"Saat ayahku memilih menyelamatkan putri kesayangannya, dia mengorbankanku tanpa ragu."
Savira Dharma menghabiskan seluruh hidupnya mengejar sesuatu yang tidak pernah ia miliki: pengakuan dari ayahnya.
Sebagai putri kandung keluarga Dharma, ia belajar lebih keras, bekerja lebih lama, dan mengorbankan masa mudanya demi membuktikan bahwa dirinya layak dicintai. Namun ketika skandal penggelapan dana mengguncang Dharma Group, Savira dijadikan kambing hitam untuk melindungi keluarga yang selama ini ia bela.
Ditinggalkan sendirian di tengah hujan fitnah, ayahnya memilih diam.
Malam itu, Savira melompat dari puncak gedung perusahaan yang telah merenggut seluruh hidupnya.
Namun kematian bukanlah akhir.
Saat membuka mata, ia kembali menjadi gadis tujuh belas tahun—tujuh tahun sebelum semua pengkhianatan itu terjadi.
Kali ini, Savira tidak akan mengemis cinta.
Ia tidak akan mengorbankan dirinya demi keluarga yang tak pernah memilihnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. Cabang Probabilitas
Notifikasi berita bisnis di ponsel Savira bergetar, menampilkan pengumuman peluncuran produk Dharma yang dipercepat.
Getaran kasar dari benda pipih itu menembus kain kardigannya. Suara dengungannya memecah keheningan buatan yang diciptakan oleh dekapan erat Aaron Jayanegara.
Savira membuka matanya perlahan. Aroma pinus dan kopi hitam dari jas basah Aaron seketika tergantikan oleh hawa dingin perpustakaan yang menggigit kulit. Ia menarik napas panjang, memaksa oksigen masuk ke paru-parunya yang masih terasa perih.
Ia mendorong dada bidang pria itu dengan kedua telapak tangannya. Tenaganya belum sepenuhnya kembali, Aaron segera melonggarkan pelukannya. Pria itu memberikan ruang bernapas tanpa melepaskan pengawasannya sedikit pun.
Savira merogoh saku kardigannya dengan jari yang masih sedikit kaku. Ia menarik keluar ponsel sekundernya.
Layar gawai itu menyala terang di tengah remang lorong rak buku. Cahaya putihnya menyorot wajah pucat Savira, mengekspos manik kelamnya yang perlahan membesar.
Sebuah tajuk berita dari portal ekonomi utama ibukota terpampang tanpa ampun. Tinta digital hitam itu bagaikan vonis eksekusi mati yang datang lebih awal.
"Dharma Group Majukan Peluncuran Lini Kosmetik Putri Keberuntungan Menjadi Esok Pagi."
Jantung Savira seakan berhenti berdetak selama satu detik penuh. Aliran darahnya anjlok menuju dasar kaki. Sensasi dingin yang jauh lebih pekat dari badai di luar sana merayap naik menyelimuti tulang belakangnya.
Esok pagi. Mereka memotong waktu peluncuran selama dua minggu penuh.
Savira membaca cepat paragraf pertama artikel tersebut. Wijaya Dharma memberikan pernyataan pers dengan senyum hangat khasnya. Pria sosiopat itu mengklaim bahwa antusiasme pasar terlalu besar untuk diabaikan.
Di bawah tulisan itu, terpajang foto Nadia yang mengenakan mahkota berlian kecil. Gadis itu memeluk botol parfum emas dengan tatapan angkuh yang memuakkan. Artikel itu memuja Nadia sebagai simbol hoki absolut keluarga Dharma.
Keringat dingin kembali merembes dari pelipis Savira. Rasa mual di lambungnya bergolak hebat, menghancurkan sisa rasa permen stroberi di lidahnya.
Garis waktu telah bergeser secara radikal.
Di kehidupan sebelumnya, peluncuran ini membutuhkan waktu persiapan ekstra. Wijaya Dharma selalu bertindak penuh perhitungan dan tidak pernah terburu-buru.
