Setelah kedua orang tuanya wafat akibat insiden kecelakaan pesawat, Anya diasuh oleh mantan asisten rumah tangga mereka.
Meski hidup dalam kesederhanaan, Anya tetap merasa bahagia bersama keluarga barunya, hingga tiba-tiba sahabat baik sang ayah datang mencari gadis itu.
Guna membalas budi akan kebaikan keluarganya dahulu, serta pengorbanan yang pernah Anya lakukan pada putra sulungnya, Maxim berencana menikahkan Anya dengan sang putra yang notabene adalah cinta pertamanya.
Akankah Anya mampu menjalani kehidupan pernikahannya dengan bahagia? Terlebih ketika mengetahui fakta bahwa sang suami ternyata berperangai kasar dan telah memiliki seorang kekasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim O, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Axton mengambil segalanya.
"Halo, Anya ... aku Theresa, dan ini Maxim. Salam kenal gadis manis," ujar seorang wanita muda cantik jelita pada sesosok gadis kecil yang tengah menyembunyikan diri di balik punggung ayahnya. Mata gadis itu menatap takut-takut pada seorang anak laki-laki yang berdiri angkuh di sebelah wanita tersebut, sembari melipat kedua tangannya dan membuang muka.
Tangan si wanita kemudian melambai-lambai, memanggil si gadis yang mulai memperlihatkan diri.
"Sini, nak!" panggil Theresa sekali lagi.
Anya, gadis berusia 6 tahun itu dengan malu-malu melangkah mendekati mereka.
"Ini anak-anak Aunty dan Uncle. Ada Callista yang usianya terpaut satu tahun di bawahmu dan Axton, yang usianya dua tahun di atasmu."
Dengan sangat antusias Callista mengambil tangan Anya terlebih dahulu. "Semoga kita bisa berteman dengan baik ya, Kak!"
Anya tertawa kecil mendengarnya, sebav suara si gadis begitu cempreng dan menyenangkan.
Theresa kemudian menyenggol lengan Axton dan sedikit memelototi**nya agar ia bisa bersikap lebih sopan sedikit.
Axton berdeham. Sambil mengulurkan tangannya di depan Anya, ia berkata singkat, "X!".
Anya memiringkan kepalanya, tanda tidak mengerti apa maksud perkataan Axton.
Theresa tertawa kecil. "Itu nama panggilan Axton, Anya."
Anya bergumam 'oh' sebelum akhirnya menerima jabatan tangan pria kecil tersebut. Semburat merah seketika hadir menghiasi pipi mungil gadis itu karena merasakan hangatnya genggaman tangan Axton.
...*****...
"Callista jangan lari jauh-jauh, aku lelah!" teriak Anya sembari mengatur napasnya. Gadis berusia 8 tahun itu tampak terengah-engah mengejar Callista yang sejak tadi tidak mau diam.
Mendengar teriakan Anya, Callista hanya tertawa dan kembali mempercepat langkah kakinya.
Mata Anya sontak terbelalak, sebab dari kejauhan ia dapat melihat Callista mulai memanjat sebuah pohon ceri besar yang ada di ujung bukit sana. Gadis itu menoleh ke arah kedua orangtua mereka yang berada jauh di bawah bukit.
"Callis, turun!" pekik Anya begitu tiba di bawah pohon tersebut. "Kalau papa dan mamamu lihat, kita akan dimarahi lagi!" serunya jengkel.
"Nanti dulu! Ayo, Kak, naik ke sini dulu, pemandangan dari sini indah loh!" Callista sama sekali tidak mengindahkan perkataan Anya.
"Tidak mau, aku takut jatuh!" tolak Anya tegas seraya melipat kedua tangannya. "Ayo, cepat turun!"
Callista memajukan bibirnya. Seolah tidak mendengar perintah Anya, gadis itu memetik sebuah ceri dan mulai memakannya. "Heeemm, manisnyaa," ujar Callista seraya melirik-lirik ke bawah guna memamerkannya pada Anya.
Anya mengatupkan bibirnya. Matanya tak lepas pada buah ceri merah merona yang berada di tangan Callista.
Melihat Anya tampak menginginkan ceri tersebut, Callista mencoba merayu lagi. "Pohon ini pendek, Kak, tidak akan jatuh. Ayo, naik dulu sini!"
