seorang wanita yang hidup di zaman kerajaan,di usir oleh keluarga ibu dan ayahnya,dia bahkan terpaksa jadi seorang pengemis di jalanan.
bahkan tunangannya yang dia percayai mengkhianati nya.hidup sengsara membuat wanita itu putus asa,di harapan terkahir nya dia pergi kerumah ibu kandungnya,tapi justru ibunya mengusir nya dan lebih menyayangi putri dari suami kedua nya.
wanita itu begitu terpukul,dia teringat ayahnya yang di asingkan di perbatasan,hanya karna kejahatan yang di lakukan oleh ibunya.
putus asa,wanita itu memilih mengakhiri hidupnya,tapi tiba-tiba dia malah hidup kembali dan mendapatkan sistem yang membantu nya.
dari di remehkan dan di hina,menjadi wanita terkaya di seluruh negeri,namanya terkenal dimana-mana,bahkan sang kaisar yang berkuasa tunduk padanya.
bagaimana kah kelanjutan kisah selanjutnya ?
yuk mampir di cerita aku yah,, terimakasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marwiyah Ningsih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kedatangan Hana
Kediaman Perdana Menteri, Tengah Malam
Angin malam berhembus dingin. Obor di sepanjang tembok Kediaman Perdana Menteri menyala redup. Hanya ada 20 pengawal elit yang berjaga. Mereka adalah pasukan pilihan, bersenjatakan tombak baja dan armor hitam. Tapi malam ini, 20 orang itu tidak cukup.
Di depan gerbang besi tinggi, Hana berdiri tegak. Jubah hitamnya berkibar. Di sampingnya, Dex menunduk hormat, wajahnya dingin tanpa emosi.
Hana menatap gerbang itu lekat. "Dex."
"Siap, Nona," jawab Dex cepat.
"Malam ini, kita tidak hanya menuntut utang darah," ucap Hana pelan. "aku akan membawamu masuk. Setelah itu, tugasmu satu: cari Luna, sepupuku. Bawa dia keluar. aku ingin menjualnya ke rumah bordil paling kotor di distrik selatan. Aku ingin dia membayar hutangnya padaku,, selama ini setiap dia berbuat zina aku akan menanggung malu,,karna mereka membuatku menggantikan kesalahan Luna yang sama sekali tidak pernah aku lakukan! " tekan nya.
Dex mengepalkan tinjunya. "Perintah Nona adalah perintah."
Hana melangkah maju. Ia tidak mengetuk gerbang. Ia hanya mengangkat tangannya.
_Bummm_
Gerbang besi setebal dua telapak tangan hancur berkeping-keping. Pecahannya beterbangan seperti hujan logam. Dua puluh pengawal elit langsung siaga. Tombak mereka diarahkan ke Hana.
"Siapa kau! Beraninya menghancurkan gerbang Kediaman Perdana Menteri!" bentak Komandan Pengawal.
Hana tidak menjawab. Ia berjalan melewati puing gerbang. Setiap langkahnya membuat batu di bawahnya retak.
"Ini Kediaman Perdana Menteri! Tempat terhormat bangsawan! Kau tidak boleh masuk!" teriak salah satu pengawal.
Hana berhenti. Ia mengangkat pedang pendeknya perlahan. "Tempat terhormat? Tempat ini adalah neraka bagiku selama lima belas tahun."
"Srekkk"
Pedangnya berkelebat. Dua pengawal terdepan langsung tumbang. Leher mereka terputus. Darah menyembur membasahi armor mereka.
"Serang! Jangan biarkan dia mendekat!" perintah Komandan.
Sembilan belas pengawal tersisa menyerbu bersamaan. Tombak mereka menusuk ke arah Hana dari segala sisi.
Hana bergerak seperti bayangan. Ia menunduk, menghindar, lalu memutar tubuhnya. Setiap ayunan pedangnya merenggut satu nyawa. Setiap tendangannya menghancurkan dada pengawal hingga tulang rusuk mereka remuk.
