Alana, seorang gadis pekerja keras yang tewas karena kelelahan, terbangun di tubuh putri bungsu seorang selir di keluarga mafia Garrick yang kejam. Alih-alih hidup mewah, ia justru akan dijual oleh ibu tiri pertamanya kepada mafia tua bangka demi politik.
Menolak pasrah pada takdir, Alana memutuskan untuk memikat kelima kakak tirinya yang terkenal kejam, dingin, dan saling bermusuhan demi takhta. Dari seorang pion yang terbuang, Alana mengubah dirinya menjadi ratu kecil yang diperebutkan oleh lima penguasa dunia bawah.
"Siapa pun yang berani menyentuh Alana, artinya menantang maut dari seluruh keluarga Garrick!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cosmoursun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Perjamuan Para Nyonya
Ketenangan pagi di Mansion Utama dinasti Garrick menguap begitu sebuah telegraf resmi berkode diplomatik tiba di meja kerja Tasha Sterling. Dua mantan istri Victor Garrick—para nyonya besar yang selama ini memilih menetap di faksi luar Eropa setelah runtuhnya rezim sang patriark—secara mendadak mengumumkan kunjungan mereka ke Monako. Agenda tertulis mereka adalah kunjungan keluarga untuk menengok Alana yang baru sembuh dari masa kritis. Namun, Alana tahu persis bahwa di dunia bawah tanah, tidak ada satu pun langkah yang murni didasari oleh kasih sayang.
Dua wanita yang datang bukanlah sosok sembarangan. Mereka adalah Nyonya Bianca, ibu kandung dari Xavier Garrick, serta Nyonya Valerie, ibu kandung dari si genius Julian dan Adrian. Sebelum takhta dinasti Garrick jatuh ke tangan Alana, Nyonya Bianca sebenarnya menempati Mansion Ketiga. Namun, tepat setelah insiden penyelamatan Alana yang menguras emosi dan mengubah peta kekuatan keluarga, Xavier mengambil tindakan tegas. Demi menjauhkan ibunya dari pusaran konflik utama sekaligus mengamankan posisinya, Xavier secara sepihak mengungsikan Nyonya Bianca ke luar negeri, menetap di sebuah vila mewah di pinggiran Paris dengan pengawasan finansial yang ketat. Sementara itu, Valerie memilih mundur ke faksi logistik domestik lama setelah suaminya, Victor Garrick, memilih untuk menjauhkan diri dari urusan dinasti dan menikmati masa tuanya dengan tenang di tempat terpencil, jauh dari hingar-bingar takhta hitam yang kini diperebutkan.
Meskipun Victor telah melepaskan jabatannya untuk menikmati masa tua, kedua nyonya besar itu kembali ke Monako dengan ambisi yang belum padam. Mereka datang dengan satu agenda tersembunyi: menguji, mengintimidasi, dan jika memungkinkan, menyetir Alana yang kini menduduki takhta tertinggi dinasti. Mereka mengira Alana hanyalah gadis remaja rapuh yang kebetulan beruntung mendapatkan belas kasihan dari anak-anak lelaki mereka.
Sesi teh sore itu diadakan di taman kaca mansion, sebuah tempat yang dikelilingi oleh bunga-bunga eksotis namun terasa mencekik karena ketegangan yang pekat. Alana duduk dengan keanggunan mutlak di kursi utama, mengenakan gaun sutra berwarna biru dongker yang memberikan kesan dingin. Di belakangnya, Tasha Sterling berdiri tegap dengan tablet militer di tangan, siap menjadi perisai administrasi sang Ratu.
Nyonya Bianca duduk di hadapan Alana, jemarinya yang dihiasi cincin berlian besar mengetuk-ngetuk cangkir porselen dengan gerakan yang disengaja. Di sebelahnya, Nyonya Valerie menatap Alana dengan pandangan mata yang tajam, seolah sedang membedah setiap gerak-gerik psikologis gadis di depannya.
"Mansion ini tidak banyak berubah semenjak Victor memutuskan untuk pensiun dan menjauhkan diri," Bianca membuka suara, nadanya mengalun lambat namun sarat akan sindiran halus. Mata indahnya melirik gaun Alana, lalu beralih ke koridor luar. "Hanya saja... aku terkejut melihat seorang gadis kecil kini duduk di kursi yang dulunya milik suamiku. Tindakan Xavier mengungsikanku ke Paris tempo hari mungkin bisa menjauhkanku dari kekacauan, tapi itu tidak mengubah kenyataan bahwa Monako adalah wilayah yang sangat berat untuk pundakmu yang sekecil itu, Alana. Menjalankan dinasti ini tidak semudah membalikkan telapak tangan."
