NovelToon NovelToon
ISTRI YANG DISINGKIRKAN DI HARI ULANG TAHUN PERNIKAHAN

ISTRI YANG DISINGKIRKAN DI HARI ULANG TAHUN PERNIKAHAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:14.4k
Nilai: 5
Nama Author: Barra Ayazzio

Di hari yang seharusnya menjadi perayaan cinta, dia justru disingkirkan dari hidup mereka.

Ketika seorang istri setia berharap mendapat kejutan di hari ulang tahun pernikahannya, yang ia terima justru pengkhianatan dari orang-orang yang paling ia percayai.

Suami yang berubah. Pelakor yang datang tanpa rasa bersalah. Serta ibu mertua dan ipar yang mendukung semuanya.

Akankah ia bertahan demi rumah tangganya?

Atau memilih pergi dan membuktikan bahwa dirinya mampu hidup tanpa mereka?

Siapkan hati kalian, karena kisah ini akan menghadirkan banyak air mata, kemarahan, penyesalan, dan tentunya balas karma yang memuaskan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10. Kamar Itu Milikku

Setelah mencurahkan isi hatinya kepada Bu Khadijah, Arini merasa sedikit lebih lega. Rasa sakit akibat pengkhianatan yang dilakukan Galang memang belum hilang. Luka itu masih ada, menganga di dalam hatinya. Namun setidaknya, setelah berbicara panjang dengan wanita yang selama ini menjadi sosok ibu baginya, beban yang menyesakkan dadanya terasa berkurang.

Bu Khadijah sengaja tidak lagi membahas masalah Galang. Beliau tahu Arini membutuhkan waktu untuk menenangkan diri.

"Sudah hampir waktu makan siang," ujar Bu Khadijah sambil tersenyum. "Ayo ke ruang makan. Anak-anak pasti senang kalau kamu ikut makan bersama mereka."

Arini mengangguk. Sejak pagi tadi, ia memang sudah bertemu dengan anak-anak panti. Bahkan ia datang membawa banyak hadiah seperti biasanya. Ada buku-buku cerita, alat tulis, makanan ringan, susu, beberapa mainan edukatif, dan kebutuhan lain yang dibutuhkan anak-anak.

Sejak kedatangannya, suasana panti sudah ramai oleh suara tawa dan kegembiraan mereka. Kini, menjelang makan siang, anak-anak kembali berkumpul di ruang makan.

Ruangan itu sederhana, namun terasa hangat.

Meja-meja panjang berjajar rapi. Aroma masakan rumahan memenuhi udara. Hari itu menu makan siang cukup istimewa karena ada ayam goreng, sayur sop, tempe goreng, dan kerupuk yang menjadi favorit anak-anak.

"Kak Arini, duduk di sini!"

"Tidak. Di sebelah aku!"

"Kak Arini janji tadi mau duduk dekat aku."

Beberapa anak langsung berebut tempat di sampingnya.

Arini sampai tertawa melihat tingkah mereka.

"Kalau begini Kak Arini berdiri saja ya?"

"Jangan!"

Anak-anak menjawab kompak hingga membuat seluruh ruangan dipenuhi gelak tawa. Akhirnya Arini duduk di tengah-tengah mereka. Suasana makan siang berlangsung begitu meriah.

Seorang anak laki-laki bernama Fikri sibuk menceritakan hadiah mobil-mobilan yang baru diterimanya pagi tadi.

"Kak, mobil yang Kakak kasih bisa nyala lampunya!"

"Bagus dong."

"Aku mau jadi pembalap kalau besar nanti."

"Kalau begitu harus rajin belajar juga."

Fikri mengangguk dengan wajah serius.

Sementara di sisi lain, beberapa anak perempuan sedang membicarakan buku cerita baru yang mereka dapatkan.

"Kak Arini, nanti malam aku mau baca buku ini sampai selesai."

"Jangan sampai lupa tidur."

"Tapi ceritanya seru."

"Kamu baca besok juga masih bisa."

Anak-anak tertawa. Melihat wajah-wajah polos itu, hati Arini perlahan menghangat. Di tempat ini, tidak ada kepura-puraan. Tidak ada penghianatan. Tidak ada orang yang memanfaatkannya lalu membuangnya ketika sudah tidak dibutuhkan. Yang ada hanya ketulusan.

Bu Khadijah yang duduk tak jauh darinya memperhatikan Arini dengan senyum tipis.

