NovelToon NovelToon
Maaf, Aku Tak Mengemis Cinta

Maaf, Aku Tak Mengemis Cinta

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Masuk ke dalam novel / Transmigrasi / Tamat
Popularitas:243.9k
Nilai: 4.9
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

Ia masuk ke tubuh wanita yang ia anggap bodoh, dan memilih mengubah takdirnya, bukan mengulangnya

Dina, yatim piatu cerdas yang selalu diremehkan karena penampilan, meninggal dalam kecelakaan dan terbangun sebagai Belvina Laurent, sosialita cantik yang dulu ia anggap bodoh. Terjebak dalam pernikahan tanpa cinta dengan Alden Virel, pria dingin yang membencinya,

Dina dalam tubuh Belvina memutuskan berhenti mengejar cinta yang bukan miliknya.

Perubahannya membuat Alden gelisah, sementara Seraphina, wanita yang tampak lembut, perlahan menunjukkan sisi tersembunyi.

Dengan kecerdasan yang kini jadi senjata, Belvina mulai membalik keadaan, mengungkap kebohongan, dan membuktikan bahwa harga diri lebih berharga daripada cinta sepihak.

Namun semakin ia menjauh, semakin Alden tak mampu melepaskannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25. Pagi Setelah Kekacauan

Hujan sudah reda, tapi udara masih menyisakan dingin.

Perlahan Belvina terbangun. Bukan karena dirinya sendiri, melainkan karena sesuatu yang mengusiknya.

Ada tekanan hangat dan keras yang berdenyut di pahanya. Asing.

Sesuatu di belakangnya, terlalu nyata untuk diabaikan.

Seketika matanya terbuka lebar.

Beberapa detik ia menatap kosong ke depan. Lalu menyadari posisi tubuhnya.

Ia berada dalam pelukan Alden. Dan sesuatu itu... berasal dari pria di belakangnya.

Belvina menegang seketika.

“Alden!”

Ia berusaha berbalik mendadak. Namun lengan di pinggangnya justru mengencang sedikit.

Suara serak pria itu terdengar dekat telinganya.

“Pagi.”

Belvina menoleh tajam.

“Kau bangun?!”

“Semenjak kau menegang seperti papan kayu.”

Pipi Belvina langsung panas.

“Lepas!”

“Kenapa?” Alden membuka mata pelan, terlihat terlalu santai untuk situasi itu. “Bukannya semalam kau yang mendekat duluan?”

“Jangan ngarang! Aku tidur!”

“Jadi salahku kalau tubuhmu jujur saat tidur?”

“Kau benar-benar tidak tahu malu.”

Alden menatapnya beberapa detik, lalu sudut bibirnya naik tipis.

“Lucu.”

“Apa?”

“Biasanya mulutmu tajam sekali. Sekarang cuma bisa marah.”

“Diam! Jauhkan itu dariku!”

“Ini bukan benda yang bisa kulepas dan kutaruh di meja.”

Belvina ternganga. Telinganya ikut memanas.

“Kau menjijikkan!”

“Aku baru bangun,” sahut Alden seolah tidak ada masalah. “Belum sempat berbuat apa-apa.”

Belvina langsung menyikut perutnya. Alden mengerang pelan dan akhirnya melepas pelukan.

Belvina berusaha bangkit secepat mungkin. Bergerak turun dari ranjang dengan panik—

Namun kakinya tersangkut selimut.

“Ah—!”

"Hey!"

Bruk.

Belvina nyungsep ke lantai dengan posisi memalukan.

Ruangan hening dua detik.

Lalu suara tawa rendah pecah dari atas ranjang.

Bahu Alden bergetar menahan geli. Bukan senyum tipis. Bukan decakan kecil. Tertawa sungguhan.

Belvina yang masih setengah tengkurap mengangkat kepala perlahan.

Ekspresinya pecah seketika.

“Kau... menertawakanku?”

Alden menutup mata sebentar. Namun gagal menahan senyum dan akhirnya terkekeh, satu tangan menekan perutnya.

“Maaf,” katanya, meski jelas tidak menyesal. “Aku berniat menahanmu.”

Belvina bangkit cepat sambil membetulkan rambut berantakan.

“Kalau niatmu sebesar egomu, aku pasti sudah selamat.”

Alden benar-benar menikmati momen itu.

Belvina menunjuknya penuh amarah.

“Berhenti tertawa!”

“Sulit.”

“Alden!”

“Ini pertama kalinya aku lihat kau kalah dari selimut.”

Belvina meraih bantal dan melempar keras ke wajahnya.

BUG.

Alden menangkap bantal itu sambil masih tersenyum. Ia menatap wanita di depannya lama.

Pipi seperti tomat matang. Rambut acak-acakan. Marah setengah mati. Dan sangat hidup.

“Kenapa lihatin aku begitu?” geram Belvina.