Alana mempertahankan ekspresi wajahnya yang tenang, tidak terpengaruh sedikit pun oleh racun verbal tersebut. Dia menyesap tehnya perlahan sebelum menjawab dengan nada datar yang mengintimidasi. "Monako memang berat, Nyonya Bianca. Namun, sejauh ini, pundak kecilku ini terbukti cukup kuat untuk menundukkan faksi perbatasan Rusia dalam waktu satu malam. Jadi, Anda tidak perlu mencemaskan hal itu."
Wajah Bianca menegang sesaat mendengar jawaban dingin Alana. Sementara itu, Valerie di sebelahnya tersenyum tipis, sebuah senyuman manipulatif yang biasa dia gunakan untuk mengacaukan mental lawan bicaranya.
"Keberuntungan pemula bisa terjadi pada siapa saja, Alana," sela Valerie, suaranya tenang namun menusuk. "Bayang-bayang Victor masih terlalu besar di dinasti ini. Jaringan logistik dan kesetiaan pria-pria di keluarga ini membutuhkan pengalaman, bukan sekadar taktik siber. Julian dan Adrian mungkin membantumu karena mereka merasa kasihan padamu sebagai adik perempuan mereka. Namun, belas kasihan memiliki batas waktu. Struktur faksi lama tidak akan sudi tunduk pada anak kecil sepertimu selamanya, terlebih saat Victor sendiri memilih menikmati masa tuanya dan membiarkan dinasti ini tanpa figur pelindung yang kuat."
Alana tidak membalas provokasi Valerie dengan kemarahan. Dia hanya melirik sedikit ke arah Tasha. Tanpa perlu perintah verbal, Tasha dengan sigap melangkah maju, meletakkan dua buah map dokumen tebal berlambang segel hitam di atas meja, tepat di depan Bianca dan Valerie.
"Apa ini?" tanya Bianca, alisnya bertaut tidak suka.
"Itu adalah laporan audit independen yang diselesaikan oleh Tasha pagi ini," jawab Alana, suaranya mengalun lambat, dingin, dan penuh tekanan absolut. "Di dalam map milik Nyonya Bianca, terdapat rincian penggelapan aset rahasia sebesar empat puluh juta euro dari kas cabang Paris yang Anda alihkan ke rekening pribadi di Swiss selama tiga tahun terakhir—bahkan sejak Anda masih berada di Mansion Ketiga. Sebuah tindakan yang, jika aku mau, bisa membuat otoritas hukum Prancis menyita seluruh lini bisnis retail kosmetik Anda besok pagi."
Wajah Bianca seketika memucat pasi. Jari-jarinya yang memegang cangkir teh mulai gemetar halus. Pengungsiannya ke Paris oleh Xavier ternyata tidak menghentikan mata-mata Alana untuk mengendus pergerakan uangnya.
Alana kemudian mengalihkan pandangan matanya yang tajam ke arah Valerie, yang kini ekspresi wajahnya ikut mengeras. "Dan di dalam map Nyonya Valerie... terdapat rekaman enkripsi percakapan Anda dengan perwakilan logistik domestik lama dua malam lalu. Anda mencoba menghasut mereka untuk memboikot perintah siber dari Julian. Anda mengira jaringan manipulasi informasi Anda tidak terendus? Di bawah takhtaku, setiap helai rambut yang jatuh di mansion ini berada dalam pengawasanku, Nyonya."
"Kamu..." Valerie mendesis, kehilangan ketenangannya untuk pertama kali. Dia tidak menyangka bahwa gadis remaja di depannya memiliki taring yang begitu tajam dan akses informasi yang begitu mengerikan.
Ketegangan di taman kaca itu mendadak memuncak ketika pintu kaca digeser dari luar. Langkah kaki yang mantap terdengar menggema. Xavier, Julian, dan Adrian melangkah masuk ke dalam taman dengan aura ketegasan yang luar biasa pekat. Mereka baru saja menerima laporan dari pengawal bahwa ibu mereka mencoba mengonfrontasi Alana secara pribadi.
Melihat kedatangan anak-anak lelaki mereka, Bianca dan Valerie sempat mengira suasana akan mereda. Namun, yang terjadi justru adalah benteng perlindungan yang kokoh dari para putra mereka untuk adik bungsunya.
Xavier melangkah langsung ke depan meja, berdiri di antara Alana dan ibunya. Pria miliarder itu menatap Bianca dengan pandangan mata yang dalam, terluka namun sarat akan ketegasan yang tak bisa diganggu gugat.
