Hari pertama bekerja seharusnya menjadi awal yang sempurna bagi Naira Putri Prameswari. Namun semua rencananya berantakan ketika tanpa sengaja ia menumpahkan segelas kopi ke jas seorang pria asing yang dingin dan menyebalkan. Masalahnya, pria itu ternyata adalah Arga Mahendra Wijaya—CEO perusahaan tempat Naira baru diterima bekerja. Sejak saat itu, setiap pertemuan mereka selalu diwarnai adu mulut, sindiran, dan kekacauan yang mengundang tawa. Naira menganggap Arga terlalu kaku dan perfeksionis, sementara Arga merasa Naira adalah sumber masalah yang tak pernah habis. Takdir rupanya punya selera humor. Sebuah proyek penting memaksa mereka bekerja dalam satu tim. Semakin sering bersama, semakin banyak sisi lain yang mereka temukan. Di balik sikap dingin Arga tersimpan perhatian yang tulus, sementara di balik kecerobohan Naira ada hati yang hangat dan selalu membawa warna. Saat kebencian perlahan berubah menjadi rasa nyaman, masa lalu Arga datang menguji hubungan mereka. Mampukah mereka mengalahkan ego, atau justru kembali menjadi dua orang yang saling menyakiti? Karena terkadang, orang yang paling membuat kita emosi adalah orang yang paling sulit kita lepaskan. ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seranovelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5 - Orang Pertama yang Datang
Suara mesin mobil terdengar samar di pelataran rumah sakit.
Nadira menutup pintu mobil dengan tergesa. Langkahnya cepat menyusuri lorong Instalasi Gawat Darurat. Tas kerjanya masih menggantung di bahu, bahkan name tag kantor belum sempat dilepas.
Di ujung lorong, ia melihat ibunya duduk di bangku panjang sambil menggenggam tas kecil.
"Ma..."
Ibunya langsung berdiri.
"Nadira."
Tanpa banyak bicara, Nadira memeluk wanita itu.
"Gimana keadaan Papa?"
"Alhamdulillah sudah lebih baik. Tadi di kantor Papa tiba-tiba pusing, terus sempat pingsan."
"Dokter bilang apa?"
"Tekanan darahnya tinggi sekali. Harus dirawat dulu."
Nadira mengembuskan napas lega meski dadanya masih sesak.
"Syukurlah..."
Air matanya nyaris jatuh, tetapi ia tahan.
Ia tidak ingin ibunya ikut semakin panik.
---
Beberapa menit kemudian, dokter keluar dari ruang pemeriksaan.
"Keluarga Pak Hendra?"
"Saya, Dok."
Dokter tersenyum tipis.
"Kondisinya sudah stabil. Tidak ada serangan jantung ataupun stroke. Tapi beliau kelelahan dan tekanan darahnya sangat tinggi."
"Berbahaya, Dok?"
"Kalau dibiarkan, bisa berbahaya."
Nadira mengangguk pelan.
Ia tahu persis penyebabnya.
Ayahnya selalu memaksakan diri bekerja.
Kalau diminta istirahat, jawabannya selalu sama.
*"Nanti saja."*
---
Setelah diizinkan masuk, Nadira melihat ayahnya berbaring dengan infus di tangan.
"Hai."
Suara ayahnya masih terdengar pelan, tetapi tetap berusaha tersenyum.
"Nak, kok mukanya kusut begitu?"
Nadira langsung mencubit pelan lengan ayahnya.
"Papa masih sempat bercanda?"
"Kalau Papa serius terus nanti kamu tambah takut."
"Malah bikin kesel."
"Berarti Papa berhasil."
Nadira menggeleng sambil tertawa kecil.
Rasa kesalnya perlahan berubah menjadi lega.
"Papa bikin Nadira panik."
"Iya, maaf."
"Besok-besok kalau capek bilang."
"Iya."
"Kalau pusing?"
"Iya."
"Kalau kerja kebanyakan?"
Ayahnya melirik istrinya.
"Mama kamu yang nyuruh."
"Malah nyalahin Mama."
Suasana kamar yang tadi tegang perlahan mencair.
---
Di luar kamar, Nadira membeli dua botol air mineral dari mesin penjual otomatis.
Saat kembali ke lorong, langkahnya berhenti.
Seseorang sedang berdiri di dekat ruang perawat.
Kemeja putihnya kini sedikit kusut.
Lengan bajunya masih tergulung.
Arga.
"Ngapain kamu di sini?"
Arga memasukkan ponselnya ke saku.
"Tadi kamu pergi buru-buru."
