Diana Ayuningtyas, Berniat memberikan kejutan. dengan sengaja mendatangi Apartemen Gilang Wijaya - sang kekasih, untuk merayakan ulang tahunnya.
Tetapi malah mendapatkan kenyataan bahwa kekasihnya ternyata tinggal bersama wanita lain.
"Kamu siapa ?"
"Aku? Aku tunangan pemilik Apartemen ini!"
Duarrr...
Diana langsung terdiam mematung, tidak ingin percaya.
"Sayang ! Siapa yang datang ?"
Tapi suara Gilang dari dalam, yang memanggil wanita di depannya ini dengan panggilan mesra, membuatnya tidak bisa menahan nya lagi.
Sebelum Gilang datang, Diana segera pergi dengan air mata yang perlahan mengalir.
Lift perlahan tertutup, matanya menatap lurus ke depan, hatinya bergemuruh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dunia_halusinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 Kejutan yang berubah menjadi luka
Bab 1: Kejutan yang Berubah Menjadi Luka
Matahari mulai bergeser ke barat, meninggalkan langit kota dengan semburat jingga keunguan yang lembut.
Namun, di hati Diana Ayuningtyas, suasana jauh lebih cerah dari itu.
( Visual Diana )
Ia melangkah cepat menuju gedung apartemen mewah tempat Gilang Wijaya tinggal.
Tangan kanannya memegang erat kotak kue yang dihias indah, sementara tangan kirinya menggenggam bungkus kado berwarna perak.
"Aku udah gak sabar banget, pasti dia kaget!" Ujarnya sambil tertawa geli
Hari ini adalah ulang tahun kekasihnya.
Selama dua tahun menjalin hubungan, Diana selalu berusaha memberikan yang terbaik.
Kali ini ia sengaja tidak memberitahu rencananya—ingin memberikan kejutan yang tak terlupakan untuk pria yang ia cintai sepenuh hati.
"Siap-siap Diana!" Dia begitu bersemangat
Setelah sampai di lantai yang dituju, jantung Diana berdegup kencang karena gembira.
Ia menekan bel dengan senyum yang tak kunjung luntur.
Beberapa detik kemudian, pintu terbuka.
Namun, senyum itu langsung membeku di bibirnya.
Yang muncul di balik pintu bukanlah Gilang, melainkan seorang wanita muda dan cantik,
mengenakan pakaian santai yang terlihat sangat akrab berada di ruangan itu.
Wanita itu menatap Diana dari atas ke bawah dengan tatapan penuh selidik.
"Kamu siapa? Mencari siapa?" tanya wanita itu dengan nada dingin.
Diana mengerjap, mencoba memastikan dirinya tidak salah alamat. "Saya... saya mencari Gilang Wijaya. Ini apartemennya, bukan?"
Wanita itu tersenyum sinis, lalu bersandar ringan di kusen pintu dengan nada percaya diri tinggi.
"Iya, benar ini apartemennya. Tapi kamu siapa berani mencarinya?"
"Saya kekasihnya," jawab Diana jujur, meski mulai merasakan ada yang tidak beres.
Mendengar itu, wanita itu malah tertawa kecil, lalu menatap tajam ke arah Diana.
"Kekasih? Maaf, sepertinya kamu salah paham. Aku adalah tunangan resmi pemilik apartemen ini. Sudah lama kami tinggal bersama."
Duarr!
"Tu - tunangan?" Ujarnya lirih
Seperti disambar petir di siang bolong. Dunia Diana terasa berputar seketika.
Kotak kue dan kado di tangannya terasa semakin berat, seolah ingin terlepas begitu saja.
"Bohong! Kamu bohong!"
Matanya terasa panas, tetapi ia berusaha menahan diri, berharap mendengar penjelasan lain yang bisa membantah kenyataan pahit ini.
Tetapi wanita di depannya hanya mengangkat bahunya acuh, dia memainkan kuku tangannya yang lentik, seolah tidak peduli dengan reaksi Diana.
Belum sempat Diana membuka mulut lagi, sebuah suara yang sangat dikenalnya terdengar dari dalam ruangan—suara Gilang.
"Sayang! Siapa yang datang?"
Panggilan itu.
Panggilan mesra yang selama ini hanya ia dengar ditujukan untuk dirinya sendiri.
Sekarang, suara itu meluncur begitu ringan untuk wanita lain yang berdiri di hadapannya.
"Kau dengar itu ?!" Ujar wanita itu dengan sombong, wajah nya begitu angkuh.
Diana terdiam.
Jadi benar ! Kamu mengkhianati aku ?
"Bukan siapa-siapa sayang!" Ujar wanita itu dengan suara keras
"Kalian, benar-benar sudah bertunangan?" Tanya Diana pelan
Wanita itu mendengus.
"Kami sudah di jodohkan sejak kecil, dan sebentar lagi akan menikah. dia mendekati mu mungkin karena bosan" Ujarnya
"Tapi - "
"Tapi apa ? Dia begitu baik, lembut dan terlihat mencintaimu?" Wanita itu bertanya dengan nada sarkas
"Dia memang selalu begitu, tapi tetap saja. Aku yang akan menikah dengan nya. Itu kenyataannya!" Ujarnya lagi
Rasa sakit, malu, dan kecewa menyergap hatinya sekaligus.
"Sayang, kenapa lama banget"
Terdengar langkah kaki Gilang mendekat.
"Sebentar Sayang!"
Diana tidak sanggup melihat wajah Gilang, tidak sanggup mendengar penjelasan apa pun yang pasti hanya akan menyakiti hatinya lebih dalam.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, ia memutar tubuh dan berjalan tergesa menuju pintu lift, air mata akhirnya mengalir membasahi pipi sebelum sempat ia tahan.
Wanita itu hanya memperhatikan, tanpa mencegah atau memberikan penjelasan lebih lanjut.
Tetapi matanya memancarkan aura permusuhan yang kuat.
Begitu pintu lift terbuka, Diana masuk dan menekan tombol lantai dasar dengan jari yang gemetar.
"Ayo Diana, ini bukan saatnya untuk lemah!"
Saat pintu lift perlahan tertutup, terakhir kali matanya menangkap samar sosok wanita itu masih berdiri di ambang pintu,
diikuti bayangan tubuh Gilang yang baru saja keluar dari ruangan dalam.
"Kamu tega sama aku!" Gumamnya lirih
Dadanya sesak, dia menekan nya kuat. Mencoba menahan rasa sakitnya.
Pintu lift rapat menutup, memisahkannya dari pemandangan yang menghancurkan hatinya.
Diana bersandar lemas di dinding lift, menutup wajah dengan kedua tangan.
Hatinya bergemuruh hebat. Dua tahun kebersamaan, semua janji manis, dan harapan akan masa depan.
semuanya lenyap seketika,
digantikan oleh kenyataan yang menyakitkan: ia telah dikhianati oleh pria yang paling ia percayai.