bagaimana rasanya jika tubuh sendiri berada ditubuh orang lain, bahkan tau-tau sudah memiliki suami dan memperebutkan warisan dua ratus triliun?
Yuk ikuti kisah Warisan dua ratus triliun!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lawa Amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Ia tidak berteriak, tapi ada ancaman halus di sana. Nadira melangkah maju, membiarkan cahaya lampu kristal memantulkan kilau dingin dari matanya.
Ia berpaling ke arah dewan komisaris.
"Bukti ada di gudang. Datanglah besok pagi, saya akan tunjukkan barangnya sebelum dikirim ke pelabuhan."
Nadira menatap Dinda kembali.
"Tapi ingat, Dinda, menuduh tanpa bukti adalah fitnah. Dan di keluarga ini, fitnah punya harga yang mahal."
Kerumunan itu terdiam, terkesiap oleh perubahan sikap yang tiba-tiba.
Dinda memucat, namun ia tetap mempertahankan dagunya yang terangkat.
"Kita lihat besok," gumamnya, lalu duduk kembali dengan kasar.
Nadira menatap punggung Dinda yang kaku. Jantungnya berdebar kencang, bukan karena takut, tapi karena adrenalina pertaruhan pertama yang berhasil ia menangkan di dunia yang asing ini.
Ia menarik napas panjang, memusatkan pikiran sembari memastikan suaranya tak akan ikut bergetar. Waktunya membalas serangan Dinda dengan logika, bukan emosi. Ia harus memastikan setiap kata berikutnya terdengar seperti kebenaran mutlak agar para pemegang saham tidak ragu sedikit pun.
Nadira menghela napas panjang, menyesuaikan posisi duduknya di kursi kulit yang terlalu empuk. Udara di ruang rapat itu terasa kental, bercampur antara aroma kopi kasturi dan wewangian parfum mahal para pemegang saham.
Ia menatap layar presentasi yang masih
gelap, mencoba menenangkan detak jantung yang mulai berpacu. Ini bukan sekadar rapat
biasa, ini panggung utamanya.
Dinda duduk di seberang meja dengan tatapan meremehkan, seolah sudah memegang kemenangan dalam genggaman. Wanita itu baru saja melempar kritik tajam mengenai biaya operasional yang membengkak. Tanpa membuang waktu, Nadira berdiri tegak. Ia menggeser kursinya dengan pelan, suara logam yang bergesekan dengan lantai marmer itu sengaja dibiarkan terdengar jelas.
"Kita tidak bisa terus berada di zona nyaman hanya karena angka di buku besar terlihat
bagus!" suara Nadira terdengar tenang namun memiliki proyeksi yang kuat, membelah kesunyian ruangan.
"Strategi efisiensi yang saya usulkan bukan tentang memotong anggaran, tapi tentang memotong ego."
Ia melangkah maju menuju proyektor, jarinya menekan tombol presentasi. Cahaya dari
lensa menyinari wajahnya, menciptakan bayangan tajam di rahangnya. Ia mulai
memaparkan data tentang restrukturisasi departemen logistik yang selama ini menjadi
lubang uang terbesar. Penjelasannya lugas, tanpa basa-basi, langsung menuju angka dan
proyeksi keuntungan.
"Dengan mengintegrasikan sistem otomasi di gudang, kita bisa menghemat tiga ratus
miliar per tahun," lanjut Nadira, matanya tidak berkedip menatap salah satu pemegang
saham senior yang dikenal paling pelit.
"Kualitas output tidak akan turun. Justru, presisi akan meningkat karena mengurangi kesalahan manusia yang lelah."
Dinda mencoba menyela dengan suara ketus, "Itu teori lab yang tak punya dasar di
lapangan, Nadira. Karyawan akan berdemonstrasi!"
Nadira berbalik, menatap Dinda dengan ekspresi datar.
"Bukan demonstrasi, Dinda. Ini transformasi. Saya sudah menyiapkan paket pesangon yang layak dan skema pensiun dini
untuk yang tidak bisa mengikuti teknologi. Atau kamu lebih suka membiarkan perusahaan ini bangkrut perlahan karena biaya gaji yang membengkak?"
Suasana ruangan berubah. Beberapa pemegang saham yang tadinya menggelisahkan kaki mereka mulai berhenti. Satu per satu, mereka mencondongkan tubuh ke depan, memandangi grafik yang ditampilkan Nadira.
