NovelToon NovelToon
Mahkota Darah Dan Mawar Es

Mahkota Darah Dan Mawar Es

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Epik Petualangan / Balas Dendam
Popularitas:717
Nilai: 5
Nama Author: AnnaYoung

​Di dunia fantasi Eldoria yang dikuasai oleh perserikatan klan penyihir, Aura Zephyra adalah perwujudan dari kepolosan masa muda. Sebagai putri sulung dari Klan Penyihir Angin yang agung, hidup remajanya dipenuhi dengan tulusnya cinta kepada tunangannya, Gavin Elrod. Namun, di hari pernikahan mereka yang seharusnya menjadi momen paling bahagia, cinta itu berubah menjadi mimpi buruk. Gavin mengkhianatinya, membantai seluruh klannya, dan menusuk dada Aura demi merebut Inti Sihir Angin untuk ambisi takhtanya. Di ambang kematian, dalam kobaran api kuil yang hancur, Aura mengutuk Gavin dengan air mata darah.

​Bukannya lenyap, jiwa Aura justru terlempar kembali ke masa lalu—dua tahun sebelum tragedi pembantaian itu terjadi. Terbangun di tubuh remajanya yang berusia tujuh belas tahun, Aura bukan lagi gadis naif yang bisa dibodohi. Keajaiban regresi waktu tidak hanya membawa ingatannya, tetapi juga membangkitkan atribut sihir terlarang yang telah punah ribuan tahun: Sihir Es Kuno.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sumpah Es dan Gaun Berduri

​Persiapan pernikahan di Istana Serigala Es tidak diwarnai oleh kelembutan kelopak mawar merah atau wewangian melati seperti yang biasa ditemui di ibu kota. Di Utara, pernikahan adalah upacara sakral yang menyatukan dua jiwa dalam badai takdir. Setiap dekorasi yang dipasang di sepanjang koridor kastil memancarkan keagungan yang dingin; kristal-kristal es digantung pada dinding batu, memantulkan cahaya dari obor api biru yang tidak pernah padam.

​Di dalam kamar pengantin yang luas, Aura Zephyra berdiri di depan cermin raksasa yang bingkainya terbuat dari tulang paus purba. Tiga penjahit terbaik Utara, wanita-wanita tua dengan jemari yang kokoh dan dipenuhi tato sihir pelindung, sedang merapikan lipatan terakhir dari gaun pengantinnya.

​Gaun itu adalah mahakarya yang menakjubkan. Berbeda dengan gaun pengantin sutra putih tipis yang disiapkan Gavin untuknya di kehidupan lalu—gaun yang robek dan ternoda darah dengan begitu mudah—gaun Utara ini terbuat dari tenunan serat perak dan sutra salju yang langka. Polanya menyerupai duri-duri es mawar yang menjalar dari bagian pinggang hingga ke dada. Saat Aura menggerakkan tubuhnya, gaun itu berkilau keperakan, memancarkan aura magis pertahanan yang setara dengan baju zirah ksatria tingkat tinggi.

​"Nona Aura, gaun ini tidak hanya indah, tetapi juga ditenun dengan sihir pelindung es." Boris, sang kepala pelayan, menjelaskan dari ambang pintu yang terbuka. "Jika ada energi asing atau niat membunuh yang diarahkan kepada Anda selama upacara, gaun ini akan secara otomatis membentuk perisai pembeku."

​Aura menyentuh permukaan kain yang terasa dingin namun lembut di kulitnya. "Ini sempurna, Paman Boris. Di tempat di mana musuh mengintai di balik setiap senyuman, sebuah gaun yang bisa membunuh adalah pakaian terbaik."

​Boris tersenyum tipis, mengagumi pragmatisme sang calon ratu. "Upacara akan dimulai dalam satu jam, Yang Mulia. Pangeran Kaelen telah menunggu di Altar Kuno."

​Setelah para penjahit mundur, Aura menatap pantulan dirinya di cermin. Wajah remaja 17 tahunnya tampak begitu dewasa di balik riasan tipis dan mahkota kecil terbuat dari kristal es hitam yang bertengger di atas rambut peraknya.

