Dara Calya Sania, seorang gadis pincang yang hidupnya penuh dengan penderitaan. Dara dijual pamannya untuk menikahi Gavin Mahardika Abyakta, pria tuli cucu dari pemilik perkebunan teh, Juragan Darmawan, dengan mahar satu miliar rupiah.
Dara yang sejak kecil sudah yatim-piatu, tidak bisa menolak. Terlebih lagi uang mahar itu untuk bayar biaya hidupnya selama tinggal bersama Rama dan Tina.
Bagaimana reaksi Dara ketika tahu Gavin adalah orang yang pernah ditolongnya dahulu dan membuat kakinya pincang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Matahari perlahan tenggelam di balik perbukitan. Langit yang semula berwarna jingga berubah menjadi kebiruan, lalu perlahan menggelap. Satu per satu tamu mulai berpamitan. Suara musik yang sejak siang mengiringi pesta akhirnya berhenti. Para pelayan sibuk merapikan meja, sementara beberapa pekerja mulai membereskan kursi-kursi yang berserakan di halaman.
Rumah besar Juragan Darmawan yang sejak pagi dipenuhi gelak tawa kini kembali tenang. Di dalam rumah, seorang pelayan wanita menghampiri Dara dengan senyum ramah.
"Nyonya muda, mari saya antar ke kamar."
Dara sedikit gugup mendengar panggilan itu, "Nyonya muda". Baru beberapa jam lalu ia masih menjadi pemetik teh biasa. Kini orang-orang mulai memanggilnya dengan sebutan yang terasa begitu asing di telinganya.
Dara mengikuti langkah pelayan itu menyusuri lorong rumah yang panjang. Lantai marmer mengilap memantulkan cahaya lampu kristal yang menggantung di langit-langit. Lukisan-lukisan tua menghiasi dinding, sementara vas bunga segar diletakkan di beberapa sudut ruangan.
Semuanya tampak begitu mewah.
Begitu sampai di depan sebuah pintu besar, pelayan itu membukanya perlahan.
"Silakan beristirahat."
Dara mengangguk pelan. "Terima kasih."
Pelayan itu tersenyum, lalu menutup kembali pintu setelah Dara masuk.
Begitu pintu tertutup, Dara berdiri mematung. Pandangannya menyapu seluruh isi kamar. Ruangan itu jauh lebih luas daripada yang pernah ia bayangkan. Tempat tidur berukuran besar berdiri megah di tengah ruangan, dihiasi seprai putih bersih dan taburan kelopak bunga mawar.
Di dekat jendela terdapat sofa panjang berwarna krem dengan meja kecil di depannya. Sebuah rak buku memenuhi salah satu sisi dinding, sementara lemari kayu berukir berdiri kokoh di sudut kamar. Aroma bunga melati yang lembut memenuhi udara, membuat suasana terasa hangat dan menenangkan.
Dara mengembuskan napas perlahan. Rasanya seperti sedang memasuki dunia yang sama sekali berbeda. Ia berjalan beberapa langkah dengan hati-hati, seolah takut mengotori lantai yang begitu bersih. Tangannya perlahan menyentuh ujung selimut di atas tempat tidur.
"Lembut sekali," gumamnya pelan.
Belum sempat rasa kagumnya hilang, suara pintu kembali terdengar. Dara spontan menoleh.
Gavin masuk ke dalam kamar sambil menutup pintu perlahan di belakangnya.
Sesaat kemudian, keheningan memenuhi ruangan. Mereka saling berpandangan. Hanya beberapa detik, namun rasanya begitu lama.
Dara lebih dulu menundukkan kepala. Sementara Gavin mengusap tengkuknya yang tidak gatal.
Suasana menjadi canggung. Ini adalah pertama kalinya mereka berada berdua di dalam satu ruangan sebagai suami istri. Tidak ada satu pun dari mereka yang tahu harus memulai percakapan dari mana.
Dara berdiri kikuk di dekat tempat tidur sambil meremas jemarinya sendiri. Sedangkan Gavin memilih berdiri beberapa langkah dari pintu.
Beberapa saat berlalu. Tak ada suara selain detak jam dinding.
Akhirnya Gavin berdeham pelan. Ia menunjuk sofa dan tempat tidur bergantian.
"Silakan duduk."
"Oh, iya."
Dara segera duduk di tepi tempat tidur. Sementara Gavin memilih duduk di sofa yang berada tidak jauh darinya.
