Jeremy Aslan, kepala mafia paling ditakuti, mengira menikahi Claire, putri wakil presiden akan memberikan keuntungan besar pada bisnis senjata yang sedang dia jalankan. Ternyata, yang ia dapatkan adalah ... menghadapi perempuan paling bikin sakit kepala sepanjang dia hidup.
Alih-alih fokus dengan bisnis dunia gelapnya, ia malah fokus dengan segala tingkah laku random Claire seperti, diam-diam menciptakan bom dan meledakkan kantor polisi hanya karena ia punya dendam dengan polisi, merusak rumah pribadi politisi yang dia anggap sering merendahkan ayahnya, dan bekerja di perusahaan Farmasi hanya untuk membuktikan mantan pacarnya adalah gay.
Bagi Jeremy, mengendalikan ratusan anak buah bersenjata jauh lebih mudah daripada menghadapi satu istrinya yang nakal dan sama sekali tidak mengenal kata takut. Jeremy hampir menyerah pada semua kenakalan perempuan itu, sampai Claire tiba-tiba di culik, saat itulah dunia Jeremy hancur. Karena akhirnya ia menyadari, Claire adalah dunianya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teman-teman Claire
Claire lagi-lagi dibuat kesal oleh suaminya yang sekarang entah sedang pergi ke mana. Ia kini ada di rumah milik Jeremy. Rumah elite yang memiliki ratusan penjaga dan puluhan pembantu. Ternyata sama saja dengan rumah orangtuanya. Bedanya, kalau di rumah orangtuanya keberadaan dia benar-benar harus di sembunyikan. Jangan sampai ada yang melihat wajahnya. Kadang dia bahkan menyamarkan diri sebagai pembantu.
Kalau di rumah ini, dia bebas melakukan apa saja. Tidak ada yang akan curiga dirinya merupakan putri dari salah satu orang terpenting di negara ini. Jelaslah Claire jauh lebih senang berada di sini. Karena dia bisa bergerak dengan bebas. Hanya saja harus sedikit menahan diri dan makan hati menghadapi karakter dingin Jeremy.
"Biar saja si suami kutub itu sibuk sama bisnisnya. Lagian aku juga udah di ijinin bisa bikin apa aja. Panggil temen-temen ke sini ah buat pamer rumah baru. Rumah seorang mafia." kata Claire ceria. Ia mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan ke grup whatsapp-nya yang terdiri dari 4 orang.
Gengs, main ke rumah baru aku sekarang. Alamatnya udah ku kirim. Cepet datang, aku butuh pendapat kalian bikin markas buat misi kita."
Setelah mengirim chat tersebut, Claire tersenyum puas. Rasanya bebas sekali mau lakuin apapun di sini tanpa pengawal-pengawal papanya itu. Beda sekali dengan pengawal Jeremy sepertinya tidak suka ikut campur urusannya. Hanya kebanyakan menatap, tersenyum, pas di sapa sama dia mereka menyapa balik dengan senyum kaku dan ... Ya gitulah. Walau gak terlalu asik juga, setidaknya lebih asyik dari pengawal papanya.
Setelah dua puluh menit lamanya dia menunggu, grup whatsapp-nya mulai ribut lagi.
Kean:
Udah di depan. Ada banyak pengawal di sini.
Kiara:
Bener. Muka mereka garang semua. Kira-kira mereka bakal percaya kalo kita bilang kita temen lo nggak?"
Lordan:
Lo ke sini aja biar nggak ribet.
Claire tertawa kecil melihat pesan-pesan dari tiga penghuni grupnya. Tanpa mengetik pesan balasan, dia segera berlari ke gerbang depan yang jaraknya cukup jauh dari rumah utama. Bayangin aja halaman rumah itu panjang banget. Tentu Claire harus berlari cukup jauh untuk mencapai gerbang.
"LORDAN, KIARA, KEAAN!"
Teriak Claire heboh sekali. Ia terus berlari sampai-sampai para pengawal yang berjaga di sana semuanya hanya fokus padanya dengan ekspresi keheranan.
"Ya ampun sahabat-sahabat akuu ... Lama banget kita nggak ketemuu... Ayo masuk, masuk."
Katanya lagi begitu sampai di gerbang masuk. Gerbangnya terbuka otomatis oleh remote yang di pegang satpam di pos jaga. Begitu ketiga temannya melangkah masuk, para pengawal hanya memberi hormat singkat tanpa bertanya atau melarang, persis seperti perintah yang sudah ditetapkan Jeremy sebelumnya, selama tidak membahayakan rumah atau istrinya, siapa pun yang dibawa oleh Claire boleh masuk tanpa persyaratan rumit. Namun tetap harus di awasi.
Kean, Kiara, dan Lordan melangkah masuk dengan tatapan takjub, mata Kiara melotot melihat luasnya halaman yang dipenuhi taman rapi, kolam air mancur, dan pohon-pohon rindang yang terawat sempurna. Mereka berjalan mengikuti Claire yang terus bercerita riang seolah tidak ada habisnya hal yang ingin dibagikan.
"Ya ampun Claire, ternyata suami lo kaya banget. Rumah sebagus ini, pasti harganya selangit." ucap Kiara takjub. Kean sepupunya yang berdiri di sampingnya menoyornya.
"Kek gak pernah lihat rumah elit kayak gini aja."
Lordan dan Claire hanya tertawa. Dalam kelompok persahabatan mereka, yang paling sering adu mulut yang kedua sepupu itu. Padahal mereka sepupuan, tapi mereka yang suka sekali berdebat. Kalo Lordan pendiam yang sifatnya tenang dan ikut-ikut saja. Dia juga pintar. Dan yang suka paling heboh serta berimajinasi sendiri adalah Claire. Yang paling nakal antara mereka dari jaman sekolah juga.