Di kehidupan lalu, jam-jam menjelang pernikahannya diisi oleh debar jantung kebahagiaan yang bodoh dan kepasrahan seorang gadis yang mengira hidupnya akan sempurna bersama pria yang dicintainya. Kini, dadanya dipenuhi oleh ketenangan yang mematikan. Pernikahan ini adalah ikatan bisnis, aliansi militer, dan langkah catur pertamanya untuk meruntuhkan kedamaian semu Gavin Elrod.

​Altar Kuno Istana Serigala Es terletak di ruang terbuka di puncak tertinggi kastil, menantang badai salju yang mengamuk di sekeliling mereka. Langit Utara malam itu berwarna biru pekat keunguan, dihiasi oleh aurora hijau yang menari-nari dengan megah.

​Ketika pintu besar menuju altar terbuka, Aura melangkah keluar. Angin malam yang kencang langsung menerpa wajahnya, menerbangkan ujung rambut peraknya. Namun, keajaiban terjadi; setiap kepingan salju yang mendekati tubuh Aura mendadak melambat dan berputar mengelilinginya seperti pelayan yang patuh, tidak ada sebutir pun yang mengotori gaunnya.

​Di ujung altar, berdiri Kaelen Vane. Pria itu mengenakan jubah kebesaran penguasa Utara berwarna hitam legam dengan sulaman serigala perak di punggungnya. Bahunya yang lebar tampak menantang badai, dan sepasang mata merah delimanya berkilat tajam saat melihat Aura berjalan mendekat. Untuk sesaat, tatapan kejam nan bengis yang biasanya menghiasi wajah sang Kaisar Tanpa Mahkota melunak, digantikan oleh rasa takjub yang mendalam.

​Aura berjalan dengan langkah yang pasti di atas lantai batu yang dilapisi es tebal. Di sisi kiri dan kanan altar, ratusan prajurit Utara, termasuk Freya yang mengenakan baju zirah lengkap, berdiri tegak dengan senjata yang ditancapkan ke tanah sebagai tanda penghormatan.

​Saat Aura tiba di hadapan Kaelen, pria itu mengulurkan tangannya yang besar. Aura menyambutnya. Berbeda dengan hawa dingin di sekeliling mereka, telapak tangan Kaelen terasa hangat dan kokoh.

​"Kau tampak sangat memukau, Aura Vane," bisik Kaelen, suaranya yang berat mengalahkan deru angin malam. "Apa kau siap mengikat takdirmu dengan monster?"

​Aura menatap lurus ke dalam sepasang mata merah itu, senyumnya berkilat penuh tekad. "Aku tidak menikah dengan monster, Kaelen. Aku menikah dengan badai yang akan membantuku membakar musuh-musuhku. Dan ya, aku sangat siap."

​Seorang tetua klan Utara dengan jubah abu-abu melangkah maju, memegang sebuah belati perak kuno. Tanpa banyak upacara basa-basi seperti di ibu kota, tetua itu menggores telapak tangan kanan Kaelen dan telapak tangan kanan Aura hingga darah segar mengalir dengan ujung belati.

​Kaelen dan Aura kemudian menyatukan telapak tangan mereka yang terluka, membiarkan darah mereka bercampur.

​"Di bawah kesaksian Dewa-Dwi Eldoria dan badai Utara yang abadi ...," Kaelen mengucapkan sumpah dengan suara yang menggelegar, beresonansi dengan energi magis di sekitarnya. "Aku, Kaelen Vane, menerima Aura Zephyra sebagai istriku, ratu dari Wilayah Utara. Darahku adalah darahnya, pedangku adalah perisainya, dan musuhnya adalah musuhku hingga kematian menjemput."

​Aura menarik napas dalam-dalam, merasakan energi magis Kaelen yang pekat dan hangat mengalir masuk melalui luka di tangannya, menyatu dengan inti sihir es kunonya.