Alden menyandarkan punggung ke kepala ranjang.

“Sedang memutuskan.”

“Memutuskan apa?”

"Apakah aku lebih suka saat kau galak... atau saat kau panik begini."

Belvina membeku satu detik.

Alden menambahkan. “Tenang,” gumamnya. Ekspresinya malah malas. “Kalau aku berniat jahat, kau tak akan sempat teriak.”

Belvina mengambil bantal kedua.

“Aku bunuh kau.”

Suara rendah keluar dari tenggorokan Alden. “Nanti,” sahutnya tanpa beban. “Sekarang mandi dulu. Kau lucu saat marah, tapi lebih lucu lagi saat rambutmu seperti sarang burung.”

"Tutup mulutmu!"

Belvina lempar sandal,

“Kalau itu terulang lagi, kubuat kau pincang permanen.”

Alden menjawab dengan nadanya ringan dari ranjang:

“Berarti kau berencana tidur denganku lagi?”

"Jangan mimpi!"

Belvina berbalik menuju kamar mandi.

BRAK!

Pintu tertutup keras.

Dan entah kenapa, pagi itu terasa jauh lebih hangat dari semestinya.

Alden masih menatap pintu kamar mandi yang baru saja tertutup.

Senyum tipis belum hilang dari bibirnya.

"Dasar ceroboh."

Pikiran itu muncul begitu saja, disertai bayangan Belvina tersangkut selimut lalu jatuh dengan wajah panik bercampur marah.

Untuk pertama kalinya, kecerobohan wanita itu membuatnya tergelak tanpa bisa ditahan.

Biasanya hal semacam itu hanya memancing kesal.

Seperti malam di ballroom.

Saat Belvina berlari mengejarnya, lalu terjatuh di depan banyak orang. Yang ia rasakan waktu itu hanya gangguan dan kerepotan.

Namun sekarang berbeda.

Entah sejak kapan, wanita yang sama mulai terasa… menghibur.

Alden kembali menyandarkan punggung ke kepala ranjang, masih menatap pintu itu beberapa saat.

Lalu sudut bibirnya kembali terangkat.

“Merepotkan,” gumamnya pelan.

Tapi kali ini, nadanya sama sekali bukan keluhan.

 

Di balik pintu kamar mandi, Belvina berdiri mematung di depan wastafel.

Ia mendadak sadar suhu ruangan terasa terlalu tinggi.

“Alden menyebalkan,” gerutunya pelan. “Tak tahu malu.”

Namun begitu mengingat penyebab dirinya terbangun tadi, warna merah di pipinya justru semakin pekat.

Ia memejamkan mata kuat-kuat.

"Sial."

Refleks tangannya menyentuh bagian belakang pahanya sendiri, seolah memastikan sensasi itu benar-benar terjadi.

Masih teringat jelas. Hangat. Keras. Bergerak samar.

Kelopak matanya terangkat spontan.

“Astaga…”

Ia menatap bayangannya di cermin dengan ngeri.

“Apa yang kupikirkan?”

Tangannya cepat menjauh seolah tersengat.

“Alden sialan. Dia benar-benar meracuni otak anak perawan.”

Ia menutup wajah sebentar dengan kedua telapak tangan, malu pada dirinya sendiri.

Beberapa detik kemudian, Belvina memutar keran shower penuh. Air dingin jatuh deras membasahi rambut dan bahunya.

Ia berdiri di bawahnya, berharap guyuran air bisa meredam wajah panas, jantung kacau, dan pikiran yang terasa makin tak terkendali.

Sayangnya, justru wajah Alden yang tertawa tadi terus muncul di kepala.

Belvina membuka satu mata perlahan.

“Lebih baik dia kembali jadi es balok saja.”

***

Pagi turun bersama aroma kopi dan roti panggang.

Ruang makan keluarga itu sudah ramai ketika langkah kaki terdengar dari tangga.

Semua kepala menoleh hampir bersamaan.

Alden turun lebih dulu. Dan seisi meja terdiam.

Pria itu tetap rapi seperti biasa. Kemeja bersih, rambut tertata, langkah tenang.

Namun ada satu hal yang terasa ganjil. Wajahnya jauh lebih terang.

Bukan tersenyum lebar, tapi jelas bukan ekspresi datar dan dingin yang biasa ia bawa setiap pagi. Garis rahangnya lebih longgar. Matanya bahkan tampak ringan.

Alena berkedip dua kali.

Fransisca perlahan menurunkan cangkir tehnya.

Bahkan Andreas mengangkat alis tipis dari balik koran.

Lalu Belvina muncul di belakangnya.

Masih cantik, tegak. Masih berusaha terlihat biasa. Sayangnya, di tengah dahinya ada benjolan kecil kemerahan yang nyaris mustahil diabaikan.

Arsen mengamati beberapa detik, lalu meledak tertawa.

