Katanya, cinta harus datang sebelum menikah. Tapi bagaimana jika cinta justru lahir setelah akad terucap?
Menjadi seorang PNS membuat Satria Baskara terbiasa menjalani hidup dengan aturan dan tanggung jawab. Di sisi lain, Naira Azzahra, seorang pembuat kue rumahan, percaya bahwa setiap kue memiliki resepnya sendiri.
Namun, ia tak pernah menyangka takdir justru menuliskan resep cintanya melalui sebuah perjodohan.
Tanpa proses pacaran. Tanpa janji manis. Hanya sebuah akad yang menyatukan dua hati yang sebelumnya tak saling mengenal.
Di balik sarapan hangat, bekal makan siang, dan perhatian-perhatian kecil yang awalnya terasa biasa, perlahan tumbuh perasaan yang tak mampu mereka sangkal. Namun ketika cinta akhirnya hadir, ujian demi ujian mulai mengetuk pintu rumah tangga mereka.
Akankah Satria dan Naira berhasil mempertahankan cinta yang tumbuh setelah akad? Atau justru takdir kembali menguji hati mereka, saat keduanya mulai benar-benar saling mencintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keysa Bom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah yang Telah Disipakan
Keesokan paginya, udara terasa jauh lebih sejuk setelah diguyur hujan semalaman. Hari itu adalah hari terakhir cuti yang diambil Satria sebelum ia harus kembali berkutat dengan pekerjaannya di Kantor Kecamatan. Sejak subuh, ia sudah terjaga lebih dulu untuk menunaikan salat, lalu langsung bergegas memeriksa beberapa kardus yang tersusun rapi di ruang tamu rumah keluarga Naira.
Sebagian besar kardus itu berisi pakaian, perlengkapan dapur, serta beberapa peralatan penting yang akan mereka bawa ke rumah baru.
Naira yang baru saja melangkah keluar dari kamar, berjalan menghampiri suaminya. "Mas, kenapa bangunnya pagi sekali?" tanya Naira sambil membetulkan letak jilbab instannya.
Satria menoleh, menghentikan aktivitasnya sejenak lalu tersenyum tipis. "Hari ini kita pindah ke rumah baru kita," jawabnya bersemangat.
Naira mengangguk pelan, mendadak ada rasa haru yang menggelitik dadanya. "Iya, Mas..." Ia memandangi kardus-kardus di lantai. "Aku bantu merapikan, ya?"
"Boleh, silakan," sahut Satria ramah.
Tanpa banyak bicara lagi, keduanya mulai bekerja sama memasukkan pakaian ke dalam koper besar. Sesekali mereka saling bertanya agar tidak ada barang penting yang tertinggal.
"Mas, jas kerja Mas yang hitam ini ikut dibawa juga?" tanya Naira, mengangkat sepotong pakaian dengan gantungannya.
"Iya, bawa saja," jawab Satria tanpa menoleh, sibuk menyusun tumpukan buku.
Naira kembali merogoh tumpukan kain, lalu mengernyit bingung. "Kalau mukena merah muda yang di sudut lemari ini?"
Satria menghentikan gerakannya, lalu menatap Naira jengah. "Kalau itu kan punya kamu, Naira."
Naira seketika terkekeh kecil, menepuk dahinya pelan. "Oh iya, benar juga. Aku sampai lupa."
Suasana pagi yang dingin itu perlahan menghangat, dipenuhi percakapan sederhana yang tanpa sadar membuat kecanggungan di antara mereka terkikis habis.
Tidak lama kemudian, Pak Ridwan dan Ibu Siska keluar dari kamar dan langsung ikut membantu mengangkat beberapa kardus yang sudah siap.
"Pak, biar saya saja yang bawa. Sini, Pak," seru Satria cekatan, langsung mengambil alih kardus berat dari tangan mertuanya.
"Tidak apa-apa, Nak. Ayah ini masih kuat kalau cuma angkat begini," kilah Pak Ridwan, mencoba mempertahankan kardusnya.
Satria menggeleng pelan sambil menyunggingkan senyum sopan namun tegas. "Bapak sudah banyak membantu saya sejak kemarin. Kalau urusan angkat barang berat, biar saya saja."
Pak Ridwan akhirnya mengalah dan melepaskan kardus itu. "Baiklah, terima kasih ya."
Sementara di sudut lain, Ibu Siska mendekati Naira sambil membawa sebuah kotak plastik bening yang cukup besar. "Naira," panggil beliau lembut.
