Aruna Cheryl Adijaya adalah anak perempuan yang diadopsi oleh keluarga konglomerat Adijaya yang tersohor. Ia diambil sebagai pengganti Aaira Beril Adijaya- si bungsu yang meninggal karena sakit.
Namun kisahnya tidak seindah yang dibayangkan, kehadirannya tidak dianggap oleh ketiga saudaranya yang lain.
Tidak sampai disitu, nasib buruk masih mengikutinya saat ia dipaksa oleh Ayana- ibu tiri ketiga saudara angkatnya itu untuk menikahi seorang pria yang berusia 15 tahun lebih tua darinya. Dalam pernikahan itu ia disiksa hingga akhirnya dibunuh oleh suaminya sendiri.
Tapi saat Aruna membuka matanya, ia kembali ke usia saat masih berusia 10 tahun, 2 tahun setelah diadopsi.
Apakah Aruna akan kembali mengalami takdir yang sama? Atau Aruna akan berjuang untuk merubah takdir hidupnya yang mengenaskan?
Di saat Aruna sudah bertekad dengan keputusannya, takdir kembali mempermainkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon QueenBwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sembilan
"Una! Wajahmu kenapa?!" Ganesha memekik kaget saat ia baru datang ke ruang UKS dan mendapati Aruna tengah terduduk di pinggir ranjang sembari mengompres sudut bibirnya dengan es batu.
"Darimana kau tahu aku di sini? Dan sekarang masih jam pelajaran, Ganesh."
"Mahesa mengirimiku pesan dan aku langsung meminta ijin keluar. Katakan! Siapa yang melakukannya?! Paula, kan?! Issh! Anak itu!"
Ganesha baru saja akan keluar tapi Aruna menahan tangannya cepat, "Sudahlah, ini bukan hal besar, kok."
"Apa maksudmu?! Ini namanya kekerasan, Una! Aku tidak bisa diam saja!"
"Ganesh, please. Aku tidak apa-apa," bujuk Aruna. Bukan karena Aruna takut terjadi sesuatu padanya lagi jika Ganesha ikut campur. Tapi lebih ia tak ingin Ganesha mendapat masalah karena ulahnya. Sudah cukup ibu Ganesha tidak menyukainya, jangan sampai membencinya juga karena menyeret putri kesayangannya dalam masalah ini.
Raut wajah Ganesha tampak kesal tapi anak itu langsung menghela napas dan mengangguk saja.
"Baiklah, aku diam karena kau yang meminta. Lain kali aku takkan mendengar," ketusnya.
"Terima kasih," kekeh Aruna.
***
Saat pulang sekolah, Aruna langsung masuk ke mobil ketika jemputan Ganesha datang. Ia terduduk dengan tenang di belakang sebelum Marco membelalak syok melihat wajah Aruna.
"Nona! Wajah anda kenapa?!" Ia langsung menoleh ke belakang dengan cepat.
"Kentara sekali, ya?"
"Nona, astaga! Apa yang terjadi? Apa ada yang menyakiti anda di sekolah?!"
Marco terlihat marah tapi ia berusaha menahannya, Aruna menyadari hal itu dan membuatnya tak bisa menahan senyuman. Pria muda itu tidak pernah berubah, sejak dulu memang hanya Marco yang peduli padanya. Ketika ia mencoba kabur dari suaminya, Marco membantunya dengan menjemputnya dan membawanya kembali pulang ke kediaman Adijaya.
Namun, tindakannya itu membuat Marco di pecat dan ia kesulitan menemukan pekerjaan lain karena ulah Ayana. Pada akhirnya, ia mendapat kabar bahwa Marco meninggal karena sakit dan kelaparan.
Semua karena dirinya. Jika saja Marco tidak menolongnya, maka nasib pria itu takkan berakhir buruk begitu.
"Bukan masalah besar, kok. Nah, ayo pulang. Aku lelah."
"Tapi, nona—"
"Marco, aku baik-baik saja. Ini hanya perkelahian kecil saja, kok."
"Anda yakin?"
"Ya."
"Baiklah. Saya tahu anda berbohong tapi saya takkan mengatakan apa pun sekarang, Nona."
