Setelah mengorbankan kuliah, rumah warisan, dan masa mudanya demi membuat Daril sukses, Vira malah dibunuh oleh suami yang dicintainya itu.
Lebih menyakitkan lagi, sepupu yang ia tampung ternyata berselingkuh dengan suaminya. Hatinya makin hancur saat tahu, suami, sepupu dan ibu mertua yang selama ini ia rawat dengan baik, ternyata sudah lama menantikan kematiannya.
Takdir memberinya kesempatan kedua: kembali ke masa lalu. Ia bertekad tidak akan pernah menikahi Daril.
Namun saat ia mengubah satu keputusan untuk selamat, rahasia demi rahasia keluarga terbuka. Rahasia yang mengubah arti cinta dan memaksa Vira memilih antara balas dendam atau memaafkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Utang Budi yang Menyesatkan
Arvin ragu melanjutkan kalimatnya. "Selama ini kamu rela biayain kuliah Daril, bantu ekonomi keluarganya, bahkan terus bertahan sama mereka... karena merasa berutang nyawa sama Daril?"
Vira tertawa pelan. Namun tawa itu terdengar begitu getir. Air matanya justru semakin deras mengalir.
"Itu benar." Suaranya lirih, nyaris seperti bisikan. "Aku pikir... kalau bukan karena Daril, aku pasti sudah mati."
Ia menatap aliran sungai di depannya. "Makanya apa pun yang dia minta selalu aku usahakan. Dia bilang butuh biaya kuliah, aku bantu. Keluarganya kesulitan ekonomi, aku bantu. Dia gagal usaha, aku bantu lagi."
Vira berhenti sejenak sebelum melanjutkan, "Bahkan ketika ibunya mulai merendahkanku..." Vira tersenyum masam. "...aku tetap bertahan. Karena aku merasa semua itu gak sebanding dengan nyawa yang sudah dia selamatkan."
Arvin membeku. Dadanya terasa sesak. Selama ini ia mengira Vira hanya terlalu mencintai Daril.
Namun ternyata...
Perempuan itu bertahan bukan semata karena cinta. Melainkan karena rasa utang budi yang selama ini salah alamat.
Arvin mengepalkan tangannya erat. "Berarti..." gumamnya pelan. "...Daril tahu kamu salah paham?"
Vira mengingat kembali setiap kejadian setelah kecelakaan itu. Daril tidak pernah sekali pun mengatakan bahwa bukan dia yang menariknya dari sungai. Ia juga tidak pernah membenarkan. Tetapi... Ia juga tidak pernah meluruskan. Bahkan mengalihkan pembicaraan jika Vira membahas soal itu.
Mata Vira perlahan membelalak.
"Selama ini..." bisiknya lirih. "...dia membiarkanku mempercayai kebohongan itu."
Rasa sesak memenuhi dada Vira. "Ternyata..." suaranya bergetar. "...bukan cuma cintaku yang dimanfaatkan."
Ia tertawa lirih, tetapi tawanya terdengar begitu pahit. "Bahkan rasa terima kasihku yang paling tulus pun dijadikan alat oleh Daril untuk mengikatku selama bertahun-tahun."
Arvin terdiam.
Tangan yang sedari tadi memegang bungkus batagor perlahan mengepal. Dadanya ikut terasa sesak.
Ia baru menyadari alasan sebenarnya Vira bertahan begitu lama bersama Daril bukan hanya karena cinta, melainkan karena merasa memiliki utang nyawa.
"Ra..." panggilnya pelan.
Namun tak ada kata-kata yang sanggup menghibur perempuan di sampingnya. Arvin hanya menatap Vira dengan sorot mata penuh iba.
Dalam hati ia bergumam, "Seberapa berat hidup yang kamu jalani selama ini sampai ketulusanmu dimanfaatkan seperti itu?"
Beberapa saat kemudian, Arvin menarik napas panjang. "Aku gak tahu harus bilang apa."
