Satu sekolah tahu Lintang Gentariana adalah gadis paling gigih yang setiap hari memanggil nama Arka—atlet pencak silat kebanggaan sekolah yang sedingin es.
Dua tahun cintanya bertepuk sebelah tangan, sebuah wasiat tiba-tiba memaksa mereka menikah secara rahasia di bangku SMA.
Lintang mengira impiannya jadi nyata. Namun, ia keliru. Arka menikahinya tepat ketika dunia cowok itu di ambang runtuh.
Di sekolah Lintang adalah gadis yang selalu terlihat mengejar Arka, tapi di rumah, Lintang harus menghadapi kemarahan dan luka terdalam Arka.
Lantas, bagaimanakah kelanjutan kisah pernikahan rahasia mereka?
Sanggupkah Lintang bertahan, atau perpisahan justru menjadi jalan terbaik bagi keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon siyunr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sekelas to Sekamar
"Makasih ya, Il ... udah ngasih Lintang buat Arka. Aku tahu pasti berat banget buat relain Lintang nikah secepat ini ...."
Frina menatap sahabat karibnya dengan sepasang mata yang berkaca-kaca. Rasa syukur yang amat besar membuncah di dalam dadanya. Wanita paruh baya itu baru saja dipindahkan kembali ke ruang rawat inap VIP setelah kondisinya sempat kritis.
Ilna tersenyum teduh, lalu mengusap lembut lengan Frina. "Tapi bakal jauh lebih berat kalau kamu nyerah gitu aja sama penyakitmu, Frin. Lintang udah cukup dewasa buat mengerti arti sebuah pengorbanan. Lagian ...."
Kalimat Ilna menggantung sesaat. Tiba-tiba wanita itu tertawa kecil, geli sendiri mengingat plot twist tak terduga yang digariskan takdir untuk anak mereka. "Lintang ternyata suka sama Arka. Aku baru tahu kalau mereka itu satu kelas di sekolah."
Senyum tipis akhirnya terbit di wajah pucat Frina. Beban di pundaknya seolah sedikit terangkat. "Aku bener-bener berharap... mereka bisa saling mendampingi sampai tua nanti."
"Kamu tenang aja, Arka sekarang anakku juga. Pernikahan mereka memang masih rapuh karena mendadak, jadi aku nggak mungkin langsung lepas tangan gitu aja," ujar Ilna menenangkan.
Frina meraih punggung tangan Ilna, yang segera dibalas dengan genggaman hangat dari tangan Ilna yang lain. Banyak kata yang tidak tersampaikan lewat bibir, namun tersalurkan sempurna melalui tatapan mata mereka.
Persahabatan yang telah terajut sejak berseragam SMP hingga kini menginjak usia kepala empat, membuat ikatan batin kedua wanita itu sudah seperti saudari kandung.
...----------------...
Pukul 20.57 WIB
Lintang baru saja menyelesaikan ritual skincare malamnya. Setelah menepuk-nepuk pelan wajahnya yang segar, ia melangkah menuju ranjang tidur.
Targetnya malam ini adalah Arka—cowok yang betah meringkuk di balik selimut tebal sejak mereka tiba di rumah.
"Arka," panggil Lintang sambil menggoyang pelan bahu suaminya.
"Hm ..." sahut Arka samar, enggan membuka mata.
"Masih pusing, ya? Dari tadi nggak bangun-bangun. Emang lu nggak kebelet pipis apa?" tanya Lintang heran.
Bukannya menjawab, Arka justru mengubah posisi tidurnya menjadi miring menghadap Lintang. Wajah cowok itu tampak agak sayu.
Lintang menghela napas, lalu mendaratkan telapak tangannya di dahi Arka. Masih terasa agak hangat, walau tidak sedemam tadi sore. "Ganti baju dulu, gih. Nih, gue udah siapin kaos punya papi sama celana training."
"Dingin ..." gumam Arka lirih dengan suara serak khas orang sakit.
"Ya makanya ganti baju, Bambang! Itu baju dari semalem nggak diganti-ganti. Mana hoodie-nya tebel banget kagak dilepas lagi. Yang ada keringet lu mendep di dalem," omel Lintang pelan, khas gaya bicaranya sehari-hari.
Arka tidak menyahut lagi. Dia benar-benar kehilangan tenaga bahkan hanya untuk berdebat.
"Bangun dulu, gue bantuin." Gemas karena tidak ada pergerakan, Lintang menarik paksa lengan Arka agar mau duduk bersandar.
Arka pasrah. Tubuhnya yang tinggi besar itu hanya menurut layaknya boneka kain, meski sebuah rintihan samar sempat lolos dari bibirnya.
Setelah Arka berhasil duduk tegak, Lintang bergerak gesit. Ia memegang ujung bawah hoodie Arka lalu menariknya ke atas melewati kepala. "Angkat tangannya."
Tanpa protes, Arka mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi.
Begitu hoodie terlepas, Lintang hendak melanjutkan misinya untuk melepas kaos dalam cowok itu. Namun, sebuah tangan yang terasa hangat tiba-tiba mencekal pergelangan tangannya.
