Pernikahan kami sempurna. Harta, takhta, dan sepasang anak kembar yang rupawan telah kami miliki. Sebagai sesama pemilik perusahaan, aku dan Mas Hanif adalah definisi pasangan ideal di mata dunia.
Namun, kesempurnaan itu runtuh saat Mas Hanif meminta izin untuk menikah lagi. Didukung oleh ibu mertuaku, seorang wanita polos datang dan mengaku siap berjuang dari bawah bersamanya.
Dunia mengira aku akan mengamuk. Nyatanya, di balik anggunnya hijabku, aku justru tersenyum tenang. Aku mengiyakan, bahkan mengantarnya langsung ke pelaminan maduku.
Mereka pikir aku pasrah? Salah besar.
Sebelum melepasnya, sebuah perjanjian gono-gini rahasia telah kutandatangani bersama Mas Hanif. Lewat strategi bisnis yang rapi, perlahan akan kutarik semua aset dan kejayaan yang menyokongnya selama ini.
Katanya siap berjuang dari bawah? Silakan nikmati perjuangan itu tanpa sepeser pun sisa hartaku. Selamat datang di skenario dendam manisku!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
Di dalam ruang kerja privat yang tenang itu, aroma kayu cendana dan kertas pembungkus berkas yang premium menguar tipis. Papa mertua Hanum duduk di sofa kulit hitam yang empuk, menyilangkan salah satu kakinya dengan anggun. Sementara Hanum duduk di hadapannya, menggenggam jemarinya sendiri dengan sikap tenang namun tegas.
"Yang ini buat Bunda saja om, Kenzie mau kue yang warna merah itu aja, Om!" teriakan kecil Kenzie dari arah ruang tengah sempat terdengar sayup-sayup menembus pintu kayu yang tebal.
Hanum tersenyum tipis mendengar panggilan itu. Bunda. Panggilan sayang dari kedua anak kembarnya selalu menjadi penenang di setiap badai yang menghantam hidupnya. Panggilan itulah yang mengingatkannya bahwa dia harus tetap kuat, tegak berdiri, dan tidak boleh hancur demi masa depan dua buah hatinya.
Papa mertua Hanum ikut tersenyum mendengar suara sang cucu, namun senyum itu segera memudar, digantikan oleh gurat ekspresi serius seorang kepala keluarga yang siap mengambil keputusan besar. Beliau menatap menantu kesayangannya dengan tatapan lurus.
"Hanum, sekarang kita hanya berdua," Papa mertua membuka suara, nadanya rendah namun sarat akan penekanan. "Papa ingin mendengar langsung darimu. Mengenai kelanjutan hubunganmu dengan Hanif... kapan sebenarnya kamu akan mendaftarkan perceraian ini? Papa tidak ingin kamu menunda-nunda sesuatu yang hanya akan terus menjadi benalu di hidupmu."
Hanum menarik napas dalam-dalam, menegakkan punggungnya. Tidak ada keraguan sedikit pun di dalam sepasang mata indahnya.
"Berkas-berkasnya sudah siap semua, Papa," jawab Hanum dengan suara yang terdengar sangat mantap. "Semua dokumen, mulai dari bukti perselingkuhan, saksi pernikahan siri mereka, hingga data-data keuangan yang Mas Hanif selewengkan, semuanya sudah berada di tangan Pak Baskoro."
Papa mertua Hanum sedikit menaikkan alisnya, tampak puas dengan kecepatan pergerakan menantunya. Pak Baskoro adalah pengacara korporat sekaligus orang kepercayaan keluarga besar Hanum yang terkenal sangat dingin, kejam, dan tidak pernah kalah di meja hijau. Jika kasus ini sudah dipegang oleh pria bertangan besi itu, maka bisa dipastikan Hanif tidak akan berkutik dan akan keluar dari pengadilan dengan tangan hampa.
"Hari ini, setelah kita mengunjungi rumah orang tua kandung Hanum untuk menjelaskan semua situasi ini secara langsung, Hanum akan langsung menghubungi Pak Baskoro. Hanum akan meminta beliau untuk mendaftarkan gugatan cerai itu ke Pengadilan Agama besok pagi," lanjut Hanum tanpa beban.