"Iya, Bu? Ada apa?" Naira menoleh, menghentikan kegiatannya melipat selimut.
"Ini bumbu dapur yang sudah Ibu siapkan dari subuh," ucap Ibu Siska, menyodorkan kotak tersebut. "Cabai, bawang, rempah-rempah, semuanya sudah lengkap dan bersih. Jadi kamu tidak perlu repot belanja lagi nanti sesampainya di sana."
Naira langsung menghambur dan memeluk ibunya erat. "Terima kasih banyak, Bu. Ibu perhatian sekali."
"Sama-sama, Nak. Nanti kalau ada bumbu yang kurang atau kamu bingung cara masaknya, tinggal telepon Ibu saja, ya," bisik Ibu Siska, mengusap punggung putrinya penuh kasih.
"Iya, Bu," sahut Naira lirih.
Setelah sebagian besar barang berhasil dimasukkan ke dalam mobil bak kecil yang mereka sewa, mereka semua memutuskan untuk duduk beristirahat sejenak di ruang tamu. Pak Ridwan memandangi menantunya yang tampak menyeka keringat di pelipis.
"Satria," panggil Pak Ridwan membuka obrolan.
"Iya, Pak?" Satria menoleh, membetulkan posisi duduknya menjadi lebih tegap.
"Ayah sebenarnya penasaran akan satu hal," ujar Pak Ridwan, menopang dagunya sejenak.
"Penasaran tentang apa, Pak?" tanya Satria ramah.
"Kapan sebenarnya kamu membeli rumah yang akan kalian tempati ini?" tanya Pak Ridwan menyelidik.
Satria tersenyum kecil, ingatan masa lalunya berputar sejenak. "Sekitar lima bulan yang lalu, Pak. Jauh sebelum acara akad nikah kita kemarin."
Pak Ridwan mengangguk-angguk paham. "Berarti memang semuanya sudah kamu rencanakan dengan matang, ya."
"Benar, Pak," sahut Satria. Ia menatap ke arah halaman rumah sejenak sebelum kembali melanjutkan kalimatnya. "Sejak pertama kali saya diterima menjadi PNS lima tahun lalu, saya punya satu prinsip dalam hidup."
Mendengar hal itu, semua orang yang ada di ruang tamu mendadak terdiam dan menyimak ucapan Satria dengan saksama.
"Saya ingin memiliki rumah sendiri atas nama saya sendiri sebelum saya memutuskan untuk menikah," tutur Satria tenang. "Bukan rumah yang besar, bukan juga rumah yang mewah. Cukup sebuah rumah sederhana yang layak, yang bisa menjadi tempat pulang paling nyaman bagi keluarga kecil saya nanti."
Naira menatap suaminya tanpa berkedip. Ini adalah pertama kalinya ia mendengar cerita dan alasan mendalam di balik rumah yang kini menjadi tempat tinggal mereka.
"Saya menyisihkan sebagian besar gaji saya setiap bulan, sedikit demi sedikit," lanjut Satria lagi. "Butuh waktu lima tahun penuh perjuangan sampai akhirnya tabungan itu dirasa cukup untuk membeli rumah tersebut secara tunai."
Pak Ridwan tersenyum bangga, matanya berbinar menatap sang menantu. "Menyisihkan uang di usia muda seperti kamu itu bukan hal yang mudah, Sat. Hebat."
Satria mengangguk pelan, merendah. "Memang tidak mudah, Pak. Tapi saya selalu percaya, masa depan sebuah keluarga harus dipersiapkan dengan matang jauh sebelum keluarga itu benar-benar dimulai."
Ucapan berbobot itu seketika membuat ruangan menjadi hening. Ibu Siska diam-diam menyeka sudut matanya yang mulai berkaca-kaca karena terharu mendengarnya.
Naira yang merasa tersentuh tiba-tiba bangkit berdiri dan berjalan cepat menuju kamarnya. Beberapa saat kemudian, ia kembali ke ruang tamu sambil membawa sebuah buku tabungan berwarna hijau di tangannya.
"Mas," panggil Naira, menyodorkan buku tersebut ke hadapan Satria.
"Iya? Apa ini, Naira?" tanya Satria, menaikkan sebelah alisnya bingung.
"Kalau nanti ada cicilan untuk renovasi rumah atau biaya untuk membeli perabotan baru, aku ingin ikut membantu pakai uang ini," ujar Naira tulus.