Setelah beberapa kali dirayu Anya akhirnya menyerah, ia mulai ikut naik ke atas pohon menyusul Callista.
Gadis yang tidak pernah sekali pun menaiki pohon itu terlihat sangat canggung. Kakinya dengan hati-hati berpijak pada dahan yang ia rasa kokoh, sebelum tanpa sadar kakinya malah berpijak pada salah satu dahan yang sudah hampir patah.
Suara jeritan pun kontan terdengar beberapa detik kemudian.
"Aakh!"
"Kak Anyaaaa!"
Anya yang ketakutan sontak menutup matanya, bersiap-siap jika tubuhnya terjerembab ke atas tanah.
"Aww!"
"Kau ... berat!"
Anya terkesiap. Rupanya ia jatuh tepat di atas tubuh Axton. Dengan gerakan canggung dan terburu-buru ia pun bangkit dari sana lalu meminta maaf.
Callista yang melihat kejadian tersebut segera turun dari pohon. "Ya Tuhan, Kakak tidak apa-apa, kan?" tanya Callista khawatir.
Axton menghentikan kegiatan membersihkan pakaiannya yang kotor lalu mencibir. "Yang harusnya kau khawatirkan itu aku!"
Callista tidak menghiraukan Axton. Gadis itu malah sibuk memeriksa tubuh Anya, memastikan bahwa tidak ada satu pun luka yang tercetak di sana.
Axton menatap sang adik jengkel. Jika bukan karenanya, Callista pasti lagi-lagi akan kena marah kedua orangtua mereka, sebab sudah mengajari hal-hal tak biasa pada Anya. Axton tahu betul bagaimana tingkah Callista yang kelewat enerjik, oleh sebab itu, ia sedari tadi mengawasi mereka berdua dari jauh.
"Kak X," panggil Anya pada Axton yang berjalan di depannya.
Axton berhenti melangkah dan menoleh ke belakang, "Hm,"
Dengan wajah tertunduk, Anya menggumamkan kata terima kasih karena telah menyelamatkannya.
"Aa." Jawab Axton singkat lalu kembali memandang ke depan. Anya masih tertunduk ketika tiba-tiba tangan Axton mengambil tangannya, dan mengajak gadis itu berlari menyusul Callista yang sudah duduk bersama orangtua mereka sembari memakan sandwich buatan sang ibu.
"Jangan lelet!" Meski nadanya ketus, Anya tetap merasa senang. Disepanjang perjalanan, gadis itu hanya menatap tangannya yang tengah digandeng Axton.
...*****...
Axton mengernyitkan dahinya kala melihat sebuah surat disodorkan Anya dengan malu-malu.
Anya bilang, itu adalah surat perpisahan yang ia tulis semalaman. Gadis itu juga memberikan sebuah kotak cantik berwarna merah.
Besok lusa adalah keberangkatan Axton dan keluarganya ke Inggris. Mereka akan tinggal di sana sementara waktu. Maxim, sang Ayah, setelah bangkit dari ancaman kebangkrutan mencoba melebarkan usahanya dengan membuka kantor di sana atas saran Sigit, Ayah Anya.
Axton sebenarnya tidak ingin meninggalkan tanah air. Namun, ia tak mau jika harus tinggal dengan adik sang ayah yang akan memegang kendali perusahaan di sini. Jadi, mau tidak mau ia akan ikut pindah.
Anya masih setia mengulurkan kedua benda tersebut. Hampir semalaman suntuk gadis itu menulis sepucuk surat perpisahan untuk Axton. Ia tidak ingin surat yang ditulisnya dengan penuh perjuangan tersebut tidak sampai di tangan Axton.
Axton menerima surat dan kotak tersebut lalu memasukannya ke dalam tas. Tanpa berkata apa-apa lagi pria muda itu pergi meninggalkan Anya yang terpaku menatapnya.
Anya tidak pernah tersinggung dengan sikap Axton. Bertahun-tahun mengenalnya, gadis itu jadi memahami bagaimana perangai Axton.
Itulah yang membuatnya sempat ragu untuk memberikan surat tersebut pada Axton. Butuh keberanian besar bagi Anya, dan ia berharap Axton sudi membaca dan menerima kado perpisahan tersebut.
...*****...
