Hubungan Serena dan Heeseung selalu berada di antara lembut dan mencekik.
Setiap kali badai berlalu, Heeseung datang membawa janji dan ketenangan yang membuat Serena ingin percaya lagi. Tapi di balik perhatian dan perlindungan itu, ada rasa memiliki yang terlalu kuat untuk diabaikan.
Serena terjebak antara takut kehilangan dan takut tinggal.
Cinta yang awalnya terasa aman, perlahan berubah menjadi sesuatu yang sulit untuk dilepaskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rerevana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Setelah itu.
Malam Itu
Hujan di luar belum reda.
Ruangan masih berantakan. Pecahan vas dan cangkir berserakan di lantai, air merembes ke karpet hingga meninggalkan bercak basah.
Serena duduk bersandar di ujung ranjang. Matanya bengkak, napasnya masih tersendat. Ia tidak berani bergerak terlalu jauh. Takut Revan bangun dan marah lagi.
Revan tidur di pangkuan Serena. Tangan nya menggenggam tangan gadis itu, menggenggam pergelangan tangan yang memerah karena cengkraman kuat nya.
Tangan Revan satu nya mengepal kuat, seolah menahan dirinya agar tidak melakukan hal bodoh lagi.
Lama mereka diam.
Sampai akhirnya Revan mengangkat wajah. Matanya merah, suaranya pecah.
"Na... maafin gue."
Serena tidak menjawab. Ia hanya menatap.
Revan mengusap pipi Serena, memaksanya menatap wajah nya seolah takut Serena akan berpaling sedetikpun.
"Gue... gue nggak mau nyakitin lo. Gue khilaf, Na. Gue khilaf."
Tangannya gemetar saat menghapus air mata serena yang mengalir.
"Maafin gue ya... gue janji ini yang terakhir."
Serena memejamkan mata. Kata itu sudah sering ia dengar.
Tapi malam ini suaranya berbeda. Ada putus asa di sana. Ada rasa takut kehilangan yang besar.
Revan bangkit dan duduk lalu ia menarik Serena pelan ke dalam pelukannya. Tidak kasar, tidak memaksa. Hanya erat, seolah kalau dilepas, Serena akan hilang selamanya.
"Gue di sini. Gue nggak akan ke mana-mana."
Serena tidak membalas pelukan itu. Tubuhnya kaku, tapi ia tidak mendorongnya pergi.
Revan memeluk Serena dengan erat. dagunya bersandar di bahu Serena. Jarinya terus mengusap rambut Serena pelan, berulang kali, seperti menenangkan diri sendiri.
"Maaf ya," gumamnya lagi, suaranya hampir tidak terdengar.
"Gue janji, mulai besok gue bakal jaga lo baik-baik. Nggak akan ada yang nyakitin lo. Termasuk gue."
Serena tidak menjawab. Ia hanya memejamkan mata lebih rapat, menahan agar air matanya tidak jatuh lagi.
.
.
Pagi Berikutnya
Cahaya pagi masuk lewat celah gorden, jatuh tipis di atas ranjang.
Hujan sudah berhenti. Udara terasa dingin dan bersih.
Serena bangun lebih awal. Revan masih memeluknya dari belakang, napasnya pelan dan teratur. Tangannya menggenggam ujung kaus Serena, tidak dilepas sedetik pun.
Serena tidak bergerak. Ia takut kalau bergerak, momen tenang ini akan pecah lagi.
Revan merasakan Serena sudah bangun. Ia mengeratkan pelukannya sedikit, lalu mengecup pelan pundak Serena.
"Pagi."
Suaranya serak karena baru bangun. Tidak ada nada marah, tidak ada ketegangan. Hanya lelah dan hati-hati.
Serena menoleh sedikit. Wajah Revan terlihat sangat dekat dari sini. Mata itu tidak merah lagi, tapi masih ada rasa bersalah yang belum hilang.