​"Di bawah kesaksian langit dan salju ...," Aura menyahut, suaranya jernih dan tak bergetar. "Aku, Aura Zephyra, menerima Kaelen Vane sebagai suamiku, penguasa utaraku. Kekuatanku adalah senjatanya, jiwaku terikat pada tanah ini, dan siapa pun yang mengusik Utara akan merasakan amukan esku."

​Detik setelah sumpah itu selesai diucapkan, lambang mawar hitam di pergelangan tangan mereka menyala dengan cahaya keemasan yang luar biasa terang. Sumpah Darah pernikahan kontrak telah resmi berubah menjadi sumpah darah pernikahan abadi di bawah hukum sihir kuno.

Tekanan magis yang masif meledak dari tubuh mereka berdua, melesat ke langit dan membelah badai salju di atas istana, menciptakan lubang besar yang menampilkan hamparan bintang-bintang yang berkilauan di langit malam.

​Para prajurit Utara serentak mengangkat senjata mereka ke udara, berteriak dengan gemuruh yang menggetarkan gunung. "Hidup Pangeran Kaelen! Hidup Ratu Aura! Hidup Wilayah Utara!"

​Sementara perayaan pernikahan berlangsung meriah di aula utama Istana Serigala Es, sebuah surat sihir dengan cap serigala perak telah melesat menembus malam, menuju Ibu Kota Eldoria dengan kecepatan magis.

​Dua hari kemudian, di dalam kediaman megah Klan Elrod di ibu kota, suasana berubah menjadi mencekam.

​Prang!

​Gavin Elrod melemparkan cawan anggur kristalnya ke dinding hingga hancur berkeping-keping. Wajah tampannya kini dipenuhi oleh distorsi kemarahan yang luar biasa. Di tangannya, selembar dokumen sihir bergetar hebat—pengumuman resmi pernikahan dari Wilayah Utara yang menyatakan bahwa Aura Zephyra telah resmi menjadi istri sah dari Kaelen Vane.

​"Sialan! Sialan! Sialan!" Gavin berteriak, napasnya memburu. "Bagaimana mungkin pelacur kecil itu bisa menikah dengan Kaelen Vane?! Dan Sumpah Darah?! Dia mengikat jiwanya dengan monster itu?!"

​Duke Gerald Elrod duduk di kursi kerjanya dengan wajah yang sangat gelap. "Tenang, Gavin. Kemarahanmu tidak akan mengubah fakta bahwa kita telah kehilangan akses mudah ke inti sihir Klan Zephyra. Dan yang lebih buruk, Utara sekarang memiliki sekutu dari salah satu klan penyihir angin terkuat."

​"Tapi, Ayah! Aura adalah milikku! Rencana kita untuk merebut kekuatan Zephyra bergantung pada pernikahan kami!" Gavin mencengkeram rambutnya dengan frustrasi.

Ia tidak bisa melupakan tatapan dingin dan meremehkan yang diberikan Aura kepadanya saat perjamuan terakhir mereka. Gadis yang biasanya menatapnya dengan mata penuh cinta remaja yang bodoh, tiba-tiba berubah menjadi sosok yang begitu asing dan menakutkan.

​"Gavin, ingat tujuan besar kita ...," Duke Gerald menyipitkan matanya yang licik. "Aura mungkin mengira dia telah menemukan pelindung yang kuat di Utara. Namun, dia tidak tau bahwa aliansi kita dengan tiga klan besar lainnya sudah hampir selesai. Jika Utara runtuh karena pembongkaran segel Abyss, Kaelen Vane akan mati, dan Aura Zephyra tidak akan memiliki tempat untuk bersembunyi. Saat itu tiba, kau bisa mengambilnya kembali, menyiksanya, dan merebut inti sihirnya dengan paksa."

​Mendengar kata-kata ayahnya, kemarahan di mata Gavin perlahan mereda, digantikan oleh senyuman kejam yang sadis.

