Demi membiayai operasi ayahnya, Natalie nekat menjual keperawanannya pada seorang pria yang tidak ia kenal. Namun pria yang datang ternyata seorang dokter berhati baik yang justru ingin menyelamatkannya dari jalan buntu itu.
Setelah melewati malam yang penuh gairah, Drake malah kecanduan dengan tubuh Natalie, padahal dia tahu kalau wanita itu hanya mengejar uang.
Saat rahasia tergelap mereka terbongkar, mampukah hubungan rapuh dan terlarang ini tetap bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8
Nathalie pergi ke rumah sakit tempat ayahnya dirawat. Ia ingin melihat kondisi ayahnya dengan mata kepalanya sendiri. Setelah memberikan seratus juta kepada ibunya, ia berharap operasi saraf ayahnya sudah dilakukan atau setidaknya sedang dalam proses persiapan.
Rumah sakit pagi itu ramai dengan pasien dan keluarga yang hilir mudik. Bau obat-obatan dan desinfektan memenuhi lorong. Nathalie berjalan dengan langkah cepat menuju ruang rawat inap kelas tiga tempat ayahnya terbaring. Pintu kamar berwarna putih pudar terbuka sedikit. Saat ia masuk, hatinya langsung mencelos.
Ayahnya, masih terbaring di ranjang yang sama seperti minggu lalu. Tubuhnya kurus, wajahnya pucat, dan matanya kosong menatap langit-langit. Tidak ada tanda-tanda operasi baru dilakukan. Selang infus masih menempel di tangannya, dan alat monitor di samping ranjang berbunyi pelan dengan ritme yang sama seperti sebelumnya.
Dyah, duduk di kursi plastik di samping ranjang sambil memainkan ponselnya. Wajahnya terlihat lelah tapi tidak ada rasa khawatir yang terpancar.
“Bu… kenapa Ayah belum dioperasi?” tanya Nathalie dengan suara bergetar. Ia berdiri di ambang pintu, menatap ibunya dengan mata penuh kebingungan dan kekecewaan. “Aku sudah kasih uang seratus juta sesuai permintaan Ibu. Harusnya sudah bisa operasi.”
Dyah tidak langsung menjawab. Ia meletakkan ponselnya perlahan, lalu berdiri sambil merapikan pakaiannya.
Jawabannya datar dan singkat, tanpa melihat ke arah putrinya.“Uangnya masih kurang.”
Nathalie terpaku. Darahnya seolah berhenti mengalir sejenak. “Kurang bagaimana? Aku sudah memberikan sesuai yang Ibu minta! Seratus juta penuh! Itu uang hasil kerja keras aku, Bu!”
Tanpa sadar suara Nathalie meninggi. Rasa lelah, sakit fisik, dan pengorbanan yang sudah ia lakukan selama ini meledak menjadi satu. Ayahnya yang terbaring lemah di ranjang hanya bisa menatap putrinya dengan mata sayu, tak mampu berkata apa-apa.
Dyah melangkahkan kakinya mendekati Nathalie. Wajahnya yang dulu lembut kini keras seperti batu. Tanpa aba-aba, ia menarik rambut putrinya dengan kasar ke belakang.
"Akhhh......" Nathalie meringis kesakitan, kepalanya tertarik ke atas. Air matanya langsung menggenang.
“Uang seratus juta tidak akan cukup untuk membiayai pengobatan ayahmu, Nathalie!” bentak Dyah dengan suara rendah tapi penuh racun. “Operasi, rawat inap, obat impor, fisioterapi, semuanya mahal! Lagian ayahmu sudah tidak ada gunanya lagi. Sudah lumpuh begini, hanya merepotkan. Lebih baik kita bawa pulang ke rumah saja. Biarkan dia mati secara perlahan.”
Dyah menghempaskan rambut Nathalie dengan kasar hingga kepala putrinya tersentak ke depan. Nathalie hampir kehilangan keseimbangan. Rasa sakit di kulit kepalanya tidak seberapa dibandingkan rasa sakit yang menusuk hatinya.
Ia menatap ibunya dengan mata berkaca-kaca, tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
“Bu… itu Ayah. Ayah yang dulu selalu kerja keras untuk kita berdua,” suara Nathalie pecah. “Kenapa Ibu bisa bilang seperti itu? Aaku sudah melakukan segalanya demi Ayah.Dan ibu malah seperti ini"
Dyah tertawa sinis. “Kamu yang bikin ayahmu cacat, Nathalie. Kamu yang memaksa dia jemput malam itu. Jadi sekarang tanggung jawabmu. Kalau uang masih kurang, cari lagi. Jangan cuma seratus juta. Ibu butuh lebih banyak untuk hidup juga. Kamu kira Ibu mau hidup susah selamanya?”
Ayah Nathalie hanya bisa meneteskan air mata diam-diam di sudut matanya. Tangan kanannya yang masih bisa digerakkan sedikit bergetar, seolah ingin meraih putrinya tapi tak sanggup.
Nathalie mendekati ranjang, memegang tangan ayahnya yang dingin. Air matanya akhirnya jatuh juga, membasahi punggung tangan ayahnya.
“Ayah, maafkan aku,” bisiknya sambil menangis pelan. “Aku sudah berusaha semampuku, tapi Ibu…”
Dyah mendengus keras dan kembali duduk di kursinya, seolah tak terjadi apa-apa. “Kalau kamu tidak bisa cari uang lagi, lebih baik ayahmu pulang saja. Rumah sakit ini hanya menghabiskan biaya.”
