Saat ia pikir hidupnya berakhir, seorang pria tiba-tiba mendapatkan sistem. Namun, bukannya menjadi kaya, ia justru terbangun di masa lalu... di dalam tubuh ayahnya saat masih muda.
Kini, dengan sistem di tangannya dan mengetahui masa depan, ia harus mengubah takdir keluarganya.
Mampukah ia menyelamatkan keluarganya... tanpa menghapus keberadaannya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sistem One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Raka dan wanita bernama Linda itu duduk di teras dengan jarak yang agak berjauhan agar tetap sopan.
"Baru kali ini saya lihat Shena bisa se-ceria itu. Dia memang kurang teman di sini, soalnya di sekitar kompleks cuma sedikit anak seusianya," kata Linda sambil memperhatikan kedua bocah yang sedang asyik bermain.
Raka mengunyah camilan yang disuguhkan. "Reno juga sama kok, Mbak. Di rumah biasanya banyakan main sama ibunya doang."
Linda tersenyum tipis. "Keliatannya keluarga kalian harmonis banget ya? Syukurlah, saya ikut seneng dengernya."
"Ya... semoga aja begitu terus, Mbak. Namanya rumah tangga, pasti ada pasang surutnya."
"Iya, yang penting jangan surut terus aja, Mas," sahut Linda, menyiratkan sedikit curhat colongan tentang masalah pribadinya sendiri.
Karena hari sudah mulai gelap, Raka memutuskan untuk mengajak Reno pulang. Shena kecil langsung kelihatan cemberut karena masih ingin bermain.
"Besok kita main lagi ya!" ajak Reno riang.
"Beneran? Main lagi ya besok!" sahut Shena penuh harap.
"Iya, besok aku jadi ayahnya, terus kamu jadi ibunya."
Mendengar celotehan polos anak-anak itu, Raka dan Linda spontan saling pandang lalu tertawa geli.
"Kalau begitu saya pamit pulang dulu ya, Mbak. Kalau kapan-kapan butuh bantuan atau ada apa-apa, kabari saya aja lewat telepon," ucap Raka sambil memberikan nomor HP barunya.
Linda mengangguk ramah. Raka pun berjalan pergi bersama Reno sambil melambaikan tangan.
Sembari berjalan kaki menuju arah pulang, jalanan di sekitar mereka mulai ramai dipadati motor dan mobil. Maklum, sudah jam pulang kantor.
"Macet, Ayah," keluh Reno melihat antrean kendaraan.
"Orang-orang baru pada pulang kerja, Cil. Begitulah nasib kalau udah gede, wkwk," sahut Raka santai.
Sambil terus melangkah membelah keramaian jalan, pikiran Raka mendadak bernostalgia. Dia bener-bener nggak nyangka kalau anak kecil yang barusan main sama Reno adalah Shena.
Di masa depannya dulu, hubungan Raka dengan Shena bisa dibilang sangat buruk. Wanita itu luar biasa menyebalkan.
Waktu sekolah dulu, Shena selalu hobi melaporkan kesalahan Raka ke guru.
Pas udah kerja, penderitaan Raka malah makin parah karena Shena mendadak jadi atasan di kantornya dan hobi menyuruh Raka lembur semena-mena.
Dendam kesumat Shena itu berakar dari kejadian sepele waktu sekolah dulu.
Raka tidak sengaja menyenggol dan merusak kue yang dibawa Shena yang kalau tidak salah emang disiapin buat ibunya.
Walaupun Raka sudah minta maaf dan itu murni ketidaksengajaan, dendam Shena ternyata awet sampai mereka dewasa.
Mengingat kelakuan ajaib Shena di masa depan membuat Raka agak geregetan sendiri. "Ternyata masa kecilnya bocah itu cengeng dan kesepian begini. Nggak nyangka gua."
Tapi setahu Raka, waktu dia umur 25 tahun, Shena akhirnya resign dan pindah kerja ke luar negeri.
Raka masih ingat betul ekspresi Shena waktu hari terakhirnya di kantor.
Wanita itu menatap Raka dengan muka cemberut dan kelihatan sedih, mungkin karena dia sadar tidak akan bisa melampiaskan hobi menyiksa Raka dengan tugas lembur lagi.
Saat Raka masih asyik melamun, tiba-tiba dari arah depan kelihatan Nadia sedang berlari menghampiri mereka dengan raut wajah panik.
"Mas Raka! Reno! Kenapa baru pulang sih? Dari mana aja kalian berdua?" omel Nadia khawatir begitu sampai di depan mereka. "Ini udah malam banget, aku udah selesai masak dari tadi. Yuk, cepetan pulang!"
"Eh, iya, maaf, Nad. Tadi kami keasyikan main di jalan. Iya kan, Cil?" jawab Raka meminta dukungan anaknya.
"Bener, Ibu! Tadi Reno habis main ibu-ibuan!" seru Reno polos.
Nadia langsung mengernyitkan dahi bingung. "Main... ibu-ibuan?"