"Saya terima nikahnya Yuna bin Adnan..."
Suara berat Labib saat mengucapkan kalimat itu tadi malam masih terngiang jelas di telinga Yuna. Pernikahan mendadak ini adalah wasiat terakhir almarhum ayahnya, sahabat karib Labib meskipun usia mereka terpaut jauh. Ayah Yuna tahu hidupnya tak lama lagi karena sakit, dan ia memercayakan putri tunggalnya pada satu-satunya pria yang ia tahu punya integritas tinggi: Labib.
"Yuna Anindya."
Suara berat itu memecah lamunan Yuna. Ia tersentak, mendongak, dan mendapati seisi kelas kini tengah berbalik menatapnya. Di depan sana, Labib sedang memegang daftar absensi, menatapnya lurus tanpa ekspresi ragu sedikit pun. Profesional. Seolah tadi malam ia tidak menyematkan cincin di jari manis Yuna.
"Ya, Pak. Hadir," sahut Yuna pelan, mengangkat tangannya sedikit.
Labib mengangguk sekilas, lalu beralih ke nama berikutnya tanpa jeda. Tidak ada perlakuan khusus. Memang itu yang Yuna inginkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayang-bayang Di Balik Studio
"Yun, buruan! Itu Pak Dimas udah jalan ke arah koridor kita!" seru Dinda panik begitu melihat sesosok dosen paruh baya dengan gulungan kertas cetak biru besar di ketiaknya melintas dari kejauhan.
Yuna yang baru saja meletakkan gelas es jeruknya langsung bergerak cepat. Mereka buru-buru membereskan kertas kalkir, laptop, dan diktat materi yang berantakan di atas meja kantin, lalu memasukkannya kembali ke dalam tas dengan tergesa-gesa. Peristiwa tentang Arsen Teknik Mesin yang sempat membuat jantung Yuna maraton seketika menguap, digantikan oleh kepanikan khas mahasiswa yang takut terkunci di luar kelas.
Mereka berlari kecil menaiki anak tangga menuju lantai dua, tempat Studio Gambar Utama berada. Tepat saat Yuna dan Dinda berhasil menyelinap masuk lewat pintu belakang, Pak Dimas—dosen pengampu Studio Gambar Siang itu—melangkah masuk dari pintu depan dengan wibawa penuh.
Brak.
Pintu kelas ditutup rapat. Yuna mengembuskan napas lega sambil mendudukkan diri di bangku tengah bersama Dinda. Suasana kelas yang semula bising dengan obrolan mahasiswa langsung senyap seketika begitu Pak Dimas meletakkan tasnya di atas meja.
"Selamat siang semuanya. Hari ini kita langsung lanjut ke asistensi mandiri untuk detail fondasi dan potongan melintang. Saya harap tidak ada yang membawa kertas kosong ke meja saya," ujar Pak Dimas dengan suara baritonnya yang tegas, membuat beberapa mahasiswa di barisan belakang langsung mengeluh pelan.
Yuna mengeluarkan kertas kalkir berukuran A3 dari tabung gambarnya. Tangannya yang sempat memar karena cengkeraman Labib tadi pagi kini sudah terasa jauh lebih mendingan berkat salep yang dioleskan suaminya. Saat ia mulai menggoreskan pensil mekaniknya di atas kertas, sebuah perasaan aneh mendadak menyergap hatinya.
Ia melirik ke arah jendela besar studio yang menghadap langsung ke arah gedung dekanat di seberang sana. Di salah satu ruangan ber-AC di gedung itu, Labib pasti sedang sibuk memimpin rapat koordinasi dengan para petinggi fakultas.
Yuna tersenyum tipis tanpa sadar. Baru beberapa jam yang lalu mereka terlibat pertengkaran hebat di ruang tamu rumah, lalu berakhir dengan kecupan di kening yang manis, dan kini mereka kembali ke realitas sebagai dosen dan mahasiswi yang harus berpura-pura tidak saling kenal di lingkungan kampus yang sama.
"Yun, lo nomor tiga belas udah dapet rumus pembebanannya belum?" bisik Dinda dari meja sebelah, membuyarkan lamunan Yuna.