"Ahhhkkk! Iblis! Dia bukan manusia!" jerit seorang pengawal sebelum kepalanya menggelinding.
Dalam waktu kurang dari lima menit, 20 pengawal elit tergeletak di tanah. Tidak ada yang selamat. Darah mengalir dari selokan gerbang menuju halaman dalam.
Dex hanya berdiri menyaksikan. Matanya berbinar kagum. "Nona memang hebat dia seperti pahlawan di mata ku ," gumamnya.
Hana menoleh ke Dex. Suaranya datar. "Masuk. Cari Luna."
Dex mengangguk dan berlari ke arah sayap timur kediaman. Hana melangkah menuju aula utama.
---
Di dalam aula, Perdana Menteri duduk gemetar di singgasana kayu. Di hadapannya, Ajeng berlutut sambil menangis. Di sampingnya, Nenek Hana berdiri dengan tongkat emas, wajahnya merah padam karena marah.
"ayah, dia datang!" teriak Ajeng. "Hana sudah membunuh semua pengawal!"
Perdana Menteri menutup matanya. "Aku tahu, Ajeng. Tidak ada tempat untuk lari."
Pintu aula ditendang hingga terbuka.
_Brakk!_
Hana masuk. Jubahnya bersih, tidak setetes darah pun menempel. Tatapannya lurus ke arah kakek dan neneknya.
Nenek Hana langsung berteriak marah. Suaranya melengking memecah keheningan. "Hana! Wanita durhaka! Beraninya kau datang ke sini dengan tangan berlumur darah! Kau menghina keluarga ini! Kau mempermalukan nama Perdana Menteri! Berlutut dan minta ampun sekarang juga!"
Hana tidak bergeming. "Nenek, aku datang bukan untuk minta ampun. Aku datang untuk menagih."
Perdana Menteri berdiri terhuyung. "Hana, cucuku... sudahlah. Kakek mohon, jangan lanjutkan ini. Kakek tahu kami salah padamu. Kakek akan berlutut di Alun-alun besok. Kakek akan mengaku di depan semua rakyat."
Nenek Hana menampar meja hingga vas giok jatuh pecah. "Berlutut? Untuk anak haram ini? Tidak akan! Hana, kau hanya anak yang tidak diinginkan ibumu! Kau hidup karena kasihan kami! Tanpa kami, kau sudah mati kelaparan di jalanan!"
Hana menyipitkan mata. "Tanpa kalian, aku akan bebas. Bebas dari cambukan, bebas dari kelaparan, bebas dari hinaan."
Ajeng merangkak ke arah Hana dan mencengkeram ujung jubahnya. "Hana, Ibu mohon... jangan sakiti kakek,nenek,dan Ibumu nak. Ibu sudah menyesal..."
Nenek Hana menendang Ajeng hingga terjatuh. "Diam, Ajeng! Kau ibu yang bodoh! Kau melahirkan anak durhaka ini!"
Tepat saat itu, Dex menyeret seseorang dari balik tirai. Itu Luna. Sepupu Hana. Wajahnya cantik, tapi kini pucat ketakutan. Rambutnya acak-acakan.
"Jangan! Lepaskan aku!" teriak Luna sambil meronta. "Hana, aku mohon! jangan sakiti aku,jangan bunuh aku,, lepaskan aku ! aku berjanji tidak akan menghinamu lagi!"
Hana tidak menoleh sedikit pun. Ia hanya berkata pada Dex tanpa ekspresi. "Bawa dia pergi. Sekarang juga."
"Tidak! Hana! Jangan lakukan ini!" jerit Luna. Air matanya bercucuran. "Suamiku! Tolong aku!"
Dari balik tirai, suami Luna mengintip. Wajahnya pucat. Tubuhnya gemetar. Tapi ia tidak berani keluar. Ia memilih bersembunyi, membiarkan istrinya diseret pergi.