Nadira masih menatapnya bingung.
"Aku khawatir."
"Hah?"
"Aku tanya Pak Dimas alamat rumah sakitnya."
Nadira benar-benar tidak menyangka.
"Kamu... ke sini?"
"Iya."
"Hanya buat memastikan?"
Arga mengangguk.
"Om gimana?"
"Sudah stabil."
"Syukurlah."
Hening beberapa detik.
Nadira memperhatikan wajah Arga.
Ada lelah di sana.
Seolah ia langsung berangkat dari kantor tanpa sempat pulang.
"Kamu sudah makan?"
Arga menggeleng.
"Belum."
"Nggak usah bohong."
"Bener."
"Kok bisa?"
"Tadi buru-buru."
Nadira menghela napas.
"Ya sudah."
Ia menyerahkan satu botol air mineral.
"Ini."
Arga menerimanya sambil tersenyum.
"Terima kasih."
"Itu cuma air."
"Yang penting dikasih sama orang."
Nadira spontan memutar bola mata.
"Kamu memang nggak bisa serius terus ya?"
"Bisa."
Senyum Arga perlahan menghilang.
"Aku cuma nggak mau kamu tambah kepikiran."
Kalimat itu membuat Nadira terdiam.
Ia baru sadar.
Sejak datang ke rumah sakit, belum ada seorang pun dari kantor yang menghubunginya selain pesan singkat dari Pak Dimas.
Tetapi Arga...
Datang langsung.
---
Malam mulai larut.
Mama Nadira meminta putrinya pulang lebih dulu untuk beristirahat.
"Besok gantian sama Mama."
"Nggak apa-apa, Ma."
"Kamu juga kerja."
Nadira akhirnya mengangguk.
Saat keluar dari rumah sakit, hujan rintik-rintik kembali turun.
"Aku antar."
Suara Arga terdengar dari belakang.
"Nggak usah."
"Motor kamu masih di kantor."
Nadira baru ingat.
Benar.
Tadi ia datang bersama Arga tanpa sempat berpikir panjang.
Ia menatap pria itu beberapa saat.
"Lain kali jangan langsung ambil keputusan sendiri."
"Maksudnya?"
"Ngantar aku."
Arga mengangguk pelan.
"Maaf."
"Tapi..."
Nadira berhenti sejenak.
"...terima kasih."
Arga tersenyum.
"Kalimat itu akhirnya keluar juga."
"Jangan besar kepala."
"Nggak."
Mereka berjalan berdampingan menuju parkiran.
Untuk pertama kalinya, tidak ada adu mulut.
Tidak ada sindiran.
Hanya langkah kaki yang terdengar bergantian di antara rintik hujan.
---
Di dalam mobil, jalanan malam terlihat lengang.
Radio memutar lagu lawas dengan volume kecil.
Nadira memandang keluar jendela.
"Ayahmu dulu seperti apa?"
Pertanyaan itu keluar begitu saja.
Arga tidak langsung menjawab.
"Beliau orang yang paling cerewet di rumah."
"Cerewet?"
"Iya."
"Kalau aku pulang malam, dimarahin."
"Kalau lupa makan, dimarahin."
"Kalau motor kotor, dimarahin."
Arga tersenyum kecil.
"Dulu aku sering kesal."
"Lalu?"
"Setelah beliau nggak ada..."
Ia menarik napas pelan.
"...baru sadar, ternyata dimarahin itu juga bentuk sayang."
Mobil kembali hening.
Nadira menunduk.
Ia membayangkan ayahnya yang beberapa jam lalu terbaring di ranjang rumah sakit.
Tanpa sadar, matanya kembali berkaca-kaca.
Arga tidak mengatakan apa pun.
Ia hanya mengecilkan volume radio dan membiarkan keheningan menemani perjalanan.
Kadang, kehadiran seseorang jauh lebih berarti daripada banyaknya kata-kata.
Saat mobil berhenti di depan rumah Nadira, gadis itu belum langsung turun.
"Arga."
"Hm?"
"Terima kasih... sudah datang ke rumah sakit."
Arga tersenyum hangat.
"Kita kan partner."
Nadira menggeleng pelan.
"Kurasa... sekarang bukan cuma karena itu."
Tatapan mereka bertemu sesaat.
Tak ada yang melanjutkan kalimat tersebut.
Namun untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, tembok di hati Nadira mulai runtuh sedikit demi sedikit.
Dan tanpa mereka sadari, hubungan yang awalnya dipenuhi rasa kesal mulai berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih rumit.
**Bersambung ke Episode 6...**