Perubahan mendadak ini adalah kepakan sayap kupu-kupu yang sangat mematikan. Kegagalan operasi pembunuhan di jalan layang dan kebangkitan agresif Jayanegara Group telah membuat insting predator Wijaya bereaksi. Sosiopat itu mempercepat aliran dana masuk untuk memperkuat benteng pertahanan Dharma Group.
Aaron memperhatikan perubahan drastis pada raut wajah Savira. Pria itu menyipitkan mata kelamnya, menangkap feromon kecemasan yang tiba-tiba menguar pekat dari tubuh gadis di hadapannya.
"Apa yang terjadi?" Suara bariton Aaron membelah udara dingin di antara mereka.
Savira tidak langsung menjawab. Otak jeniusnya bekerja memutar skenario layaknya mesin turbin yang dipaksa melampaui batas maksimal.
Rencana boikot yang ia susun bersama jaringan media independen membutuhkan waktu pematangan. Ia butuh dua minggu untuk menanamkan benih keraguan publik secara perlahan. Jika produk itu meledak di pasaran besok pagi, euforia massa akan menenggelamkan suara minor apa pun yang ia keluarkan.
"Wijaya memajukan tanggal rilis kosmetiknya," desis Savira dengan rahang mengeras. "Semua produk itu akan membanjiri pasar dalam waktu kurang dari dua belas jam."
Alis tebal Aaron bertaut tajam. Pria itu berdiri perlahan, menjulang tinggi menutupi cahaya lampu dari ujung lorong.
"Itu bukan masalah besar." Aaron merogoh ponselnya sendiri dari dalam saku jas. "Aku bisa memerintahkan otoritas pelabuhan untuk menyita seluruh kontainer logistik mereka malam ini dengan dalih inspeksi pajak acak."
"Jangan bertindak bodoh," potong Savira cepat. Ia ikut bangkit berdiri, menahan rasa pusing yang sempat mendera kepalanya.
Gadis itu menatap Aaron dengan kilat kemarahan yang tertahan. "Wijaya Dharma sangat mengharapkan sabotase fisik semacam itu. Dia akan memutarbalikkan fakta dan menempatkan Nadia sebagai korban kejahatan bisnis."
Aaron menghentikan jarinya di atas layar ponsel. Insting pelindung pria itu sangat agresif, tapi ia memang telah bersumpah untuk menghargai batasan taktis Savira.
"Lalu apa rencanamu, Nona Dharma?" Aaron bertanya dengan nada menuntut yang rendah. "Jika produk itu berhasil meraup keuntungan besok, posisi Wijaya akan semakin tidak tersentuh hukum."
Savira membuang pandangannya ke arah jendela kaca. Kilatan petir kembali menyambar di kejauhan, namun kali ini ia tidak lagi gemetar. Rasa takutnya telah berevolusi menjadi rasa cemas yang memicu adrenalin murni.
Ia benci menjadi buta. Ia sangat membenci posisinya saat ini. Pengetahuan masa depan yang selalu ia andalkan sebagai perisai pelindung kini seperti kedaluwarsa.
Ia tidak bisa lagi mencontek takdir. Ia harus mengandalkan insting dan kemampuan analitisnya secara langsung di medan perang yang gelap gulita.
"Kita tidak akan menyerang jalur distribusinya," putus Savira dingin. "Kita akan menghancurkan nyawa dari produk itu sendiri."
"Jelaskan." Aaron melipat kedua lengannya di depan dada, bersiap menerima komando dari sang jenius.
"Aku tahu Wijaya menggunakan bahan pengawet ilegal untuk menekan biaya produksi besar-besaran." Savira menekan kuku-kukunya ke telapak tangan. "Tapi aku butuh bukti fisik yang tidak bisa disangkal oleh laboratorium pemerintah."
Savira menatap mata hitam Aaron dengan intensitas yang membakar. "Aku butuh sampel utuh kosmetik itu. Malam ini juga. Sebelum matahari terbit."
Senyum asimetris perlahan terbentuk di sudut bibir Aaron. Pria itu menyukai ketegasan yang memancar dari mata es Savira.
