❣️ Update : 19.00 WIB ❣️
Bagaimana jika skenario hidup yang selama ini kamu anggap menyedihkan ternyata adalah skenario terindah yang Tuhan siapkan untukmu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunes_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28 - Perhaps Love
Pagi itu seperti biasa Javier yang menyiapkan sarapan. Sejauh ini aku belum pernah membuat sarapan karena Javier selalu bangun lebih dulu dan menyiapkannya tanpa banyak bicara.
Begitu semuanya siap, kami langsung makan. Kami duduk berhadapan seperti biasa.
Beberapa menit berlalu dalam keheningan. Hanya suara sendok dan garpu yang sesekali terdengar.
Namun entah kenapa rasa penasaranku tentang masa lalu Javier kembali muncul.
"Mas..." panggilku.
"Hm?" Javier mengangkat kepala dan menatapku.
"Ini misalnya ya, Mas. Misalnya lho, ya...."
"Kamu mau ngomong apa sih?" Javier mulai curiga.
"Dengerin dulu."
"Iya, iya. Aku dengerin."
Aku menggigit bibir bawah sebentar.
"Misalnya...." ucapku hati-hati. "Kalau orang tua Devina dulu nggak nuntut kalian buat cepat-cepat nikah, sekarang kalian udah nikah belum?"
Javier terlihat sedikit terkejut.
"Kenapa kamu nanya kayak gitu? Kamu beneran cemburu?"
"Nggak!" jawabku cepat. "Aku cuma penasaran aja."
"Penasaranmu nggak habis-habis, ya?"
"Soalnya aku keinget drama Korea. Tokoh utamanya menderita sama A, terus tiba-tiba time travel ke sepuluh tahun lalu. Akhirnya dia milih B dan hidup bahagia. Masa depannya berubah."
Aku berbohong.
Padahal sebenarnya aku memang penasaran sekali tentang Javier dan Devina.
"Kenapa kamu sambungin sama aku dan Ina? Kan beda."
"Aku penasaran aja. Misalnya kalian nggak putus gimana?"
Javier terdiam beberapa detik sebelum menjawab.
"Kalau aku dan Ina nggak putus, berarti kita nggak akan nikah. Aku nggak akan ketemu kamu."
Eh?
Entah kenapa dadaku terasa sedikit sesak mendengarnya.
Tapi benar juga.
Kalau Javier tidak putus dengan Devina, aku mungkin bahkan tidak akan pernah mengenalnya.
"Berarti kalian sekarang udah nikah dong?" tanyaku lagi.
"Mungkin...."
Aku langsung mengernyit.
"Kok kamu kayak nggak yakin gitu sih?"
"Soalnya aku juga nggak tahu."
Javier meletakkan sendoknya.
"Lagian masa depan siapa yang tahu? Meskipun aku dan Ina dulu nggak putus, itu nggak menjamin sekarang kami udah nikah."
Aku terdiam.
"Jodoh itu di tangan Tuhan, Naya. Sekalipun dulu aku menginginkan Ina jadi istriku, kalau menurut Tuhan dia nggak cocok buat aku, ya akhirnya aku nggak akan nikah sama dia."
Ah....
Benar juga.
Aku tidak bisa membantah kalimat itu.
"Dan kamu juga harus ingat satu hal."
"Apa?"
"Sekalipun kamu menginginkan cowok yang a, b, c, d, bahkan yang menurutmu paling sempurna sekalipun, kalau menurut Tuhan dia bukan orang yang tepat buat kamu, ya dia tetap nggak akan jadi jodoh kamu."
Aku mengernyitkan dahi.
"Kenapa jadi aku yang kena?"
Javier tertawa kecil.
"Soalnya yang lagi sibuk berandai-andai dari tadi itu kamu."
Aku mendecih pelan.
"Tapi kalau dipikir-pikir..." lanjut Javier sambil tersenyum tipis. "Kalau semua kejadian di masa lalu berubah, bisa jadi aku nggak kenal kamu. Bisa jadi kamu juga nggak kenal aku."
Aku menunduk menatap piringku.
Aneh.
Harusnya aku senang membayangkan itu.
Karena dari awal aku memang tidak pernah menginginkan perjodohan ini.
Tapi entah kenapa sekarang, membayangkan hidup yang tidak pernah mempertemukanku dengan Javier justru terasa sedikit menyedihkan.