"Eh? Udah kok. Ini, lo salin aja bagian koefisiennya," jawab Yuna cepat, menyodorkan buku catatannya sambil membuang jauh-jauh bayangan Labib dari kepalanya. Untuk tiga jam ke depan, ia harus fokus menjadi Yuna sang mahasiswi arsitektur, sebelum nanti sore kembali menjadi seorang istri yang dinanti kepulangannya.
Tiga jam berlalu dengan lambat di dalam ruang studio yang dipenuhi aroma tinta rapido dan serbuk penghapus. Pak Dimas berkeliling dari satu meja ke meja lain, memberikan coretan revisi dengan pulpen merahnya yang membuat beberapa mahasiswa menghela napas pasrah.
Yuna berusaha tetap fokus, meskipun sesekali ia harus menggerakkan pergelangan tangan kirinya yang masih terasa sedikit kaku. Beruntung, goresan garis proyeksinya siang ini cukup presisi, sehingga saat giliran asistensinya tiba, Pak Dimas hanya memberikan sedikit catatan di bagian arsir material.
"Kerja bagus, Yuna. Detailnya sudah rapi, tinggal rapikan ketebalan garisnya saja untuk minggu depan," puji Pak Dimas sebelum bergeser ke meja berikutnya.
"Makasih, Pak," jawab Yuna lega.
Ting.
Ponsel Yuna yang diletakkan di samping papan gambar bergetar pendek. Layarnya menyala, menampilkan satu pesan masuk dari kontak yang sama dengan tadi pagi.
Mas Labib:
Saya baru selesai rapat dekanat. Kuliah studionya selesai jam empat, kan? Jangan mampir ke mana-mana lagi. Langsung pulang ke rumah.
Yuna menggigit bibir bawahnya, menahan senyum geli yang tiba-tiba terbit di wajahnya. Sifat posesif dan pengatur suaminya itu ternyata tidak berkurang sedikit pun, bahkan setelah mereka berbaikan tadi pagi.
Ia dengan cepat mengetik balasan singkat sebelum Dinda sempat melirik layarnya.
Yuna:
Iya, Mas. Ini juga bentar lagi kelasnya selesai kok. Nggak bakal kabur lagi.
Tepat pukul empat sore, Pak Dimas akhirnya menutup perkuliahan. Suara gemuruh mahasiswa yang membereskan peralatan gambar langsung memenuhi ruangan. Yuna dan Dinda berjalan beriringan keluar dari gedung fakultas menuju area parkir yang mulai teduh oleh bayangan pohon-pohon besar kampus.
"Duh, pegel banget encok pinggang gue," keluh Dinda sambil meregangkan kedua tangannya ke atas. "Yun, lo beneran langsung pulang? Nggak mau nyari boba dulu gitu depan gerbang?"
"Nggak deh, Din. Gue... gue ada urusan di rumah, ibu minta tolong sesuatu," kilah Yuna, lagi-lagi terpaksa menggunakan alibi demi menyembunyikan statusnya.
"Ya udah deh, hati-hati ya bumil—eh, maksud gue bu bos arsitek!" canda Dinda asal-asalan sambil melambaikan tangan menuju motor matic-nya.
Yuna tertawa kecil lalu masuk ke dalam mobil City Car putihnya. Namun, baru saja ia menyalakan mesin dan hendak memundurkan mobil dari slot parkir, pandangannya tidak sengaja menangkap sesosok pria tegap yang sedang berjalan di selasar seberang parkiran.
Itu Labib. Pria itu tampaknya baru saja keluar dari gedung dekanat menuju mobil sedan hitamnya sendiri.
Tapi langkah Yuna mendadak terhenti ketika melihat ada orang lain yang berjalan cepat menyusul Labib dari belakang. Bu Citra. Wanita itu tampak memanggil Labib, membuat suaminya menghentikan langkah dan berbalik menatap dosen muda itu. Dari dalam mobilnya, Yuna bisa melihat Bu Citra menyodorkan sebuah paper bag kecil berwarna cokelat dengan senyuman manis yang sama seperti kemarin.