Satria tersenyum sangat lembut. Ia mengulurkan tangannya, lalu menutup perlahan buku tabungan yang dipegang oleh istrinya tersebut. "Naira," panggilnya lembut.
"Hm? Kenapa, Mas?" tanya Naira, dahinya berkerut.
"Waktu di pelaminan kemarin kan aku sudah bilang. Rumah dan segala isinya adalah mutlak tanggung jawabku sebagai suami," ucap Satria dengan nada suara yang menenangkan. "Tapi, aku sangat senang dan menghargai niatmu karena kamu ingin ikut berjuang bersamaku."
Satria menggenggam pelan tangan Naira, mengarahkan buku tabungan itu kembali ke pangkuan istrinya. "Tabunganmu ini tetap kamu simpan saja. Gunakan untuk kebutuhan pribadimu, atau simpan saja kalau suatu hari nanti kamu butuh modal untuk mengembangkan toko kuemu agar lebih besar."
Naira masih belum puas, ia ingin membantah. "Tapi, Mas—"
"Kita memang sudah menjadi satu setelah akad kemarin," sela Satria dengan nada yang begitu tenang namun tidak bisa diganggu gugat. "Tapi bukan berarti semua beban finansial harus kamu pikul bersamaku dari awal. Biarkan aku menjalankan kewajibanku dulu. Kalau suatu hari nanti aku benar-benar kesulitan dan membutuhkan bantuanmu, aku berjanji pasti akan mengatakannya padamu."
Sudut mata Naira mendadak terasa panas dan mulai berkaca-kaca. Perasaan haru yang luar biasa membuncah di dadanya. Ia akhirnya mengangguk pelan. "Baik, Mas. Terima kasih."
Untuk pertama kalinya sejak mereka sah menikah, Naira merasakan sebuah ketenangan yang luar biasa di dalam hatinya. Ia tahu, lelaki yang kini menjadi suaminya bukan hanya sekadar pandai bekerja, tetapi adalah pria visioner yang telah mempersiapkan masa depan mereka dengan sungguh-sungguh.
✨✨✨
Menjelang siang, seluruh barang-barang akhirnya selesai dimuat ke dalam kendaraan pindahan. Sebelum melangkah masuk ke dalam mobil, Naira memeluk kedua orang tuanya dengan sangat erat.
"Jaga diri baik-baik di rumah baru ya, Nak. Jangan lupa sampaikan kabar ke Ibu," bisik Ibu Siska pelan di telinga putrinya.
"Iya, Bu. Pasti," sahut Naira menahan tangis.
Di sisi lain, Pak Ridwan menyalami Satria, lalu menarik menantunya itu ke dalam pelukan singkat yang hangat. "Mulai hari ini, rumah baru itu akan menjadi tempat kalian berdua membangun cerita kalian sendiri. Jadilah imam yang bijak, Satria."
Satria mengangguk mantap, menatap mata mertuanya dengan penuh keyakinan. "Insyaallah, Pak. Mohon doanya selalu."
Mobil yang dikendarai Satria perlahan bergerak, meninggalkan halaman rumah masa kecil Naira. Melalui kaca spion dan jendela penumpang, Naira menoleh ke belakang, menatap sosok kedua orang tuanya yang melambaikan tangan hingga akhirnya bayangan rumah itu semakin menjauh dan menghilang di belokan jalan.
Naira bersandar di kursi, lalu mengembuskan napas panjang yang terdengar berat. Satria yang fokus menyetir di sampingnya melirik sekilas melalui sudut mata.
"Sudah kangen rumah ya?" goda Satria pelan.
Naira menoleh, lalu tersenyum kecil menahan malu. "Iya, sedikit, Mas."
Satria mengangguk mengerti, tangannya bergerak memutar kemudi dengan santai. "Kalau begitu, nanti kalau akhir pekan kita luang, kita akan sering-sering berkunjung ke sini lagi."
Jawaban sederhana nan pengertian itu sukses membuat Naira menoleh sepenuhnya. Sebuah senyuman yang sangat hangat kini merekah indah di wajahnya.
Hari itu, mereka bukan hanya sekadar berpindah tempat tinggal. Mereka sedang melangkah bersama untuk memulai sebuah babak kehidupan yang baru, di dalam sebuah rumah sederhana yang telah dipersiapkan Satria selama lima tahun dengan kerja keras, cucuran keringat, kesabaran, dan harapan besar untuk masa depan yang kini telah resmi ia bangun bersama Naira.
Bersambung