Demi uang, Asia menerima tawaran menikah kontrak dengan Kapten Hugo, seorang tentara yang mengalami kelumpuhan parsial karena cidera tugas. Baginya pernikahan itu hanyalah jalan tercepat untuk melunasi utang seratus juta rupiah yang ditinggalkan ayahnya setelah kabur karena kalah berjudi.
Namun ia harus menjadi ibu tiri bagi putra bungsu yang super aktif dan sulit dikendalikan. Serta putri kelas 3 SMP yang membencinya karena merasa Asia telah menggantikan posisi mendiang ibunya.
Asia tak berniat menjadi istri yang baik atau ibu yang penyayang. Targetnya hanya satu: mengumpulkan uang sebanyak mungkin, lalu pergi saat kontrak pernikahan berakhir.
Hanya saja, keluar dari keluarga itu ternyata jauh lebih sulit daripada masuk ke dalamnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 1
"Hei! Berhenti!"
Teriakan berat itu membuat Asia semakin memacu langkahnya menyusuri trotoar jalan besar sore itu. Napasnya tersengal karena berusaha keras untuk lolos dari dua pria itu.
Aku tidak boleh tertangkap, tekad Asia sambil terus berlari.
Di belakangnya derap langkah sepatu bot terdengar semakin mendekat. Dua pria berbadan kekar terus membuntutinya. Mereka adalah suruhan rentenir yang berniat menangkapnya hidup-hidup.
"Jangan lari! Berhenti!" seru pria satunya lagi dengan nada tinggi. Orang-orang di trotoar yang mendengarnya hanya melirik sekilas lalu mengabaikannya. Mengira itu bukan urusan mereka.
Jika tertangkap sore ini, Asia tahu dia habis. Dengan mata liar mencari celah untuk lolos, dia nekat melompat ke aspal jalan raya. Bermaksud menyeberang zigzag demi memotong jarak dan menghilang di gang seberang. Jalan lintas kota itu sore ini memang sepi pejalan kaki, namun kendaraan besar kerap melintas dengan kecepatan tinggi.
Di saat yang sama tidak jauh dari posisi Asia, Kapten Hugo dan putranya yang berumur enam tahun sedang berniat ke fast food bersama-sama. Bocah bernama Nero itu sudah merengek sejak siang karena ingin makan ayam krispi yang sering lewat di iklan ponselnya. Ada mainan dalam paket ayam krispi itu.
Hugo sudah membelikan lewat online, tapi bocah itu menolaknya. Bahkan hampir melempar satu kotak besar ayam krispi itu ke lantai karena stok mainan habis. Namun bibi pelayan berhasil menangkapnya.
Nero marah karena ingin beli diluar. Bukan tidak mau, tapi Hugo masih sibuk. Meski dia tentara yang lumpuh, tapi tugasnya tidak sedikit.
Hugo akhirnya menuruti kemauan anaknya dengan didampingi oleh ajudannya, Sersan Dua, Gilang. Hari ini libur dinas. Kebetulan restoran yang mereka tuju adalah area lantai dasar sebuah mall di pinggir jalan tersebut.
Namun membawa Nero keluar rumah selalu butuh tenaga ekstra. Sejak ibunya meninggal dua tahun lalu, Nero tumbuh menjadi anak yang terlampau aktif dan gemar bertingkah sesukanya demi mencari perhatian.
"Mau ayam sekarang, Papa! Mau mainan robotnya juga! Nanti keburu habis!" rengek Nero kencang sambil menarik-narik seragam santai Gilang. Wajahnya cemberut dengan air mata yang sengaja dibuat-buat agar permintaannya cepat dituruti.
"Iya. Kamu harus tenang dulu," pinta Hugo.
"Tidak! Itu cepat habis! Kita harus cepat!" Tubuh Nero bergerak-gerak kesal.
"Iya, ini kita mau ke tempat ayam krispi yang kamu mau. Kita jalan pelan-pelan tidak boleh mengebut," ujar Gilang sambil mengemudi membantu menenangkan.
Nero malah berteriak. "Enggak mau pelan-pelan! Mau sekarang!" pekik bocah itu makin menjadi-jadi.
"Jangan manja Nero," ujar Hugo dengan tekanan dalam. Dia yang duduk di samping Nero berusaha sabar. Namun pada akhirnya tidak tahan.
Gilang paham apa yang membuat atasannya keras. Menghadapi dua anak tanpa ibu sungguh melelahkan. Meskipun ada pengasuhnya, tapi Neto tidak bisa ditangani sembarang orang.
Begitu mobil dinas diparkir di area luar. Nero tiba-tiba berlari saat pria itu ingin membantu Hugo turun.
"Nero!" Gilang sadar.
Bukannya masuk ke restoran ayam, bocah itu justru berlari kencang menuju pintu masuk mall yang ramai oleh pengunjung sambil terus berteriak, "Mau robot! Mau robot!"
"Nero! Berhenti!" panggil Gilang panik.
Kepala Hugo pening saat melihat tubuh mungil Nero mulai tenggelam di antara kerumunan pengunjung mall yang padat. "Nero!" panggilnya.
Bocah itu tidak peduli.
Gilang tidak punya pilihan. Jika dibiarkan sedetik saja, anak itu bisa hilang di dalam gedung bertingkat tersebut. Gilang terpaksa melepaskan pegangan pada kursi roda Hugo yang sudah turun.