"Ibu," panggil Xavier, suaranya berat namun tetap menjaga nada hormat seorang anak. "Aku meminta Ibu tinggal di Paris tiga bulan lalu justru agar Ibu bisa menikmati masa tua dengan tenang, jauh dari bahaya Monako. Namun, kedatangan Ibu hari ini untuk menekan Alana sungguh mengecewakan. Alana adalah Penguasa Tertinggi yang sah, dan dia adalah adikku. Demi menjaga stabilitas keluarga, mulai detik ini, aku harus membekukan seluruh fasilitas kartu kredit tambahan dan aliran dana bisnis Ibu di Paris. Aku tidak akan membiarkan kekayaanku digunakan untuk mengusik ketenangan adikku sendiri."
"Xavier! Kamu tega memutus fasilitas ibumu sendiri hanya karena dia?" seru Bianca dengan wajah syok, tak percaya anak kandungnya bertindak sejauh itu demi proteksi.
"Ini bukan soal tega, Ibu, tapi soal batas kesetiaan di dinasti ini," balas Xavier dengan nada tenang yang dingin namun kokoh. "Aku tetap memenuhi kebutuhan pokok Ibu di Paris, tapi tidak lebih dari itu. Tolong, kembalilah ke Paris malam ini sebelum keputusan bisnisku menjadi lebih berat."
Di sisi lain, Julian dan Adrian berdiri di samping kursi Alana, melipat tangan di dada dengan ekspresi yang kaku. Julian membetulkan letak kacamatanya, menatap Valerie dengan tatapan yang dingin namun tidak kehilangan kesantunannya.
"Ibu Valerie," ucap Julian, suaranya mengalun halus. "Tindakan Ibu menggalang kekuatan dari faksi logistik lama adalah kekeliruan besar. Ibu lupa bahwa akulah yang memegang kunci sistem mereka. Demi menghindarkan Ibu dari jerat hukum siber, Adrian baru saja menonaktifkan seluruh peladen data logistik lama tersebut secara permanen beberapa menit yang lalu. Mereka tidak bisa lagi Ibu gunakan."
Valerie mengepalkan tangannya, menatap kedua putra kembarnya dengan kemarahan yang tertahan. "Kalian berdua... kalian melumpuhkan kekuatan yang aku bangun demi melindungi posisi kalian? Kalian berbalik melawan ibumu sendiri?"
Adrian melangkah maju setengah langkah, wajahnya yang biasanya dipenuhi seringai jahil kini tampak luar biasa serius. "Kami tidak melawan Ibu. Kami justru sedang menyelamatkan Ibu dari kesalahan yang lebih besar. Kesetiaan taktis kami di dinasti ini sepenuhnya milik Alana. Kami mohon, Ibu, berhentilah mencampuri urusan takhta Monako. Pulanglah sebelum sistem siber internasional mendeteksi keterlibatan Ibu dalam pergerakan ilegal kemarin. Kami masih ingin melihat Ibu hidup tenang di luar sana."
Dua nyonya besar itu tertegun dalam keheningan yang menyesakkan. Mereka memandang Xavier, Julian, dan Adrian bergantian, menyadari dengan syok berat bahwa anak-anak mereka tidak sedang durhaka, melainkan sedang menarik garis batas yang sangat tegas dan absolut. Putra-putra mereka yang kejam di dunia luar kini telah menempatkan Alana di atas segalanya, menjadi tameng yang tak terpatahkan bahkan oleh ikatan darah masa lalu.
Alana tetap duduk dengan tenang di kursinya, menyaksikan kedua wanita itu akhirnya berdiri dengan tubuh gemetar, menyadari posisi mereka yang telah kalah total, lalu meninggalkan taman kaca dengan langkah tergesa-gesa tanpa sisa argumen.
Setelah kedua nyonya itu pergi, intensitas ketegangan di ruangan itu mencair dalam sekejap. Xavier langsung berlutut di sebelah kursi Alana, wajah tegasnya melunak, digantikan kecemasan seorang kakak. "Alana, maafkan jika perkataan ibuku membuatmu tidak nyaman. Kamu baik-baik saja, kan?"
Julian dan Adrian pun ikut mendekat, memastikan adik mereka tidak tertekan oleh konfrontasi tadi. Alana menatap ketiga kakaknya, lalu sebuah senyuman manusiawi yang sangat hangat terukir di wajah cantiknya. Dia meraih tangan Xavier dan menggenggamnya pelan.
"Aku baik-baik saja, Kakak," ucap Alana lembut, matanya jernih memancarkan rasa terima kasih yang mendalam. "Terima kasih karena selalu menjaga batas itu demi aku."
Di dalam taman kaca yang kini kembali tenang, Alana tahu bahwa intrik politik domestik ini telah selesai dengan kemenangan mutlak bagi posisinya. Dinasti Garrick kini bukan lagi sekadar aliansi paksaan, melainkan sebuah benteng kokoh yang dilindungi oleh cinta yang tegas dan tak tergoyahkan.