"Maaf ya... buat semalam," bisik Revan. Ia mengusap rambut Serena dengan pelan, jari-jarinya menyisir helai demi helai.
"Gue nggak akan biarin ini kejadian lagi. Gue bener-bener takut kehilangan lo."
Serena diam. Ia tidak tahu harus jawab apa.
Tapi Revan tidak menunggu jawaban. Ia menarik Serena supaya berbalik menghadapnya.
"Lihat gue, Na."
Suaranya pelan, hampir memohon.
Serena menurut namun hanya diam. Tatapan mereka bertemu.
Revan mengangkat tangan, menyentuh pipi Serena dengan ujung jarinya. Sangat hati-hati, seperti menyentuh kaca yang bisa pecah kapan saja.
"Lo itu satu-satunya yang gue punya."
Ia mendekat, mengecup kening Serena lama.
Lalu turun ke pelipis, ke pipi, berhenti di ujung hidung.
"Maafin gue ya," gumamnya di antara kecupan kecil itu.
"Gue janji, mulai hari ini gue bakal jadi orang yang layak buat lo."
Serena menahan napas. Dadanya sesak, tapi bukan karena takut.
Ada hangat yang pelan-pelan merayap masuk, bercampur dengan rasa lelah yang sudah lama ia pendam.
Revan tersenyum tipis ketika melihat Serena tidak lagi menegang.
Ia menarik Serena lebih dekat, memeluknya erat tapi lembut.
"Tidur lagi yuk. Hari ini nggak usah kuliah. Gue temenin lo seharian."
Serena mengangguk kecil di pelukannya.
Di luar jendela, matahari mulai naik.
Di dalam kamar, untuk pertama kalinya setelah berhari-hari, suasana terasa tenang.
Tidak ada teriakan. Tidak ada pecahan kaca.
Hanya ada pelukan yang terlalu erat, dan janji yang diulang lagi.
Siang Itu
Serena terbangun karena cahaya matahari yang masuk terlalu terang.
Apartemen terasa aneh.
Terlalu rapi.
Tidak ada pecahan kaca di lantai. Tidak ada bercak air di karpet. Meja ruang tamu sudah bersih, vas yang pecah malam tadi hilang entah ke mana.
Seolah kejadian kemarin malam tidak pernah terjadi.
Revan tidak ada di sampingnya.
Selimut di sebelah Serena sudah dingin.
Dadanya langsung sesak. Ia bangkit lalu duduk, matanya menyapu seluruh ruangan.
Takut. Takut Revan benar-benar pergi.
Pandangannya berhenti di meja makan.
Ada secarik kertas putih, terlipat rapi, ditindih gelas kosong.
Serena turun dari ranjang dengan kaki gemetar. Ia mengambil kertas itu.
Tulisannya rapi, sengaja dibuat pelan.
Tidak ada coretan marah, tidak ada huruf yang ditekan terlalu keras.
Na,
Maaf kalau gue pergi duluan. Ada rapat mendadak.
Gue udah beresin semuanya biar lo nggak lihat berantakan itu lagi.
Nanti gue jemput. Kita makan di luar ya.
Jangan keluar sendiri. Tunggu gue.
Serena membaca surat itu dua kali.
Tangannya menggenggam kertas itu terlalu erat sampai ujungnya kusut.
Ia tidak marah karena ditinggal.
Ia marah karena Revan tetap menganggap dirinya tidak bisa mengurus diri sendiri.
Tetapi di sisi lain, ada lega kecil.
Apartemen ini tidak lagi berbau pecahan kaca dan amarah.
Sekarang hanya ada bau kopi dingin dan janji yang ditulis dengan tinta biru.
Serena meletakkan surat itu di atas meja.
Ia menatap jam dinding. Masih pukul 11.
Revan akan datang.
Dan entah kenapa, ia tidak tahu harus merasa senang atau takut untuk itu.