NovelToon NovelToon
Suamiku Spesial

Suamiku Spesial

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Fantasi / Perjodohan
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: gigiwww

Liora terpaksa menandatangani perjanjian pranikah dan dinikahkan dengan Alexander, seorang pria berkebutuhan khusus yang diasingkan keluarganya di sebuah desa terpencil. Ia pun pergi ke desa itu untuk merawat suaminya yang asing baginya. Namun, semakin lama merawat Alex, Liora mulai menyadari ada keanehan dan ketakutan dari warga sekitar terhadap pria itu. Ia pun curiga, jangan-jangan Alex tidak seperti yang terlihat. Di balik keterbatasannya, Alex ternyata menyimpan rahasia besar yang menjadi alasan keluarganya membuangnya. Liora kini harus mengungkap kebenaran di balik pengasingan suaminya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Perjanjian di Atas Kertas

Udara di dalam ruangan itu terasa begitu dingin, jauh lebih dingin dari suhu AC yang mungkin sengaja diatur menyengat. Liora duduk di kursi kayu jati yang keras dan mewah, menatap tumpukan dokumen tebal di atas meja di hadapannya. Kertas-kertas itu berwarna putih bersih, namun baginya terlihat seperti lembaran-lembaran penjara yang siap mengurung hidupnya.

Di seberang meja, duduk tiga orang pria tua bersetelan jas hitam. Mereka adalah pengacara dan perwakilan dari keluarga Theodore—keluarga besar yang namanya sudah terkenal di kota ini. Salah satu dari mereka, seorang pria berkacamata tebal, mendorong dokumen itu lebih dekat ke arah Liora.

"Nona Liora, ini adalah kesepakatan pranikah yang sudah kami siapkan. Silakan dibaca sekilas, meskipun pada dasarnya semua poin sudah ditentukan oleh keluarga besar Theodore."

Liora tidak membaca dokumen itu. Matanya kosong, menatap pada kata-kata kecil yang berbaris rapi, tetapi matanya tidak benar-benar melihat. Ia tahu apa yang tertulis di sana. Ia sudah diberitahu oleh orang tuanya sejak semalam. Bahwa keluarganya sedang terlilit utang yang sangat besar. Bahwa Theodore—keluarga Alexander—sudah lama mengincar anak perempuannya untuk dijadikan istri bagi anak mereka yang "bermasalah". Dan bahwa ia tidak punya pilihan.

"Di mana Alexander?" tanya Liora pelan, suaranya nyaris tidak terdengar.

Salah satu pengacara itu tersenyum tipis, sebuah senyuman yang rasanya sulit diartikan antara simpati atau sinis. "Alexander saat ini sedang berada di desa, Nona. Sesuai keputusan keluarga Theodore, ia tidak diperkenankan untuk berada di kota. Namun, pernikahan ini tetap sah secara hukum karena Anda yang akan menandatangani sebagai perwakilan atas nama Alexander dan sebagai pihak yang menerima ikatan."

Liora menghela napas panjang. Dadanya terasa sesak. Ia tahu benar alasan Alexander tidak hadir saat ini. Bukan hanya karena ia diasingkan, tetapi karena Alexander… tidak lagi bisa berfungsi layaknya manusia normal. Otaknya telah rusak.

Ia mendengar cerita itu dari bisik-bisik pembantu rumahnya. Alexander Theodore adalah putra yang diharapkan keluarga besar itu. Pintar, tampan, dan cerdas. Namun, pada usia 23 tahun, Alexander mengalami kecelakaan mobil yang sangat parah. Kepalanya terbentur keras, dan meskipun nyawanya selamat, otaknya mengalami cedera permanen.

Sejak saat itu, Alexander tidak lagi menjadi Alexander yang dulu. Ia menjadi seorang pria dewasa berusia 25 tahun, tetapi perilakunya, cara bicaranya, dan pemikirannya—semuanya terhenti seperti anak kecil berusia 5 atau 6 tahun. Ia tidak bisa bekerja. Tidak bisa memimpin perusahaan. Dan keluarga Theodore, yang sangat menjunjung tinggi nama besar dan martabat, merasa malu.

Maka mereka mengasingkannya.

Alexander dibuang ke sebuah desa terpencil, jauh dari hiruk-pikuk kota. Jauh dari bisnis mereka. Jauh dari pandangan publik. Dan kini, keluarga Theodore menganggap Liora sebagai cara untuk menutup aib itu. Sebagai istri, Liora akan bertanggung jawab merawat Alexander yang sudah "rusak" itu. Dan sebagai imbalannya, keluarga Theodore akan melunasi semua utang orang tua Liora.

