NovelToon NovelToon
LEGENDA KULTIVATOR GILA

LEGENDA KULTIVATOR GILA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:13.9k
Nilai: 5
Nama Author: Danzo28

Dibuang oleh Klannya sendiri ke Shenzhou—daratan terlarang tempat pemujaan Dewa Jahat—seorang bayi harusnya mati menjadi abu. Namun, takdir menolak tunduk. Dia justru bangkit dengan menyedot habis seluruh energi terkutuk di daratan tersebut. Tumbuh besar seorang diri dengan ingatan jurus-jurus terlarang purba, kini tiba saatnya ia melangkah keluar. Sembilan Daratan yang korup harus bersiap, karena tumbal yang mereka buang telah kembali sebagai pembawa kiamat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

​PRAAAAANG...!!!

​Satu sentakan murni dari sepasang tangan kosong Wu Tian berujung pada ledakan spiritual yang teramat dahsyat. Rahang naga es raksasa setinggi belasan meter itu remuk total di bawah cengkeraman besinya, memicu reaksi berantai yang menghancurkan seluruh manifestasi makhluk es tersebut.

​Naga es itu meledak, pecah berantakan menjadi jutaan serpihan kristal tajam yang menghujani seluruh permukaan arena layaknya badai salju yang mengamuk di tengah musim dingin.

​Keheningan total yang mencekam seketika melanda seluruh sudut Koloseum Raksasa Klan Wu. Ribuan penonton di tribun, termasuk para tetua senior dan murid jenius dari Klan Li serta Sekte Pedang Langit, terpaku kaku di kursi mereka seperti patung batu.

​Mulut mereka teranga sempurna dengan sepasang mata yang hampir melompat keluar dari rongganya. Mereka tidak lagi bisa menggunakan nalar dan logika kultivasi Yunzhou untuk menjelaskan apa yang baru saja mereka saksikan: bagaimana mungkin sebuah manifestasi energi spiritual padat tingkat tinggi berbentuk naga legendaris, bisa dihancurkan secara mekanis murni oleh kekuatan otot dari sepasang tangan kosong manusia?

​Itu adalah pemandangan tidak masuk akal yang meruntuhkan pemahaman mereka tentang batas fisik seorang manusia.

​Di sudut tribun luar, Wu Chen dan Wu Ao bahkan sampai lupa cara untuk berteriak; tangan mereka membeku di udara dengan wajah linglung. Sementara itu, Wu Lin menatap ke tengah panggung dengan sepasang mata yang berkaca-kaca penuh keharuan.

​Ia bisa merasakan secara halus bahwa jimat kain kecil yang ia sulam dengan penuh doa malam tadi, benar-benar bekerja menjaga fokus dan kesadaran Wu Tian di tengah pusaran kegilaan hawa kematian miliknya.

​Namun, jika ada satu orang yang paling terguncang dan murka di dalam koloseum ini, sosok itu tidak lain adalah Tetua Agung Wu Cang.

​Di atas panggung kehormatan tertinggi, wajah tua sang penguasa klan mendadak berubah menjadi teramat kelam dan pekat. Sepasang tangannya yang dilapisi jubah emas mencengkeram pembatas giok hingga memercikkan retakan energi yang masif.

​Wu Xue bukan sekadar murid inti peringkat nomor satu klan; gadis itu adalah cucu kandung kesayangannya, garis keturunan langsung yang paling ia banggakan dan ia gadang-gadang akan membawa nama besar faksi dalam ke puncak kejayaan.

​Saat ini, gejolak batin politik di dalam dada Wu Cang terasa begitu menjengkelkan dan menyiksa egonya. Di satu sisi, sebagai pemimpin tertinggi klan, ia sangat membutuhkan sosok Wu Tian yang kuat dan menakutkan ini untuk mengamankan hak pengelolaan tambang batu spiritual Yunzhou dari cengkeraman dua klan rival esok hari.

​Namun di sisi lain, sebagai seorang kakek, ego dan harga dirinya tercabik-cabik melihat cucu emas kesayangannya mulai terpojok, terancam, dan dipermalukan secara tragis di depan ribuan pasang mata oleh seorang pemuda cabang luar yang selama ini selalu mereka anggap sampah kasta rendah.

​"Bocah liar itu..." desis Wu Cang dengan urat-urat di pelipisnya yang menonjol tegang.