"Gue bisa sendiri," ujar Arka pelan, menatap Lintang dengan sayu.
Lintang menarik tangannya mundur sambil bersedekap. "Oke, coba."
Arka perlahan menarik ujung kaosnya ke atas. Namun, saat tangannya harus terangkat lebih tinggi untuk meloloskan kepala, otot bahunya mendadak kaku dan nyeri.
"Aahh ... shit," umpat cowok itu refleks sambil meringis menahan sakit.
"Makanya, jangan sok kuat kalau lagi sakit!" Lintang langsung mengambil alih kaos tersebut. "Lagian dari tadi gelongsoran mulu di kasur. Gue dari sore gerak sana-sini beresin barang, lu cuma rebahan doang."
"Ck, berisik," gerutu Arka tidak terima, meski dia juga tidak bisa mengelak.
Lintang mendengus. "Ngeyel banget sih jadi orang."
Meski mulutnya terus mengomel, tangan Lintang bergerak telaten membantu Arka meloloskan kaosnya. Begitu kain itu terlepas, pemandangan di depannya sukses membuat gerakan tangan Lintang mendadak membeku.
Arka kini bertelanjang dada di hadapannya.
"Waw ..." Lintang berbisik refleks, matanya tanpa sadar memindai deretan pack di perut keras suaminya yang tercetak sempurna.
Arka yang menyadari arah pandang itu langsung melirik malas. "Jangan jelalatan."
Mendengar sindiran itu, pertahanan Lintang kembali. Ia menyunggingkan cengiran usil. "Gue jelalatan ke suami sendiri, ya, bukan suami orang. Halal!"
Lintang kemudian mengambil beberapa lembar tisu basah. Ia mulai mengelap punggung dan dada Arka dengan gerakan yang amat pelan. Saking pelannya, sentuhan jemari Lintang yang dilapisi tisu itu malah terasa seperti sebuah godaan yang menggelitik di kulit Arka.
Napas Arka mendadak memburu tajam. Dengan cepat, ia mengepak pelan tangan Lintang yang sedang sibuk di dadanya. "Lap yang bener, Lin."
Lintang mengerucutkan bibirnya sebal. "Ini juga lagi dilap, Malih! Emang begini cara istri solehah ngelap keringet suaminya yang lagi sakit."
Arka tidak menjawab lagi. Sepasang matanya kini menatap lurus, mengunci manik mata Lintang dengan dalam. Sebelum gadis itu sempat menghindar, dengan satu gerakan cepat yang tak terduga, Arka menarik pergelangan tangan Lintang kuat-kuat.
Duk!
Lintang kehilangan keseimbangan dan jatuh terduduk tepat di atas pangkuan Arka yang tidak tertutup selembar kain pun.
"Eh! Apa-apaan lu, Ka?!" Lintang panik setengah mati. Jantungnya mendadak berdegup dua kali lebih cepat dari biasanya.
Sorot mata Arka tampak menggelap, memancarkan intensitas yang berbeda dari sebelumnya. "Lu mau godain gue, kan ...?" bisiknya tepat di depan daun telinga Lintang, membuat bulu kuduk gadis itu meremang.
Lintang mulai memberontak, berusaha mendorong dada bidang di depannya untuk menjauh. "Ih, awas! Lu lagi sakit ya, sempet-sempetnya modus!"
Namun, tenaga Arka yang sedang sakit ternyata masih cukup kuat untuk menahan pinggang Lintang. "Belum selesai ngelapnya...."
Arka meraih tangan Lintang yang memegang tisu, lalu menuntunnya kembali ke atas dadanya sendiri. "Di sini belum bersih ...."
Perlahan, Arka membawa tangan Lintang turun ke area perutnya yang berotot. "Sini juga belum ...," bisik Arka dengan nada suara yang semakin rendah dan dalam.
Mata Lintang melotot sempurna. Merasa situasi sudah mulai berbahaya, ia langsung mendaratkan sentilan keras tepat di perut keras cowok itu.
Pletakk!
"Sialan lu, ya! Dari tadi lemes kayak demam tinggi, gue belai dikit langsung ketagihan!" maki Lintang jengkel sekaligus salah tingkah. "Buka baju aja nggak kuat, giliran narik gue langsung semangat 45!"
Dengan sekali sentakan, Lintang segera berdiri dari pangkuan Arka sebelum cowok itu sempat menariknya kembali. "Udah, sini cepet! Gue elap yang bener, terus lu buruan ganti baju!"
Pandangan intens Arka masih belum lepas dari wajah Lintang yang kini sudah merona merah. "Lu yang godain duluan. Giliran gue respon, malah lu yang kelabakan."
"Bukan kelabakan, ya!" sanggah Lintang dengan suara naik satu oktaf demi menutupi rasa gugupnya. "Gue cuma kegelian! Lagian lu alay banget tau nggak, sok sokan kayak cowok cowok mesum di novel. Geli gue liatnya!"
Meskipun mulutnya terus mengomel, Lintang tetap menyelesaikan tugasnya.