Aneh.
Kenapa aku malah sedih?
Bukankah Javier bukan tipe laki-laki yang selama ini kusukai?
Bukankah aku bahkan pernah berharap perjodohan ini tidak terjadi?
Lalu kenapa sekarang aku malah memikirkan kata-kata tentang jodoh yang baru saja dia ucapkan?
"Mas..."
"Hm?"
"Apakah cowok yang cocok buat aku menurut Tuhan itu kamu?"
Javier yang sedang mengambil segelas air langsung menatapku.
Dia terlihat sedikit terkejut.
"Ya nggak tahu."
Aku langsung mengerutkan dahi.
"Kok nggak tahu terus sih?"
"Aku manusia biasa, Naya." Javier terkekeh pelan. "Aku bukan cenayang atau peramal."
Aku mendecakkan lidah.
Menyebalkan.
"Kamu takut ya selamanya sama aku?" tanya Javier tiba-tiba.
Hah?
Aku langsung menatapnya.
Pertanyaan itu membuatku diam beberapa detik.
"Nggak tahu," jawabku cepat.
Javier mengangkat sebelah alis.
"Kenapa sekarang kamu yang bilang nggak tahu?"
Aku langsung menutup mulut.
Sial.
"Jadi..." Javier menahan senyum. "Apa sebenarnya kamu pengen selamanya sama aku?"
"Nggak!"
Jawabanku terlalu cepat.
Bahkan aku sendiri menyadarinya.
Javier justru terlihat semakin ingin menggodaku.
"Tadi katanya nggak tahu. Sekarang bilang nggak. Gimana sih?"
Aku mendengus pelan.
"Aku cuma...."
Kalimatku menggantung.
Aku sendiri tidak tahu bagaimana menjelaskannya.
"Apa?" tanya Javier.
Aku menunduk menatap piringku.
"Nggak mau hal yang tak terduga terjadi."
"Hal yang tak terduga apa?"
Aku langsung menggeleng.
"Bukan apa-apa. Udah makan aja."
Aku buru-buru menyuapkan makanan ke mulut agar Javier berhenti bertanya.
Untungnya Javier tidak memaksa.
Namun setelah itu suasana justru menjadi lebih canggung.
Karena aku tahu persis hal tak terduga yang sebenarnya kutakutkan.
Bukan soal rumah.
Bukan soal pernikahan.
Dan bahkan bukan soal perceraian.
Melainkan suatu hari nanti, ketika nama Lee Jun-ha sudah tidak lagi memenuhi pikiranku.
Ketika orang yang selalu muncul di kepalaku bukan lagi aktor Korea yang selama ini kusukai.
Melainkan Javier.
Suamiku sendiri.
Dan yang lebih menakutkan lagi...
Aku tidak tahu apakah saat itu Javier bisa mencintaiku atau tidak.
Setelah makan, kami langsung keluar rumah.
Baru beberapa langkah, suara seseorang memanggil kami dari rumah sebelah.
"Mbak Naya, Mas Javier, selamat pagi."
Aku dan Javier langsung menoleh.
Kulihat Rafli sedang duduk di teras sambil menyuapi Rena.
Javier mengangguk singkat.
"Selamat pagi, Mas Rafli," sapaku. "Lho, kok Mas Rafli yang nyuapin Rena? Mbak Tara mana?"
"Ada, di dalam," jawab Rafli. "Kalian mau berangkat kerja, ya?"
"I..."
"Iya nih," potong Javier lebih dulu.
Lalu tanpa peringatan dia menoleh kepadaku.
"Sayang, hari ini kamu aku anterin aja, ya?"
Aku langsung tertegun.
Lagi-lagi.
Lagi-lagi Javier memanggilku seperti itu.
"Sayang?" ulang Javier.
"Hah?"
"Aku anterin ya?"
Aku melirik Rafli yang sedang memperhatikan kami.
"I-iya."
Rafli tersenyum kecil.
"Wah, enaknya. Semoga lancar kerjanya."
"Makasih, Mas," jawab Javier.
"Mas Rafli, kami berangkat dulu, ya."
"Oh iya, hati-hati."
Aku dan Javier berjalan menuju mobil.
Seperti kemarin, Javier membukakan pintu untukku terlebih dahulu.
