Tepat di hari perceraian mereka, Kirana Zhafira menyaksikan Damar Rafardhan tewas mengenaskan akibat tertabrak truk demi menyelamatkan cincin pernikahan mereka yang terjatuh. Kirana keliru menilai pernikahan dingin mereka selama dua tahun sebagai tanda ketidakpedulian. Namun, rahasia pilu membubung saat ibu mertuanya menyerahkan dompet Damar yang berisi foto pernikahan mereka dan cincin berlumuran darah kering.
Penyesalan terdalam menghantam Kirana begitu menyadari betapa sang suami sangat mencintainya dalam diam. Di tengah keputusasaan dan rasa sepi yang mencekam, keajaiban waktu terjadi. Kirana terbangun dan mendapati dirinya terlempar ke masa dua minggu sebelum tragedi maut itu merenggut Damar.
Berbekal kesempatan kedua dari semesta, Kirana bertekad meruntuhkan dinding es di antara mereka. Ia bersumpah akan mengejar cinta Damar, mengubah takdir tragis yang mengintai, dan memperjuangkan akhir bahagia yang tertunda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SANDIWARA YANG SEMPURNA.
Kirana sengaja menahan diri di dalam kamar. Detak jarum jam di dinding sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Biasanya, jam segini deru mobil Damar sudah menjauh dari pekarangan rumah. Kirana selalu memastikan hal itu sebelum menampakkan diri. Baginya, menghindari tatapan dingin sang suami adalah cara terbaik untuk memulai hari tanpa beban di dada.
Namun, pagi ini langkahnya terhenti begitu membuka pintu. Damar masih di sana. Pria itu duduk tegap di meja makan, lengkap dengan kemeja kerja dan jas yang tersampir di sandaran kursi.
Kirana terkejut melihat Damar belum berangkat. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat dari biasanya. Mencoba bersikap biasa saja, ia melangkah lurus menuju dapur untuk mengambil segelas air putih.
Selama dua tahun pernikahan mereka, momen seperti ini sangat langka. Hampir tak pernah mereka bertatapan langsung atau sekadar berbasa-basi, kecuali untuk urusan yang benar-benar mendesak atau acara keluarga besar. Rumah ini luas, namun terasa begitu sempit karena keheningan yang mereka bangun bersama.
Damar menyesap kopi hitamnya yang tinggal setengah, lalu meletakkan cangkir ke tatakan dengan ketukan pelan. Suara baritonnya memecah kesunyian.
"Nanti sore saya jemput jam empat."
Kirana menghentikan tegukannya. Ia berbalik perlahan, menatap punggung tegap suaminya. "Ada acara?"
"Kita dapat undangan pernikahan dari Paman. Kamu ingat, kan? Waktu kita menikah dulu, Paman dan Tante bela-bela datang dari luar kota. Jadi tidak enak kalau kita absen," jawab Damar tanpa menoleh, nadanya sedatar biasanya.
"Ya," sahut Kirana pendek.
Damar berdiri, meraih sebuah paper bag besar yang sejak tadi tergeletak di kursi sebelah. Ia menyodorkannya kepada Kirana. "Pakai ini nanti sore."
Kirana menerima tas tersebut. Di dalamnya sekilas terlihat sebuah gamis anggun, hijab yang senada, dan sebuah kotak perhiasan kecil. "Hmm."
Hanya itu jawaban yang keluar dari mulut Kirana. Setelah mendapatkan respons singkat dari istrinya, Damar langsung menyambar jasnya, berbalik, dan melangkah pergi begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Pintu depan tertutup dengan suara klik yang familier. Kirana langsung mengembuskan napas panjang yang sejak tadi tertahan. Bahunya merosot pasrah.
"Hah... Siapkan mental untuk bersandiwara di depan keluarganya lagi," gumamnya lirih pada ruangan yang kosong.
Sore harinya, tepat pukul empat, sebuah bunyi klakson mobil bergema dua kali di depan rumah. Damar tidak turun, tidak juga mengetuk pintu. Itu adalah kode yang sudah Kirana pahami.
Kirana melangkah keluar dengan penampilan yang berbeda. Gamis pemberian Damar melekat sempurna di tubuhnya, dipadukan dengan hijab yang membingkai wajahnya dengan pas. Walau riasan wajahnya tipis dan natural, ia memancarkan keanggunan yang tidak bisa diabaikan.
Kirana membuka pintu mobil dan langsung duduk di kursi samping kemudi.
Sepanjang perjalanan menuju lokasi pesta, suasana di dalam mobil terasa begitu mencekam. Pendingin ruangan seolah menambah dinginnya jarak di antara mereka. Tidak ada obrolan, tidak ada musik. Damar fokus pada jalanan di depan, sementara Kirana memilih menatap keluar jendela, mengamati gedung-gedung yang mereka lewati.
Begitu sampai di lokasi pesta yang mewah, atmosfer langsung berubah total. Di depan pintu aula, beberapa anggota keluarga besar Damar sudah berkumpul. Kedatangan mereka disambut dengan tatapan yang beragam. Ada yang tersenyum ramah, namun lebih banyak yang melemparkan pandangan sinis kepada Kirana.
Kirana tahu diri. Di mata mereka, ia hanyalah wanita dari keluarga biasa yang beruntung bisa dinikahi oleh Damar, lelaki mapan dari keluarga kaya dan terpandang.
Tanpa banyak bicara, para kerabat langsung menggiring Damar dan Kirana menuju meja makan keluarga yang sangat panjang. Di sana, obrolan basa-basi segera berganti menjadi interogasi yang tidak nyaman.
