies
nayla tsaqif
Tp ttp aja,, kamu punya ank dr jalang itu pak ali,, jadinya jijik liat kamu bekas jalang,, harusnya baxee janda dulu biar bekas orang jg,, biar impas😩
Rosdianah 🌷: nah iya lagi, harusnya dibikin janda dulu ya🤣🤣🤭
total 1 replies
Adiba Azahra
Haloooo kak izin mengikuti dan nyimak yaaa dari awal hahaha 🙏😁👍 semangat terus pokok nya 😍👍
Rosdianah 🌷: okay ka🫶
total 3 replies
Mia Camelia
ehmm rencana apa sih yg di bikin violet dan katrine 🤔🤔🤔
Mia Camelia
violet baru nonggol udah pingin jitak aja🤣🤣🤣🤣
ayolah baxenna tundukkan si bocil tantrum itu🤭🤭🤭
nayla tsaqif
AJ besanan ama mantan nih,,, 😌
Rosdianah 🌷: wkwkwk🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!