Beliau bisa melihat perubahan di wajah wanita itu.

Meski matanya masih menyimpan kesedihan, setidaknya kini senyum mulai kembali muncul.

Setelah makan siang selesai, sebagian anak membantu membereskan meja, sementara yang lain kembali bermain di halaman.

Arini ikut membantu mengangkat beberapa piring ke dapur.

"Kamu ini tamu, malah ikut bekerja," tegur Bu Khadijah.

Arini tersenyum kecil. "Arini bukan tamu, Bu."

Jawaban itu membuat mata Bu Khadijah menghangat. "Benar. Kamu memang bukan tamu."

Mereka saling tersenyum. Setelah suasana kembali tenang, Arini memberanikan diri mengungkapkan keinginannya.

"Bu..."

"Ya?"

"Kalau tidak merepotkan, Arini ingin menginap di sini malam ini."

Bu Khadijah bahkan tidak perlu berpikir lama. Wajah beliau langsung berbinar.

"Tentu saja boleh."

"Benarkah?"

"Kenapa harus bertanya seperti itu? Kamu tahu sendiri kalau tempat ini selalu menjadi rumahmu."

Mata Arini mulai berkaca-kaca. Bu Khadijah menggenggam tangannya lembut. "Kamar kamu masih ada. Selalu kami jaga seperti dulu."

Arini terdiam sesaat. Dulu, ketika sudah sukses dan menikah dengan Galang, Bu Khadijah beberapa kali menawarkan untuk menggunakan kamar itu bagi penghuni baru. Namun Arini selalu meminta agar kamar tersebut tetap dipertahankan. Bukan karena ia berniat kembali tinggal di sana. Melainkan karena kamar itu menyimpan begitu banyak kenangan masa kecilnya.

Dan kini, setelah bertahun-tahun, ia benar-benar membutuhkan kamar itu lagi. Bukan sebagai penghuni panti. Melainkan sebagai seseorang yang sedang mencari tempat untuk menenangkan hati.

"Ayo, Ibu antar ke kamar!"

Arini mengangguk pelan.

Saat mengikuti langkah Bu Khadijah menuju kamar yang pernah menjadi saksi tumbuh dewasanya, ada perasaan hangat yang perlahan memenuhi dadanya.

Untuk sementara waktu, ia tidak ingin memikirkan Galang. Tidak ingin memikirkan Mayang. Tidak ingin memikirkan pengkhianatan yang telah menghancurkan rumah tangganya.

Hari ini, ia hanya ingin beristirahat. Di rumah yang selalu m~enerimanya tanpa syarat. Arini mendorong pelan daun pintu kamar yang selama bertahun-tahun menjadi saksi masa kecilnya.

Aroma kayu yang khas langsung menyambut indra penciumannya. Semuanya masih terasa sama. Lemari berwarna cokelat tua masih berdiri di sudut ruangan. Meja belajar yang dulu dipenuhi buku-buku pelajaran masih berada di tempatnya, meski kini tampak lebih rapi. Di dinding masih tergantung beberapa foto lama bersama kedua orang tuanya saat ia masih berseragam sekolah.

Senyum tipis terbit di bibir Arini. Entah sudah berapa lama ia tidak benar-benar menghabiskan malam di kamar ini. Setelah menikah dengan Galang, rumahnya ini hanya sesekali ia datangi. Kini, ia kembali bukan sebagai anak yang pulang melepas rindu, melainkan sebagai seorang perempuan yang sedang mencari tempat untuk menenangkan hati.

Perlahan ia duduk di tepi ranjang. Jemarinya mengusap seprai yang begitu dikenalnya.

"Rumah..." gumamnya lirih.

Dadanya terasa hangat. Di kamar inilah ia dulu menangis saat nilai ulangannya jelek. Di tempat yang sama pula ia tertawa bersama Bu Khadijah yang sudah dianggapnya ibu, di kamar ini pula ia bercerita kepadanya tentang cita-cita dan masa depan yang indah.

Tak pernah ia bayangkan, suatu hari ia akan kembali ke kamar ini karena rumah tangganya sendiri tak lagi memberinya rasa aman.

Arini mengembuskan napas panjang. Ia berniat merebahkan tubuh yang sejak pagi terasa lelah. Namun, saat hendak meletakkan tas di samping ranjang, ia teringat ponselnya masih berada di dalam.