Hal itu ia lakukan demi menutupi detak jantungnya yang sudah seperti petasan kawinan.
Dengan gerakan super cepat, ia memakaikan kaos oblong milik papinya ke tubuh Arka.
Begitu juga dengan celana training-nya.
Untung cowok itu pakai boxer.
Kalau tidak, Lintang bersumpah imannya yang setipis tisu dibagi dua ini pasti sudah jebol.
Arka hanya diam.
Ia membiarkan Lintang mendandaninya layaknya boneka hidup.
Sisa-sisa senyum jahil di wajah cowok itu perlahan surut. Digantikan oleh hela napas berat karena efek demam yang kembali menyerang.
"Udah, sekarang tidur. Besok katanya mau ke rumah sakit lagi," ujar Lintang.
Ia menekan sedikit bahu cowok itu agar kembali rebahan di kasur.
Arka menurut dan menjatuhkan tubuh bongsornya ke atas kasur empuk Lintang.
Namun, matanya tidak terpejam. Sepasang manik gelap itu justru bergerak memperhatikan Lintang.
"Lu tidur di mana?" tanya Arka tiba-tiba. Suaranya serak khas orang sakit.
Lintang menoleh sambil mengangkat sebelah alisnya.
"Di sini, lah. Di mana lagi? Kandang macan?" sahut Lintang ketus.
Arka terdiam sesaat, lalu membasahi bibirnya yang terasa kering.
"Katanya mau ngelonin gue ...." gumam Arka sangat pelan.
Entah karena ingin dikelonin betulan, atau dia sekadar ingin mengetes ucapan gadis itu sebelumnya.
Lintang seketika menghentikan aktivitasnya. Ia membalikkan badan, lalu menatap Arka dengan senyum yang sengaja dibuat seram.
"Lu beneran nunggu gue kelonin, Ka?" tanya Lintang. Nadanya dibuat semanis madu tapi terdengar horor.
Melihat respons Lintang, Arka langsung mati kutu.
Semburat merah instan langsung menjalar dari pipi hingga ke ujung telinganya. Cowok itu buru-buru buang muka, menatap dinding kamar yang kosong.
"Nggak. Gue cuman ... cuman ngetes doang," kilahnya cepat.
Ia mencoba menyelamatkan harga dirinya yang barusan merosot drastis.
Lintang mendengus geli, tapi di dalam hati dia sudah berteriak histeris kegirangan. Selama bertahun-tahun mengejar Arka di sekolah, baru kali ini ia melihat cowok itu salah tingkah.
Menikah dadakan ternyata punya keuntungan luar biasa.
"Halah, bilang aja lu modus pengen sedekat nadi sama gue," ledek Lintang sengaja.
Dengan gerakan santai, Lintang merangkak naik ke sisi kasur yang kosong.
Ia sengaja merebahkan diri tepat di sebelah Arka hingga jarak mereka tidak sampai sejengkal.
Arka yang merasakan kasurnya ambles langsung refleks menoleh kembali. Matanya sedikit melebar saat mendapati wajah Lintang kini berada sangat dekat. Aroma manis skincare dari tubuh Lintang langsung menyergap indra penciumannya.
"Katanya cuma ngetes? Ya udah, sekarang gue kabulin." Lintang berbisik usil.
"Sini, bayi gede, gue kelonin biar demam lu cepet turun."
Tangan kanan Lintang terangkat, menepuk-nepuk dada Arka pelan seolah sedang menidurkan balita.
Arka mendengus, namun anehnya dia sama sekali tidak menjauh.
Sebaliknya, tangan kekar cowok itu justru bergerak naik dengan cepat.
Ia menangkap pergelangan tangan Lintang yang sedang menepuk dadanya, lalu menahannya di sana.
Tepat di atas debar jantungnya yang ternyata berdegup sama kencangnya.
"Berisik, Lin. Tidur," gumam Arka, matanya perlahan terpejam rapat.
Meskipun menyuruh tidur, genggaman tangan Arka sama sekali tidak dilepas.
Malah terasa semakin erat dan menyalurkan hawa hangat ke kulit Lintang.
Lintang seketika membeku di tempat. Efek usilnya tadi langsung menguap, digantikan oleh rasa deg-degan yang luar biasa.
Di bawah temaram lampu kamar, ia menatap lekat wajah Arka dari samping.
Cowok yang dulu hanya bisa dipandangi punggungnya di kelas, sekarang resmi jadi suaminya.
Rasa hangat yang tulus mendadak menyelimuti hati Lintang.
Ia membiarkan tangannya tetap digenggam oleh Arka.
Lintang menggeser tubuhnya sedikit lebih dekat, lalu berbisik lirih tanpa nada bercanda.
"Cepet sembuh ya, Arka ... Gue nggak tega liat lu sakit."
Arka tidak menyahut. Namun, Lintang bisa merasakan genggaman tangan cowok itu sedikit meremas jarinya pelan.
Tak lama kemudian, tarikan napas Arka berubah menjadi lebih teratur dan dalam.