"Terima kasih."
***
Dirumah..
Aruna baru saja tiba dan ia berjalan memasuki rumah besar itu ketika di sambut oleh Sammy.
"Selamat datang kemb— Nona! Wajah anda!"
"Aku baik-baik saja. Tidak usah membesarkan sesuatu, aku mau tidur, oke?" ucap Aruna cepat yang langsung berjalan ke kamarnya begitu saja tanpa menunggu reaksi Sammy sama sekali.
***
"Aruna sudah pulang?" tanya Elvio pada Sammy. Ia bertanya tanpa memalingkan wajahnya dari tumpukan berkas-berkas yang menggunung.
"Ya, Tuan. Tapi—"
Elvio mendongak dengan sebelah alis naik, "Tapi?"
"Saya tidak tahu apa yang terjadi di sekolah karena Nona Aruna pulang dalam keadaan wajahnya yang luka juga lebam," jelas Sammy.
"Apa maksudmu? Tidak, panggil Marco sekarang," titahnya.
"Baik, Tuan," jawab Sammy yang langsung keluar dan memanggil Marco sesuai perintah.
Tak lama Marco datang dengan kepala menunduk takut.
"Marco, apa terjadi sesuatu pada Aruna di sekolah?" tanya Elvio.
Marco menggeleng pelan, "Sa-saya juga tidak tahu, tuan. Ketika saya bertanya pun, Nona Aruna menjawab ia tak apa-apa dan bukan masalah besar."
Tanpa sadar Elvio meremat bolpoin di tangan kanannya, "Salah satu keluarga Adijaya pulang dalam keadaan terluka dan ia bilang bukan masalah besar?! Panggil Aruna sekarang!"
Sesuai perintah, Sammy pergi untuk menjemput Aruna menghadap sang kepala keluarga. Tidak butuh waktu lama, anak itu sudah berdiri menghadap Elvio dengan raut datar.
"Aruna, siapa yang melukai wajahmu?"
Aruna mengerjap bingung dan langsung refleks menyentuh luka di sudut bibirnya, apa ia di panggil karena luka ini?
Serius?
Wow! Pria dingin itu bereaksi hanya karena hal sepele begini?
Saat ia sekarat dulu, di mana pria itu?
"Aruna, katakan. Siapa yang melukai wajahmu? Kau tak perlu—"
"Kenapa anda ingin tahu?" pertanyaan dingin Aruna meluncur begitu saja.
"Apa?"
"Kenapa anda ingin tahu tentang hal sepele begini?"
"Hal sepele? Apa maksudmu Aruna?! Seseorang melukai wajahmu! Melukaimu yang merupakan bagian keluarga Adijaya! Aku tak mungkin diam saja sebagai ayahmu!" tanpa sadar suara Elvio meninggi dan pria itu sadar.
"Aruna, ayah tidak—"
"Ah, sekarang anda jadi ayahku? Woah, aku pasti bermimpi," ucapnya pelan tanpa ekspresi. Terlalu datar dan dingin hingga membuat Elvio terkejut, tak pernah sekalipun ia melihat raut wajah Aruna seperti itu.
"Aruna, apa maksudmu? Aku memang ayahmu."
"Ppfftt! Ayah? Ya, ayah. Anda benar. Tapi, anda yakin?"
"Aruna, ada apa denganmu? Kenapa kau berubah?"
Aruna terdiam.
Serius, Elvio menanyakan pertanyaan konyol itu?
Saking tak percaya, Aruna sampai tak bisa berkata apa pun. Kenapa terdengar lucu? Boleh tertawa tidak, sih? Please, saat ini rasanya Aruna ingin tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan konyol itu.
Kenapa ia berubah?
Sayanganya, Aruna tak bisa menahan dirinya untuk tidak tertawa. Ia sampai membuat Elvio kebingungan karena anak itu tertawa terbahak-bahak seolah ada sesuatu yang lucu terjadi.
"Wow! Aku punya ayah. Astaga! Apa ini mimpi? Wah, benar-benar tak dapat di percaya," ucapnya lalu terkekeh lagi bahkan hingga airmatanya keluar. Butuh waktu beberapa saat hingga Aruna dapat berhenti tertawa dan menatap Elvio yang hanya bisa diam melihatnya sedari tadi.