Ia menatap aliran sungai di depan mereka. "Tapi satu hal yang aku tahu..."
Arvin menoleh kepada Vira. "...orang yang benar-benar berjasa gak bakal biarin orang lain hidup dalam kesalahpahaman selama bertahun-tahun."
Kalimat itu membuat Vira kembali menitikkan air mata. Ia menundukkan kepala, lalu menggenggam kedua tangannya sendiri.
Untuk pertama kalinya...
Ia merasa benar-benar terbebas dari bayang-bayang Daril. Bukan hanya karena rasa cintanya telah hilang.
Melainkan karena alasan terbesar yang selama ini menahannya ternyata tidak pernah benar-benar ada.
Angin sore kembali berembus pelan. Aliran sungai tetap mengalir seperti bertahun-tahun yang lalu. Yang berbeda hanyalah hati Vira.
"Hari ini... Akhirnya aku tahu siapa yang sesungguhnya nyelametin aku. Dan aku senang karena itu bukan Daril."
***
Arvin dan Vira akhirnya meninggalkan tepian sungai ketika matahari sudah condong ke ufuk barat. Sesampainya di persimpangan jalan, keduanya berhenti.
"Aku duluan ya, Ra."
Vira mengangguk pelan.
"Hati-hati, Vin."
"Kamu juga."
Arvin tersenyum tipis sebelum berbelok ke arah rumahnya. Vira memandang punggung pemuda itu hingga perlahan menghilang di balik tikungan. Barulah ia kembali melangkah.
Sepanjang perjalanan, pikirannya dipenuhi berbagai perasaan yang saling bertabrakan.
Ada kelegaan karena akhirnya mengetahui siapa penyelamatnya yang sebenarnya. Namun, di saat yang sama, penyesalan memenuhi dadanya.
"Selama ini... aku benar-benar salah." Ia menggigit bibir bawahnya. "Orang yang nyelametin aku justru hidup serba kekurangan."
Bayangan rumah reyot yang ditempati Arvin bersama ibunya kembali terlintas di benaknya.
Bekas kandang kambing yang disulap menjadi tempat tinggal sederhana. Dinding bambu yang mulai lapuk. Atap yang bocor ketika hujan turun.
Sementara itu...
Selama bertahun-tahun, ia rela menghabiskan tabungannya demi Daril. Membiayai kuliahnya. Membantu kebutuhan hidup Mirna. Membayar biaya berobat ketika penyakit darah tinggi Mirna kambuh akibat tidak menjaga pola makan.
Bahkan ikut menanggung berbagai kebutuhan keluarga mereka.
Vira memejamkan mata sesaat. "Harusnya... Harusnya rasa terima kasih itu kuberikan kepada orang yang benar."
Dadanya kembali terasa sesak. Arvin bahkan tidak sempat melanjutkan sekolah. Setiap hari ia bekerja apa saja demi bertahan hidup sekaligus merawat ibunya yang mengalami gangguan kejiwaan akibat trauma masa lalu.
Sedangkan Daril...
Sudah dibiayai kuliah hingga lulus, tetapi tetap enggan berjuang dan lebih sering bergantung pada bantuan orang lain.
Dan yang lebih menyakitkan...
Di kehidupan sebelumnya, Arvin meninggal karena kecelakaan. Dan setelah itu ibunya juga meninggal karena tenggelam di sungai sebab tak ada lagi yang mengurusnya. Sampai akhir hayat mereka hidup dalam kemiskinan.
Sementara Daril, saat sudah sukses, pria itu malah melenyapkan nyawanya demi menguasai semua hartanya. Bahkan ternyata telah lama berselingkuh dengan Yanti.
Air mata kembali menggenang di pelupuk mata Vira.
"Maaf, Vin..." batinnya. "Aku bahkan gak pernah tahu siapa orang yang sebenarnya nyelametin aku."