Ia mengeluarkannya. Layar ponsel langsung menyala. Mata Arini membelalak. Ada belasan notifikasi yang memenuhi layar. Sebagian besar adalah panggilan tak terjawab dari satu nama yang sangat dikenalnya.

Mas Galangku

Belum sempat ia membaca semuanya, layar kembali bergetar.

Nama itu muncul lagi. Galang menelepon. Arini memejamkan mata beberapa detik. Jujur saja, ia sedang tidak ingin berbicara dengan laki-laki itu. Setelah apa yang terjadi semalam hingga pagi tadi, suaranya saja sudah cukup membuat kepalanya pening.

Namun, bagaimana pun juga, secara hukum dan agama, Galang masih berstatus sebagai suaminya.

Dengan rasa enggan, Arini menggeser tombol hijau.

Ponsel ditempelkan ke telinga.

"Assalamu'alaikum."

Suara Arini terdengar datar. Tak ada jawaban salam. Yang terdengar justru suara Galang yang meledak penuh emosi.

"Arin! Apa maksudmu ngunci kamar kita?"

Arini menghela napas pelan. "Gak ada maksud apa-apa."

Jawabannya begitu santai, seolah pertanyaan itu sama sekali tidak penting.

"Tapi kenapa dikunci? Aku gak bisa masuk!"

"Barang-barangmu sudah aku keluarin, kok."

Ucapan itu justru membuat emosi Galang semakin memuncak. "Kamu jangan kurang ajar, Arini!"

Arini tersenyum tipis. Bukannya marah, ia justru merasa lucu mendengar tuduhan itu.

"Apanya yang kurang ajar, Mas?" tanyanya tenang. "Aku sebagai pemilik kamar itu berhak menentukan siapa yang boleh dan siapa yang tidak boleh masuk ke kamarku."

"Itu kamarku juga, Rin!"

"Mungkin dulu iya."

Suara Arini tetap tenang, tetapi setiap katanya terdengar tegas.n"Sekarang, kan, kamu sudah punya istri baru. Ya, tinggallah bersama istrimu itu."

"Kamu jangan kurang ajar, Arin!" bentak Galang lagi. "Kamu juga masih jadi istriku."

"Iya, aku tahu."

"Kalau tahu, kenapa kamu ngusir aku dari kamar itu?"

Arini tersenyum hambar. Selama ini Galang begitu mudah mengklaim segala sesuatu sebagai miliknya. Padahal, lelaki itu bahkan tidak tahu siapa pemilik sebenarnya dari rumah yang selama ini ia tempati dengan penuh kesombongan.

"Karena aku pemilik kamar itu," jawab Arini mantap. "Dan aku yang berhak menentukan siapa yang boleh masuk atau tidak ke kamar itu."

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara yang semakin dingin. "Oh ya... bukan cuma kamar itu." Galang terdiam beberapa detik.

"Semua sudut rumah itu juga milikku. Jadi aku yang berhak menentukan siapa yang boleh tinggal, siapa yang boleh masuk, dan siapa yang harus keluar."

Kalimat itu meluncur tanpa nada tinggi, tetapi menghantam telinga Galang seperti petir di siang bolong. Bagi Arini, itu bukan ancaman, melainkan penegasan atas haknya sebagai pemilik rumah yang selama ini sengaja ia diamkan. Kini, setelah pengkhianatan Galang terang-terangan terjadi di depan matanya, ia tidak lagi merasa perlu mengalah atau membiarkan siapa pun memperlakukan rumahnya seolah milik orang lain.

__________________________________

Hai Readers jangan lupa mampir ke novel aku yang lainnya ya!

Rahasia Masa Lalu Suami dan Sang Ipar (sudah tamat).

Ditalak Sesaat Setelah Akad (sudah tamat)

Benang Putus Karena Cinta Pertama. (Up)

Oh iya jangan lupa beri masukan dan kritikan yang membangun yah, biar makin semangat up novelnya. Terimakasih 🙏🏼🙏🏼🙏🏼