“Hahahaha— tunggu… Kakak jatuh lagi?!”

Belvina langsung menatap tajam.

“Kalau kau ingin ikut benjol, lanjutkan.”

Arsen berusaha berhenti, tapi gagal total.

“Maaf— hahahaha— aku cuma… kalian berdua turun begini pagi-pagi itu sangat mencurigakan!”

Alena menatap jidat Belvina, lalu menatap wajah Alden yang terlalu segar. Matanya membulat.

“Oh. Astaga. Apa semalam kalian perang?”

Fransisca tersedak teh.

Andreas melipat koran perlahan.

“Tidak ada yang bicara,” katanya datar.

Semua langsung diam.

Belvina menarik kursi dengan wajah tanpa ekspresi.

“Aku nabrak lemari.”

Alden duduk di sebelahnya, mengambil kopi.

“Itu bohong.”

Semua mata beralih cepat.

Napas Belvina tertahan.

Alden menyesap kopinya tenang.

“Dia jatuh dari ranjang. Nyungsep.”

Seketika ruangan menjadi sunyi.

Lalu Arsen jatuh hampir dari kursinya karena tertawa terlalu keras.

Belvina menginjak kaki Alden di bawah meja.

Pria itu meringis tipis, tapi justru tersenyum.

Dan di momen itu, seluruh keluarga sadar, masalah terbesar di rumah itu bukan perceraian.

Melainkan putra sulung mereka ternyata sedang jatuh cinta.

Fransisca diam-diam berkata pada Andreas, “Sepertinya menantu kita tidak jadi pergi.”

“Belum tentu," jawab Andreas. "Yang jatuh cinta baru satu.”

Alena menatap kakaknya lama.

Lalu berbisik pada Arsen,

“Kita selesai. Kak Alden sudah gila.”

 

...✨"Belvina mengira ia hanya jatuh dari ranjang. Tak sadar seseorang di belakangnya jatuh lebih dulu."...

..."Kadang cinta tidak datang lewat pengakuan, tapi lewat tawa yang tak pernah dimiliki seseorang sebelumnya."✨...

.

To be continued

1
abimasta
terimakasih thor,sukses di karya2 selanjutnya
Sulati Cus
menarik
Kyky ANi
aduh tuan Raymond ini manas manasin aza deh,,,
Kyky ANi
bahaya nih,,Serap,, udah mulai rencana jahat,,
Kyky ANi
Alden sudah tidak percaya lagi sama kamu Seraphina,,
Kyky ANi
Alden menganggu aza sih kamu,
Kyky ANi
Seraphina punya rencana jahat nih ke Belvina,, semoga Belvina selamat dari rencana jahat siSerap,,,
Liana Simon
Ceritanya menarik Thor
Bela Viona
ada beberapa kisah hidup yg tidak pantas mendapatkan kesempatan ke2.dan ada juga yg pantas di berikan kesempatan ke 2. itu semua tergantung dgn usaha dan pembuktian. tidak mudah mendapat kn maaf dan pengampunan, selama org itu tetap sabar dan berusaha keras serta berusaha memperbaiki serta tdk mengulangi hal yg sama. maka kesempatan itu pasti ada.
Bela Viona
posisi HB yg baik untuk ibu hamil itu miring & wanita di atas 😁.
klo perempuan di bawah yg ad sesak, dan terlalu terguncang buat kandungan 😁
Bela Viona
jgn salah kn hormon ibu hamil 😁, aku hamil anak ke 2 juga gtu, asli kandungan ku usia 1-4 bln. aku benci bgt lht suami.
di sentuh tangan aj gak suka. smpe suami frustasi di kira udh gak cinta.
usia kehamilan 5 bln malah aku nempel trs sama suami. tiap mlm mau ny HB trs. smpe suami kewalahan 🤣. horman ibu hamil itu unik² dan bukan di sengaja ya.
Kadek Sri
akhirnya tamat juga
Bela Viona
makan tuh 🤣
Anitha
Akhirnya kisah Belvina dan Alden happy ending...

terimakasih juga kak Nana....
Anitha
selama nikah bertahun² Alden hanya dua kali merasakan surga dunia bersama Belvina🤣
Yunita Sophi
bintang lima untuk penyemangat mu thor..
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Yunita Sophi
makasih jg thor... salam sehat penuh semangat dan sukses slalu
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Sama-sama, Kak.🤗🙏🙏
total 1 replies
Oma Gavin
akhirnya happy ending untuk belvina dan alden
Uthie
Terimakasih juga sudah membuat cerita yg bagus, sehingga sy cukup bertahan mengikuti sampai Ending nya 👍👍👍
sukses selalu disetiap karya-karya nya ❤️❤️❤️❤️
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Sama-sama Kak 🤗🙏🙏
total 1 replies
Atmita Gajiwi
/Rose//Rose//Determined//Determined//Determined/
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!