Tanpa terasa, langkahnya telah sampai di depan rumah.
Begitu memasuki halaman, Vira melihat Yanti sedang membungkuk mengelap meja teras pelan. Melihat Vira datang, Yanti segera berdiri.
"Ra... kamu udah pulang." Nada suara Yanti terdengar lebih lembut dari biasanya.
Vira hanya mengangguk singkat. "Iya."
Yanti tersenyum canggung. "Soal tadi di balai desa..." ucapnya pelan. "Aku benar-benar nyesel."
Ia menundukkan kepala, berusaha tampak tulus. "Kalau kamu masih marah, aku ngerti. Tapi aku berharap kamu masih mau ngasih aku kesempatan buat berubah."
Vira menatapnya beberapa saat. Sorot matanya datar. "Aku capek, Yan."
Hanya itu jawaban yang keluar dari mulut Vira. Tanpa menunggu respons, ia melangkah masuk ke dalam rumah.
Yanti tetap berdiri di tempat. Senyum yang tadi dipaksakan sedikit demi sedikit memudar. Sorot matanya berubah dingin.
"Percaya aja terus..." batinnya. "Malam ini, kamu gak akan sempat mikirin Arvin ataupun Daril lagi."
Tangannya perlahan merogoh saku pakaian. Ponselnya bergetar pelan. Satu pesan baru masuk.
> Kami sudah di sekitar rumahmu. Tunggu aba-aba.
Sudut bibir Yanti terangkat tipis. Ia menghapus pesan itu, lalu ikut masuk ke dalam rumah seolah tidak terjadi apa-apa.
...✨"Yang paling menyakitkan bukanlah dikhianati, melainkan menyadari bahwa ketulusan kita selama ini diberikan kepada orang yang salah."...
..."Ada luka yang sembuh setelah air mata habis, tetapi ada pula luka yang baru terasa ketika seluruh kebenaran akhirnya terungkap."✨...
.
To be continued
Ayahnya sebagai penyebab dari penderitaan yang mereka alami.
Sebagai suami selingkuh, sebagai seorang Ayah perlakuannya sangat biadap.
Mereka diusir. Menghina Ibunya. Ayahnya membawa perempuan yang katanya istri barunya.
Ibunya kena mentalnya. Arvin menjadi pincang.
Arvin akan menjaga Ibunya, yang menjadi tameng hidup baginya ketika angkara murka merasuki Ayahnya.
Arvin pergi ke warung untuk membeli obat flu. Tiba di warung langkahnya terhenti ketika ia mendengar pembicaraan di dalam warung.
Lagi-lagi gosip tentang Vira ??
Hartato juga sudah mendengar. Dia tidak percaya. Vira bukan perempuan seperti yang digosipkan.
Pak Kades juga belum tentu percaya.
Mengingat Bapaknya Hartato masih menjabat sebagai kepala desa, setiap keputusan yang di ambil pasti menjadi perhatian banyak orang.
Kebenaran dari gosip itu belum terbukti. Niat lamaran di tunda.
Hartato hanya bisa berdoa, semoga gosip tentang Vira hanya fitnah. Dia lebih baik menunggu daripada mempercayai gosip tanpa bukti.
Sembarangan Tari bicara dengan mengatakan Tuhan pun membantuku. Mana ada Tuhan membatu orang jahat.
Jadi orang jahat itu pilihanmu, Tari. Tuhan itu memberi pilihan - mau menjadi orang baik atau menjadi orang jahat. Nantinya tinggal menunggu mau mendapat karma baik atau karma buruk.
Jangan senang dulu Tari. Ditunggu saja karma menjemputmu.
Memang Daril ini tidak pantas menjadi suami Vira. Hidupnya seperti benalu, juga pengkhianat.
Di kesempatan kehidupan kedua Vira, jangan sampai menjalin hubungan dengan Daril lagi.