1
Arin
Betul itu idenya Hani..... Jual rumahmu. Malah kalau bisa jual sama orang yang punya kuasa atau orang yang punya bekingan. Jadi pas mau ambil rumah yang sudah di beli, mereka akan mengerahkan anak buahnya buat ambil tuh rumah.
Neneng Yensiana
buat apa Arini banyak yg lebih baik buat Galang dan ibunya TDK berkutik sebar video dan foto pernikahannya SM mayang
Heni Setiyaningsih
terimakasih udah double up
sehat terus dan semangat Thor 😍💪💪💪
Arin
Dasar benalu-benalu.... gak pingin kehilangan kenyamanan pingin mempertahankan Arini. Untuk kebutuhan biologis yang diandelin si Mayang..... dasar laki-laki serakah.
Ma Em
Bu Sumarni dan Galang tdk mau bercerai dgn Arini bkn karena Galang msh cinta dgn Arini tapi hdp Bu Sumarni dan Galang takut hdp nya susah karena tdk ada dukungan materi dari Arini .
Heni Setiyaningsih
dasar orang gila..... stres
Arin
Laki-laki egois ingin menang sendiri. Kalau dirimu tidak mau menceraikan Arini, tenang Arini punya bukti perselingkuhan mu dan pernikahan mu dengan Mayang. Tanpa persetujuan darinya..... Mau maju gak mau ceraikan Arini, mungkin Arini tutup mata dengan melaporkan mu sebagai pegawai ASN pasti kena sanksi karena poligami mu. Atau laporkan polisi kasus perselingkuhan.... tinggal pilih Galang yang mana???
Arin: aku dukung itu
total 2 replies
Arin
Hidup mu sekarang berantakan karena datangnya istri kedua mu. Memang ada ya istri yang mau menampung dan melayani madunya di rumah miliknya sendiri??? Yang ada itu bodoh....
Kalau istri lebih mandiri punya apa-apa sendiri ya mending pisah daripada cuman diperalat keluarga suami.
Cha Libra
udh ke 4 kli bkin Novel tpi smua fl lom ada yg badas terllu d bkin lemot ...sllu pelakor d depan
Ma Em
Si Galang dan keluarga nya yg benalu msh saja menyalahkan Arini bkn nya sadar Galang susah akibat keputusan nya yg sdh menikah lagi
Heni Setiyaningsih
/Heart//Heart//Rose//Rose//Rose//Rose/
Heni Setiyaningsih
kurang banyak Thor up nya 😍💪
Arin
Nyalahkan Arini terus.... dirimu saja yang gak bisa jaga mata. Udah punya istri masih aja ngelirik Mayang malah ajak nikah sekalian. Mentang- mentang udah berpenghasilan sendiri. Tapi seharusnya sadar duitmu cukup gak buat dirimu, Arini belum lagi ibumu, Vera, terus keponakan mu yang tiap bulan minta jatah uang jajan???
Arin
Ini salah satu laki-laki tidak bersyukur. Udah punya istri Arini yang punya usaha sampingan. Malah ingin nambah istri lagi. Sekarang pusingkan??? Dulu untuk hidup aja masih nombok, sekarang ketambahan lagi beban hidup hadeuh. Makanya jangan cuma mikir enaknya doang.... dipikir punya istri lagi enak yang ada nambah pengeluaran buat hidup juga kan???
Lee Mba Young
Kl arini berani laporin galang berarti dia hebat👍.
tp kl gk berani laporin berarti wanita lemah. mkne pantes di injak injak lemah sih. kasian kl punya anak ntar kl Ada apa apa ma anaknya pasti suruh ngalah walau bener. bukan mncerminkan wanita badas😄🔥
Lee Mba Young
lebay lemah. laporkan. itu lah kenapa km di hina di injak injak krn km perempuan lemah.
lbih bagus laporin beres.
kymlove...
terlalu lemah.... terlalu baik... harusnya sat set rebut kembali semua yang memang milikmu, dan kasih pelajaran semua orang yang menzolimi mu... nunggu karna Tuhan, kelamaan🤧
kymlove...: bener... tinggal balas dendam aja, dan ambil kembali yang emang udah jadi haknya, malah masih mikir dan debat sama hatinya sendiri, malah ikhlas dan nunggu karma Tuhan yang entah kapan terjadinya!!!! goblok emang!!
total 2 replies
Cha Libra
bkin arini tegas thour ambil smua mlik Arini dri benalu
Arin
Setelah ini tarik semua yang kau punya Arini Termasuk rumah yang sekarang di tempati Galang. Karena itu bukan harta gono gini. Itu hakmu sepenuhnya karena rumah itu kamu punya sebelum menikah dengan Galang. Biar tuh Galang dan Mayang cari tempat tinggal lain. Enak saja numpang hidup dirumah istri
Heni Setiyaningsih
next double up ya Thor 😍💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!