Ke-empat orang itu berdiri di bagian sudut halaman dekat pohon-pohon, lalu terus berjalan menuju bagian belakang halaman rumah.
"Lihat-lihat, yang ini masih kosong. Kayaknya pas buat jadi markas kita, gimana?" kata Claire menatap teman-temannya bergantian.
"Gue sih mana-mana ya. Tapi emangnya di bolehin sama suami lo?" Kean angkat suara. Kiara ikut mengangguk setuju dengan pendapat Kean.
"Udah aman. Selama gue gak ganggu hidupnya si manusia kutub itu, dia nggak bakal ikut campur. Lagian dia sibuk banget sama urusannya, biarin aja." jawab Claire dengan yakin sambil melambaikan tangan seolah tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Lordan melangkah mendekat, mengamati area itu dengan pandangan teliti.
"Tempatnya cukup luas, tersembunyi dari pandangan utama, dan dekat dengan pintu samping yang bisa kita gunakan untuk keluar-masuk tanpa terlihat banyak penjaga. Apalagi kalau mau bawa bahan-bahan rakitan. Posisi ini strategis."
"Tuh, kalo Lordan sang raja pengamat udah ngomong, berarti lokasi yang ini memang strategis. Besok gue panggil arsitek dan tukang bangunan, paling lambat seminggu markas kita jadi."
"Lo yakin suami lo gak bakalan marah kan?" Kiara bertanya sekali lagi, dia yang tidak yakin.
"Yakin dong!"
"Claire, itu... Yang lo pegang itu apaan?" Kean menunjuk ke tangan Claire yang sejak tadi terus memang sebuah benda semacam kawat yang dia bikin ada aliran listriknya.
"Oh, ini. Ini tuh kerajinan tangan gue. Ah, pas lo ada di sini, kita coba aja."
Kean, Lordan dan Kiara mengernyit bingung. Mereka tentu saja penasaran barang apa yang dibuat oleh gadis itu. Begitu Claire maju dan mengangkat benda yang seperti kawat itu di sentuhkan bersamaan ujungnya ke sisi pinggang Kael, pria itu langsung kesetrum. Tubuhnya seperti orang kejang-kejang dan rambutnya mulai berdiri.
Baru setelah melihat rambut Kean berdiri tegak seperti tersengat petir dan tubuhnya berhenti bergetar hebat, Claire dengan cepat menarik kembali benda itu sambil tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha! Lihat tuh, rambutnya jadi kayak sikat gigi listrik!" serunya sambil menunjuk wajah Kean yang masih terlihat terkejut, mulutnya terbuka lebar seolah belum percaya apa yang baru saja terjadi.
Kean berdiri terhuyung-huyung, tangannya mengusap pinggangnya yang terasa kesemutan dan panas, lalu menyentuh kepalanya yang terasa aneh. Wajahnya memerah bercampur marah dan malu.
"Claire! Gila lo! Apa-apaan ini rasanya kayak ditabrak truk listrik!" teriaknya keras sambil melambaikan tangan hendak mengejar gadis itu yang sudah mundur menjauh sambil terus tertawa.
Lordan dan Kiara terdiam sejenak, masih memproses apa yang baru mereka lihat, sebelum akhirnya ikut terbahak-bahak melihat penampilan Kean yang konyol. Suasana yang tadinya serius langsung berubah menjadi riuh oleh gelak tawa.
"Bwahaha! Kean, rambut lo beneran berdiri tegak semua!" kata Kiara sambil menahan tawa sampai perutnya terasa sakit. Kean kesal setengah mati.
Lordan mendekat, menatap benda yang dipegang Claire dengan pandangan tertarik, meski tetap terlihat waspada.
"Lo bikin ini sendiri? Arusnya cukup kuat untuk bikin tubuh bergetar, tapi nggak sampe melukai organ dalam."
Claire mengangkat benda itu dengan bangga, matanya bersinar penuh semangat.
"Iya dong! Aku rakit ini dari komponen baterai dan kabel bekas. Nanti kalau sudah disempurnakan, ini bisa jadi alat pertahanan diri kita dari orang jahat."
Kean yang sudah mulai pulih hanya mendengus kesal.
"Lo bener-bener ya. Bisa-bisanya kepikiran ciptain benda kayak gitu."
Claire hanya tertawa puas. Begitu pandangannya menangkap sosok yang dia kenal, ia langsung berlari mendekat.
"Bang Ryan!"
Ryan, si tangan kanan Jeremy itu menoleh. Dalam sepersekian detik Claire sudah berada di depannya dengan tangan berada di belakang menyembunyikan sesuatu.
"Ada apa?"
"Aku mau ngetes mainan buatan aku."
Kening Ryan terangkat.
"Apa?"
Lalu tanpa aba-aba Claire mengarahkan benda yang dia buat itu ke pinggang Ryan dan ...
Pria itu langsung kejang-kejang seperti Kean tadi.
kirain bom rakitan claire berbahaya hanya bikin gosong, mom thalia dan claire dan sahabat-sahabatnya aja🤣
claire nanti ketahuan mister jem dihukum kamu nakal banget, diam-diam keluar dari rumah sama sahabat2 kamu tanpa ijin mister jem😄
mommy thalia bergabung aja geng mafia mommy thalia jadi ketuanya, claire dan teman2nya anak buahnya pasti sangat seru dan menarik🤣🤭
Thalia cocok ni ketemu Claire yg nakal dan unik 🤣🤣🤣🤣bisa bikin group mafia cewe ni🤣🤣🤣🤣