"Hanum tidak ingin membuang waktu satu hari pun untuk tetap terikat dengan laki-laki seperti dia."
"Bagus. Itu tindakan yang sangat tepat. Papa sepenuhnya mendukungmu," ucap Papa mertua dengan anggukan tegas.
Hanum terdiam sejenak, mengingat kejadian kemarin sore di mana Papa mertuanya dengan kejam mengusir Hanif dan Ibu Rahma dari rumah mewah yang selama ini mereka tempati. Sebuah pertanyaan mendadak terlintas di kepala Hanum.
"Oya, Papa... kalau boleh Hanum tahu, di mana alamat rumah Mas Hanif yang sekarang mereka tempati setelah Papa usir kemarin? Hanum perlu mencatat alamat domisili terbarunya untuk diserahkan kepada Pak Baskoro, agar surat panggilan sidang dari pengadilan bisa dikirimkan tepat sasaran ke tangan Mas Hanif," tanya Hanum.
Papa mertua Hanum tidak langsung menjawab. Beliau meraih sebuah notes kecil di atas meja, menuliskan sebuah alamat dengan pena emasnya, lalu merobek kertas tersebut dan mengulurkannya kepada Hanum.
Hanum menerima kertas itu, lalu membaca deretan tulisan tangan di dalamnya. Jalan Kampung Melati, RT 05/RW 03, Gang Kelinci Nomor 14, Sudut Pinggiran Kota.
Detik setelah membaca alamat tersebut, sepasang mata Hanum seketika membelalak sempurna. Dia tertegun di tempat duduknya dengan mulut yang sedikit terbuka karena rasa kaget yang luar biasa. Hanum tahu betul daerah yang tertera di kertas itu. Itu adalah salah satu kawasan terkumuh dan paling padat di pinggiran kota, daerah yang sering kali tergenang banjir jika hujan deras tiba, dipenuhi oleh rumah-rumah petak berdinding semi-permanen dengan akses jalan yang sempit dan becek.
"Mas Hanif... dulu tinggal di tempat sekumuh itu?," batin Hanum bergolak tak percaya.
Selama bertahun-tahun menikah, Hanif memang pernah menceritakan sedikit tentang masa lalunya. Hanif selalu membanggakan fakta bahwa dia diadopsi dan dijadikan anak angkat oleh Papa tirinya ini sejak dia masih duduk di bangku kelas satu SMP. Hanif selalu bercerita dengan nada tinggi bahwa sejak saat itu, dia dibesarkan dengan limpahan fasilitas mewah dan kasih sayang yang luar biasa dari sang papa, seolah-olah dia adalah anak kandung berdarah biru. Namun, Hanif tidak pernah sekalipun menceritakan secara detail dari lubang sedalam apa dia dan ibunya ditarik keluar sebelum mereka mencicipi kekayaan.
Melihat ekspresi wajah Hanum yang syok dan kaget setengah mati, Papa mertuanya justru menyunggingkan sebuah senyuman tipis sebuah senyuman miris yang sarat akan ironi masa lalu.
"Kenapa, Hanum? Kamu kaget melihat alamat itu?" tanya Papa mertua dengan nada suara yang tenang namun terdengar dingin.
Hanum mendongak, menatap Papa mertuanya dengan canggung. "Maaf, Papa... Hanum hanya tidak menyangka. Mas Hanif selalu bilang kalau dulu dia..." Hanum menggantung kalimatnya, merasa tidak enak untuk melanjutkan.
Papa mertua Hanum menghela napas panjang, bersandar pada sofa kulitnya, lalu menatap lurus ke jendela ruangan. Tatapan matanya mendadak berubah menjadi sangat monohok saat beliau mulai menjelaskan tentang tabiat asli dari anak bawaan dan istrinya tersebut.
"Hanum, dengarkan Papa baik-baik," ucap pria paruh baya itu dengan nada yang sangat menohok dan tanpa tedeng aling-aling. "Apa yang dikatakan Hanif kepadamu selama ini sebagian besar adalah kebohongan yang sengaja dia ciptakan untuk menutupi rasa minder dan harga dirinya yang rendah. Kenyataannya adalah, saat Papa pertama kali bertemu dengan Rahma dan memungut mereka dari daerah kumuh itu, Hanif hanyalah seorang anak kecil yang tidak punya masa depan."