Argumen Dinda yang tadinya terdengar
seperti kebenaran mutlak kini terlihat seperti suara kepanikan dari orang yang takut
kehilangan pengaruh.
Seorang pemegang saham tua mengangguk perlahan,
"Angka penghematan ini masuk akal. Jika benar bisa diwujudkan..."
"Bisa," potong Nadira singkat. "Saya tidak akan berdiri di sini jika saya tidak yakin."
Dinda mengepalkan tangannya di bawah meja. Wajahnya memerah, urat lehernya mulai menonjol karena menahan amarah. Ia tidak menyangka Nadira bisa membalikkan keadaan secepat ini. Padahal tadi, posisi Nadira terlihat sangat terdesak. Kini, wanita itu berdiri dengan wibawa yang tak terbantahkan.
Nadira merasakan ketegangan di bahunya sedikit mengendur. Ucapan para pemegang
saham itu memberinya ruang bernapas yang sangat berharga. Namun, ia tidak boleh
lengah. Ia tahu persis bahwa perjalanan menuju warisan dua ratus triliun itu masih sangat panjang. Kursi kekuasaan yang didambakannya penuh dengan jebakan yang tak terlihat.
Ia kembali duduk dengan santai, menyesap air mineral di gelasnya. Matanya melebar
sesaat, menatap sudut ruangan yang gelap. Di luar kaca jendela, awan mendung mulai
menutupi cahaya matahari. Rapat belum usai, dan ia bisa merasakan badai berikutnya
sedang mengumpulkan kekuatan di luar sana.
Ruangan rapat yang sepi tiba-tiba bergetar hening saat daun pintu didorong kasar. Arga
berdiri di ambang pintu dengan setelan jas yang kusut di bagian lengan. Pandangannya
tajam mengitari meja panjang, mengabaikan protokol perusahaan yang ketat. Beberapa
direktur senior saling berpandangan, risih melihat kelakuan pria itu yang tidak biasa.
Dia melangkah lebar melewati karpet tebal, mengabaikan pengawas yang mencoba
menyapanya. Arga membanting satu set dokumen tebal tepat di sebelah cangkir kopi
Dinda. Suara benturan kertas itu terdengar nyaring, membelah suasana formal yang
sedang berlangsung.
Tanpa sepatah kata pun, ia menatap tajam ke arah Dinda yang terpaku di kursinya.
Dinda menegang, jari-jarinya menggenggam kuat pinggiran meja kayu jati. Udara di
ruangan itu terasa menipis, dipenuhi aroma parfum Arga yang menyengat dan ketegangan yang tak tertahankan. Ia mencoba tersenyum tipis, namun sudut bibirnya hanya bergetar kecil. Arga mendekatkan wajahnya, menciptakan jarak yang terlalu dekat untuk sebuah pertemuan resmi.
"Kamu pikir aku tidak tahu apa yang kamu lakukan di belakangku?" bisik Arga, suaranya parau dan berat. Napasnya menyentuh pipi Dinda, membawa kegeraman yang nyata.
Dinda menelan ludah keras, tenggorokannya terasa kering sekali. Ia menyadari bahwa dokumen yang dibanting tadi bukanlah dokumen bisnis biasa, melainkan bukti perselingkuhannya.
Seorang direktur mencoba memperingatkan Arga tentang etika rapat, namun pria itu hanya melambaikan tangan dengan kasar. Arga justru meraih tangan Dinda dan menariknya
berdiri dengan paksa. Kursi Dinda bergeser berisik keras di lantai marmer, menciptakan
kehebohan baru di kalangan hadirin. Semua mata kini tertuju pada pertikaian pribadi yang
terjadi di depan umum itu.
Dinda merasakan telapak tangannya berkeringat dingin saat melihat reaksi para pemegang saham. Reputasinya yang dibangun dengan susah payah selama bertahun-tahun kini terancam hancur hanya dalam hitungan menit.
Arga memang datang untuk menyelamatkannya dari interogasi tadi, tapi caranya justru membuka aib mereka berdua.
Ia terjepit di antara rasa terima kasih dan kemarahan yang membara. Secara tiba-tiba, Arga melepaskan genggamannya dan mundur selangkah. Pria itu menyeringai sinis, menatap Dinda seolah memberi peringatan untuk tidak mengulangi kesalahan lagi.