Tiga puluh tahun Liana Liem mengabdikan hidupnya untuk keluarga suaminya. Memasak, merawat mertua lumpuh, membesarkan anak — sampai tubuhnya aus dan hatinya kering.
Di usia lima puluh, ia menemukan kenyataan yang menghancurkan: suaminya, Albert Phua, telah berselingkuh selama sebelas tahun. Ada wanita lain. Ada anak lain.
Liana memilih cerai.
Tanpa uang, tanpa pengalaman kerja, tanpa tempat tinggal — Liana memulai hidup dari nol. Tapi takdir punya rencana lain. Sebuah kebaikan kecil membawanya masuk ke dunia Loh Group, konglomerat terbesar di Jakarta. Dan di sana, ia bertemu bosnya: Edwin Loh — pria yang ternyata sudah menunggunya selama tiga puluh tahun.
Tapi rahasia terbesar bukan soal cinta.Kevin, anak angkat Edwin yang selama ini memanggil Liana "Bu" — mungkinkah dia adalah. Lele, putra kandung Liana yang hilang dua puluh tahun lalu?
Siapa yang mencuri anaknya? Siapa yang merusak jodohnya? Dan apakah di usia lima puluh, takdir masih bisa memberikan keadilan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34
Bab 34: Test Drive
Keesokan paginya, Edwin menjemput Liana sendiri di lobi Golden Crown.
Tidak ada Arman. Tidak ada sopir. Mobil hitam Edwin berhenti tepat di depan pintu kaca, dan pria itu turun untuk membukakan pintu penumpang seolah itu hal paling wajar di dunia.
Liana masih memegang tas kerja ketika masuk. "Pak Edwin belum bilang kita mau ke mana."
"Dealer mobil."
Liana menoleh cepat. "Dealer mobil?"
"Kamu sekarang bolak-balik antara kantor, yayasan, pengacara, dan Golden Crown. Setelah dua insiden terakhir, saya tidak mau kamu selalu bergantung pada taksi online."
Nada Edwin terdengar seperti rapat anggaran.
Justru itu yang membuat Liana semakin curiga. "Pak Edwin, kalau ini soal mobil untuk saya, saya tidak bisa menerima."
"Ini kendaraan kerja."
"Kendaraan kerja biasanya tidak dipilih di dealer mewah."
Edwin meliriknya sekilas. "Kendaraan kerja yang aman perlu dipilih dengan benar."
"Tetap saja terlalu mahal."
"Lebih murah daripada memperbaiki masalah kalau kamu dicegat orang yang salah."
Liana terdiam. Cara Edwin memutar semua perhatian menjadi alasan logis kadang membuatnya tidak tahu harus marah atau tersenyum.
Dealer mobil itu berada di area SCBD, lantainya mengilap, dinding kacanya tinggi, dan beberapa SUV hybrid berdiri seperti benda pameran. Seorang sales consultant menyambut mereka dengan senyum sangat terlatih. Begitu mengenali Edwin, sikapnya makin rapi.
"Selamat pagi, Pak Edwin. Unit yang Bapak minta sudah kami siapkan."
Liana menatap Edwin. "Bapak sudah minta unit?"
"Supaya tidak membuang waktu."
"Pak Edwin."
"Kamu tetap boleh menolak setelah mencoba."
Kalimat itu terdengar adil, tetapi Liana tahu ia sedang dipandu masuk ke jalan yang sudah Edwin pilihkan dengan sangat rapi.
Sales membawa mereka ke sebuah SUV putih mutiara. Tidak terlalu besar, tetapi kokoh. Interiornya krem muda, dashboard sederhana, dan kursi pengemudi bisa diatur rendah. Liana berdiri di samping mobil itu, menyentuh pintunya dengan ragu.
"Saya sudah lama tidak menyetir sendiri," katanya.
"SIM A kamu masih aktif?"
"Masih. Tapi selama ini Albert yang memakai mobil. Aku paling hanya memindahkan dari garasi."
"Berarti bukan tidak bisa. Hanya tidak diberi ruang."
Jawaban itu membuat Liana menoleh.
Edwin tidak menatapnya dengan kasihan. Ia hanya membuka pintu pengemudi.
"Coba duduk."
Liana duduk di balik kemudi. Bau kulit baru dan pendingin kabin membuatnya sedikit gugup. Tangannya memegang setir terlalu kaku.
Edwin duduk di kursi penumpang. Untuk pria yang biasa memegang keputusan perusahaan bernilai triliunan, ia tampak anehnya sabar menghadapi Liana yang mencari tombol pengatur kursi.
"Yang kiri untuk maju mundur. Yang kanan untuk sandaran."
"Aku tahu."
"Kursimu terlalu jauh."
"Aku sedang mencari."
"Kalau kaki kamu terlalu lurus, remnya tidak nyaman."
Liana menahan napas, lalu tertawa kecil. "Pak Edwin, ternyata Bapak cerewet juga."
Edwin diam sebentar. "Saya menyebutnya detail."
"Tentu. Detail."
Sales consultant yang duduk di belakang pura-pura tidak mendengar, tetapi senyumnya hampir bocor.
Rute test drive tidak jauh, hanya memutar area sekitar gedung perkantoran. Liana menginjak pedal gas terlalu pelan pada awalnya. Mobil bergerak halus. Edwin tidak mengambil alih, tidak mengoreksi setiap detik, hanya memberi petunjuk singkat saat diperlukan.