Papa mertua mendengus sinis, mengingat masa lalu yang kini terasa seperti sebuah kesalahan terbesar di hidupnya. "Papa membesarkan Hanif dengan kasih sayang yang luar biasa, memberikan dia sekolah terbaik, membelikan dia pakaian bermerek, dan membiarkan dia menikmati seluruh fasilitas mewah milik keluarga Papa. Mengapa Papa lakukan itu? Karena dulu Papa mengira, dengan mengubah lingkungan dan memberikan pendidikan yang layak, mental serta tabiat miskin di dalam dirinya bisa terkikis habis."
Pria tua itu menggelengkan kepalanya dengan rahang yang mengeras. "Tapi ternyata Papa salah besar. Papa terlalu naif, Hanum. Watak, mental dan jiwa miskin yang ada di dalam diri Rahma serta Hanif itu rupanya sudah mendarah daging, mengalir bersama aliran darah mereka sejak lahir. Kamu bisa merubah pakaian seorang pengemis dengan setelan jas seharga ratusan juta, kamu bisa memindahkan mereka dari rumah petak becek ke dalam istana mewah berlantai tiga, tapi kamu tidak akan pernah bisa mengubah jiwa mereka yang dasarnya memang serakah dan tidak tahu terima kasih."
Kata-kata menohok dari Papa mertuanya seolah menghantam tepat di ulu hati Hanum, membuatnya menyadari satu kebenaran mutlak yang selama ini tidak dia sadari.
"Kemarin sore, saat Papa mengusir mereka kembali ke lubang hitam tempat mereka berasal, Papa sama sekali tidak merasa bersalah," lanjut Papa mertua dengan sorot mata yang dingin tanpa ampun. "Rahma dan Hanif adalah tipe manusia yang tidak akan pernah puas dengan apa yang mereka miliki. Mereka diberikan menantu sebaik dan setangguh kamu, diberikan cucu-cucu yang luar biasa seperti Kayla dan Kenzie, namun jiwa miskin mereka justru membuat mereka kembali memungut sampah jalanan seperti perempuan bernama Sarah itu."
Beliau menunjuk kertas alamat di tangan Hanum dengan jarinya. "Biarkan mereka tinggal di sana, Hanum. Biarkan Hanif membuktikan 'cinta' yang dia agung-agungkan itu bersama istri barunya di dalam rumah sederhana yang atapnya bocor dan lingkungannya kumuh. Biarkan mereka merasakan kembali bagaimana rasanya merangkak dari bawah tanpa sepeser pun uang kiriman dari Papa, dan tanpa fasilitas mewah milikmu. Itulah tempat yang paling pantas untuk orang-orang yang tidak tahu cara menghargai sebuah ketulusan."
Hanum terdiam, meremas kertas alamat itu erat-erat di dalam genggamannya. Di dalam dadanya, rasa sesal dan luka yang sempat membekas kini perlahan-lahan menguap, berganti dengan sebuah keyakinan baru yang kokoh. Hari ini, badai perceraian akan resmi dimulai, dan Hanum tahu, dia siap mengirim Hanif kembali ke tempat di mana pria itu seharusnya berada.
blng aja pgn d tmani mkn gt,ga ush ngeles sna sni....gengsi aja d gdein.....🙄🙄🙄
kalo mau ngajak makan bareng lngsung aj ngomong ,, gx usah gengsi gtuuu🤣🤣🤣🤣
Yg gengsiny stnggi gunung.....kt tau lh kl situ holang kaya,ya kali kelaparan.....🤣🤣🤣....
bkannya bruntung pnya istri cntik,mndiri,kaya raya pula...d tmbh kluarga yg mau nrima dia...
ni mlah ngelunjak...d kira dnia bkln kiamat kali kl hanum ga sm dia....
ccckkk.....🙄🙄🙄
udh emnk si hanif ,, seharusny tnggal di tempat yg skrang ,, gx cocok dy tnggal di rumah mewaah ,,
🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
aku setuju banget klo mereka bersatu, biar Hanif semakin merana....
semangat thor, ceritanya bagus banget
Dr kulkas 6 pntu,jd cair kl sm ponakannya....