"Mohon izin, Kapten, saya kejar Nero dulu!" serunya sebelum berlari kencang masuk ke area mall.
Hugo menghela napas memutuskan untuk menggerakkan kursi roda hidroliknya sendiri. Dia tidak ingin terlihat payah hanya karena harus menunggu ajudannya.
Namun malapetaka justru terjadi.
Akibat hentakan di kontur semen jalan yang tidak rata, sistem hidrolik kursi roda yang dinaiki Hugo mendadak mengalami malfungsi. Sistem keamanannya macet dan langsung mengunci kedua roda secara otomatis tepat di pinggir mobil yang kurang aman.
Hugo mencoba memutar paksa roda dengan kedua tangannya yang kekar. Tapi tuas besi di bawahnya tetap mati kutu.
Saat itu Asia memotong jalan raya dan berpapasan langsung dengan posisi Hugo.
Melihat pria lumpuh sendirian di dekat mobil, membuat Asia menoleh. Itu berbahaya. Dia tidak ingin menolong karena dia juga dalam keadaan terjepit. Tapi radar kemanusiaannya menyala.
Sialan. Aku juga butuh pertolongan, Ya Tuhan!
Asia mendadak membelok arah larinya. Lalu berdiri di belakang kursi roda Hugo. Ia yakin ada yang salah dengan kursi roda. Asia menunduk melihat ke arah kursi roda. Ternyata tuas hidrolik macet. Ia menggunakan ujung sepatunya untuk menendang tuas itu.
Begitu kunci terbuka, Asia mencengkeram pegangan besi dan mendorong pria bertubuh tegap itu sekuat tenaga menuju tempat yang ia anggap lebih aman.
Hugo tertegun di atas kursi rodanya. Dia baru saja hendak membuka mulut untuk berterima kasih, tapi suara dari ujung jalan kembali terdengar menuntut.
"Berhenti kamu!" Kedua pria kekar itu menemukan Asia. Wajah Asia memucat.
"Sialan," geram Asia kesal dan lelah. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun dia langsung berlari kencang lagi.
Hugo menyaksikan para pria itu berlari melewatinya dan mengejar wanita yang membantunya.
Perhatiannya teralih saat Gilang baru berlari keluar dari area mall dengan napas terengah-engah sambil menggendong Nero yang menangis karena tertangkap.
Nero masih merengek kesal di pundak Gilang dengan suara parau, "Nggak mau pulang! Aku mau kesana!"
Wajah ajudan itu seketika pucat pasi melihat posisi Hugo sudah bergeser dengan kursi roda yang rusak.
"Anda tidak apa-apa, Kapten?! Mohon maafkan kelalaian saya!"
"Aku tidak apa-apa. Turunkan dia," perintah Hugo. Dia mengalihkan pandangan ke putranya.
Gilang langsung menurunkan Nero tanpa mengendorkan pengawasan. Bocah itu cemberut. Dia melipat tangannya di dada dengan wajah kesal karena tidak dibela.
"Nero," sebut Hugo. Matanya menatap tajam ke arah putranya. "Apa yang kamu lakukan barusan?" tegur Hugo tegas. Suaranya yang berat membuat suasana di sekitar mereka langsung terasa dingin.
Nero balas menatap papanya tapi kemudian melihat ke arah lain. Bocah itu mulai merasa terintimidasi oleh sorot mata ayahnya.
"Jawab, Nero," desak Hugo. Pria itu menuntut jawaban langsung dan tidak suka diabaikan.
"Aku hanya mau bermain," sahut Nero tidak mau salah. Dia memalingkan mukanya, masih mencoba mencari alasan untuk membela diri.
"Bermain itu harus aman dan dalam pengawasan. Sudah berapa kali papa bilang kamu harus patuh," kata Hugo mengingatkan lagi pesan-pesan yang pernah dikatakan. Hugo ingin mendidik anaknya agar tidak ceroboh di tempat umum.
Bibir Nero manyun, tapi dia memilih diam tanpa membantah lagi. Dia tahu kalau papanya sudah mengeluarkan nada bicara seperti itu, dia tidak bisa menang.
Bruk!
Suara debugan terdengar. Hugo dan Gilang menoleh. Keributan itu menarik perhatian mereka dari arah luar gerai.
"Kamu enggak mau, bayar hah?!" bentak seorang pria berwajah sangar yang tampaknya sedang menagih sesuatu dengan paksa.
"Itu bukan hutangku." Suara seorang wanita terdengar bergetar namun mencoba menahan rasa takutnya.
"Itu milik ayahmu, Bodoh!" Pria itu menarik rambut wanita yang menolong Hugo tadi. Orang-orang yang melintas hanya melihat saja. Membantu orang lain kadang jadi tersangka memang.
Sesaat Nero yang lihat itu mendekat ke arah papanya. Meski ia nakal, tapi mentalnya masih bocah. Bocah ini takut. Tubuh kecil Nero gemetar melihat aksi kekerasan fisik di depan matanya.
Mata Hugo masih hapal dengan wajah wanita itu. Pria itu memiliki ingatan yang kuat, terutama pada orang yang pernah berinteraksi dengannya.
"Dia wanita yang membantu saat kursi rodaku macet, Gilang. Bantu dia," perintah Hugo tiba-tiba. Dia tidak bisa tinggal diam melihat orang yang pernah menolongnya berada dalam bahaya.
"Siap, Kapten." Gilang menjawab dengan sigap dan langsung melangkah lebar untuk mengambil tindakan.