"Tim bayanganku sudah mengintai pabrik perakitan mereka sejak kemarin." Aaron menekan satu tombol panggilan cepat di ponselnya. "Aku akan meminta mereka merampas satu kardus penuh produk itu langsung dari ruang sterilisasi."
"Pastikan tidak ada jejak perusakan yang mengarah pada Jayanegara," peringat Savira tajam.
"Mereka bekerja seperti hantu, sama sepertimu." Aaron membalas dengan nada yang luar biasa percaya diri. Pria itu menyelesaikan instruksinya dalam tiga kalimat pendek lalu menutup panggilan tersebut.
"Mobilku ada di pelataran basemen," kata Aaron. Ia menunjuk ke arah pintu keluar perpustakaan dengan isyarat kepala. "Kita bergerak sekarang."
Savira mengangguk kaku. Ia merapatkan kardigannya, melangkah cepat menyusuri lorong rak buku meninggalkan sisa kelemahannya di sudut gelap tersebut.
Hujan lebat masih menghantam kaca mobil Aaron saat mereka membelah jalanan ibukota yang sepi. Wiper bergerak cepat menyapu air, menyajikan pemandangan kota yang buram dan kelam.
Savira duduk di kursi penumpang depan dalam keheningan yang mencekam. Ia membuka bungkus permen stroberi yang baru dan memasukkannya ke dalam mulut.
Rasa manis buatan itu perlahan menurunkan lonjakan detak jantungnya. Ia butuh fokus absolut. Otaknya tidak boleh terganggu oleh kepanikan sekecil apa pun.
Aaron mengemudi dengan satu tangan di atas setir. Pria itu sesekali melirik ke arah Savira. Ia sama sekali tidak memecah keheningan itu dengan pertanyaan tak berguna. Aaron tahu persis bahwa sekutunya sedang menyusun ribuan cabang probabilitas di dalam kepalanya.
Tiga puluh menit kemudian, mobil sedan mewah itu memasuki gerbang belakang gedung laboratorium penelitian kampus.
Area ini sangat sepi. Tidak ada mahasiswa atau dosen yang tersisa di tengah malam badai seperti ini. Savira memiliki akses kunci elektronik khusus berkat statusnya sebagai asisten riset utama.
Mereka berdua melangkah menyusuri lorong gedung berpenerangan minim. Gema langkah kaki Aaron yang berat berpadu dengan langkah Savira yang nyaris tanpa suara.
Seorang pria berpakaian serba hitam sudah menunggu di depan pintu laboratorium biokimia. Pria itu menunduk hormat saat Aaron mendekat, lalu menyerahkan sebuah tas pendingin berlapis logam.
Aaron mengambil tas tersebut dan memberikan isyarat agar anak buahnya segera pergi.
Savira menempelkan kartu aksesnya pada mesin pemindai pintu. Bunyi klik elektronik terdengar nyaring. Pintu logam tebal itu bergeser terbuka, menyambut mereka dengan suhu ruangan yang jauh lebih dingin.
Aaron meletakkan tas pendingin itu di atas meja baja antikarat. Pria itu membuka ritsletingnya, memperlihatkan deretan botol kaca emas yang sama persis dengan yang dipamerkan Nadia di mansion Dharma.
Kilau botol mewah itu terasa seperti ejekan langsung dari Wijaya Dharma. Senyum sosiopat ayahnya seolah terpantul di setiap permukaan kaca produk tersebut.
Savira mengenakan sarung tangan lateks putih dengan gerakan cepat dan efisien. Ia mengubah mode pertahanannya. Gadis rapuh yang takut pada suara guntur telah mati. Kini hanya tersisa seorang algojo yang siap membedah korbannya.
Ia tidak bisa lagi mengandalkan ingatan masa lalu tentang tanggal dan peristiwa. Ia harus mengandalkan data empiris yang terbentang di hadapannya detik ini juga.
Jika Wijaya mempercepat jadwal peluncuran, sosiopat itu pasti memaksa pabriknya mengabaikan prosedur stabilitas bahan kimia. Ada kecerobohan yang tertinggal di dalam cairan botol ini. Savira hanya perlu menemukannya.