Jarak mereka tidak terlalu jauh, namun keheningan di antara keduanya terasa begitu lebar. Dara diam-diam melirik pria di depannya. Sejak siang, ada satu pertanyaan yang terus berputar di kepalanya. Ia ingin bertanya, tetapi takut dianggap lancang.
Beberapa kali bibirnya terbuka, lalu kembali tertutup.
"Haruskah aku bertanya? Kalau ternyata pertanyaannya menyinggung perasaan Gavin bagaimana?" batinnya.
Namun rasa penasarannya semakin sulit dibendung.
"Den Gavin," panggil Dara hati-hati.
Gavin yang sedang menatap ke arah jendela segera mengalihkan pandangan. "Iya?"
"Boleh saya bertanya sesuatu?"
"Tentu."
Dara tampak ragu-ragu. Tatapannya perlahan beralih ke telinga Gavin.
Pria itu mengernyit heran. "Ada apa?"
Dara tersenyum canggung. "Maaf kalau pertanyaan saya terdengar aneh."
"Tidak apa-apa."
Dara menarik napas pelan sebelum akhirnya memberanikan diri. "Semua orang di kampung bilang Den Gavin tuli."
Gavin mengangguk. "Benar."
"Nah, itu yang membuat saya bingung."
"Kenapa bingung?"
Dara memiringkan kepalanya dengan wajah polos. "Sejak pertama kali kita bertemu, Den selalu menjawab saat diajak bicara. Bahkan tadi siang, waktu Ibu Sherly memanggil dari belakang, Den langsung menoleh."
Dara menatap Gavin penuh rasa ingin tahu. Perempuan itu menunjuk pelan ke arah telinga suaminya.
"Jadi, Den Gavin sebenarnya tuli atau tidak?"
Beberapa saat Gavin hanya menatap wajah Dara. Tatapan gadis itu benar-benar dipenuhi rasa penasaran, tanpa sedikit pun niat mengejek.
Tak terasa sudut bibir Gavin terangkat. Lalu, terdengar tawa kecil keluar dari bibirnya.
Suara tawanya pelan. Namun, cukup membuat Dara membulatkan mata. "Kenapa Den Gavin tertawa?"
Gavin menggeleng sambil masih tersenyum. "Maaf. Pertanyaanmu lucu."
Wajah Dara langsung memerah. "Aku serius."
"Aku juga serius."
Masih dengan senyum yang belum hilang, Gavin mengangkat tangan ke samping kepalanya. Ia menyingkap sedikit rambut di atas telinga kanannya.
"Nah, lihat ini."
Tanpa sadar Dara sedikit memajukan tubuhnya. Matanya membesar. Di balik rambut Gavin terdapat sebuah alat kecil berwarna senada dengan kulit yang menempel rapi di belakang telinganya.
"Eh, itu apa? Kecil sekali." Dara terkejut
"Ini alat bantu dengar. Ukurannya memang sengaja dibuat kecil supaya nyaman dipakai." Gavin menjelaskan dengan sabar.
Dara memperhatikan alat itu dengan penuh rasa kagum. "Pantas saja saya tidak melihatnya."
"Kalau tidak diperhatikan dari dekat memang sulit terlihat." Gavin kembali merapikan rambutnya.
"Aku memang tidak bisa mendengar seperti orang lain. Tapi dengan alat ini, aku masih bisa menangkap suara, meski tidak semuanya terdengar jelas."
"Oh ...." Dara mengangguk pelan. Rasa penasarannya akhirnya terjawab. Ia tersenyum malu sambil menundukkan kepala. "Maaf. Selama ini saya kira ...."
Gavin mengangkat sebelah alisnya. "Kira apa?"
Dara menggaruk pelan pipinya. "Saya kira telinga Den Gavin bisa sembuh sendiri."
Ucapan itu begitu polos hingga Gavin kembali tertawa kecil. Kali ini tawanya terdengar lebih lepas. Entah sudah berapa lama ia tidak tertawa karena percakapan sederhana seperti itu.
Melihat Gavin tertawa, Dara ikut tersenyum. Tanpa mereka sadari, kecanggungan yang sejak tadi memenuhi kamar perlahan memudar.
Percakapan sederhana itu menjadi awal yang hangat bagi dua orang asing yang baru saja dipersatukan dalam ikatan pernikahan.
***
Alat bantu pendengaran yang digunakan Gavin kecil seperti ini, ya. Jadi, tidak kelihatan kalau tidak ditilik-tilik.