Setelah aku masuk, Javier memutari mobil dan duduk di kursi pengemudi.
Begitu pintu tertutup, aku langsung menoleh ke arahnya.
"방금 뭐 한 거야? 왜 또 나한테 자기야라고 불러? 나 안 좋아하잖아! 왜 자꾸 자기야라고 불러? (Barusan ngapain? Kenapa lagi-lagi kamu manggil aku sayang? Kamu kan nggak suka aku! Kenapa selalu manggil aku sayang?)”
Aku mengatakannya begitu cepat hingga bahkan aku sendiri hampir kehabisan napas.
Javier hanya menatapku bingung.
"Kamu ngomong apa sih?"
Aku menghela napas panjang.
Menyebalkan.
Aku lupa dia tidak mengerti.
Tanpa menjawab, aku langsung memasang sabuk pengaman dan menatap ke luar jendela.
"Kamu marah?" tanya Javier.
"Menurut kamu?"
"Kamu marah karena apa? Aku salah apa?"
Aku memilih diam.
"Nay..."
"Udah, ayo pergi. Nanti aku terlambat."
"Bilang dulu aku salah apa."
Aku menghela napas lagi.
"Kenapa kamu manggil aku sayang lagi?"
"Oh itu... Itu karena ada Rafli."
Aku mengernyit.
"Kamu kan istriku. Kalau aku manggil kamu 'Naya', nanti Rafli curiga. Bisa-bisa dia mikir hubungan kita kenapa-kenapa."
"Ya biarin aja."
"Kok biarin?"
"Waktu itu kamu bilang jangan dengerin omongan orang. Tapi sekarang kamu sendiri yang peduli."
Javier menggeleng pelan.
"Kalau masalah panggilan beda kasus."
Aku langsung menoleh.
"Apa bedanya? Sama aja."
"Nggak sama."
"Sama."
"Nggak."
"Sama."
Javier menatapku beberapa detik lalu menghela napas pasrah.
"Kamu kenapa sih mempermasalahkan aku manggil kamu sayang?"
Aku membuka mulut, tetapi tidak langsung menemukan jawaban.
"Orang kemarin aja kamu juga manggil aku sayang."
"Itu beda."
"Beda gimana?"
"Kamu tahu sendiri bedanya."
"Nggak tahu."
Javier menatapku beberapa detik seolah tidak percaya.
"Kalau memang kamu nggak suka dipanggil sayang, kenapa kemarin kamu manggil aku sayang juga?"
Aku langsung terdiam.
"Sampai minta disuapin segala lagi."
"Itu kan karena mantan kamu!"
Begitu kalimat itu keluar, aku langsung membeku.
Hening.
Sangat hening.
Aku berharap bisa menarik kembali kata-kataku.
Namun sudah terlambat.
"Oh...."
Javier mengangguk pelan.
"Karena Ina."
Aku memalingkan wajah.
Salah.
Harusnya aku tidak mengatakan itu.
"Kamu cemburu?" tanya Javier.
"아니야! 난 질투 아니야! (Nggak! Aku nggak cemburu!)”
"Hah? Iya atau nggak?"
"Nggak!"
"Beneran?"
"Iya."
"Iya apa?"
Aku mengepalkan kedua tanganku.
Kesal.
Kesal sekali.
"Iya, aku nggak cemburu! Iya, aku nggak suka sama kamu! Iya, aku nggak cinta sama kamu! Puas?!"
Javier terdiam.
Beberapa detik berlalu tanpa suara.
"Oke."
Hah?
Aku langsung menoleh.
Hanya itu?
Tidak ada bantahan?
Tidak ada godaan?
Tidak ada komentar?
Javier memakai sabuk pengamannya.
Setelah itu Javier menyalakan mesin mobil.
Seolah percakapan barusan tidak penting.
Seolah tidak terjadi apa-apa.
Padahal aku yang sudah kesal setengah mati.
Mobil mulai keluar dari halaman rumah.
Aku menatap jalan di depan dengan bibir mengerucut.
Menyebalkan.
Harusnya aku senang.
Harusnya aku lega karena Javier tidak salah paham.
Tapi entah kenapa sekarang aku justru semakin kesal.
Dan yang paling menyebalkan...
Aku bahkan tidak tahu kenapa aku kesal.