Rasanya seperti diperjualbelikan. Seperti sebuah barang yang dilelang di pasar gelap.

"Bagaimana kalau saya menolak?" Liora bertanya, walau ia sudah tahu jawabannya.

Pengacara itu melepas kacamata dan menggosok-gosok pangkal hidungnya. "Tentu saja itu hak Anda, Nona. Namun, kami sudah berbicara dengan ayah Anda semalaman. Ayah Anda sudah menyetujui semuanya. Jika Anda menolak, keluarga Anda akan kehilangan segalanya. Rumah. Tanah. Bisnis Anda yang tersisa. Dan Anda sendiri yang akan menanggung semua beban itu."

Liora mengepalkan tangannya di atas meja. Ia ingin berteriak. Ia ingin menangis. Ia ingin membanting kursi dan berlari keluar dari ruangan kantor megah yang begitu asing baginya ini. Tetapi ia tidak bisa. Ia sadar, di luar sana, orang tuanya sedang menunggu kabar baik.

Liora adalah anak pertama. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasakan beban seberat itu berada di pundaknya. Beban yang bahkan tidak ia pilih sendiri.

"Tidak ada pilihan lain?" tanyanya lagi.

"Tidak ada, Nona," jawab pengacara itu, dengan nada yang sama sekali tidak menyisakan ruang untuk harapan.

Liora menarik napas dalam-dalam hingga dadanya terasa penuh. Lalu, perlahan, ia meraih pulpen yang disediakan di atas meja. Tangannya sedikit bergetar saat ujung pulpen itu menyentuh kertas putih di bagian tanda tangan.

Ia menandatangani namanya di sana: Liora Surya Putri.

Tidak ada sorak sorai. Tidak ada tepuk tangan. Hanya ada bunyi gesekan pulpen yang memecah keheningan, lalu sebuah kepastian yang menyakitkan.

Setelah tanda tangan itu jatuh, pengacara itu berdiri dan mengetukkan jarinya ke meja. "Terima kasih, Nona Liora. Anda telah mengambil keputusan yang tepat. Anak buah kami akan mengantar Anda ke desa di mana Alexander tinggal. Anda akan mulai menjalankan tugas sebagai istri mulai hari ini."

Liora tersentak. "Hari ini? Saya belum berpakaian… saya belum membawa barang-barang saya…"

"Itu semua sudah disiapkan. Mobil sudah menunggu di bawah. Anda tidak perlu membawa apa pun. Di sana sudah ada semua yang Anda perlukan."

Maka Liora pun dibawa pergi. Seperti boneka yang dipindahkan dari satu rak ke rak lain. Ia duduk di kursi belakang mobil hitam mewah yang melaju meninggalkan gedung pencakar langit di kota, membawanya ke arah yang tidak ia kenali. Jendela mobil diwarnai kaca gelap, tetapi Liora bisa melihat pemandangan di luar berubah perlahan. Dari gedung-gedung tinggi, menjadi jalan raya yang diselingi pepohonan. Lalu menjadi jalan-jalan kecil, lalu jalan berbatu yang mulai menanjak.

Perjalanan memakan waktu berjam-jam. Liora hampir tertidur karena lelah, tetapi perasaannya tidak tenang.

Akhirnya, mobil itu berhenti di sebuah jalan yang tampak sangat sepi. Pengemudi itu turun dan membukakan pintu untuk Liora. "Kami sudah sampai, Nona. Itu rumahnya."

Liora turun dari mobil dan menatap ke depan. Di hadapannya berdiri sebuah rumah besar, tetapi tampak sudah tua. Cat dindingnya masih terlihat bagus, namun suasana di sekitarnya sangat sunyi. Halaman rumah itu luas, ditumbuhi berbagai macam tanaman hijau yang tampak terawat. Ada deretan bunga di sepanjang pagar, dan di bagian belakang rumah, Liora bisa melihat sebuah kandang kecil—sepertinya peternakan.

Rumah ini tidak terlihat kotor atau terbengkalai. Justru, taman dan pekarangannya rapi. Liora mengernyit. Mungkin ada yang merawat tempat ini.

"Di dalam hanya ada Tuan Alexander, Nona," kata pengemudi itu. "Tapi jangan khawatir, rumah ini sangat terawat. Setiap dua minggu sekali, ada Emi—kepala pembantu keluarga Theodore—yang datang ke sini untuk membersihkan rumah dan memastikan semua kebutuhan Alexander terpenuhi. Jadi Alexander dalam kondisi yang sangat baik."