Anya memeluk Theresa seraya menangis tersedu-sedu. Gadis itu meminta Theresa untuk tinggal di sini alih-alih ikut dengan keluarganya ke Inggris.
Axton tahu, Anya memang sangat menyayangi ibunya. Ia bahkan pernah berkata ingin menukar ibu mereka. Maka tak heran perpisahan kali ini benar-benar mengguncang gadis itu.
Theresa kembali memeluk Anya dan berbisik lembut. Anya menganggukan kepalanya beberapa kali seraya menggenggam erat benda yang diberikan wanita cantik itu.
Gadis berusia belasan tahun itu kemudian mengalihkan pandangannya pada Axton. Ia menghampiri Axton dan mengulurkan tangannya. "Selamat jalan, Kak, semoga hidupmu bahagia selalu," ujarnya tulus.
Axton menerima jabatan tangan Anya.
Suara sebuah gelang terdengar kala mereka berjabatan tangan.
Anya tersenyum mendapati Axton memakai gelang pemberiannya.
Tidak ingin terlihat salah tingkah, Axton buru-buru melepas tautan tangan mereka dan berjalan menjauh.
"Kak X!"
Axton dapat mendengar teriakan Anya. Gadis itu melambaikan tangannya dengan semangat. Sekuat tenaga Axton menahan bibirnya agar tidak tersenyum.
"Kaaak!" pria muda itu masih bisa mendengar jelas teriakan Anya.
"Kaaak!"
"Kakak biadab!"
Axton menghentikan langkahnya dengan wajah bingung.
"Kau biad*b! Kau biad*b karena telah menghancurkan hidupku!"
Axton berbalik dan tersentak kaget kala mendapati Anya tersenyum bengis sambil memegang sebilah pisau runcing di tangannya.
"Kau ... sudah menghancurkan segalanya. Kini, kau harus menanggung rasa bersalah itu dengan kematianku!"
Dengan cepat gadis itu mengiris nadinya hingga darah segar menyembur deras dan mengenai wajah Axton.
"HAH!"
Axton bangun dari tidurnya. Napas pria itu terengah-engah dan keringat dingin mengucur deras membasahi dahinya.
"Mimpi?" Batin Axton. Ia baru saja memimpikan masa lalunya yang aneh.
Saat hendak bangkit dari ranjang untuk membersihkan diri, jantung Axton nyaris berhenti berdetak, sebab detik itu juga ia mendapati sosok seorang gadis yang baru saja hadir dalam mimpinya kini tertidur di sana tanpa sehelai benang pun.
Matanya sontak berkeliling, menatap pecahan gelas yang berserakan dimana-mana juga beberapa pakaian teronggok di lantai.
Sekelebat ingatan soal tadi malam langsung bergentayangan di kepala Axton.
Wajah Axton seketika berubah pucat pasi, kala mendapati bercak darah tercetak jelas di sprei putih miliknya.
"Sudah berapa kali kau berikan tubuhmu pada pria itu, hah?"
"Kau sudah sering bertemu dengannya di luar, bukan? Di hotel mana kalian main?"
"Jangan bohong kau, Gadis jal***! Aku tahu kau sudah memberikan tubuhmu pada pria itu sejak masih sekolah. Iya, kan?"
Axton menutup wajahnya, frustrasi. Matanya menoleh takut-takut pada Anya yang masih tertidur.
Ia sama sekali tidak berani membayangkan bagaimana reaksi Anya ketika bangun nanti.
Axton benar-benar tidak menyangka, amarah yang ada dalam dirinya bisa membuat pria itu berani menyelakai Anya
Perasaan bersalah melekat kuat pada diri Axton. Terlebih ketika mengetahui bahwa gadis itu masihlah perawan, sampai ia merenggutnya tadi malam
"Apa yang sudah kulakukan?" gumam Axton.
Saat Axton masih sibuk berkutat dengan pikirannya, Anya tiba membuka mata. Gadis itu mengaduh kesakitan saat mencoba bangun dan duduk dari tidurnya.
Begitu menyadari apa yang telah terjadi, Anya sontak berteriak bak orang kesetanan. Teriakannya semakin menjadi-jadi saat melihat bercak darah yang berada di atas ranjang.
Axton telah merenggut kehormatannya.
Semangatt terus berkarya nya 💪💪💪💪