"Kau benar, Ayah. Biarkan jalang itu menikmati masa-masa indahnya di atas ranjang es Kaelen Vane. Ketika saatnya tiba bagi pasukan kita untuk berbaris ke Utara, aku sendiri yang akan merantai lehernya dan menyeretnya kembali ke ibu jota sebagai budakku!"

​Kembali ke Istana Serigala Es, Aura berdiri di balkon kamar pengantinnya, menatap kegelapan malam Utara yang dingin. Ia bisa merasakan sirkulasi energinya yang kini mengalir dengan sangat lancar setelah upacara sumpah darah. Hubungan magis dengan Kaelen membuat tubuhnya lebih kebal terhadap efek buruk dari sihir es kuno.

​Pintu balkon terbuka pelan. Kaelen melangkah masuk, melepaskan jubah bulu serigala luarnya dan menyisakan kemeja hitam longgar yang mengekspos sebagian dadanya yang bidang. Pria itu berjalan mendekati Aura, berdiri di sampingnya sambil bersandar pada pagar pembatas balkon.

​"Mata-mataku melaporkan bahwa Gavin Elrod hampir menghancurkan ruang kerjanya setelah menerima berita pernikahan kita," ucap Kaelen dengan nada geli yang dingin.

​Aura tidak menoleh, namun sudut bibirnya terangkat. "Itu baru permulaan, Kaelen. Pria seperti Gavin sangat menghargai harga diri dan kepemilikannya. Kehilanganku—dan yang lebih penting, kehilangan akses ke kekuatanku—adalah pukulan telak bagi egonya."

​"Lalu, apa langkahmu selanjutnya, ratu utaraku?" Kaelen bertanya, menatap profil samping wajah Aura yang diterangi oleh cahaya bulan malam.

​Aura membalikkan tubuhnya, menatap Kaelen dengan mata biru yang berkilat penuh ambisi. "Mulai besok, aku akan memasuki Gua Kultivasi Salju Abadi di bawah istana. Aku perlu mematangkan sihir es kunoku hingga mencapai tingkat kelima dalam waktu satu tahun. Sementara aku berlatih, aku ingin Anda memperkuat pertahanan militer di perbatasan dan mulai mengawasi pasokan batu sihir hitam yang masuk dari perbatasan barat. Kita harus siap sebelum mereka bergerak."

​Kaelen menatap gadis remaja di hadapannya dengan rasa hormat yang semakin mendalam. Aura bukan hanya seorang istri kontrak; dia adalah seorang jenderal, seorang konspirator ulung yang memiliki pandangan jauh ke depan.

​"Gua Salju Abadi memiliki tekanan dingin yang bisa membekukan jiwa manusia biasa, Aura. Apa kau yakin?" Kaelen memastikan, nadanya menyiratkan kecemasan yang samar.

​Aura melangkah mendekati Kaelen, mengulurkan tangan untuk menyentuh dada pria itu, tepat di atas jantungnya yang berdetak kuat.

"Jiwa biasa mungkin akan beku, Kaelen. Namun, jiwaku dibakar oleh api dendam yang tidak akan pernah bisa dipadamkan oleh es mana pun. Lagipula ... bukankah aku memilikimu yang akan selalu menghangatkanku?"

​Kaelen tertegun mendengar kalimat terakhir Aura yang diucapkan dengan nada setengah menggoda namun penuh keyakinan. Pria itu tersenyum rendah, lalu menangkap tangan Aura di dadanya, mengecup ujung jari gadis itu dengan kelembutan yang langka.

​"Tentu saja. Badai Utara ada di pihakmu, Aura Vane. Masuklah ke dalam gua itu, jadilah lebih kuat, dan ketika kau keluar nanti ... kita akan merobek kedamaian ibu kota bersama-sama."

​Di bawah kesaksian malam yang sunyi, babak pertama dari kehidupan baru Aura di Utara telah dimulai. Gerbang kultivasi telah terbuka, dan dalam waktu singkat, dunia fantasi Eldoria akan menyaksikan kebangkitan sang Ratu Es yang akan membawa pembalasan dendam paling epik dalam sejarah kekaisaran.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!