"Kirana, Tante perhatikan kamu belum ada tanda-tanda juga. Sudah dua tahun, kok belum punya anak?" tanya Tante Rika dengan nada menyindir yang kentara.
Kirana baru saja hendak membuka mulut, namun Damar lebih dulu memotong dengan suara tenang namun tegas.
"Itu karena kami sepakat untuk tidak punya anak dulu, Tante Rika. Kami masih ingin menikmati masa-masa menjadi pengantin baru."
Tante Rika mencibir, tidak puas dengan jawaban itu. "Sudah dua tahun kok masih dibilang pengantin baru, Damar? Tante dulu di usia pernikahan seperti kalian sudah menggendong anak pertama."
Damar tersenyum tipis, jenis senyuman yang tidak sampai ke mata. "Makanya, setelah punya anak, perhatian Om Sandi jadi berkurang kan sama Tante?"
Kalimat itu telak menghantam Tante Rika. Wajah wanita paruh baya itu langsung memerah. Ia terdiam, mendengus kesal sebelum memalingkan muka. "Dasar anak muda tidak punya sopan santun," gerutunya pelan.
Kirana yang duduk di sebelah Damar merasa suasana meja makan menjadi semakin panas dan menyesakkan. Ia tidak tahan lagi berada di sana.
"Maaf, Tante, Om, saya izin ke toilet sebentar," pamit Kirana dengan sopan.
Namun, Kirana tidak benar-benar pergi ke toilet. Ia membutuhkan udara segar untuk menenangkan dadanya. Langkah kakinya membawa Kirana ke taman belakang gedung yang lebih sepi. Saat sedang menyusuri jalan setapak, matanya menangkap sesuatu di dekat semak-semak.
Seekor kucing kecil sedang meringkuk, kakinya tampak terluka dan mengeluarkan sedikit darah. Rasa iba langsung memenuhi hati Kirana. Ia segera menahan seorang pelayan yang kebetulan melintas membawa kotak pembersih.
"Permisi, apakah ada perban dan obat luka?" tanya Kirana.
Beruntung, pelayan itu memiliki kotak pertolongan pertama kecil. Setelah menerima obat dan perban, Kirana langsung berjongkok di rumput, mengabaikan gamis mahalnya.
"Sabar ya, Cing. Ini agak perih sedikit," ucap Kirana lembut sambil meneteskan obat ke luka sang kucing. "Kamu kok bisa sampai terluka begini? Makanya, hati-hati kalau main."
Kirana terus mengoceh pelan untuk menenangkan kucing itu agar tidak berontak saat diperban. Tepat ketika ia selesai mengikat perban pelan-pelan, sebuah suara bariton yang sangat ia kenali memecah keheningan taman.
"Sedang apa kamu di situ?"
Pertanyaan itu terdengar datar dan dingin, membuat Kirana tersentak kaget. Ia refleks mendongak dan mendapati Damar sudah berdiri di dekatnya dengan kedua tangan tenggelam di saku celana.
"Saya... saya sedang mengobati kucing ini," jawab Kirana sedikit gugup. Pandangan Damar terasa begitu mengintimidasi.
Damar menurunkan pandangannya ke arah pakaian Kirana. "Lihat bajumu, jadi kena noda darah kucing. Padahal para Tante di dalam menyuruh kita ikut berdansa."
Kirana melihat ke bawah. Benar saja, ada setitik noda merah di bagian bawah gamisnya. Sebelum ia sempat merasa bersalah, Damar kembali bersuara.
"Ya sudah, lebih baik kamu pulang saja sekarang. Biar diantar oleh Ricko."
Kirana mengangguk pasrah. "Baik, saya pulang dulu."
Ia bermaksud berbalik badan untuk mencari Ricko, asisten pribadi Damar. Namun, baru satu langkah, pergelangan tangannya ditahan oleh cengkeraman tangan Damar yang hangat namun kuat. Kirana menoleh dengan dahi berkerut bingung.
Damar menarik tubuh Kirana sedikit lebih dekat, lalu merunduk, berbisik tepat di dekat telinganya. "Tante dan Om sedang memperhatikan kita dari kaca jendela lantai dua. Jadi, kamu tahu kan harus melakukan apa?"
Mendengar bisikan itu, mode sandiwara Kirana langsung aktif secara otomatis. Ini adalah peran yang sudah ia mainkan dengan sangat baik selama dua tahun terakhir.
Tanpa ragu, Kirana menghapus jarak di antara mereka. Ia melingkarkan kedua lengannya ke leher Damar, memeluk suaminya dengan erat seolah-olah mereka adalah pasangan paling kasmaran di dunia.
Damar tidak menyia-nyiakan momen itu. Ia menyambut pelukan Kirana, melingkarkan tangan kekarnya di pinggang sang istri, lalu mendaratkan sebuah kecupan hangat dan lama di kening Kirana.
Dari kejauhan, di balik kaca lantai dua, para kerabat yang mengintai hanya bisa terdiam melihat kemesraan itu. Di mata dunia, mereka adalah pasangan yang sangat sempurna dan saling mencintai tanpa celah. Namun di taman yang sunyi itu, Kirana bisa merasakan detak jantung Damar yang tenang, sedingin rahasia yang tersimpan rapat di antara mereka.
GANBATEEE NEE 😁🤗💪
semangat yaa update nyaa😁😁😁
semoga benang takdir bisa terurai dan dalang dibalik Kematian damar bisa terungkap semuanya . semangat kiran, jaga damar dr takdir tragis nya 💪💪