Dex menyeret Luna keluar aula. Teriakan Luna semakin menjauh: "Hana! Aku mohon! Jangan!"
Nenek Hana melihat itu dan semakin murka. Ia mengangkat tongkat emasnya tinggi-tinggi lalu menghantamkannya ke lantai. "Hana! Kau iblis! Kau lebih kejam dari binatang! Kau akan masuk neraka! Luna tidak pernah bersalah padamu,,kenapa kamu memerintahkan pengawal mu membawa nya ? cepat perintahkan pengawal mu membawa Luna kesini,,cepat Hana ! jika tidak aku akan menghukum mu "
Hana menatap neneknya dingin. "Neraka? Aku sudah hidup di neraka selama lima belas tahun di rumah ini, Nenek.dan kamu bilang Luna tidak bersalah? karna dia..karna dia aku harus menanggung penghinaan selama ini ! dia yang berbuat zina aku sendiri yang menanggung kesalahan nya ! aku tidak akan pernah melupakan semua itu "
Perdana Menteri maju selangkah, mencoba menghentikan istrinya. "Istriku, cukup! Dia cucu kita! Jangan terus memaki dia! dan selama ini Luna juga sudah menyusahkan Hana,, biarkan saja Hana membawa nya pergi"
Nenek Hana menoleh ke suaminya, matanya menyala. "Kau bodoh! Kau pikir dia akan mengampuni kita jika kita memohon? Dia sudah membunuh 20 pengawal kita! Dia akan membunuh kita juga! dan ingat Luna itu adalah cucu kesayangan kita ! "
Perdana Menteri menggeleng. Air matanya jatuh. " aku tau istriku,,tapi hana..Dia juga cucu kita... darah daging kita..."
mendengar itu Nenek Hana semakin marah,dia menatap tajam Hana dan mengangkat tangannya, hendak menampar Hana. "Kau anak durhaka! Mati saja kau!"
Detik itu juga, Perdana Menteri bergerak cepat. Dengan tangan gemetar, ia mencabut belati kecil dari pinggangnya. Tanpa berpikir, ia menusukkan belati itu ke leher istrinya sendiri.
"Srekkk"
Belati menembus kulit, urat, dan tenggorokan Nenek Hana.
Nenek Hana melotot. Matanya membelalak tidak percaya. Ia memegangi lehernya yang muncrat darah.dia menatap suaminya dengan tersenyum kecut". kau membunuh ku hanya karna anak sialan itu suamiku ?..dan Kau... kau... Hana... kau iblis..." bisiknya dengan suara serak.
Tubuhnya jatuh tersungkur ke lantai marmer. Darah menyebar seperti bunga merah. Napasnya berhenti. Ia mati dengan mata masih terbuka, menatap Hana.
Aula seketika hening. Hanya terdengar suara napas tersengal dan tetesan darah.
Perdana Menteri terduduk lemas. Ia memeluk tubuh kaku istrinya. "Istriku... tidak... tidak... apa yang telah kulakukan..hiks..hiks..maafkan aku." Ia menangis seperti anak kecil. Bahunya terguncang hebat.
Ajeng merangkak mendekat. Ia memeluk tubuh ibunya yang sudah dingin. "Ibu... Ibu... bangun, Bu! Jangan tinggalkan Ajeng!" Ia menangis terisak, air matanya membasahi pipi ibunya.
Lalu Ajeng mendongak. Matanya merah menyala penuh kebencian. Ia menatap Hana dan berteriak: "Pembunuh! Kau pembunuh! Karena kaulah nenek mu mati! Karena kaulah keluarga ini hancur! Kau iblis! Kau anak terkutuk!"
Hana menatap Ajeng tanpa berkedip. Wajahnya tetap dingin.
Ajeng terus memaki. "Kau tidak pantas disebut manusia! Kau tidak pantas disebut putriku! Aku menyesal melahirkanmu! Seharusnya aku mencekikmu saat kau bayi!"
