Dia Aisyah, seorang santriwati di pesantren tempatku mengajar. Gadis anggun nan jelita, yang mampu membuatku terpana pada saat jumpa pertama. Bukan karena kecantikan wajahnya yang membuatku kagum, tapi ketaatan pada-Nya lah yang mampu membuatku ingin selalu dekat dengannya.
Cerita ini hanya fiksi ya, hanya merupakan pemikiran dari author. Jangan lupa like, comment, and vote ya. Author akan sangat berterima kasih untuk hal itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erisna Aisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Aisyah Kenapa?
Saat bunga cinta tengah bermekaran, menebar semerbak wangi bahagia dalam jiwa, aku pun terbawa suasana. Ikut mengarungi kebahagiaan itu di dalamnya. Hingga tanpa sadar, ada orang yang tengah merasa kesakitan di sini. Di jajaran para santri, yang tengah menyemarakkan suasana pernikahan sang putri Kyai.
Ya, hari ini adalah hari pernikahan Ning Zahra. Kulihat Gus Ilyas terlihat murung, sambil memandangi wajah Aisyah yang terlihat sumringah di seberang sana, bersama beberapa santriwati lainnya. Yang tengah menyiapkan jamuan untuk para tamu undangan.
Sebenarnya aku tidak suka melihatnya menatap Aisyah dengan begitu lekat, tapi aku juga merasa kasihan padanya. Jadi kubiarkan saja kali ini, tapi tidak akan, kalau kami sudah menikah nanti.
Ah, membayangkan kami menikah, seperti apa ya? Apa mungkin akan semeriah ini?
Berbagai tamu undangan datang dari luar dan dalam kota. Mulai dari teman lama Abah Yai, hingga para wali santri yang ikut merasakan kebahagiaannya, dengan sekalian mengunjungi putra putri mereka.
Ijab qobul sudah dilaksanakan pagi tadi. Malam ini adalah puncak acaranya. Yaitu penampilan marawis dari pasantren kami, dan juga grup marawis dari pesantren suami Ning Zahra. Akan diadakan kolaborasi keduanya juga.
Mungkin akan menjadi acara paling meriah, yang pernah kusaksikan. Karena sebelumnya, aku memang paling anti dengan acara-acara seperti ini.
Saat aku tengah mempersiapkan alat untuk tampil di panggung, tiba-tiba ada seorang wanita menyapaku.
"A Yusuf? Kamu ... betul-betul Aa Yusuf 'kan?"
Dia terus saja mengamati wajahku, kemudian beralih ke ujung kepala hingga kaki. Dia ... terlihat begitu familiar. Tapi siapa?
"Masyaa Allah, nggak nyangka ya, ternyata A Yusuf mondok di sini," ucapnya, sok akrab.
Aku pun hanya tersenyum, kemudian mengangguk sebagai jawaban. Memang dia siapa?
"Gimana kabar Aa? Silvi teh kangen pisan sama suara adzan Aa."
Oh iya, dia Silvi. Putri Almarhum Kyai Ilham, guruku waktu pertama kali mondok dulu, sebelum masuk pesantren ini.
Dia memang terlalu centil, hingga kurasa dia tidak pantas menyandang gelar Ning. Berbeda dengan kakaknya, yang begitu kalem dan shalihah. Ah, mengingat itu, rasanya ada yang berdenyut di sini. Sakit.
"Alhamdulillah, kabar saya baik," jawabku, tak ingin basa basi.
"A Yusuf sekarang jauh lebih dewasa ya, berbeda dengan yang dulu. Apa lagi waktu pertama kali datang ke pondok sama Teh Irma, keliatan gaul pisan." Ucapnya, keliatannya dia memang ingin mengobrol lama denganku.
"A Yusuf tau nggak, kalau sekarang Teh Irma sedang mengandung anak keduanya? Kelihatan bahagia banget lagi, selalu mesra sama suaminya. Aku juga kadang iri liatinnya. Jadi pengen cepat-cepat nikah, tapi belum ada yang lamar."
Hah, lagi-lagi dia menyebut namanya. Nama yang selama ini selalu ingin kuhilangkan dari ingatan. Mendengar dia hidup bahagia, rasanya hati ini lega. Tapi terasa perih juga.
Apa mungkin, masih ada setitik rasa yang tersisa untuknya? Aku rasa tidak. Semua rasa yang kumiliki, kini sudah kuberikan sepenuhnya pada Aisyah. Mungkin hanya sedikit rindu pada seorang sahabat. Ya, itu tidak mungkin lebih.
Aku pun hanya diam mendengarkan semua celotehan Silvi, tanpa ingin menanggapinya berlebihan.
Tanpa sadar, ekor mata ini menangkap bayangan Aisyah. Aku pun menoleh, mendapatinya tengah mengusap sudut mata. Kemudian segera berpaling, saat aku mencoba tersenyum padanya. Dia kenapa?
Perasaanku tidak enak. Aku pun ingin segera menemuinya, tapi terhalang oleh si centil ini.
"A Yusuf mau kemana? Silvi teh belum selesai cerita. A Yusuf mau tau kan, kenapa Silvi bisa di sini. Itu karena, Aa Azka teh sepupunya Silvi. Jadi kami sekeluarga kesini, kecuali Teh Irma. Dia kan kandungannya udah besar, jadi takut kenapa-napa diperjalanan. Jadi nggak ikut deh." Cerocosnya, panjang lebar.
Aku pun segera melirik tangannya yang sedari tadi meraih tanganku, kemudian menatap matanya tajam.
"Sudah selesai? Aku harap, kamu menjaga kelakuanmu, Ning. Aku bukan mahrommu!" Ucapku, tegas.
Dia pun segera melepas tangannya, kemudian aku segera berlalu. Masih terdengar sayup-sayup suaranya memanggilku, mengucapkan kata maaf. Tapi segera tenggelam oleh obrolan para tamu dan santri yang memenuhi tempat acara, dan juga seiring menjauhnya langkah kakiku.
Ah, Aisyah. Sebenarnya kamu kenapa?
Telah kucari disemua sudut tempat, tapi tak kudapati juga dirinya. Ini adalah pertama kalinya aku melihat dia seperti ini. Tapi wajar, karena memang sebelumnya kami hanya bertemu beberapa kali. Itu pun tidak pernah dalam acara seramai ini.
Kulihat Salma tengah menata kue, aku pun segera menghampirinya.
"Sal, kamu lihat Aisyah tidak?" tanyaku, dia menoleh.
"Ah, Ustadz Yusuf, kirain siapa. Nyari Aisyah, ya? Tadi katanya kurang enak badan, jadi kusuruh istirahat saja di asrama. Memangnya kenapa, Ust?"
"Tidak apa-apa. Makasih ya," ucapku, kemudian segera berlalu tanpa menunggu jawabannya.
Aisyah. Sebenarnya kamu kenapa?
***
Bersambung
Ada solusi terindah thor selain poligami.