"Maafkan ketidaksopananku, Tuan. Aku hanya terlalu kaget dengan ucapan anda, padahal kita semua tahu bahwa itu tidak benar."
"Apa maksudmu, Aruna?"
"Tuan, aku mungkin masih terlalu kecil tapi aku tidak bodoh untuk tidak menyadari bahwa tak ada satu pun orang di rumah ini yang menyukai kehadiranku. Termasuk anda sendiri," ucap Aruna santai.
Elvio sampai terkejut mendengar penuturan anak itu.
"Aruna, siapa yang mengatakan itu padamu? Itu tidak—"
"Akui saja, anda juga tidak menyukai kehadiranku. Iya, kan?" potong Aruna.
Pria itu terdiam kaku. Mulutnya bahkan terasa begitu kelu untuk sekedar menjawab pertanyaan Aruna.
"Lihat? Anda tak mampu menjawab karena memang benar. Bodohnya aku meski sudah mengetahui hal itu, tapi aku tetap berusaha melakukan apa pun hanya agar kalian menerimaku. Harus aku akui, aku bahagia ketika ibu panti mengatakan ada keluarga terhormat yang mau mengadopsiku padahal usiaku sudah 8 tahun. Ku pikir saat itu akhirnya aku memiliki keluargaku sendiri. Wow, aku dan seluruh pikiran naif ku, " Aruna terkekeh lagi ketika mengingat dirinya yang dulu.
"Aku tak tahu apa alasan anda mengadopsiku, Tuan. Tapi aku berterimakasih pada anda karena berkat itu, aku bisa melanjutkan sekolah dan memakan makanan enak setiap hari. Anda tak perlu cemas, aku tahu diri dan posisiku dengan baik. Aku tak pernah berfikir untuk menggantikan posisi mendiang putri anda, Tuan. Karena aku tak pantas untuk itu. Jadi, aku akan mengatakan ini langsung pada anda. Aku akan pergi ketika usiaku legal dan anda bisa membatalkan surat adopsiku. Aku tahu keberadaanku membuat semua orang tidak nyaman, tapi bisakah anda bertahan sedikit lagi sampai aku bisa mengurus diriku sendiri, Tuan? Aku akan hidup dengan diam tanpa menyebabkan masalah apa pun asal anda tetap membiarkanku tetap tinggal di sini sampai waktunya tiba," ucap Aruna tanpa ada rasa takut atau gentar dari suaranya.
Bahkan Elvio sampai tak bisa mengatakan apa pun mendengar ucapan Aruna barusan.
"Aku akan menganggap kediaman anda sebagai tanda iya. Kalau begitu aku permisi, Tuan," kata Aruna lalu berjalan keluar begitu saja tanpa menoleh ke belakang sama sekali.
Ketika sosok Aruna benar-benar tak terlihat, Elvio seolah sadar dan langsung meremat kedua tangannya.
"Sammy, apa yang telah kulakukan? Bagaimana bisa aku membuat anak berusia 10 tahun mengucapkan semua kalimat menyakitkan itu? Apa kau juga beranggapan begitu tentangku, Sam?"
Sammy tak menjawab dan hanya menundukkan kepalanya.
"Jadi, anak itu menyerah? Menurutmu perlakuanku keterlaluan, Sam?"
Sekali lagi Sammy hanya bisa diam dan itu cukup menjawab pertanyaan Elvio. Sekarang ia paham kenapa Aruna tidak memanggilnya dengan sebutan "Ayah" lagi. Bahkan cara anak itu berbicara seolah ia sedang berbicara kepada majikannya, bukan sebagai Ayahnya. Elvio tidak tahu kenapa ia membenci fakta itu. Kenapa ia merasa marah ketika Aruna memutuskan akan pergi saat usianya legal?
Dan kenapa ia tak bisa memperlakukan Aruna dengan baik?
"Sammy, cari tahu apa yang terjadi pada Aruna di sekolah dan laporkan padaku segera," titah Elvio.
"Baik, Tuan."