Hana melangkah mendekat. Ia berjongkok hingga wajahnya sejajar dengan Ajeng,tanpa basa-basi dia menarik rambut ibunya,yang membuat Ajeng mendongak dan meringis sakit. " aku juga tidak pernah Sudi lahir di rahim wanita kejam seperti mu ! dan kau memang bodoh, karna tidak membunuh ku sejak bayi,,tapi Kau mau tahu kenapa Kakek menusuk Nenek? Karena Nenek terus memaki aku. Karena Nenek tidak pernah menganggap aku manusia. Dan Kakek... Kakek akhirnya sadar, satu-satunya cara menghentikan hinaan itu adalah membungkam mulut Nenek."
Ajeng menggeleng keras. "Tidak! Itu salahmu! Semua ini salahmu!kamu yang sudah membunuh nenek mu,,kamu pembunuh Hana..kamu anak durhaka "
"jelas-jelas kamu sudah melihatnya sendiri bahwa kakek lah yang membunuh istrinya,,kenapa kamu menyalahkan aku ? ibu..apa kamu pernah berfikir untuk mengakui sebagai putrimu? hahah..aku ternyata terlalu berharap dulu,,kau saja saat melihat ku di siksa oleh pelayan,,kamu pura-pura buta,, bahkan tidak perduli,,sudahlah aku tidak ingin lagi membahas hal yang tidak penting ! aku tidak akan membunuh mu,aku akan membuat keluarga mu ha hancur,,akan ku buat kau tidak memiliki apa-apa! aku akan membuat kau kelaparan, seperti yang aku alami dulu! anggap saja ini adalah bakti terakhir ku pada mu ibu " sinis Hana,
deggggggggggggggg
Ajeng membelalak,dia menggeleng dan ingin berbicara,tapi perdana menteri ayahnya menarik tangan nya dan menatap nya tajam.
hingga Dari luar aula, terdengar suara Dex. "Nona, Luna sudah diikat di gerobak. Gerobak menuju distrik selatan sudah siap."
Hana berdiri. Ia tidak menatap mayat neneknya lagi. Ia juga tidak menatap kakek dan ibunya yang menangis.
Sebelum keluar, ia berkata pelan, tapi cukup jelas untuk didengar seluruh aula: "Besok pagi, Kakek akan berlutut di Alun-alun. Mengakui semua dosa Kakek di depan rakyat. Jika Kakek tidak datang, aku akan kembali. Dan kali ini, yang mati bukan hanya Nenek."
Perdana Menteri mengangkat wajahnya yang basah air mata. "Hana... cucuku... kakek... kakek akan datang..."
Hana tidak menjawab. Ia berjalan keluar aula, melewati mayat 20 pengawal elit yang bergelimpangan di halaman.
Di gerbang, Luna sudah pingsan di dalam gerobak kayu. Mulutnya disumpal kain kotor. Suaminya masih bersembunyi di balik tirai, tidak berani bernapas.
Dex menutup pintu gerobak. "Ke mana kita, Nona?"
"pergilah ke rumah bordil distrik selatan," jawab Hana datar. "Katakan pada pemiliknya, ini hadiah dari Hana Kusuma. Suruh dia jaga baik-baik. Aku ingin Luna melayani setiap tamu yang datang. Setiap hari. Setiap malam. Sampai dia mengerti rasanya diperlakukan seperti sampah.bukankah dia juga sangat suka berzina,,kalau begitu aku akan mengabulkan keinginan nya " seringai Hana.
Dex mengangguk. Gerobak itu melaju, membawa Luna yang tidak sadarkan diri menuju nasibnya.
Hana menatap ke arah kediaman Duke di kejauhan. Matanya menyala merah.
"Edward... giliranmu selanjutnya."
Angin malam membawa bisikannya. Seluruh Sanata akan tahu: Hana Kusuma tidak hanya menuntut pada Kaisar dan Perdana Menteri. Ia menuntut pada semua orang yang pernah menyakitinya.
Dan balas dendamnya... baru saja dimulai.
---