Terimakasih kak Nana...semoga sehat selalu
Yanti langsung tersedak mendengarnya.
Dia mengelak, tidak tahu.
Begitu Vira mau lapor polisi, Tari melarang. Vira tanya kenapa. Salah taruh katanya.
Tari mengelak tidak mengambil. Melarang Vira melihat lemarinya. Tetap kekeh tidak mengambil.
Tari langsung panik ketika Vira mau panggil Ketua RT. Baru mempersilahkan Vira mencari di lemarinya.
Vira nenemukan empat kotak skibcare miliknya.
Tari mengaku itu miliknya.
Ditanya beli di mana, harganya berapa.
Kebohongannya sudah tak ada obatnya ini Tari.
Tari menolak usulan salah satu ibu-ibu untuk melaporkan ke polisi. Ya jelas menolak. Orang dia berkata bohong.
Baru mendengar sepihak, semoga ibu-ibu itu ada yang bertanya baik-baik pada Vira kebenaran yang sesungguhnya. Benar menurut cerita bohong Tari atau benar Tari bohong 😄.
Es kelapa muda sudah di tangan masing-masing satu.
Bukannya merasa prihatin mendengar sepupunya di gibahin, ini bocah malah punya ide licik.
Waduuuuuh...Tari malah bikin fitnah, mengarang bebas tentang Vira. Berapa laki-laki yang tidur sama Vira, Tari ? Kok bisa ngomong suara laki-lakinya tidak sama. Fitnah yang sungguh amat kejam. Pakai nangis segala untuk meyakinkan kebohongannya.
Ibu-ibu, cari bukti dulu ya. Jangan percaya begitu saja.
Ucapan terima kasih cuma di bibir. Hatinya tetap busuk.
Naah ketahuan Tari telah mencuri krim siang, krim malam, pelembap, juga serum milik Vira.
Vira tidak sembarangan menuduh Tari yang mencuri. Dia butuh bukti.
Disuruhnya Tari membeli dua es kelapa muda.
Yanti pergi naik motor.
Vira masuk ke kamar Yanti. Ia menemukan barang-barang yang telah raib dari meja rias di kamarnya. Beberapa kotak skincare tersusun rapi di laci paling bawah lemari pakaian.
Vira masih bersabar untuk tidak menuduh Tari. Masih butuh bukti yang tidak bisa dibantah.
Sehat selalu untuk author, lancar rejekinya juga 😘🤲
Semangat selalu bikin karya² yang baru 💪
Ujung-ujungnya Yanti minta diberi kesempatan. Dia bakal belajar masak yang benar.
Di depan Vira memelas pasti wajahnya. Coba nanti di belakangnya Vira. Ngedumel.
Yanti dasar perempuan tidak tahu diri. Setiap masak disengaja tidak enak supaya Vira tidak menyuruhnya masak lagi.
Vira jadi curiga dengan Yanti yang tidak pernah ikut makan. Alasannya sudah makan lebih dulu.
Sukurin gajinya dipotong. Kalau tidak sanggup masak yang benar, berhenti kerja sama Vira. Dan pergi dari rumah Vira.
Sepupu mau enak numpang tanpa bekerja. Maunya jaga toko biar bisa ngutil uang. Itu maunya Yanti.
Vira tidak membiarkan Yanti hidup gratis di rumahnya.
Mirna langkahnya terhenti ketika mendengar dari dalam warung beberapa ibu sedang mengobrol tentang Hartato yang mau melamar Vira.
Dia mendengar semua pembicaraan ibu-ibu itu. Pikiran liciknya timbul demi kepentingan pribadi.
Mirna mulai beraksi dengan bicara bohong bahkan cenderung memfitnah Vira.
Mirna mengatakan Vira sudah tidak perawan. Itu terjadi sebelum pacaran sama Daril.
Gawat nih Mirna, cari masalah. Perlu di lakban sama Vira nih mulutnya.