"Ambil kanan setelah lampu."
"Jangan lihat spion terlalu lama."
"Bagus. Rem pelan."
Kata bagus itu sederhana, tetapi telinga Liana menangkapnya terlalu jelas.
Di rumah Phua, Albert selalu berkomentar kalau ia melakukan sesuatu terlambat, terlalu pelan, kurang rapi. Bahkan saat Liana memasak pun, pujian paling baik hanya berupa piring kosong. Di kursi pengemudi ini, untuk hal sekecil belokan yang cukup halus, Edwin menyebutnya bagus.
Liana menggenggam setir sedikit lebih mantap.
"Ternyata tidak semenakutkan itu," katanya.
"Kebanyakan hal memang begitu setelah dicoba."
"Termasuk mulai hidup lagi?"
Edwin menatap jalan di depan. "Terutama itu."
Udara di kabin tiba-tiba terasa lebih sunyi, tetapi bukan sunyi yang canggung. Liana merasakan senyum kecil di bibirnya dan tidak cepat-cepat menyembunyikannya.
Ponselnya berdering.
Nama Hendra muncul di layar.
Liana ragu sebentar, lalu menepikan mobil sesuai arahan Edwin sebelum menerima panggilan.
"Halo, Pak Hendra."
Di kursi penumpang, Edwin menoleh ke luar jendela.
Suara Hendra terdengar samar dari speaker ponsel. "Liana, maaf mengganggu. Saya cuma mau memastikan semalam kamu sampai rumah dengan aman. Hujannya deras sekali."
"Saya sampai dengan aman. Terima kasih sudah menanyakan."
"Syukurlah. Kalau nanti butuh bantuan untuk urusan kampus atau Jayden, kabari saya ya."
"Baik, Pak Hendra. Saya sedang di jalan. Nanti kita bicara lagi."
Ia memutus panggilan.
Ketika Liana menoleh, wajah Edwin tidak berubah. Justru karena tidak berubah, suasana di mobil berubah.
"Itu tadi siapa?" tanyanya.
Nadanya datar.
Terlalu datar.
"Pak Hendra. Rekan Albert di UI. Kemarin dia sempat mengantar saya saat hujan."
"Dia sering menelepon?"
"Tidak sering." Liana berhenti sebentar. "Dia orang baik."
Edwin tidak menjawab.
Setelah test drive selesai, Edwin mengambil alih kemudi untuk kembali ke dealer. Tangannya di setir terlihat tenang, tetapi buku jarinya sedikit lebih putih dari biasanya.
Liana memperhatikan itu.
Ia tahu Edwin bukan pria yang banyak bertanya tentang urusan pribadi orang lain. Ia juga bukan tipe yang mudah menunjukkan emosi. Namun setelah nama Hendra disebut, udara di antara mereka menjadi lebih dingin beberapa derajat.
Apakah ia sedang... cemburu?
Pikiran itu membuat wajah Liana hangat.
Tidak mungkin, bantahnya dalam hati.
Tetapi bantahan itu lemah.
Di dealer, Edwin menyelesaikan dokumen dengan cepat. Liana masih mencoba menolak saat mendengar unit itu akan disiapkan untuknya minggu depan.
"Pak Edwin, sungguh, aku tidak nyaman menerima fasilitas sebesar ini."
"Kalau kamu tidak nyaman, anggap ini kendaraan kantor atas nama Loh Group. Kamu pakai selama masih perlu mobilitas tinggi. Kalau nanti kamu ingin mengembalikan, kembalikan."
"Dan kalau aku tetap merasa berutang?"
Edwin menatapnya. "Bayar dengan tetap hidup aman."
Liana kehabisan kata.
Sore menjelang ketika Edwin mengantar Liana kembali ke Golden Crown. Mobil berhenti di depan lobby. Biasanya Edwin akan menunggu sampai ia masuk, lalu langsung pergi. Kali ini ia menurunkan kaca jendela setelah Liana turun.
"Liana."
Ia menoleh.
Edwin tampak ingin mengatakan sesuatu, tetapi kalimat itu lagi-lagi berhenti sebentar di belakang matanya.
Akhirnya ia hanya berkata, "Hati-hati sama orang yang belum jelas maksudnya."
Liana tahu ia tidak sedang bicara tentang Rudi atau Boonwen.
"Pak Hendra?"
Edwin tidak menyangkal. "Siapa pun."
Jawaban itu membuat dada Liana berdenyut pelan.
"Saya akan hati-hati," katanya.
Edwin mengangguk, lalu menaikkan kaca.
Mobil itu bergerak meninggalkan lobby. Liana berdiri di tempatnya sampai lampu belakang menghilang di tikungan, masih memikirkan satu hal yang tidak berani ia ucapkan keras-keras.
Kalau Edwin hanya khawatir sebagai atasan, kenapa suaranya terdengar seperti seseorang yang takut terlambat menjaga sesuatu miliknya?
Halo kakak2, jangan lupa mampir dikarya pertamaku.
Judul : cinta di balik gerobak gorengan
Terimakasih 🙏
Temen2, dukung dan baca karya pertamaku.
Judul : cinta di balik gerobak gorengan
Terimakasih 🙏
/Pray/