​Otak tuanya mulai berputar menggila, mencari celah atau taktik intervensi halus untuk menghentikan pertandingan sebelum Wu Xue mengalami nasib tragis yang sama seperti Wu Yan, tanpa harus merusak jalannya turnamen secara terang-terangan di hadapan para utusan klan luar yang terus mengawasinya dengan pandangan tajam.

​Di atas panggung es, Wu Tian sama sekali tidak memberikan jeda semenit pun bagi lawannya untuk merenung. Menggunakan momentum dari ledakan serpihan naga es tadi, tubuh tegapnya menerobos badai salju yang pekat dengan kecepatan yang teramat liar.

​Gerakannya begitu tidak ortodoks, merangkak rendah lalu melesat maju layaknya seekor predator purba yang sedang mengincar mangsa di atas hamparan salju.

​Wu Xue terkesiap, ketenangannya sebagai "Bidadari Es" runtuh untuk pertama kali dalam hidupnya. Dengan panik, ia menghentakkan tangannya berulang kali, memanggil dinding-dinding es instan berlapis-lapis untuk membentengi dirinya dari laju Wu Tian.

​BUM! BUM! BUM!

​Namun, setiap dinding es tebal yang dipanggil Wu Xue tidak lebih dari sekadar tumpukan keramik murah di hadapan Wu Tian. Pemuda itu menghancurkan setiap rintangan murni dengan hantaman bahu dan sikunya tanpa mengurangi kecepatan melesatnya sedikit pun.

​Jarak di antara keduanya terkikis habis dalam hitungan detik. Wu Xue terpaksa merosot mundur hingga ke ujung tepi tebing panggung batu, napasnya yang semula anggun kini memburu tak teratur dengan keringat dingin yang mulai membasahi dahi cantiknya. Seringai gila Wu Tian kini telah membayang tepat satu jengkal di depan matanya.

​WUUUSH!

​Secercah angin kencang yang teramat tajam berembus kencang, memotong beberapa helai rambut hitam panjang Wu Xue saat kepalan tangan kiri Wu Tian mendadak berhenti tepat di udara, hanya berjarak beberapa senti dari ujung hidung mancung sang bidadari. Wu Tian tidak menghantamkan tinjunya ke wajah cantik itu.

​Di tengah badai salju yang perlahan mereda, sepasang mata hitam legam Wu Tian menatap lekat-lekat mata biru Wu Xue dengan binar predator yang sangat liar, namun sarat akan kendali mutlak yang dingin.

​"Kamu memiliki manifestasi es yang indah, Gadis Es," bisik Wu Tian dengan nada suara rendah yang parau, menggema jelas di telinga Wu Xue yang kini membeku tak berani bergerak.

​"Tapi tubuh fisikmu... terlalu rapuh untuk menahan benturan denganku. Menyerahlah sekarang, atau aku terpaksa meremukkan seluruh tulang di tubuh indahmu itu."

​Di tribun kehormatan atas, Tetua Agung Wu Cang sudah berdiri sepenuhnya dari singgasananya. Aura spiritual masif dari Ranah Fondasi Spiritual miliknya telah meledak pekat ke udara, siap untuk melakukan intervensi paksa jika Wu Tian berani menggerakkan jarinya sedikit saja.

​Keputusan yang akan diambil oleh Wu Xue di detik berikutnya akan menjadi penentu mutlak, apakah Koloseum Raksasa ini akan tetap menjadi arena turnamen, atau bergeser menjadi medan perang berdarah di antara para tetua tertinggi klan.

1
Mamat Stone
/Bomb//Bomb//Bomb/
Mamat Stone
/Cleaver//Cleaver//Cleaver/
Mamat Stone
/Casual/🤩/Casual/
Mamat Stone
🤩/CoolGuy/🤩
LanzT0k3
lanjut thor
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
y@y@
⭐👍🏿👍🏼👍🏿⭐
Mamat Stone
/Good/
Mamat Stone
/Ok/
Mamat Stone
/Good/
Mamat Stone
/Ok/
Iskandar Muda
bagus cerita ny simple padat
Mamat Stone
/Good/
Mamat Stone
/Ok/
Mamat Stone
/Hammer//Hammer//Skull/
Mamat Stone
😈👊👊
Mamat Stone
💪👊
Mamat Stone
/Ok//Good/
Agus Rose
kasih judul setiap bab nya biar lebih menarik.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!