Liora mengangguk perlahan. Setidaknya, suaminya tidak hidup dalam kekotoran. Tapi ia masih merasa gugup.

"Terima kasih," ucapnya lirih. Lalu ia melangkah masuk.

Pintu depan tidak dikunci. Liora membukanya perlahan. Begitu masuk, ruang tamu yang luas dan bersih menyambutnya. Lantai kayu mengilap, tidak ada debu. Mainan-mainan anak-anak tertata rapi di sudut ruangan—balok kayu, boneka, dan beberapa buku bergambar. Rumah ini benar-benar bersih dan wangi, seperti baru saja dipel.

Lalu, dari balik pintu kamar, terdengar suara langkah kaki. Seorang pria keluar. Dia mengenakan kemeja biru muda yang rapi dan celana panjang bersih. Rambutnya disisir, wajahnya bersih, dan matanya yang berwarna cokelat terang bersinar penuh rasa ingin tahu.

Alexander.

Liora menahan napas. Ia membayangkan pria yang kacau, berantakan, dan tidak terawat. Tetapi kenyataannya, Alex berdiri di depannya dengan sangat rapi—seperti seorang pangeran kecil yang sedang menunggu tamu.

Mata Alex membulat. Lalu, senyuman lebar perlahan merekah di wajahnya. Ia menatap Liora dengan kegembiraan yang tidak bisa disembunyikan.

"Kamu Liora?" tanyanya, dengan suara ceria seperti anak kecil yang mendapat mainan baru.

Liora mengangguk, sedikit bingung. "I-iya... Aku Liora."

Alex bertepuk tangan pelan. "Emi bilang! Emi bilang hari ini aku punya istri! Emi bilang kamu akan jadi teman aku yang baru! Kamu mau main sama aku, Liora?"

Liora tersenyum kecil, meskipun dadanya masih terasa sesak. Senyuman Alex begitu tulus, begitu polos. Meskipun secara usia ia sudah dewasa, cara bicaranya, sorot matanya, dan tingkahnya yang gembira—semuanya seperti anak kecil yang sangat bahagia karena kedatangan teman baru.

"Iya, Alex. Aku mau main sama kamu," jawab Liora, suaranya bergetar.

Alex langsung berlari kecil ke arah sofa, mengambil sebuah mobil-mobilan, dan menunjukkannya pada Liora dengan penuh semangat. "Lihat! Ini mobil kesukaanku! Aku mau main balapan sama kamu!"

Liora menatap pria di depannya. Pria yang seharusnya sudah bekerja di perusahaan Theodore. Pria yang seharusnya menjadi pewaris bisnis keluarga. Tetapi sekarang, yang ada hanyalah seorang anak laki-laki berusia 5 tahun yang terperangkap di dalam tubuh 25 tahun.

Dan Liora adalah istrinya.

Di luar jendela, matahari perlahan merayap ke barat. Desa itu sunyi, rumah itu besar, dan hanya ada mereka berdua.

Liora menarik napas dalam-dalam. Ia menekan rasa sakit di dadanya, lalu ia berjongkok di samping Alex, mengambil salah satu mobil-mobilan di lantai.

"Aku siap balapan, Alex. Tapi kamu harus kasih tahu aku aturan mainnya, ya?"

Mata Alex berbinar. "Aku kasih tahu! Aku kasih tahu semuanya!"

Liora tersenyum. Senyuman yang pahit, tetapi juga ada sedikit kehangatan di dalamnya.

Hidup barunya dimulai sekarang. Di sebuah desa terpencil. Bersama suami yang tidak pernah ia kenal, tetapi yang menyambutnya dengan senyuman paling tulus yang pernah ia lihat.

1
Ilfa Yarni
oooo jadi gitu tp syukurlah udah ga ada rahasia lg diantara mereka dan jg bisa bersikap sebagaimana mestinya dan skr kalian bisa menghadapi masalah bersama2
Ilfa Yarni
aku jg penasaran bukan km saja liora
wulaniii
gais like dan komen kalo bisa tonton yah biar dapet komisi 🤣
Alia Chans
Hadir Thor, penasaran banget ama lanjutan nya ...🤭🤭

saling support sabi kali😉
Muhajir Al musyaffa
halo kak aku punya karya loh mampir yu kak😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!