Nathalie berdiri di antara ranjang ayahnya dan ibunya yang kejam. Tubuhnya gemetar hebat. Pengorbanan malam itu bersama Drake, rasa sakit yang masih ia rasakan, rasa jijik pada dirinya sendiri, semuanya terasa sia-sia. Uang yang sudah ia berikan ternyata tidak cukup. Bahkan ayahnya yang paling ia cintai di dunia ini dianggap tidak berguna oleh ibunya sendiri.
Ia memeluk tubuh ayahnya yang kurus dengan lembut, menangis di dada pria yang dulu selalu melindunginya. Di ruangan rumah sakit yang dingin itu, hati Nathalie semakin hancur berkeping-keping. Tekanan hidup, tuntutan ibunya, dan rasa bersalah yang tak pernah hilang membuatnya merasa seperti tenggelam di lautan yang tak bertepi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah perdebatan yang menyakitkan di rumah sakit, Nathalie akhirnya memutuskan untuk membawa ayahnya pulang. Dokter mengatakan bahwa tanpa dana operasi yang cukup, mereka tidak bisa melakukan prosedur apa pun. Dengan hati yang hancur, Nathalie menandatangani surat pulang paksa sambil menahan air mata.
“Maaf Yah… aku harus membawamu pulang dulu,” ucap Nathalie dengan suara parau sambil mendorong kursi roda ayahnya keluar dari pintu rumah sakit. Suaranya hampir hilang ditelan isak yang ditahan. “Nanti kalau aku sudah punya uang lagi, aku janji akan membawa Ayah ke rumah sakit lagi. Maafkan Natalie, Yah… maafkan aku.”
Ayahnya hanya bisa memegang tangan putrinya dengan lemah, air mata mengalir pelan di pipinya yang cekung. Ia tak mampu berkata apa-apa, hanya memberikan tatapan sendu. Dyah, tidak ikut menjemput. Wanita itu memilih diam di rumah, seolah suaminya hanyalah beban yang tak lagi penting.
Taksi yang dipesan Nathalie akhirnya tiba. Sopirnya, seorang pria paruh baya yang baik hati, membantu menurunkan ayah Nathalie dengan sangat pelan dan hati-hati. Mereka berdua mengangkat tubuh lemah rentan itu dari kursi roda ke kursi taksi, lalu kembali mengangkatnya saat sampai di rumah.
“Terima kasih, Pak,” ucap Nathalie dengan suara lemah sambil memberikan uang tip kecil dari sisa uangnya.
Sopir itu hanya mengangguk prihatin sebelum pergi meninggalkan mereka di depan rumah kontrakan yang sederhana dan reyot.
Nathalie mendorong kursi roda ayahnya masuk ke dalam rumah. Roda kursi berderit pelan di lantai semen yang tidak rata. Bau parfum seseorang langsung menyambut mereka.
Baru beberapa langkah masuk, suara Dyah sudah terdengar dari dalam.
“Itu dia, sudah pulang,” ucap Dyah datar, seolah sedang membicarakan barang bawaan biasa.
Nathalie mengangkat wajahnya. Di ruang tamu kecil yang sempit, ibunya berdiri bersama seorang laki-laki tua yang gemuk, berusia sekitar enam puluhan. Pria itu berpakaian lusuh tapi memakai jam tangan emas yang mencolok. Senyum mesum terlihat jelas di wajah keriputnya saat melihat Nathalie.
“Kamu langsung bawa dia saja. Tiduri dia sepuasmu,” ucap Dyah dingin sambil menunjuk ke arah Nathalie seperti menunjuk barang dagangan.
"Jangan nolak, Uangnya buat operasi ayahmu nanti.” ucapnya pada Nathalie.
Nathalie membeku di tempat. Tubuhnya menegang hebat, seperti disiram air es. Lidahnya kelu, tak mampu mengeluarkan suara apa pun untuk beberapa detik. Dunia seolah berhenti berputar. Hanya detak jantungnya yang terdengar keras di telinga.
“Ibu, berniat menjualku?” ucapnya akhirnya dengan suara lirih, nyaris tak terdengar. Matanya membulat penuh ketidakpercayaan dan kengerian. “Ibu… serius menjual anak sendiri?”
Dyah menatapnya tanpa ekspresi iba. “Apa salahnya? Pak Hadi ini bayar lumayan. Uangnya bisa buat ayahmu"
Laki-laki tua bernama Pak Hadi itu tertawa serak sambil melangkah mendekat, matanya menelusuri tubuh Nathalie dari atas ke bawah dengan lapar. “Cantik juga anakmu, Dyah. Aku sangat menyukainya"
Nathalie mundur selangkah, tangannya mencengkeram pegangan kursi roda ayahnya hingga memutih. Ayahnya di kursi roda hanya bisa menangis tanpa suara, tangannya bergetar hebat ingin melindungi putrinya tapi tak berdaya. Rasa sakit, pengkhianatan, dan kengerian bercampur menjadi satu badai di dada Nathalie.
“Bu, aku ini anakmu! Aku sudah korbankan segalanya demi Ayah… dan Ibu malah menjualku seperti ini?!” jerit Nathalie dengan suara pecah. Air matanya akhirnya jatuh deras.
Dyah hanya mendengus. “Kalau kamu tidak mau, ayahmu biar mati saja.”
Ruangan kecil itu terasa semakin sempit. Pak Hadi tersenyum lebar, sudah siap melangkah lebih dekat.
Nathalie menatap ayahnya yang menangis, lalu menatap ibunya yang dingin, dan akhirnya menatap pria tua yang menjijikkan itu. Tubuhnya gemetar hebat.
Hati Nathalie hancur berkeping-keping. Di rumahnya yang tua itu, ia merasa seperti berada di neraka yang tak pernah berakhir.